Showing posts with label United States. Show all posts
Showing posts with label United States. Show all posts

January 27, 2017

La La Land (2016)


La La Land (2016)




"This is the dream! It's conflict and it's compromise, and it's very, very exciting!" 
- Sebastian -




La La Land is one of the movie I really wanna watch but I don't wanna take a high expectation as I always disappointing. As the movie started, it's surprisingly giving us something beautiful and fun with beautiful music, colorful costumes, and fun things. Then, the two main characters meet; Mia Dolan (Emma Stone) and Sebastian Wilder (Ryan Gosling). Mia is an aspiring actress and also a studio-barista. Sebastian is a jazz pianist. Both of them are struggling to make their hopes and dreams come true. Is the story as simple as we thought? Nope. Though it's just a simple premise, it's more than that. Damien Chazelle, as a director, knows how to create a great concept of this movie by using all elements and fit them all into one.


Though you don't like musicals, I bet you will like this movie. It's definitely hard finding something like this nowadays; kind of something rare. It feels like we are watching classic movie from the past. Music by Justin Hurwitz is completely a perfect part of this movie. It's so not easy to forget the song lists here such as Another Day of Sun, Someone In The Crowd, Audition (The Fools Who Dream) or City of Stars that has a big impression during the show. Even, the song's still remain in our mind maybe; as I hummed it after the movie ends. The music itself is just not a complement of the movie only, but also as a medium of storytelling and as a whole packaging of the movie. Not just the music, the choreography from Mandy Moore is also the best part of the movie itself. See how Gosling and Stone dance together in some of the scenes. It's wonderful. And it become perfect with the great cinematography from Linus Sandgren who make every shot is like a magical thing that make us fly away. Ryan Gosling and Emma Stone is perfect cast for this movie. How the two of them have a great chemistry here is truly amazing thing. What surprise me is that Gosling and Stone sing the songs in the movie by themselves. Even, Gosling learnt to play piano to take a part of his character.


As the tagline itself, "Here's to fools who dream", La La Land is a movie about dream. But it's okay. Everyone can having a dream. It's free!. Though reality is cruel. As the main characters who have big dream and hope and they always support each other, though they also have to struggling facing the cruel reality. It's not a big deal. Exploring the joy and pain of pursuing your dreams are more important. Make your dreams come true even though  there's always something you have to sacrifice. Well, La La Land is above my expectation.  I always smile during the show and make me feel so happy and sad in the same time. And I love the ending. I still can't move on from this great movie. Big thanks to Chazelle who doesn't ruin the last part of this movie as typically Hollywood movie nowadays. For trivia, Indonesia is also becomes a part of the conversation between the characters in the movie. If you don't watch it yet, just watch it now. You won't regret it.


 







Title: La La Land | Genre: Drama, Musical | Director: Damien Chazelle | Music: Justin Hurwitz | Cinematography: Linus Sandgren | Release date: August 31, 2016 (Venice Film Festival), December 9, 2016 (United States) | Running time: 128 minutes | Country: United States | Language: English | Cast: Ryan Gosling, Emma Stone, John Legend, Rosemarie DeWitt | IMDb | Rotten Tomatoes 














November 03, 2016

Doctor Strange (2016)


Doctor Strange (2016)

Not too bad. Better Watched in 3D.




"I don't know what my future holds. But I can't go back".
- Dr. Stephen Strange -








Doctor Stephen Strange (Benedict Cumberbatch) adalah seorang ahli bedah saraf yang jenius, berbakat dan sedikit arogan. Banyak kasus rumit para pasien yang dapat ditanganinya. Namun, sebuah kecelakaan membuat kedua tangannya menjadi tidak dapat berfungsi normal lagi. Di tengah keputusasaan, Strange mencoba mencari keajaiban dengan mendatangi Kamar-Taj di Nepal yang konon dapat menyembuhkan segala macam penyakit. Kamar-Taj yang dipimpin oleh Ancient One (Tilda Swinton) tersebut mengajarkannya banyak hal terutama menghilangkan ego dan arogansinya, disamping harus mempelajari rahasia dunia sihir yang tersembunyi untuk menjadi bekal menghadapi mantan murid Ancient One yang berkhianat, Kaecilius (Mads Mikkelsen) dan menggunakan segala kemampuannya untuk menjadi perantara antara dimensi manusia dan dimensi lainnya

Jujur, saya sebenarnya kurang tertarik untuk menonton film-film superhero. Tapi berhubung bulan ini sepertinya tidak ada film yang benar-benar memikat hati saya, akhirnya saya memutuskan mencoba menonton film yang lagi hype dimana-mana ini; Doctor Strange. Dan seperti biasa, saya malas berekspektasi apapun. Bahkan saya selalu skeptis dengan film-film bertema superhero. Dan karena saya terlalu malas mencari info film ini (karena nggak tertarik juga untuk menontonnya, sih), saya sempat kaget dengan jajaran cast di film ini yang ternyata adalah dua aktor hebat: Mads Mikkelsen dan Tilda Swinton. What I already knew that Benedict Cumberbatch as Doctor Strange, nothing else. For your information, I never read the comic too.

Penggarapan naskah film ini menjadi salah satu poin lemah di film ini. Ceritanya terkesan biasa saja. Apalagi bagi saya yang notabene bukan penggemar cerita superhero. Bagi penonton awam yang tidak membaca komiknya (seperti saya), ada beberapa hal yang mungkin akan menimbulkan tanda tanya, mengapa begini mengapa begitu?, apalagi ceritanya terkesan terburu-buru terutama di klimaksnya. Saya sampai berujar dalam hati; villainnya kok gampang banget dikalahkan?What the..!! Padahal durasinya cukup panjang (bagi saya yang memang susah menonton film-film berdurasi panjang), namun tetap saja terlalu banyak hal yang sepertinya tidak dapat dicakup semaksimal mungkin. Apalagi bagi penggemar komiknya, saya yakin akan merasa sangat tidak puas. Perpindahan tiap adegannya terasa begitu cepat, overlap dan sering terasa dipaksakan agar dapat tuntas dalam durasi 115 menit. Pun begitu, entah kenapa saya masih juga merasakan sedikit kebosanan dan nyaris mengantuk. Syukurlah, special effectnya yang sangat bagus memang sangat memanjakan mata sehingga rasa kantuk pun seketika lenyap. Mungkin kalau saya tidak menonton di bioskop, saya yakin sekali saya akan ketiduran bahkan mungkin dari pertengahan film diputar. Special effectnya mengingatkan pada film Inception di beberapa bagian. Sedikit menyesal saya tidak menonton yang versi 3D. Buat anda yang belum menontonnya, sangat disarankan untuk menonton versi 3D. Tak lupa, ada sisipan jokes-jokes yang cukup sukses membuat seisi bioskop tertawa. Namun saya sendiri sepertinya tidak terlalu menikmati jokes tersebut. Yang saya ingat, saya hanya tertawa dua atau tiga kali saja; jokes tentang Beyonce dan ketika Wong akhirnya bisa tertawa. That's it!.

Doctor Strange tidak akan menjadi hidup tanpa penampilan dari seorang Benedict Cumberbatch. Walau pun untuk beberapa bagian, dia masih terlihat seperti seorang Sherlock, namun tetap kehadirannya merupakan salah satu kunci kesuksesan film ini. Sayangnya, penampilan Mads Mikkelsen dan Tilda Swinton kurang tereksplor lebih banyak lagi, terutama Mikkelsen yang terasa menyia-nyiakan kemampuan aktingnya yang sangat bagus tersebut. Karakter Kaecillius terlihat kurang dikembangkan lebih banyak lagi, bahkan terkesan begitu mudah dikalahkan oleh Strange. 

Well, sebagai sebuah sajian film superhero yang ringan, menghibur, dan penuh special effect canggih, Doctor Strange telah berhasil melakukannya dengan sangat baik. Jangan buru-buru beranjak dari bioskop karena masih ada post-credit scene di akhir film.







Title: Doctor Strange | Genre: Action, Adventure, Fantasy | Director: Scott Derrickson | Music: Michael Giacchino | Cinematography: Ben Davis | Production company: Marvel Studios | Release dates: October 13, 2016 (Hong Kong), November 4, 2016 (United States) | Running time: 115 minutes | Country: United States | Language: English | Based on Doctor Strange by Steve Ditko | Cast: Benedict Cumberbatch, Chiwetel Ejiofor, Rachel McAdams, Benedict Wong, Michael Stuhlbarg, Benjamin Bratt, Scott Adkins, Mads Mikkelsen, Tilda Swinton | IMDb | Rotten Tomatoes








September 06, 2016

Don't Breathe (2016)


Don't Breathe (2016)

Tensi Menyesakkan Tanpa Jeda




 






Warning: Maybe Contain Spoiler!

Money (Daniel Zovatto), Rocky (Jane Levy) dan Alex (Dylan Minnette) adalah tiga kriminal kelas rendah yang suka membobol rumah-rumah orang kaya. Mereka hanya mencuri uang atau barang yang nilainya tak lebih dari 10.000 dolar. Aksi mereka selalu berhasil dengan aman berkat bantuan 'tidak langsung' dari ayah Alex yang merupakan pemilik dari perusahaan keamanan. Tujuan mereka merampok tak lain karena ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Seorang veteran perang tuna netra (Stephen Lang) menjadi target perampokan mereka selanjutnya. Konon pria tua buta yang hanya tinggal bersama anjing penjaganya tersebut menyimpan ribuan dolar di rumahnya. Aksi mereka kelihatannya akan berjalan dengan mulus, namun ternyata mereka tidak menyadari ada teror yang akan menghampiri mereka. 

Honestly, this became my first time watching alone in theater. Alasannya, - tidak ada yang bisa diajak nonton bareng - saya ingin merasakan sensasi menonton film thriller horror di bioskop sendirian. Dan apa yang saya dapat? I really enjoy it so much. Tepat sekali saya memilih film ini, karena sesuai judulnya, film ini nyaris tidak memberikan kesempatan untuk penontonnya menghela nafas barang sejenak. Pria buta yang disangka lemah tersebut ternyata sosok yang penuh dengan kejutan dan bisa berubah menjadi monster mengerikan yang setiap saat bisa saja menghabisi para perampok kecil tersebut hanya dengan mendengar desahan nafas mereka semata. Teror demi teror mencekam dari sang pria buta tersebut terus menerus menghujam ketiga perampok kelas teri tersebut.

Don't Breathe memang konsisten menebar teror penuh ketegangan sepanjang film berlangsung. Kejutan demi kejutan penuh ketegangan akan diberikan tanpa henti. Baru saja kita sedikit bisa bernafas lega, tiba-tiba sudah dikejutkan lagi dengan sesuatu yang tidak akan kita sangka. Thriller home invasion non-stop ini benar-benar membuat jump scare moment nyaris sepanjang film. Fede Alvares, selaku sang sutradara seolah tak memberikan kesempatan penontonnya untuk bernafas. Dan itu sungguh menyesakkan. Bersetting hampir sebagian besar hanya berkutat di dalam rumah dengan kesunyian yang mendominasi, menambah aura ketegangan film ini. Nuansa klaustrofobia begitu terasa tatkala adegan lampu dimatikan dan berubah ke dalam night vision mode. Adegan kejar-kejaran ala cat and mouse di ruangan gelap tersebut benar-benar memaksa kita sebagai penonton untuk menahan nafas panjang. Kegelapan yang telah menjadi dunia sang pria tua buta tentu menjadi hal yang mudah baginya ketika harus 'bertarung' dengan para perampok tersebut dalam ruangan yang gelap dan sempit. Pendengarannya pun telah terasah  dengan baik, sehingga setiap detail bunyi menjadi petunjuk baginya untuk menemukan keberadaan targetnya. Sensasi mengerikan dan mencekam memang begitu terasa dalam adegan yang penuh kegelapan tersebut. Kita sebagai penonton seolah diajak untuk merasakan sensasi dalam sebuah ruangan gelap penuh kesunyian mencekam tersebut. 

Tak hanya teror dari sang pria buta yang terus menghantui, anjing penjaga milik sang pria tua tersebut juga tak kalah menebar ancaman yang mematikan bagi siapa saja yang mengganggu pemiliknya. Dan sejujurnya, hal ini justru lebih menakutkan bagi saya. Apalagi bagi anda yang fobia anjing, anda harus berhati-hati karena bisa dipastikan anda akan merasakan kadar ketegangan dan kengerian yang menjadi berlipat ganda ketika menonton film ini. Dan atmosfir tegang yang mencekam akan semakin terasa dengan balutan scoring garapan Roque Baños dan sinematografi dari Pedro Luque. Namun, di tengah ketegangan yang kerap hadir sepanjang film, ada error yang sedikit mengganggu dan menimbulkan tanda tanya bagi saya yaitu bagaimana cara sang pria tua buta tersebut melepaskan borgol di tangannya dan mengapa obat bius yang diberikan padanya tidak berpengaruh sama sekali?. Tetapi Alvares begitu pintar menutupi error tersebut dengan mengisinya dengan adegan-adegan menegangkan penuh twist yang membuat sesak nafas tanpa jeda, sehingga kita nyaris tak diberikan waktu berpikir lama-lama tentang kesalahan kecil tersebut. 

Stephen Lang jelas amat sangat memukau dalam memerankan karakter sang pria tuna netra yang tak bisa dipandang sebelah mata tersebut. Jane Levy, Dylan Minnette, dan Daniel Zovatto sebenarnya terlihat biasa saja, namun berkat racikan hebat dari Alvarez, akting mereka jadi lebih baik ketika memerankan karakter-karakter yang memang pas untuk mereka tersebut dan bisa menutupi segala kekurangan yang ada. Berbicara soal karakter-karakternya, tidak ada karakter yang benar atau salah di sini. Semuanya abu-abu. Saya tidak akan bersimpati dengan para perampok kelas teri tersebut. Namun, saya juga tidak bisa mendukung perbuatan yang dilakukan oleh sang pria buta tersebut. Saya nyaris ingin memberikan rating sempurna untuk film ini jika saja endingnya tidak seperti film kebanyakan dimana karakter utama akan survive setelah mengalami peristiwa yang mematikan. Ya, saya mengharapkan karakter Rocky mengalami nasib yang sama seperti kedua rekannya. Atau setidaknya Rocky masuk penjara karena perbuatannya tersebut. Atau semua karakter dalam film ini mati. Tapi sayangnya, Alvarez ingin cepat-cepat menyudahi film ini dengan akhir cerita yang membuat penontonnya dapat bernafas lega. Sayang sekali!  








Title: Don't Breathe | Genre: Thriller, Horror | Director: Fede Alvarez | Music: Roque Baños | Cinematography: Pedro Luque | Release dates: March 12, 2016 (SXSW), August 26, 2016 (United States) | Running Time: 88 Minutes | Country: United States | Language: English | Cast: Jane Levy, Dylan Minnette, Daniel Zovatto, Stephen Lang | IMDb | Rotten Tomatoes







 







August 03, 2016

Synecdoche, New York (2008)

Synecdoche, New York (2008)

Imitasi Kehidupan Dalam Sebuah Panggung






Warning: Contain Spoiler!

Caden Cotard (Philip Seymour Hoffman) adalah seorang sutradara teater di Schenectady, New York. Cotard memiliki seorang istri, Adele Lack (Catherine Keener), seorang pelukis gambar-gambar mini dan seorang putri berusia empat tahun yang bernama Olive (Sadie Goldstein). Selain harus berjuang keras dengan pekerjaannya, Cotard juga merasa tidak bahagia dengan kehidupan rumah tangganya. Dia lalu menjalin affair dengan Hazel (Samantha Morton), seorang penjaga tiket. Namun, di saat Cotard merasa bahwa perselingkuhan tersebut salah, Adele malah memilih pergi bersama sahabatnya, Maria (Jennifer Jason Leigh) ke Berlin dengan membawa serta Olive. Di saat bersamaan, Cotard mendapatkan bantuan dana "MacArthur Fellowship" untuk mewujudkan impian artistiknya. Dia lalu menciptakan replika kehidupan kota New York sebagai bagian dalam pertunjukannya.

Tanpa tahu jalan ceritanya dan tanpa ekspektasi apapun, saya tanpa sadar menikmati sekali film Synecdoche, New York ini. Padahal, jujur, film ini membuat saya bingung dan bertanya-tanya terus sepanjang film berlangsung, tetapi anehnya saya menikmati sekali momen-momen kebingungan tersebut. Synecdoche, New York adalah buah karya seorang Charlie Kaufman yang terkenal dengan naskah-naskahnya yang cerdas dan diluar logika seperti Being John Malkovich, Adaptation, Eternal Sunshine of the Spotless Mind. Dan kali ini Kaufman sendirilah yang menyutradarai naskah buatannya dan hasilnya adalah Synecdoche, New York; sebuah film dengan plot yang kompleks, absurd, dan tentu saja membuat penontonnya harus berpikir keras sepanjang film berlangsung. Ini adalah sebuah film yang indah, berseni dengan perpaduan akting, musik dan dialog yang sempurna. Sesuatu yang jarang ditemui dalam tipikal film-film Hollywood saat ini. Sesuatu yang sukses memberikan kesan mendalam ketika film usai. Dan film ini kualitasnya dipuji oleh banyak kritikus film, seperti Rogert Ebert misalnya, yang menyatakan bahwa Synecdoche, New York sebagai "The Best Movie of the Decade in 2009". Namun, keberhasilan film ini di mata para kritikus film malah berbanding terbalik dengan yang terjadi di lapangan. Film ini justru kurang sukses di pasaran. Memang, Synecdoche, New York bukanlah film yang bisa dinikmati oleh semua orang.

Sinekdok yang bermakna penggambaran sebagian dari sesuatu hal untuk menyatakan keseluruhan atau sebaliknya, dipaparkan secara jelas oleh Kaufman dalam film ini, dimana Cotard mempresentasikan segala lika-liku kehidupannya dalam miniatur kota New York yang dibangunnya untuk pementasan teaternya, lengkap dengan bangunan dan orang-orang di dalamnya. Teater tersebut ibarat sebuah sinekdok, dimana pementasan yang dilakukan di panggung mempresentasikan kejadian yang terjadi di dalam sebuah kehidupan nyata, begitu juga sebaliknya dimana kehidupan nyata dapat dilihat hanya sebagai sebuah teater dan kehidupan hanyalah sebuah pementasan belaka. Seperti halnya replika kota New York yang dibangun Cotard merupakan sinekdok dari kehidupannya; tidak jelas apakah kejadian yang terjadi dalam kehidupannya hanyalah sebuah pementasan belaka ataukah pementasan tersebut sebenarnya terjadi di kehidupan nyata. Kita akan dibawa dalam suasana dimana kita akan sulit membedakan yang mana yang nyata, mimpi atau hanya imajinasi. Ya, Kaufman membuat batas antara imajinasi dan kenyataan terasa kabur, memudar dan seolah menyatu. 

Kaufman juga memasukkan banyak unsur metafora dan simbol-simbol yang berbicara, seperti The Burning House contohnya. The Burning House tersebut ibarat takdir kematian yang tak terelakkan, namun Hazel tetap memilih membeli rumah tersebut walaupun dia tahu bahwa rumah tersebut tidak aman dan kapan saja bisa terbakar. Hazel menyingkirkan rasa takutnya dan menerima takdir hidupnya karena dia menyadari bahwa setiap orang pasti akan mati dan dia lebih memilih mati di rumah yang indah walaupun harus terbakar nantinya. Hal yang sangat berkebalikan dengan Cotard yang seperti tidak bisa menerima takdirnya dan takut akan kematian. Itulah mengapa kehidupan manusia merupakan subjek terpenting yang digambarkan dalam film ini. Jika kita melihat bahwa pertunjukan teater Cotard dan alur cerita dalam film ini tampak berantakan dan acak, itu karena kehidupan pun demikian adanya. Tak ada yang statis. Film ini juga menyoroti perjalanan hidup seseorang terutama tentang sisi gelap dalam diri seseorang yang terus menghantui. Ketakutan-ketakutan itu terlihat dalam hasil karya Cotard dimana dia menciptakan panggung teater yang semakin lama semakin besar ukurannya. Kontras dengan karya lukisan buatan Adele yang justru semakin lama semakin berukuran kecil dan menjadikannya seniman yang sukses. Ya, Synecdoche, New York adalah film tentang kehidupan, tentang kematian, juga eksistensi.

Akting yang hebat ditunjukkan dari para pemainnya; terutama Philip Seymour Hoffman yang benar-benar menunjukkan taringnya di film ini. Hoffman seolah menyatu dengan karakter Cotard yang rapuh, putus asa dan depresi dengan kehidupannya. Pemain lain seperti Samantha Morton, Michelle Williams, Catherine Keener, Emily Watson, Dianne Wiest, Jennifer Jason Leigh, Hope Davis dan Tom Noonan tak kalah briliannya beradu akting di film ini. Ditutup dengan sajian lagu Litte Person yang memukau dari Deanna Storey, Synecdoche, New York adalah film yang akan meninggalkan bekas yang mendalam ketika selesai menontonnya. Synecdoche, New York is beautifully haunting. I really love love love this movie.








Title: Synecdoche, New York | Genre: Drama  | Director: Charlie Kaufman | Writer: Charlie Kaufman | Music: Jon Brion | Cinematography: Frederick Elmes | Release dates: May 23, 2008 (Cannes), October 24, 2008 (United States, limited) | Running time: 123 minutes | Country: United States | Language: English | Cast: Philip Seymour Hoffman, Samantha Morton, Michelle Williams, Catherine Keener, Emily Watson, Dianne Wiest, Jennifer Jason Leigh, Hope Davis, Tom Noonan | IMDb | Rotten Tomatoes









July 03, 2016

Wristcutters: A Love Story (2006)


Wristcutters: A Love Story (2006)

Benarkah Keajaiban Itu Ada?




Zia: "Being here with you reminds me of what I was like before my suicide."
Mikal: "What were you like?"
Zia: "I was happy..."



Warning: Contain Spoiler!

Zia (Patrick Fugit) yang baru putus cinta dengan Desiree (Leslie Bibb) memutuskan untuk bunuh diri dengan mengiris pergelangan tangannya. Setelah itu dia menjalani kehidupan di sebuah tempat yang dihuni oleh orang-orang yang bunuh diri. Dia juga mendapat pekerjaan di Kamikaze Pizza, namun kehidupan barunya ini tak lebih baik dari sebelumnya. Zia berkenalan dengan Eugene (Shea Whigham), seorang rocker yang bunuh diri ketika manggung bersama bandnya. Tanpa sengaja Zia mendapat kabar bahwa mantan pacarnya Desiree telah bunuh diri dan sedang mencari keberadaan dirinya. Bersama Eugene, Zia memutuskan untuk menemukan Desiree. Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan Mikal (Shannyn Sossamon) yang percaya bahwa dia berada di tempat tersebut karena sebuah kesalahan dan dia sedang mencari People in Charge (PiC) yang akan membawanya kembali ke dunia. Mereka akhirnya tiba di tempat penampungan milik Kneller (Tom Waits), seorang pria tua eksentrik yang berbaik hati membiarkan para pelancong untuk tinggal di tempatnya selama mereka tidak membuat masalah. Lalu, dapatkah Zia menemukan Desiree?

Wristcutters: A Love Story adalah black comedy yang lumayan membuat cengar-cengir. Padahal tadinya saya berharap bisa meneteskan air mata menonton film ini karena openingnya yang memang sesuai dengan yang saya harapkan ceritanya; cerita tentang seseorang yang baru saja putus cinta dan hopeless dengan kisah cintanya. Namun yang kemudian terjadi malah cerita road trip movie di dunia fana. Saya bahkan cukup lama baru menyadari bahwa film ini bersetting di akhirat (afterlife). Bukan, ini sebenarnya bukan akhirat. Dunia baru yang ditempati Zia adalah sebuah tempat yang khusus dihuni oleh orang-orang yang bunuh diri; sebuah tempat yang tandus yang dipenuhi oleh rongsokan ban bekas, mobil yang terbakar, sofa yang dibuang begitu saja, dimana orang-orangnya tak pernah tersenyum, dan tak ada bintang bersinar di malam hari. Tak seorang pun di 'dunia ini' mempunyai ambisi atau misi. Bahkan setiap orang masih memiliki bekas luka yang mereka dapat ketika bunuh diri. It's like a place for people who can not go to heaven or hell.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya bahwa film ini juga merupakan road trip movie, maka kita akan menyaksikan perjalanan Zia, Eugene dan Mikal yang dipenuhi dengan berbagai macam hal menyenangkan, menyedihkan, menarik, unik dan absurd. Ketiganya bagaikan jiwa-jiwa yang hilang yang bersama-sama mencari jawaban hidup walaupun tidak tahu siapa yang akan mereka temui. Bahkan mereka juga tidak tahu apakah keberadaan orang yang ingin ditemui tersebut ada atau tidak. Ya, ini bagaikan sebuah pencarian dalam hidup oleh orang-orang yang hidupnya telah berakhir dan sesudahnya perjalanan baru pun dimulai. Karena sesungguhnya bunuh diri bukanlah akhir dari segalanya, melainkan menjadi permulaan sebuah perjalanan panjang di dunia fana untuk mencari apa yang tidak ditemukan di kehidupan sebelumnya. Tak jarang beberapa bagian begitu menyentuh, namun di sisi lain juga di sisipi komedi yang minimal mampu membuat kita nyengir atau tersenyum. Beberapa adegan yang sukses membuat saya tertawa adalah ketika Eugene menampar keponakannya yang ingin bunuh diri. Atau tentang segitiga bermuda di bawah tempat duduk di mobil Eugene. Those are absolutely absurd funny scenes. Memang, banyak adegan-adegan absurd yang terkadang membuat saya menyerngitkan dahi sembari berucap 'what the..?', namun anehnya alurnya begitu asik untuk diikuti. Saya sampai menantikan hal absurd bin lucu apa lagi yang akan ditampilkan dalam film ini. Pun begitu, lelucon-lelucon yang disajikan merupakan sebuah satir penuh makna.

Kecuali Leslie Bibb (yang saya kenal lewat serial Popular), saya tidak mengenal para pemain lainnya di film ini, namun mereka semua bermain cukup bagus. Patrick Fugit memerankan karakter Zia yang hopeless dan tak bergairah menjalani hidup dengan sukses. Shea Whigham salah satu yang mencuri perhatian di sini dengan perannya sebagai Eugene. Ada juga Shannyn Sossamon (yang awalnya saya kira Leslie Bibb dengan warna dan model rambut yang berbeda. Seriously, mereka mirip banget disini!) yang berperan sebagai Mikal dan Tom Waits.

Well, walaupun film ini tidak sesuai dengan ekspektasi awal saya yang ingin menonton film bertema romantic comedy yang sedih, tapi saya cukup menikmati film ini. Hanya saja saya tidak suka dengan endingnya. Yeah, sejujurnya saya berharap ending yang bisa membuat saya menitikkan air mata, hahahaWristcutters: A Love Story is a bittersweet touching romantic dark comedy that you have to try watching it. Sebuah film tentang pencarian makna kehidupan dan memberitahu kita bahwa hidup itu singkat, maka hiduplah dengan baik dan benar. Bunuh diri bukanlah jalan terbaik untuk menyelesaikan permasalahan. Dan percayalah bahwa akan selalu ada harapan dan keajaiban walau sesulit apapun.






Title: | Genre: Comedy, Drama, Fantasy | Director: Goran Dukić | Music: Bobby Johnston, Gogol Bordello | Cinematography: Vanja Cernjul | Release dates: January 24, 2006 (Sundance), October 19, 2007 (United States) | Running time; 88 minutes | Country: United States | Language: English | Cast: Patrick Fugit, Shannyn Sossamon, Shea Whigham, Leslie Bibb, Tom Waits | IMDb | Rotten Tomatoes







May 12, 2015

It Follows (2014)


It Follows (2014)

 





Adegan awal film ini langsung menyuruh kita menebak-nebak, apa sebenarnya yang terjadi dimana ada adegan seorang gadis yang berlari ketakutan ke luar dari sebuah rumah. Namun, jika merujuk pada judul filmnya sendiri, tentulah kita yakin dia sedang diikuti oleh hantu atau makhluk halus sejenisnya. Oke, openingnya lumayan bagus, nih! Lalu kita pun diajak untuk beralih ke karakter utama film ini, Jay (Maika Monroe), seorang gadis berusia 19 tahun yang cantik dan menarik. Hal tersebut tentu saja membuatnya gampang mendapatkan teman kencan. Jay lalu berkencan dengan Hugh (Jake Weary) dan melakukan hubungan seksual. Namun, sesuatu terjadi padanya. Dia ikuti oleh kekuatan supranatural yang aneh yang menghantuinya setiap saat. Dia merasa selalu diikuti oleh seseorang dimana pun berada. Hal tersebut membuat Jay sangat ketakutan. Dengan bantuan saudara perempuannya, Kelly (Lili Sepe) dan teman-temannya; Paul (Keir Gilchrist), Yara (Olivia Luccardi) dan Greg (Daniel Zovatto),  Jay harus menemukan cara untuk mengatasi ketakutan dan kengerian tersebut. 

Well, ekspektasi saya menonton film ini bisa dikatakan cukup tinggi melihat banyaknya review positif dari berbagai forum dan dari para kritikus film. Sejujurnya, saya langsung jatuh cinta dengan pembukaan filmnya yang cukup bagus tersebut dan saya sangat mengharapkan berbagai kejutan manis nantinya di adegan-adegan berikutnya. Namun terkadang memang ekspektasi yang tinggi hanya akan menyakitkan jika kenyataannya berbeda. Dan saya pun kecewa. Pertama, durasinya yang menurut saya terlalu lama sehingga kerap menimbulkan kebosanan luar biasa untuk saya. Jika saja pace-nya tidak berjalan selambat ini, mungkin akan lain ceritanya. Cukup lama untuk menunggu kapan bakal keluar "kejutan" yang manis tersebut setelah rentang waktu dari openingnya. Well, setelah karakter Jay diikuti oleh makhluk-makluk gaib tersebut, memang ada beberapa kejutan yang manis. Atmosfir pun berubah menjadi eerie dan horor seketika. Penampakan para hantunya cukup mengagetkan terutama 'The tall man' yang sukses bikin saya beberapa detik menahan nafas. Sayangnya, itu cuma sebentar saja dan kemudian muncul kebosanan lagi melanda saya. Rasanya ingin sekali men-skip saja adegannya. Kedua, beberapa adegan malah terlihat doesn't make sense at all for me. Salah satunya ketika Jay dihantui oleh para makhluk halus tersebut, dia melarikan diri ke taman yang lokasi lumayan jauh dari rumahnya. Hey, why don't you just stay in the house with your friend, huh? I mean, dia ketakutan setengah mati tapi kenapa dia malah lari sendirian di tengah malam begitu ke taman yang sunyi dan sepi? Siapa yang akan menolongnya jika tiba-tiba para hantu itu menyerbunya? Bukankah lebih aman jika dia bersama dengan teman-temannya? Tapi, ya syukurlah dia tidak diikuti oleh para hantu tersebut disana. But yeah, I really have no idea with that scene at all.

Untungnya, banyak sisi bagus dari film ini seperti pengolahan ceritanya yang untungnya juga tidak menjadi sesuatu yang salah dan terkesan murahan. Let's see, premis ceritanya yang mengenai kutukan karena berhubungan intim tentu terkesan porno dan hal tersebut bisa menjadi sajian basi ala horror popcorn porn movie jika jatuh di tangan sutradara yang salah. Dan untungnya lagi, sex scene-nya juga tidak berlebihan dan masih dalam batas yang wajar untuk sajian horor remaja. Salah satu nilai plus lagi untuk film indie ini adalah para pemain mudanya yang bertampang keren sehingga tentu saja menambah nilai jual bagi filmnya sendiri. Tak bisa dipungkiri, masih banyak penonton yang menonton sebuah film karena tampang keren para pemainnya ketimbang ceritanya yang bagus. Dan bagusnya, para pemain muda tersebut berakting dengan cukup baik pula. Selain itu, sinematografinya begitu bagus dan saya sangat menyukainya. Begitu pun dengan setting lokasinya, terutama perumahannya yang asri dan bangunan tua seperti bangunan di kolam renang yang mampu menciptakan atmosfir horor yang kental. Dan hal terakhir yang menarik adalah tidak akan kita temui adegan flashback yang menceritakan asal muasal kutukan tersebut sebagaimana yang sering kita temui dalam film-film horor masa kini. Para kritikus film mengatakan bahwa film ini menghidupkan kembali formula horor klasik yang pernah ada. Ya, benar adanya! Namun bukan berarti kemudian citarasa horor yang tercipta tersebut bakal langsung sukses begitu saja. Jika ingin jujur, saya jauh merasa lebih takut dan sangat penasaran menonton Don't Look Now atau Suspiria ketimbang It Follows. Don't Look Now memang saya suka filmnya tapi tidak dengan Suspiria. Namun begitu, atmosfir horornya justru lebih terasa kuat dibanding It Follows sendiri. It Follows sendiri kerap dibanding-bandingkan dengan The Babadook yang sukses tahun lalu. Dan menurut saya pribadi, dari sisi cerita The Babadook jauh lebih menjual, begitu pun dari sisi horornya kendati porsi dramanya jauh lebih banyak. Sedangkan It Follows, walau di beberapa adegan memang sukses membuat degup jantung berdetak kencang, namun sisanya tidaklah begitu 'wah'.

Dan akhirnya saya berkesimpulan kenapa film indie satu ini bisa dihujani beragam komentar positif dan rating tinggi diberbagai forum, tentulah karena berani menghidupkan kembali atmosfir horor klasik yang telah lama mati suri dipadu dengan beberapa hal baru yang ada. But for me, I'm not really enjoying this show, bahkan kesan horornya pun terasa biasa saja. Bahkan ketika film ini usai, ya sudah, semua yang saya tonton tadi lenyap seketika tak berbekas sedikit pun di memori saya. Kesan yang sangat berbeda ketika saya menonton fim horor lainnya (seperti Don't Look Now contohnya) dimana adegan horornya pasti akan terus terekam di benak saya. So, I just have to say.. yeah, It Follows is just overrated!






Title: It Follows | Genre: Horror, Mystery | Director: David Robert Mitchell | Music: Disasterpeace | Cinematography: Mike Gioulakis | Release date: May 17, 2014 (Cannes), March 13, 2015 (United States) | Running time: 100 minutes | Country: United States | Language: English | Cast:  Maika Monroe, Keir Gilchrist, Daniel Zovatto, Jake Weary, Olivia Luccardi, Lili Sepe | IMDb | Rotten Tomatoes




May 06, 2015

A Girl Walks Home Alone At Night (2014)

A Girl Walks Home Alone At Night (2014)





Arash (Arash Marandi), seorang pemuda yang sangat bangga bisa membeli mobil dari hasil kerjanya selama 2.191 hari. Namun suatu hari mobilnya tersebut diambil paksa oleh Saeed (Dominic Rains) sebagai pengganti utang ayah Arash yang seorang pecandu narkoba, Hossein (Marshall Manesh). Saeed lalu memamerkan mobil tersebut pada Atti (Mozhan Marno), a lonely prostitute. Tanpa disadari oleh mereka berdua, seorang gadis (Sheila Vand) memperhatikan gerak-gerik mereka dari kejauhan di tengah malam di sebuah kota berhantu yang bernama Bad City tersebut. 

A Girl Walks Home Alone at Night merupakan besutan sutradara Ana Lily Amirpour, seorang perempuan berdarah Amerika-Iran yang dibuat berdasarkan graphic novel dengan judul yang sama karangan Amirpour sendiri. Mengusung genre bertema vampire yang notabene sudah sangat sering diangkat ke layar kaca, tentulah yang menjadi tanda tanya besar adalah apa yang bisa disajikan lebih oleh film ini sehingga tentunya formula membosankan khas vampire tidak akan terulang lagi? Sebaiknya anda menontonnya sendiri, namun saya bisa memastikan bahwa  A Girl Walks Home Alone at Night mampu keluar dari zona membosankan tersebut dan membuat sesuatu yang baru dan fresh. For your information, I don't really like watching vampire movie actually, but I have no idea why I really enjoy watching this movie. Mungkin salah satunya karena mixture yang ada, vampire Iran dengan budaya Iran dibalut dengan cita rasa western menjadikannya kombinasi unik. Namun jangan salah, ini bukan film produksi Iran (saya sendiri salah duga awalnya) karena semua proses syutingnya sendiri diambil di South California, tepatnya di kota kecil Taft di Kern County. Namun karena sang sutradara memiliki darah Iran, maka ia ingin menciptakan sebuah sajian horor vampire dengan ciri khas timur tengah, seperti taglinenya “The first Iranian vampire Western”.


Yang membuat film ini semakin menarik dan terasa so much creepy adalah tampilan sinematografinya yang hitam putih, yang juga sukses menggambarkan suasana mencekam dari Bad City, suatu kota fiksi yang nyaris tanpa tanda-tanda kehidupan tersebut. Visual yang ditampilkan begitu indah dan memanjakan mata sehingga saya sangat betah melihatnya walau dalam nuansa hitam putih. Namun dengan alurnya yang bisa dibilang sedikit lambat, bagi sebagian orang akan merasa bosan terutama di paruh waktu kedua. Tapi tenang, semua akan terselamatkan dengan sajian sountracknya yang begitu asik dari Kiosk, Radio Tehran, White Lies, Federale, Farah dimana terjadi perpaduan beragam genre musik seperti electro, pop, rock alternative bahkan folk ala timur tengah. Salah satu lagu yang memorable tentu saja lagu  Death milik White Lies di salah satu scene favorit saya dalam film ini.


Penampilan Sheila Vand tentulah yang menjadikan film ini terasa memukau. Lewat karakter misteriusnya yang bahkan nama karakternya pun tidak diketahui, Sheila mampu menghipnotis penonton dengan segala gesture dan mimik yang diciptakannya. Kesan misterius, menakutkan, mengintimidasi bahkan mengancam dengan pembawaan yang sangat tenang benar-benar merasuk perlahan dalam imajinasi kita, menimbulkan sensasi horor nan creepy. Bagaimana tidak, kita bahkan tidak tahu apa motif sebenarnya dari sang vampire wanita misterius ini. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan dilakukannya, siapa yang akan menjadi incaran berikutnya dan apa yang sebenarnya ingin dia capai. Dia bagaikan momok yang sangat menakutkan bagi siapa saja yang pernah melihatnya. Penampilan ciamik lainnya juga ditampilkan oleh para pemain lainnya seperti Arash Marandi, Dominic Rains, Marshall Manesh dan Mozhan Marno yang terkenal berkat film The Stoning of Soraya M. Tak ketinggalan sang sutradara yang juga ingin eksis, Ana Lily Amirpour tampil sebagai cameo dalam film ini, sebagai party girl dengan memakai sebuah topeng.

Dengan mengusung kombinasi horor, romance, thriller ala Iran dibalut dengan spaghetti westerns, A Girl Walks Home Alone at Night merupakan sajian fresh tentang vampire - vampire wanita Iran yang cantik dan menyeramkan dengan skateboardnya - dalam atmosfir magis yang menegangkan. Namun begitu, A Girl Walks Home Alone At Night bukanlah film yang bisa dinikmati oleh semua orang. This is the art movie. For anyone who wanna watch something different about vampire genre, you have to watch this movie. 






Title: A Girl Walks Home Alone At Night | Genre: Horror, Romance, Thriller | Director: Ana Lily Amirpour | Release dates: January 20, 2014 (Sundance), November 21, 2014 (United States) | Country: United States | Language: Persian | Cast: Sheila Vand, Arash Marandi, Marshall Manesh, Dominic Rains | IMDb | Rotten Tomatoes



















Translate

Waiting Lists

Sur mes lèvres.jpg Dark, brown-tinted and horror-themed image of a man in an asbestos-removal suit (to the right side of the poster), with an image of a chair (in the middle of the image) and an image of a large castle-like building at the top of the image. The text "Session 9" is emboldened in white text in the middle of the image, and near the bottom of the image is written, "Fear is a place." Lisbeth Salander with Mikael Blomkvist The Girl Who Played with Fire.jpg Page turner.jpg Le trou becker poster3.jpg Nightwatch-1994-poster.jpg Headhunter poster.jpg On the Job Philippine theatrical poster.jpg The Song of Sparrows, 2008 film.jpg The-vanishing-1988-poster.jpg Three Monkeys VideoCover.png