Showing posts with label Spain. Show all posts
Showing posts with label Spain. Show all posts

April 10, 2015

10.000 KM (2014)


10.000 KM (2014)
Long Distance








Contain Spoiler!!

Sepasang kekasih, Sergi (David Verdageur) dan Alex (Natalie Tena) yang sedang merencanakan memiliki anak, terpaksa harus menunda keinginan tersebut kembali karena Alex tiba-tiba ditawarin pekerjaan di Los Angeles. Mereka pun harus berpisah jauh; Barcelona-Los Angeles selama lebih kurang setahun. Dapatkan cinta mereka bertahan dalam jarak 10.000 km?  

Yeah, memang saat ini mood saya ingin menonton film-film Long Distance Relationship (LDR) dikarenakan saya sedang mengalaminya :). Setelah Like Crazy yang sukses mengena sekali buat saya, kali ini saya mencoba mencicipi 10.000 KM besutan Carlos Marques-Marcet. Eh, baru adegan awal malah langsung disuguhi adegan di ranjang. Terlihat bahwa Sergi dan Alex adalah pasangan yang berbahagia dan sedang berusaha untuk mendapatkan anak setelah berkali-kali gagal. Opening shotnya berlangsung dalam kurun waktu sekitar 23 menit dan setiap momen yang tercipta digarap dengan baik dan terlihat real. Pergerakan kamera terlihat mengikuti kegiatan Sergi dan Alex ketika berada di aparteman tersebut, dari satu tempat ke tempat lain; menampilkan kegiatan sehari-hari mereka di pagi hari; menggosok gigi, mandi, membaca email, hingga sarapan. Dari scene tersebut terlihat hubungan keduanya yang sangat kuat. Namun, situasi berubah menjadi complicated ketika Alex memberitahukan bahwa dia mendapat kesempatan mengembangkan karir fotografinya di Los Angeles. Setelah melalui perdebatan pro dan kontra yang panjang, akhirnya mereka sepakat untuk menjalani hubungan jarak jauh. 

Tak seperti Like Crazy, 10.000 KM hanya menampilkan karakter Sergi dan Alex saja sepanjang film berlangsung, sedangkan karakter lainnya hanya ditampilkan secara blur. Luckily, penampilan keren Natalie Tena dan David Verdageur sukses menghidupkan kedua karakter sentral dalam film ini. Percakapan kedua karakternya is still raw but real. It's so much fun listening to their conversation. Film ini juga hanya berlokasi di dua tempat; apartemen Sergi di Barcelona dan apartemen Alex di LA. Pada awal film kita disuguhkan pemandangan di apartemen Sergi lalu ketika hubungan jarak jauh dimulai, suguhan apartemen Alex juga ditampilkan. Saya suka dengan adegan ketika Alex memamerkan setiap bagian dari apartemen barunya kepada Sergi via Skype. Terlihat bagaimana mereka memanfaatkan teknologi yang ada sebaik mungkin; Skype, WhatsApp, Facebook, Google Maps dalam berkomunikasi jarak jauh. Hal tersebut tentunya terasa dekat dengan kita (apalagi saya sendiri yang mengalaminya saat ini ^.^). Tiap adegan ketika Alex dan Sergi skype-an cukup menghibur, namun tak jarang juga awkward bahkan sedih. Adegan dimana Alex dan Sergi menari bersama lewat skype adalah salah satu adegan yang cukup emosional. Sedangkan momen dimana mereka menjalani dinner romantis via monitor masing-masing terlihat indah, namun juga memilukan. Salah satu awkward moment ketika mereka melakukan cyber-sex dalam scene yang lucu, erotic sekaligus mungkin menyedihkan dan sedikit frustasi. Melihat reaksi Alex yang terlihat jelas melalui ekspresinya ketika melakukan cyber-sex tersebut making me understand her feeling well. Yeah, momen-momen tersebut menjadi gambaran bahwa sehebat apapun kemajuan teknologi yang ada takkan bisa menggantikan sentuhan fisik yang nyata.

Lewat teknologi, mereka mencoba tetap saling mencintai namun seiring berjalannya waktu hal tersebut tidaklah mudah.  Pada satu waktu bahkan Sergi mengatakan 'Can we talk about something else that isn't our relationship?'. Ujian terus berdatangan menguji hubungan jarak jauh mereka. Konflik pun kerap bermunculan. Tentu saja faktor krusial yang membuat konflik terjadi tak lain karena jarak yang jauh sehingga kerap kali bagi pasangan LDR akan muncul perasaan yang tidak mengenakkan, ketidakpercayaan yang berdampak curiga satu sama lain dan sebagainya. Dan seperti sudah menjadi rahasia umum bahwa menjalin hubungan jarak jauh bukanlah hal yang mudah. Banyak aral merintang walaupun setiap saat bisa berkomunikasi melalui berbagai cara, tapi tetap saja akan berbeda rasanya dengan bertemu secara langsung.

Sayangnya, film ini tidak memberikan saran atau kesimpulan apapun kepada penontonnya sehingga kita sendirilah yang harus mencari solusi yang terbaik ketika menjalani sebuah hubungan jarak jauh. Dan endingnya.. Apakah setiap pasangan yang LDR akan berakhir seperti itu? Ah, saya jadi takut sendiri membayangkan hal tersebut terjadi pada saya dan pasangan saya :'(




Title: 10.000 KM / Long Distance | Genre: Comedy, Drama, Romance | Director: Carlos Marques-Marcet | Release: 16 May 2014 | Duration: 99 Minutes | Country: Spain | Language: Spanish, Catalan, English | Cast: Natalie Tena, David Verdageur | IMDb | Rotten Tomatoes













September 24, 2013

The Others (2001)


The Others (2001)




The Others (2001)
  Drama | Horror | Mystery

Directed by Alejandro Amenábar
 Music by Alejandro Amenábar
Release date(s): August 10, 2001 
 Running time: 104 minutes
Country: United States, Spain, France, Italy
Language: English

Starring:




Anne : "They're everywhere - they say this house is theirs."
Mrs. Mills : "Sooner or later, they will find you."



Grace Stewart (Nicole Kidman) tinggal di sebuah rumah tua besar yang jauh dari kota, dengan dua anaknya yang masih kecil, Anne (Alakina Mann) dan Nicholas (James Bentley). Kedua anaknya sangat sensitif terhadap cahaya (photosensitivity) sehingga rumah mereka selalu dalam kondisi gelap. Grace lalu kedatangan tiga orang yang ingin bekerja di rumahnya dan Grace pun menjadikan mereka pembantu. Namun, keanehan kerap terjadi di rumah tersebut. Benarkah rumah tersebut ada penghuninya?.



Film horor yang bermutu menjadi sesuatu yang sulit ditemui belakangan ini dikarenakan banyaknya film bertema horor yang justru malah menampilkan esek-esek belaka (film dalam negeri khususnya), tema membosankan dan tidak original, hanya menampilkan sosok hantu menyeramkan dengan ceceran darah disana-sini serta plot yang gampang ketebak. Terkadang menonton film horor malah membuat tertawa atau meringis miris. Unfortunately, The Others tidak termasuk kategori yang disebutkan diatas.


Dengan setting di masa perang dunia kedua di sebuah kota terpencil yang selalu dikelilingi kabut dan udara dingin sudah membuat atmosfir film ini sangat mencekam. Ditambah dengan setting rumah besar dan kuno, membuat aura seram semakin kental dalam film ini. Tak ketinggalan scoring yang sukses membuat jantung berdetak cepat dan membuat bulu kuduk merinding.

 

Kendati bertema horor, penampakan hantu-hantu seperti dalam perfilman bertema horor di dalam negeri tidak akan kita temui. Namun, ketegangan yang ditampilkan jauh lebih menyeramkan dan menakutkan. Kengeriannya memang tak langsung menyentak, namun perlahan ketegangan muncul dan menyusup dengan kadar yang meningkat terus menerus hingga menimbulkan teror mencekam bagi penontonnya. Belum lagi setting gambar-gambar yang ditata sedemikian rupa dengan pencahayaan minim, membuat atmosfir semakin gelap dan mencekam. Ketakutan seolah mengikuti sepanjang film berlangsung. Namun rasa ketakutan tersebut malah semakin membuat penasaran, ada apa sebenarnya dengan seisi rumah tersebut. Kita pun akan dibuat penasaran dengan penampakan bocah yang dilihat oleh Anne yang membuat Grace menuduhnya hanya berhalusinasi. Namun tak dapat dipungkiri ada jejak-jejak orang berkeliaran di rumah tersebut. Wow! Adegan berikut merupakan yang paling membuat shock.

Akting Nicole Kidman tak usah diragukan lagi. Kali ini pun si cantik ini bermain sangat brilliant. Mimik wajah Kidman yang pucat, statis dan cenderung kaku menambah suasana suram sepanjang film. Karakter Grace sendiri membuat penonton akan bersimpati namun juga meragukan kewarasannya. Tak kalah hebatnya pemeran Anne, Alakina Mann yang bermain sangat bagus dan natural. Lalu pemeran Fionnula Flanagan yang berperan sebagai Bertha Mills juga tak kalah bagusnya. Melihat wajah Flanagan saja, penonton sudah merasa ngeri.




Sama seperti film horor lainnya, berbagai misteri menyelimuti film ini, namun jika kita teliti mengumpulkan dan merangkai berbagai puzzle yang disebar oleh Amenabar, kita akan mendapatkan kunci dari semua misteri yang terjadi dalam film berdurasi 104 menit ini. 


Endingnya? Hmm.. let's say.. a shocking ending! Segala sesuatunya memang bisa diputarbalikkan dalam sebuah film, sama halnya dengan film ini. Silahkan tonton dan dapatkan kejutan "mengagetkan" di endingnya.













September 20, 2012

Cria Cuervos (1976)

Cria Cuervos (1976) 

[Raise Ravens]






 



Cria Cuervos (1976)
Director : Carlos Saura

Release date(s) : 26 January 1976
Running time : 107 minutes
Country : Spain
Language : Spanish

Casts:




Cria Cuervos yang berasal dari pepatah Spanyol, "Cría cuervos y te sacarán los ojos" (Raise ravens, and they'll take out your eyes) sebenarnya ditujukan untuk seseorang yang memiliki nasib buruk dalam membesarkan anak atau membesarkannya dengan cara yang kurang tepat sehingga akan berakibat yang kurang baik ke depannya. Ini juga bisa berarti perilaku memberontak atau bahwa setiap tindakan yang buruk pasti akan kembali menghantui hidup seseorang.




Cria Cuervos menceritakan tentang tiga saudari yatim piatu, Irene, Ana, dan Maite yang diasuh oleh tante mereka, Paulina, yang juga merawat nenek mereka yang bisu dan lumpuh setelah kematian kedua orang tua mereka. Dari kedua saudarinya, Ana, yang terlihat sedikit berbeda. Hal tersebut mungkin dikarenakan dia melihat dengan mata kepalanya sendiri penderitaan yang dialami ibunya semasa hidup dan dia menyalahkan ayahnya atas kematian ibunya.


Melihat ekspresi yang ditampilkan oleh Anna Torrent yang berperan sebagai Ana, sedikit banyak akan membuat penonton turut merasakan apa yang dirasakan sang gadis kecil tersebut. Ekspresinya datar, kosong, dingin dan menakutkan. Namun sebenarnya Anna tetaplah seorang gadis kecil polos yang merindukan kehangatan akan sosok ibunya. Hal tersebut terlihat jelas dengan ditampilkan adegan dimana Ana sering kali berkhayal bahwa sang ibu masih hidup. Penonton pun akan dibuat bingung antara adegan yang nyata dan khayalan dalam film ini.


Cria Cuervos merupakan drama psikologis dengan dialog yang minim dan menampilkan banyak simbol-simbol dalam tiap adegannya. Film ini mengambil sudut pandang Ana sebagai seorang anak kecil dan ketika dia telah dewasa. Dimana, sang bocah sama sekali tidak tahu konsep nyata tentang apa kematian itu sebenarnya. Namun, sang sutradara dapat mengeksekusinya dan memproses peristiwa yang terjadi di sekitar kehidupan Ana dengan sangat baik.



Dalam salah satu adegan, diperlihatkan ketiga saudari tersebut bermain 'peran' sebagai orang lain. Mereka berdandan, meniru apa yang mereka lihat (seperti Irene yang meniru cara berdandan Paulina) dan bahkan mereka 'bertengkar' seolah-olah pertengkaran tersebut adalah pertengkaran sesungguhnya yang mereka saksikan pada kedua orang tua mereka. 



Lagu sisipan "Por qué te vas?" (Why are you leaving?) yang dinyanyikan oleh Jeanette diputar berulang kali dalam film ini. Lagu itu sendiri ternyata mengingatkan Ana akan sosok ibunya dimana sang ibu berbicara bahasa Spanyol dengan aksen Inggris seperti sang penyanyi itu sendiri. Hal tersebut semakin memperjelas tentang kesepian yang dialami Ana. Bahkan ada scene dimana Ana bermimpi ibunya muncul ke kamarnya dan menceritakan sebuah dongeng untuknya. So touching!


Cria Cuervos memang sebuah film yang mengambil sudut pandang anak-anak. tentang apa yang mereka amati, bagaimana mereka menafsirkannya dan bagaimana mereka bertindak berdasarkan interpretasi mereka. Bahkan film ini menggambarkan seorang anak bereksperimen dengan kekejaman dan kekerasan yang mereka ciptakan sendiri.


 

IMDb 








Translate

Waiting Lists

Sur mes lèvres.jpg Dark, brown-tinted and horror-themed image of a man in an asbestos-removal suit (to the right side of the poster), with an image of a chair (in the middle of the image) and an image of a large castle-like building at the top of the image. The text "Session 9" is emboldened in white text in the middle of the image, and near the bottom of the image is written, "Fear is a place." Lisbeth Salander with Mikael Blomkvist The Girl Who Played with Fire.jpg Page turner.jpg Le trou becker poster3.jpg Nightwatch-1994-poster.jpg Headhunter poster.jpg On the Job Philippine theatrical poster.jpg The Song of Sparrows, 2008 film.jpg The-vanishing-1988-poster.jpg Three Monkeys VideoCover.png