Showing posts with label Mads Mikkelsen. Show all posts
Showing posts with label Mads Mikkelsen. Show all posts

November 03, 2016

Doctor Strange (2016)


Doctor Strange (2016)

Not too bad. Better Watched in 3D.




"I don't know what my future holds. But I can't go back".
- Dr. Stephen Strange -








Doctor Stephen Strange (Benedict Cumberbatch) adalah seorang ahli bedah saraf yang jenius, berbakat dan sedikit arogan. Banyak kasus rumit para pasien yang dapat ditanganinya. Namun, sebuah kecelakaan membuat kedua tangannya menjadi tidak dapat berfungsi normal lagi. Di tengah keputusasaan, Strange mencoba mencari keajaiban dengan mendatangi Kamar-Taj di Nepal yang konon dapat menyembuhkan segala macam penyakit. Kamar-Taj yang dipimpin oleh Ancient One (Tilda Swinton) tersebut mengajarkannya banyak hal terutama menghilangkan ego dan arogansinya, disamping harus mempelajari rahasia dunia sihir yang tersembunyi untuk menjadi bekal menghadapi mantan murid Ancient One yang berkhianat, Kaecilius (Mads Mikkelsen) dan menggunakan segala kemampuannya untuk menjadi perantara antara dimensi manusia dan dimensi lainnya

Jujur, saya sebenarnya kurang tertarik untuk menonton film-film superhero. Tapi berhubung bulan ini sepertinya tidak ada film yang benar-benar memikat hati saya, akhirnya saya memutuskan mencoba menonton film yang lagi hype dimana-mana ini; Doctor Strange. Dan seperti biasa, saya malas berekspektasi apapun. Bahkan saya selalu skeptis dengan film-film bertema superhero. Dan karena saya terlalu malas mencari info film ini (karena nggak tertarik juga untuk menontonnya, sih), saya sempat kaget dengan jajaran cast di film ini yang ternyata adalah dua aktor hebat: Mads Mikkelsen dan Tilda Swinton. What I already knew that Benedict Cumberbatch as Doctor Strange, nothing else. For your information, I never read the comic too.

Penggarapan naskah film ini menjadi salah satu poin lemah di film ini. Ceritanya terkesan biasa saja. Apalagi bagi saya yang notabene bukan penggemar cerita superhero. Bagi penonton awam yang tidak membaca komiknya (seperti saya), ada beberapa hal yang mungkin akan menimbulkan tanda tanya, mengapa begini mengapa begitu?, apalagi ceritanya terkesan terburu-buru terutama di klimaksnya. Saya sampai berujar dalam hati; villainnya kok gampang banget dikalahkan?What the..!! Padahal durasinya cukup panjang (bagi saya yang memang susah menonton film-film berdurasi panjang), namun tetap saja terlalu banyak hal yang sepertinya tidak dapat dicakup semaksimal mungkin. Apalagi bagi penggemar komiknya, saya yakin akan merasa sangat tidak puas. Perpindahan tiap adegannya terasa begitu cepat, overlap dan sering terasa dipaksakan agar dapat tuntas dalam durasi 115 menit. Pun begitu, entah kenapa saya masih juga merasakan sedikit kebosanan dan nyaris mengantuk. Syukurlah, special effectnya yang sangat bagus memang sangat memanjakan mata sehingga rasa kantuk pun seketika lenyap. Mungkin kalau saya tidak menonton di bioskop, saya yakin sekali saya akan ketiduran bahkan mungkin dari pertengahan film diputar. Special effectnya mengingatkan pada film Inception di beberapa bagian. Sedikit menyesal saya tidak menonton yang versi 3D. Buat anda yang belum menontonnya, sangat disarankan untuk menonton versi 3D. Tak lupa, ada sisipan jokes-jokes yang cukup sukses membuat seisi bioskop tertawa. Namun saya sendiri sepertinya tidak terlalu menikmati jokes tersebut. Yang saya ingat, saya hanya tertawa dua atau tiga kali saja; jokes tentang Beyonce dan ketika Wong akhirnya bisa tertawa. That's it!.

Doctor Strange tidak akan menjadi hidup tanpa penampilan dari seorang Benedict Cumberbatch. Walau pun untuk beberapa bagian, dia masih terlihat seperti seorang Sherlock, namun tetap kehadirannya merupakan salah satu kunci kesuksesan film ini. Sayangnya, penampilan Mads Mikkelsen dan Tilda Swinton kurang tereksplor lebih banyak lagi, terutama Mikkelsen yang terasa menyia-nyiakan kemampuan aktingnya yang sangat bagus tersebut. Karakter Kaecillius terlihat kurang dikembangkan lebih banyak lagi, bahkan terkesan begitu mudah dikalahkan oleh Strange. 

Well, sebagai sebuah sajian film superhero yang ringan, menghibur, dan penuh special effect canggih, Doctor Strange telah berhasil melakukannya dengan sangat baik. Jangan buru-buru beranjak dari bioskop karena masih ada post-credit scene di akhir film.







Title: Doctor Strange | Genre: Action, Adventure, Fantasy | Director: Scott Derrickson | Music: Michael Giacchino | Cinematography: Ben Davis | Production company: Marvel Studios | Release dates: October 13, 2016 (Hong Kong), November 4, 2016 (United States) | Running time: 115 minutes | Country: United States | Language: English | Based on Doctor Strange by Steve Ditko | Cast: Benedict Cumberbatch, Chiwetel Ejiofor, Rachel McAdams, Benedict Wong, Michael Stuhlbarg, Benjamin Bratt, Scott Adkins, Mads Mikkelsen, Tilda Swinton | IMDb | Rotten Tomatoes








October 26, 2013

A Royal Affair | En kongelig affære (2012)


A Royal Affair (2012)




A Royal Affair (2012)
En kongelig affære 
Drama | History | Romance
Based on Prinsesse af blodet by Bodil Steensen-Leth
Director: Nikolaj Arcel
Music: Cyrille Aufort, Gabriel Yared
Release date(s): March 29, 2012 
Running time: 137 minutes
Country: Denmark, Sweden, Czech Republic
Language: Danish 

Starring:

Pada tahun 1767, Raja Christian VII (Mikkel Følsgaard) yang kala itu masih berusia 17 tahun menikah dengan Putri Caroline Matilda (Alicia Vikander) yang berasal dari kerajaan Inggris. Sayangnya, Matilda tidak tahu bahwa Christian kekanak-kanakan, egois dan menderita sakit mental. Dia bahkan sama sekali tidak bisa bercinta dengan Matilda dan lebih senang menghabiskan waktunya dengan para pelacur. Tanpa kasih sayang sang suami dan tekanan dimana-mana, Matilda merasakan depresi dan tekanan mental yang berat. Sosok Johann Friedrich Struensee (Mads Mikkelsen), yang merupakan dokter pribadi sang raja, membuat Matilda yang kesepian, jatuh hati karena sifat dewasa dan idealisnya. Perasaan Matilda disambut oleh Struensee dan mereka berdua akhirnya menjalin hubungan terlarang tersebut secara diam-diam. Sebagai satu-satunya orang yang dapat mempengaruhi sang raja, Struensee memulai revolusi melalui pengaruh Christian yang merubah Denmark selamanya. 
  
Melihat judulnya saja, penonton mungkin sudah bisa menebak tentang jalan ceritanya. Tapi, percayalah, hal tersebut tidak akan mengurangi kenikmatan menonton film ini. Bahkan saya akhirnya tidak penasaran lagi kenapa review filmnya positif dan mendapat rating yang cukup tinggi dimana-mana. Menyajikan sebuah film berlatar belakang sejarah memang tidak mudah. Tanpa perhitungan yang matang dalam segala hal, bukannya film bagus yang tercipta, malah film yang terkesan asal jadi nantinya. Nikolaj tahu betul bagaimana membuat sebuah film bagus. Eksekusi yang baik dan tertata rapi, script yang cerdas ditambah sinematografinya yang indah, membuat En kongelig affære (A Royal Affair) menjadi tontonan cerdas dan bermutu. Belum lagi, setting dan kostum yang begitu indah, membuat kita seolah-olah menyaksikan sendiri masa-masa tahun 1760-an.

 
Khas drama tentang kerajaan, tentulah akan banyak konfilik-konflik sepanjang film berlangsung. Apalagi film ini berdasarkan kisah nyata yang terjadi pada kerajaan Denmark beberapa abad yang lalu. Drama, romance, skandal, permainan politik dan kisah sejarah ditampilkan dengan dengan porsi yang pas oleh Nikolaj. Walaupun durasinya lama, namun tidak terasa membosankan menonton film ini.


Akting keren ditampilkan oleh ketiga pemain  utamanya. Mikkel Følsgaard dengan sangat baik memerankan Christian yang sedikit 'sinting' dan sama sekali tidak mencerminkan perilaku seorang raja. Lihatlah bagaimana Christian yang justru lebih peduli pada hewan peliharaannya ketimbang istrinya sendiri.  Matilda yang nyaris terlihat gloomy sepanjang film diperankan dengan baik oleh Alicia Vikander. Dan tentunya Mads Mikkelsen yang aktingnya tak perlu dipertanyakan lagi. 

 

Finally, En kongelig affære is a smart, well-paced movie with sense of drama and history. Film ini bahkan bisa menjadi media alternatif lain untuk mempelajari sejarah, khususnya sejarah kerajaan Denmark di abad ke-18.



A young queen, who is married to an insane king, falls secretly in love with her physician - and together they start a revolution that changes a nation forever.











A young queen, who is married to an insane king, falls secretly in love with her physician - and together they start a revolution that changes a nation forever.

October 19, 2013

The Hunt | Jagten (2012)


The Hunt (2012)






Jagten (2012)
The Hunt (2012)
Drama
Music: Nikolaj Egelund
Release date(s): 20 May 2012 (Cannes)
10 January 2013 (Denmark)
Running time: 115 minutes
Country: Denmark
Language: Danish

Starring:





Lucas (Mads Mikkelsen) adalah seorang pria yang bekerja di sebuah taman kanak-kanak di sebuah kota kecil. Hidupnya seperti orang kebanyakan di kota tersebut. Dia menikmati hidupnya dengan senang dan anak-anak di tempatnya bekerja senang bermain dengannya. Hal tersebut malah kontras dengan kehidupan pribadinya dimana dia bercerai dengan istrinya dan tidak mendapatkan hak asuh atas putranya, Marcus (Lasse Fogelstrøm). Namun kehidupannya yang normal tersebut mendadak berubah total tatkala dia dituduh melecehkan salah seorang siswi di tempatnya bekerja. Lebih tragis lagi, Klara, anak perempuan tersebut adalah putri sahabat baiknya, Theo (Thomas Bo Larsen).

  

Klara yang kesepian karena orang tuanya sering bertengkar, sering pergi bersama Lucas ke sekolah. Klara juga sering menanyakan anjing kepunyaan Lucas karena dia menyukainya. Kedekatan tersebut membuat semua warga percaya atas apa yang dilakukan Lucas pada Klara. Terlebih lagi ucapan pelecehan tersebut langsung dari mulut Klara sendiri, yang dikenal tidak pernah berbohong dan memiliki daya imajinasi tinggi. Seketika hidup Lucas hancur berkeping-keping.


Jagten (The Hunt) bukanlah tipe drama ringan. Ceritanya begitu berat, suram dan kelam, terlihat kontras dengan sinematografinya yang indah. Premisnya memang sederhana dan sempit, namun Vinterberg sukses membawa penonton merasakan sensasi penuh emosi, tekanan dan intimidasi yang berat selama film ini berlangsung. Konfliknya dibangun tanpa terburu-buru dan memang cenderung lambat, namun mampu membuatnya terasa real. Vinterberg sangat pintar membuat para penonton seperti ikut serta dalam konflik demi konflik yang terjadi dan menghadirkan kegelapan yang suram sehingga mau tidak mau ikut jatuh ke jurang kegelapan tersebut. Antara marah, kesal, benci, haru, sedih, semuanya bercampur baur menjadi satu.

 

Ya, kesal dan muak memang menjadi hal lumrah yang akan dirasakan penonton ketika menyaksikan film ini. Film ini memang sukses membuat penonton merasa tidak nyaman tentang banyak hal. Lucas sebagai sosok pria lembut dan penyayang, tentu akan membuat penonton menyukainya. Penonton pun mungkin akan membelanya dari kesalahan yang tidak diperbuatnya. Namun, ketika seorang anak kecil yang polos mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya dikatakan anak seusianya tersebut, tentulah menjadi pilihan yang sulit untuk penonton sendiri. Sanggupkah kita menyalahkan sang anak yang sebenarnya hanya takut kehilangan seseorang yang disayanginya, kendati ucapan dari seorang anak kecil polos tersebut ternyata malah bisa menjadi senjata ampuh untuk menghancurkan hidup seseorang? Jujur, itu menjadi pilihan sulit. Vinterberg menyuruh para penontonnya untuk menyaksikan dan merasakan secara langsung yang terjadi pada karakter utama dengan penuh emosional dan menyakitkan. Lucas bagaikan 'buruan' oleh seluruh warga di kotanya dengan berbagai tindakan diskriminatif yang dialaminya pasca insiden "ucapan seorang anak kecil" tersebut.

 

Akting Mikkelsen jelas menjadi point utama dalam film ini. Ya, akting jempolan Mikkelsen memang menjadi kunci utama kesuksesan film ini. Tanpa akting yang baik, sebuah script yang bagus belum tentu membuat sebuah film menjadi bagus juga. Gesture yang ditampilkan Mikkelsen sudah mewakili emosi terdalam dari seorang Lucas yang harus dihadapkan pada kenyataan pahit untuk berjuang sendirian melawan segala diskriminasi yang dialamatkan padanya. Lucas (dipaksa) untuk kehilangan hampir semua yang dia miliki. Penonton diajak ikut serta menyaksikan menit demi menit yang menyesakkan tanpa diberi kesempatan untuk merasa iba sedikit pun. Terkadang kita jadi bertanya pada diri sendiri, “Bagaimana jika hal tersebut terjadi pada kita? Apa yang akan kita lakukan? Bisakah kita setegar Lucas?”

 

Jagten sendiri seperti memaknai bahwa hidup ini layaknya sebuah perburuan, dimana kita yang memburu atau justru kita yang diburu. Jagten memang bukanlah sebuah film horror yang akan mengagetkan anda, namun Jagten justru mampu menghadirkan perasaan horor yang justru lebih horor dari film horor sekalipun. Horornya merasuki setiap sudut terdalam diri anda  sendiri dan menimbulkan rasa takut mencekam. Klimaksnya, kita sendiri seperti merasakan langsung yang dialami karakter utama dalam film ini. Sungguh fitnah memang lebih kejam dari pembunuhan. Overall, Jagten adalah film cerdas yang sangat memuaskan dan sukses menari-nari di benak anda, bahkan ketika film ini telah berakhir sekalipun.

 












Translate

Waiting Lists

Sur mes lèvres.jpg Dark, brown-tinted and horror-themed image of a man in an asbestos-removal suit (to the right side of the poster), with an image of a chair (in the middle of the image) and an image of a large castle-like building at the top of the image. The text "Session 9" is emboldened in white text in the middle of the image, and near the bottom of the image is written, "Fear is a place." Lisbeth Salander with Mikael Blomkvist The Girl Who Played with Fire.jpg Page turner.jpg Le trou becker poster3.jpg Nightwatch-1994-poster.jpg Headhunter poster.jpg On the Job Philippine theatrical poster.jpg The Song of Sparrows, 2008 film.jpg The-vanishing-1988-poster.jpg Three Monkeys VideoCover.png