Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

February 06, 2017

Belenggu (2013)


Belenggu (2013)









Di suatu kota kecil sedang dicekam ketakutan setelah terjadinya kasus pembunuhan berantai di mana pembunuhnya masih berkeliaran bebas. Penyelidikan pun dilakukan. Semua orang dicekam ketakutan dan saling mencurigai satu sama lain. Elang (Abimana), seorang pemuda pendiam dan tertutup, seringkali dihantui bayangan-bayangan mengerikan tentang pembunuhan aneh yang melibatkan sesosok orang misterius yang mengenakan kostum Kelinci. Elang merasa bahwa sosok bertopeng Kelinci itulah kunci dari segalanya. 

 

Upi Avianto. Siapa yang tak kenal dengan sutradara satu ini. Karya-karya yang dihasilkannya selalu fresh, asik dan menarik. Kali ini Upi menawarkan sebuah sajian yang berbeda dan jarang dibuat di Indonesia; thriller psikologis. Genre yang sangat saya sukai. Namun saya tidak ingin berekspektasi terlalu tinggi pada film ini, mengingat saya sering kecewa ketika menonton film-film lokal. Keluar dari zona aman bukanlah hal yang mudah bagi Upi dan bisa dibilang dia cukup berani melakukan hal tersebut dengan membuat film Belenggu ini. Naskahnya bahkan dia tulis sendiri selama rentang waktu bertahun-tahun. Wow! Thriller psikologis yang penuh misteri bukanlah sajian yang gampang disukai oleh kebanyakan penonton Indonesia, bahkan terkadang dipandang sebelah mata karena genre ini begitu berat dan tak jarang 'memaksa' pikiran kita sedemikian rupa. Belenggu tak luput dari hal tersebut. Sayang, alur ceritanya tidak orisinal dan banyak ditemukan dalam film-film thriller psikologis, Upi dinilai 'mencontek' Twin Peaks dalam menggarap Belenggu. Since I don't watch Twin Peaks yet, so no comment for it. Karakter kelinci bertopeng di film ini tentu langsung mengingatkan kita pada salah satu film parallel universe legendaris Donnie Darko. Sejujurnya, saya sangat menyayangkan hal tersebut. I mean, kenapa Upi tidak membuat karakter sosok bertopeng jenis lainnya saja; harimau sumatera misalnya?.

 

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Upi menggarap naskah film Belenggu ini membutuhkan waktu selama bertahun-tahun - 8 tahun tepatnya - tetapi jika ditilik lagi ternyata terlalu banyak (yang mau tidak mau harus diakui) kemiripan dengan beberapa film thriller psikologis yang pernah ada. Sayang sekali! Oke, mungkin Upi memang terinspirasi, tetapi hal tersebut sebenarnya sedikit mengganggu buat saya pribadi. Itulah mengapa di paruh bagian pertama film ini, beberapa misteri yang ada akan bisa tertebak. Untunglah, Upi masih lihai meramu hal-hal tersebut sedemikian rupa sehingga mau tidak mau sekali lagi memaksa kita sebagai penonton untuk memakluminya. Pun begitu, rentetan misteri dalam film ini memang memaksa penontonnya untuk bermain-main dengan pikiran dan psikologis. Penikmat thriller psikologis tentu akan sangat menikmati hal seperti ini. Sayang, berbagai misteri yang tadinya telah sangat rapi disusun, harus dibongkar satu persatu di akhir ceritanya. Buruk? Tidak, sih tapi bagi penikmat film thriller psikologis seperti ini pasti lebih memilih agar misteri tetap menjadi misteri yang tak terpecahkan yang membuat penontonnya akan bertanya-tanya terus bahkan hingga film telah usai. Tetapi apa boleh buat, Upi sadar betul bahwa kebanyakan penonton di negeri ini malas untuk 'berpikir' dan menonton hanya sebagai hiburan semata. Oleh karena itu, dia akhirnya membuat ending yang seperti itu. Dan itu sepertinya adalah keputusan yang tepat.


Jawara film ini adalah atmosfir creepy yang begitu membelenggu nyaris sepanjang film. Dan saya sangat menyukai setting kota antah berantah dalam film ini; apartemen usang, gedung-gedung tua, rumah sakit dengan sudut lorong-lorong yang menyeramkan, penjara, kantor polisi serta rumah sakit jiwa. Sinematografinya sangat memukau dengan shot suram nan gelap yang indah. Atmosfirnya terasa sangat creepy (padahal saya menontonnya di siang hari, loh!. Andai saya menontonnya di malam hari, pasti sensasi creepy-nya terasa sangat luar biasa.). Bahkan, ketika film berakhir pun, atmosfir creepy yang kelam dan menakutkan masih terasa. Jajaran pemainnya diisi oleh Abimana Aryasatya, Imelda Therinne, Laudya Cynthia Bella, Jajang C. Noer, Bella Esperance, Verdi Solaiman dan beberapa pemain lain yang wajahnya cukup familiar di layar kaca. Kala itu, seorang Abimana bukanlah siapa-siapa, sehingga ada keraguan akan kemampuan aktingnya dalam film ini. Namun, sepertinya dia memang seorang aktor yang berbakat secara alamiah and he proved it. He can act well. Abimana sangat sangat bisa mencuri perhatian sebagai sosok Elang terutama di paruh pertama film. Penampilan memukau juga di tampilkan oleh seorang Jajang C. Noer dalam penampilan singkatnya. Namun, yang benar-benar mencuri perhatian adalah Imelda Therinne. Tetapi anehnya, justru Laudya Cynthia Bella mendapatkan penghargaan Aktris Utama Wanita Terfavorit di Indonesian Movie Awards 2013. Eh, kok bisa?! Padahal melihat akting Bella di film ini amat sangat flat sekali. Yah, itulah pilihan pemirsa, yang terkadang memang selalu tidak memuaskan dan terkesan tidak fair!

 

Saya akui Upi cukup sukses menyajikan thriller psikologis yang bagus. Terlepas dari segala kekurangan yang ada, Belenggu lebih bisa menjadi salah satu tontonan yang harus dicoba dan harus diapresiasi lebih. Dan saya berharap ke depannya akan muncul sajian film yang bermutu dengan mengusung genre-genre seperti ini lagi. 









Title: Belenggu | Genre: Thriller | Director: Upi Avianto | Release Date: 28 February 2013 | Running Time: 100 minutes | Country: Indonesia | Language: Bahasa | Cast: Abimana Aryasatya, Imelda Therinne, Laudya Cynthia Bella, Verdi Solaiman, Bella Esperance | IMDb




September 22, 2016

Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 (2016)


Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 (2016)

Berusaha Terlalu Keras Melucu






“Ini bukan taplak meja sembarangan, lho. Pernah dipakai sama Katy Perry. 
Jadi kalau makan di meja ini, serasa makan sama Katy Perry. Gitu!”
- Dono -









Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian), dan Indro (Tora Sudiro) adalah anggota dari sebuah lembaga bernama CHIPS (Cara Hebat Ikut Penanggulangan Sosial). Mereka bertiga lebih banyak melakukan kekacauan dan kekonyolan ketimbang hal yang bermanfaat. Oleh karena itu mereka mendapat tugas dari atasan mereka Juned (Ence Bagus) untuk menangkap kawanan begal yang meresahkan masyarakat. Mereka bertiga dibantu oleh anggota baru yang cantik asal Prancis  bernama Sophie (Hannah Al Rashid). Tetapi karena ketidakbecusan dan kekacauan yang kerap mereka lakukan, ketiganya malah harus membayar ganti rugi sebesar 8 miliar dalam tempo yang singkat. Jika mereka gagal, maka mereka harus mendekam dalam penjara selama 10 tahun. Akhirnya ketiganya yang juga dibantu oleh Sophie mencari cara agar bisa mengumpulkan uang 8 miliar tersebut. 

Hype film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 begitu luar biasa. Sampai digadang-gadang mampu mengalahkan kesuksesan film yang sebelumnya berada di puncak box office tanah air. Hal tersebut tentu saja mengundang reaksi banyak orang untuk menontonnya. Benarkah film ini selucu yang dikatakan orang-orang? Well, lucu, sih iya tapi jika ingin jujur, sih film ini tidaklah selucu itu. Bahkan di awal-awal film, saya sama sekali tidak tertawa walau hampir seisi bioskop ketawa. Padahal opening creditnya dibuat dengan gaya film-film Indonesia era 80-90-an - yang membuat saya bernostalgia dengan film-film warkop -  yang berisi adegan-adegan (yang terlalu dipaksakan untuk) lucu. Rombongan ibu-ibu naik sepeda motor, polisi tidur, tulisan-tulisan di truk sama sekali tidak membuat saya sedikit pun tersenyum atau tertawa. "Garing!", begitu yang keluar dari mulut saya. Menit-menit berikutnya saya cuma bisa mesem-mesem saja. Bahkan saya berkata begini pada teman saya; "Kayaknya aku memang lagi stress, ya sampe nggak bisa ketawa?". Padahal niat awal menonton film ini karena ingin menghilangkan stress tapi, kok malah jadi stress? Saya pun mulai merasakan kebosanan, bahkan hingga hampir di pertengahan film. Hingga akhirnya saya berpikir, sepertinya saya terlalu serius menonton film ini sehingga saya tidak menikmatinya sama sekali. Akhirnya saya pun memaksa diri saya untuk enjoy menontonnya, tanpa perlu berpikir mengapa begini mengapa begitu. Hasilnya? Saya mulai bisa tertawa sedikit. Bahkan di pertengahan hingga hampir menjelang akhir, saya beberapa kali tertawa terbahak-bahak. Entahlah, apakah memang karena ceritanya yang memang mulai lucu atau karena saya menontonnya tanpa berpikir apapun. Tapi sayangnya, lelucon-leluconnya ada beberapa yang terkesan sangat kasar dan sedikit rasis. Di beberapa bagian, slapstick-nya terlihat sangat vulgar. Apakah membuat sajian komedi harus dengan lelucon kasar, rasis dan vulgar seperti itu? Saya menyayangkan hal tersebut, terlebih karena di bioskop ada anak-anak yang menonton film ini. Film ini untuk 13 tahun ke atas, tapi menurut saya, anak umur segitu belum pantas menonton film ini karena ada beberapa adegan yang tidak pantas ditujukan untuk anak seusia segitu. Harusnya film ini untuk 17 tahun ke atas. 

Membagi film menjadi dua bagian seperti ini sebenarnya sudah kuno. Hal seperti ini hanya membuat cerita menjadi dragging dan terpaksa dipanjang-panjangin. Ya, memang tak bisa dipungkiri mengapa film ini dibagi dalam dua bagian seperti ini. Apalagi namanya kalau bukan untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Tapi, tahukah anda wahai pencari keuntungan tersebut, hal yang seperti ini sebenarnya benar-benar amat menyiksa kami sebagai penonton?. Bayangkan, anda sudah merasa nyaman, enak dan sangat menikmati sebuah film, eh tiba-tiba film harus berakhir aja gitu dan anda disuruh untuk menunggu entah sampai berapa lama untuk menonton kelanjutannya. Bukankah alangkah baiknya jika dalam satu film, cerita langsung dibuat selesai dengan satu tema saja? Nah, bagian kedua nanti dibuat dalam tema yang berbeda. Seperti dalam serial-serial kriminal yang setiap episodenya mempunyai kasus yang berbeda dan diselesaikan langsung setiap episodenya. Dan membuat film ini menjadi dua bagian adalah salah satu kesalahan besar yang seharusnya dihindari. Anggy Umbara selaku sang sutradara harusnya paham akan hal itu. 

Me-reboot sebuah film - apalagi film yang terkenal - memang bukan perkara mudah. Anggy Umbara pun sengaja menyisipkan adegan-adegan khas film-film warkop yang akan membuat penonton bernostalgia. Tapi saya sendiri malah lupa. Ya, mungkin karena waktu itu saya masih kecil dan itu sudah lama sekali ketika saya terakhir kali menonton film-film Warkop. Walaupun sering di putar ulang di televisi, tetapi saya tidak pernah lagi menontonnya. Apa yang dilakukan oleh Anggy Umbara ini sebenarnya hal yang bagus karena dengan begitu maka penonton yang tidak tahu dan tidak tumbuh dengan film-film Warkop tersebut, sedikit banyak akan menjadi tahu. Ah, saya jadi ingin menonton kembali film-film warkop terdahulu, nih! 

Anyway, ketika saya tahu Anggy Umbara akan me-reboot film warkop. saya amat sangat skeptis, terlebih pada jajaran castnya. Tidak terpikirkan sedikit pun trio warkop yang fenomenal itu akan bisa diperankan oleh orang lain selain Dono, Kasino dan Indro sendiri. Dan ketika terkuak siapa-siapa saja calon pemainnya, saya semakin pesimis. Terlebih, saya bosan dengan para pemain yang itu-itu saja. Lalu hasilnya? Hmm..  Tora Sudiro bisa dikatakan menjadi yang paling mengecewakan di sini. Tepat dugaan saya bahwa dia memang tidak akan bisa memerankan karakter Indro. Atau mungkin bisa dikatakan Tora sedikit tertekan memerankan karakter Indro karena kehadiran Indro asli dalam film ini. Vino G, Bastian, boleh sedikit diapresiasi dengan usahanya memerankan karakter Kasino walau memang di beberapa bagian terkesan begitu dipaksakan dan terlihat kewalahan. Apalagi adegan ngomongnya yang teriak-teriak itu, sedikit membuat sakit telinga. Nah, yang harus mendapat apresiasi lebih dan acungan jempol adalah Robertino. Eh, siapa itu Robertino? Robertino adalah nama asli Abimana Aryasatya sebelum dia mengganti namanya menjadi Abimana Aryasatya. Awal saya mengenal sosok Abimana adalah dengan nama Robertino karena saya dulu suka membeli majalah remaja dimana dia masih menjadi model di awal karirnya. Eh, ketauan, deh udah tuanya! :D Abimana begitu sukses memerankan karakter Dono dengan sangat baik. Tak sia-sia penampilannya dipermak sedemian rupa supaya mirip Dono - dengan gigi palsu dan body suit. And that's the very best part from this movie. Selain itu film ini juga diisi oleh jajaran cast dari Stand Up Comedy dan aktor-aktor yang tidak asing lagi di layar kaca seperti Tarzan yang mendapat adegan yang cukup mengocok perut, Agus Kuncoro yang tidak biasanya berperan sekocak ini dalam film, Hannah Al Rashid si jelmaan Meriam Bellina yang menjadi primadona film ini, Nikita Mirzani yang selalu kebagian peran wanita penggoda dan Indro Warkop yang asli. Tapi saya tidak suka dengan peran yang dimainkan oleh Indro. Saya sampai saat ini masih bertanya-tanya, perlukah karakter yang dimainkan Indro tersebut ada? Saya sejujurnya kecewa, mengapa Indro malah harus kebagian peran seperti itu? Apalagi karakter Katy Perry KW yang amat sangat annoying, a little bit disgusting and it's not funny at all. 

Well, film ini memang masih menyisakan banyak kekurangan dimana-mana. Pun begitu, kita tetap harus mengapresiasinya. Setidaknya, bioskop tanah air tidak lagi diisi oleh film-film hantu pengumbar aurat semata. Dan semoga Part 2 nanti bisa lebih baik lagi di segala aspek. Bagi anda yang ingin menonton film ini, saya sarankan cukup ditonton saja, tidak perlu dipikirkan atau dibanding-bandingkan dengan film-film Warkop terdahulu. Dan juga tidak usah berekspektasi apapun. Jangan terlalu serius juga. Ini film komedi, bung! Just watch and enjoy it. Jika anda sama sekali tidak tertawa sedikit pun, mungkin ada yang salah dengan diri anda. Karena setidaknya, siapa pun yang menonton film ini, pasti minimal akan tertawa, walau hanya sedikit. Dan ada sedikit bonus bloopers di akhir film yang menurut saya malah lebih lucu dibanding filmnya sendiri - terutama ketika adegan dimana gigi palsu Abimana copot. 








Title: Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 | Genre: Comedy | Director: Anggy Umbara | Release Date: 8 September 2016 | Country: Indonesia | Language: Bahasa | Cast: Abimana Aryasatya, Vino G. Bastian, Tora Sudiro, Indro Warkop, Hannah Al Rashid, Tarzan, Agus Kuncoro, Nikita Mirzani, Ence Bagus | IMDb






June 13, 2016

My Stupid Boss (2016)


My Stupid Boss (2016)

Boss Tidak Pernah Salah. Boss Selalu Benar.




"Impossible, we do.
Miracle, we try"
- Bossman -









Diana (Bunga Citra Lestari), ikut suaminya, Dika (Alex Abbad) menetap di Kuala Lumpur. Tidak seperti suaminya yang bisa bekerja hanya dari rumah saja, Diana memutuskan untuk kembali bekerja setelah tiga bulan menganggur. Perusahaan barunya tersebut dipimpin oleh teman dekat Dika saat kuliah di Amerika Serikat dan merupakan orang Indonesia juga. Namun ternyata keputusan Diana untuk bekerja di perusahaan bidang manufaktur tersebut bagaikan mimpi buruk. Perusahaan tersebut tidak memiliki sistem dan aturan yang jelas. Dan penyebabnya tak lain adalah boss mereka sendiri, Bossman (Reza Rahadian). Belum lagi Bossman merasa selalu benar, tidak pernah salah dalam hal apapun. Dan apapun yang diinginkannya harus bisa terpenuhi. Prinsipnya, Impossible We Do, Miracle We Try. Seringkali Diana terjebak dalam situasi yang memaksanya harus bertahan dengan kelakuan bossnya tersebut. Kesabarannya pun diuji habis-habisan. Hari-hari Diana di kantor bagaikan di neraka.

Pertama kali saya melihat poster film ini dipajang di bioskop dengan judul "coming soon" tertera besar-besar di atas posternya, saya sebenarnya enggan untuk menontonnya. Bahkan saya sempat berujar dalam hati; "Alahh.. palingan juga ceritanya klise banget! Judulnya aja nggak banget, gitu!" Dan saat itu saya tidak tahu (tidak mau tahu sebenarnya, sih!) bahwa Upi Avianto adalah sutradaranya. Begitu saya tahu bahwa film ini digarap Upi - saya kebetulan suka dengan karya-karya Upi - dan kebetulan juga film ini tiba-tiba ngehits banget, hype untuk menonton seketika muncul. Bukan, bukan karena saya selalu mendengar selentingan orang-orang yang berkata bahwa film ini lucu banget atau bagus dan hal positif lainnya (toh, saya juga malas berekspektasi tinggi), tapi karena saya ingin membuktikan sendiri perkataan rekan kerja saya yang bilang bahwa karakter Bossman mirip dengan boss saya. Dan saya pun harus setuju seratus persen dengan ucapan rekan kerja saya tersebut. Kelakuan bossman beneran mirip sekali dengan boss saya. Seriously! He's 100% percent looks like my boss. Bedanya boss saya nggak stupid, tapi rempong banget. Boss, you have to watch this~ 

Cerita My Stupid Boss berdasarkan kisah nyata curhatan seorang karyawati tentang bossnya di sebuah blog Chaos@work yang kemudian dijadikan novel. Dan seperti novelnya, film ini pun hanya fokus pada keseharian Bossman dengan karyawannya. Tak ada konflik yang berarti sama sekali, hanya seputar kekesalan Diana pada sang boss yang absurd dan nyeleneh, dimana dia terpaksa harus stuck dalam hubungan kerja yang chaos setiap saat. Bahkan, setting filmnya pun terbatas dan lebih dominan di kantor yang sempit dan tertutup yang menimbulkan kesan bahwa para karyawannya merasa tertekan dengan perlakuan sang boss. Sebagai penulis naskah dan sutradara, Upi telah berhasil meramu My Stupid Boss dengan santai, segar, lepas, dan tentu saja mengundang tawa sehingga film ini menjadi sajian full komedi yang menghibur. Baru kali ini saya menonton di bioskop bisa tertawa terbahak-bahak seperti ini. Tentunya karena saya ingat kelakuan boss saya sendiri. Untuk urusan komedinya, film ini memang menang walau beberapa leluconnya monoton dan seringkali diulang-ulang terus, tetapi untuk urusan cerita malah biasa saja. Banyak adegan yang terasa repetitif. Jika film ini dibuat dalam bentuk sitkom pasti amat bagus. Namun, mengingat ini dibuat dalam film, maka eksekusi yang tadinya bagus di awal malah terasa sedikit membosankan di pertengahan dan kemudian diakhiri dengan terburu-buru. Sahabat saya bahkan sampai bertanya seperti ini: "Sebenarnya apa, sih inti ceritanya?" Wah, wah.. Sebegitu burukkah jalan ceritanya? Tidak, sih! Hanya saja cerita di akhir dan karakter Bossman yang tiba-tiba berubah di akhir cerita tersebut terkesan terlalu dipaksakan. Walau, toh akhirnya Upi kembali ke jalan yang benar untuk mengakhiri film ini dengan mengembalikan lagi karakter Bossman yang asli dan membuat penonton bisa sedikit tersenyum lagi.

Kali ini Reza Rahadian dan Bunga Citra Lestari (BCL) kembali dipersatukan setelah sebelumnya pernah bermain bersama dalam Habibie dan Ainun (2012). Penampilan Reza jelas juara. Ekspresi dan gesture yang dihasilkannya saja sudah mampu membuat ketawa, apalagi melihatnya dalam penampilan yang sangat berbeda; berkumis, perut buncit, kepala nyaris botak, konyol, dan ucapannya seringkali tak jelas dengan logat Jawa yang kental. Reza, you have to play in comedy again! Bahkan kali ini dia jauh lebih konyol dan lucu dibanding di Kapan Kawin?. BCL bermain cukup bagus sebagai Diana alias Kerani. Mungkin benar adanya jika diarahkan dengan sutradara yang bagus dan lawan main yang bagus juga, maka besar kemungkinan pemain yang tadinya biasa saja bisa bermain dengan bagus juga. Setidaknya saya lupa bahwa selama ini akting BCL biasa-biasa saja setelah melihatnya bermain di film ini. Film ini juga didukung oleh para pemain dari Malaysia seperti Bront Palarae sebagai Adrian yang selalu menggoda Norahsikin yang diperankan oleh Atikah Suhaime, Iskandar Zulkarnain sebagai Azhari yang selalu berzikir dengan tasbih, dan Chew Kinwah sebagai Mr. Kho yang tukang tidur. Bront Palarae sebelumnya pernah bermain dalam serial Halfworlds sehingga cukup familiar wajahnya. Chew Kinwah yang memerankan karakter Mr. Kho yang paling mencuri perhatian dengan ekspresi datarnya yang selalu kebingungan. Deretan departemen aktingnya merupakan kesatuan yang solid, sehingga mampu menghidupkan film ini dengan sangat baik. Selain itu, film ini juga memanjakan penontonnya dengan tampilan visualnya yang eye catching dan menarik. Setting, properti, kostum dan make-upnya pun sangat bagus dan pas (sedikit mengingatkan saya pada film favorit saya, Amelie). Saya sangat suka dengan setting rumah Diana~. Poin plus lainnya adalah hadirnya lagu-lagu legendaris Malaysia seperti Gerimis Mengundang dan Cindai. 

Jika anda benar-benar ingin melepaskan penat dan mencari film komedi yang benar-benar lucu, film ini sangat saya rekomendasikan. Tetapi jika anda ingin mencari film komedi dengan cerita yang bermutu, sepertinya anda harus mencari film lain.








Title: My Stupid Boss | Genre: Comedy | Director: Upi Avianto | Music: Aghi | Based on: My Stupid Boss by Chaos@work | Release Date: 19 May 2016 | Duration: 108 minute | Country: Indonesia, Malaysia | Language: Bahasa, Melayu | Cast: Bunga Citra Lestari, Reza Rahadian, Alex Abbad, Chew Kinwah, Bront Palarae, Atikah Suhaime, Iskandar Zulkarnain, Melissa Karim | IMDb






June 01, 2016

Siti (2014)

 Siti (2014)
Sebuah Potret Kegetiran Hidup


"Asu kowe mas!"
- Siti -




Siti adalah salah satu film yang paling ingin saya tonton dan akhirnya saya memiliki kesempatan menontonnya. Terima kasih untuk seseorang yang memberikan saya kesempatan tersebut. Bukan karena Siti menjadi film terbaik Festival Film Indonesia 2015 yang membuat saya ingin menontonnya, tetapi saya memang sudah penasaran sejak pertama kali melihat trailer film ini (yang saya lupa dimana melihat trailernya) jauh sebelum Siti menang beberapa perhargaan di dalam dan luar negeri. Film garapan Eddie Cahyono ini seperti memiliki daya magis tersendiri untuk menggoda penggila film seperti saya. Baiklah, mari kita bahas film Siti yang berdurasi 88  menit ini.

Setelah kecelakaan yang menimpa suaminya, Bagus (Ibnu Widodo), Siti (Sekar Sari) menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga. Selain harus merawat sang suami yang kini lumpuh, dia juga harus merawat anak semata wayangnya, Bagas (Bintang Timur Widodo) dan mertuanya, Darmi (Titi Dibyo). Untuk melunasi hutang sang suami, Siti berjualan peyek jingking di siang hari di pantai Parangtritis dan terpaksa bekerja sebagai pemandu karaoke ilegal di malam hari. Ironisnya, suaminya malah tidak mau berbicara lagi padanya sejak lama karena pekerjaan Siti di dunia malam tersebut. Keadaan semakin rumit tatkala seorang anggota polisi bernama Gatot (Haydar Saliz) menyukai Siti dan berniat mempersuntingnya.

Membaca premisnya malah seperti cerita shitnetron siang hari kesukaan mama saya (baca: shitnetron yang mengusung tema keluarga yang endingnya selalu berakhir bahagia) dimana tokoh protagonisnya  mengalami beban hidup yang sangat berat (karena kemiskinan). Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula, begitulah mungkin yang tepat untuk mengggambarkan kehidupan Siti sebagai bagian dari golongan masyarakat menengah ke bawah. Namun tak seperti kisah dalam shitnetron yang selalu penuh dengan adegan tangis meratapi nasib, Siti bahkan seperti tak punya waktu untuk sekedar menitikkan air mata meratapi kegetiran hidup. Terkungkung dalam adat dan budaya sebagai perempuan Jawa, ruang gerak Siti pun terbatas. Untuk sekedar mengeluarkan unek-unek kekesalannya saja pada sang suami, Siti bahkan tidak mampu. Hingga akhirnya Siti harus meminta bantuan temannya, Sri untuk sekedar mengeluarkan amarahnya yang terpendam selama ini. Itulah mengapa, adegan dimana Siti "berpura-pura marah" melampiaskan segala kekesalannya pada suaminya sembari berteriak "asu" berulang-ulang kali, menjadi momen yang paling membekas dan tak terlupakan. Adegan tersebut juga menjadi adegan favorit saya di film ini. Dan film ini seluruhnya menggunakan bahasa Jawa (sebagian besar saya paham dan mengerti artinya, tetapi sisanya terpaksa harus membaca subtitle). Dialognya begitu 'renyah' serenyah peyek jingking, khas percakapan sehari-hari dan dipadu dengan guyonan-guyonan yang terkadang tanpa sadar membuat kita tersenyum-senyum sendiri mendengarnya. Obrolan Siti dengan Sri di pinggir pantai Parangtritis cukup menggelitik sekaligus menghibur. 

Dengan tampilan hitam putih, film ini seperti ingin memberitahu kita bahwa betapa monoton dan tidak berwarnanya hidup Siti. Beberapa kali terlihat adegan statis dengan shot panjang tanpa jeda. Film ini juga minim pencahayaan dan minim scoring. Namun, segala kesederhanaan yang ada di film ini begitu memikat hati saya. Dan disitulah letak kekuatan film ini, di samping naskahnya yang bagus dan para pemain yang semuanya bermain dengan sangat baik. Padahal tak satu pun dari pemain tersebut yang merupakan artis papan atas, namun kemampuan akting mereka patut diacungi jempol. Semua bermain secara natural. Sekar Sari tentu saja pantas diberikan dua jempol untuk aktingnya sebagai Siti di sini, namun yang justu mencuri perhatian saya adalah si kecil Bintang Timur Widodo. Berbicara soal karakter Siti, kita akan melihat sosok tersebut begitu kontras ketika berada di rumah dan di tempat karaoke, seolah di malam hari 'keliaran' dan 'ketertekanan batin' Siti meluap keluar, menjadikannya sosok yang berbeda. Pun begitu, kita tidak bisa serta merta menyalahkannya karena memang tekanan batin yang dideritanya begitu berat.

Ya, Siti memang menyajikan kisah yang begitu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, begitu sederhana, begitu nyata, begitu dekat, begitu jujur. Dramatisasinya tidak dipaksakan, pun tidak berlebihan. Ditata sedemikian apik sehingga cerita dengan alur yang sangat sederhana seperti ini pun bisa menjadi sajian yang bermutu dan berkelas. Love it!  Dan rasanya sudah lama sekali saya tidak menonton film Indonesia berkualitas dengan tema seperti ini; terakhir kali Pasir Berbisik. Saya merindukan film-film seperti ini akan muncul lagi di kemudian hari. Tidak harus dengan tema yang sama, namun cukup menggambarkan realita yang ada tanpa harus tampil muluk-muluk. Setidaknya menggambarkan potret realita masyarakat kita kebanyakan. Dan endingnya, saya suka.. suka sekali dengan akhir cerita dengan konklusi ambigu seperti ini. This is so beautifully art. Walau tanpa kata-kata dan hanya sebuah adegan dengan shot statis yang panjang, sudah cukup menggambarkan rangkuman keseluruhan dari film ini; sebuah jawaban dari akhir yang melelahkan. Film yang akhirnya membuat saya harus mengumpat, "asu tenan!". 





Title: Siti | Genre: Drama | Director: Eddie Cahyono | Producer: Ifa Isfansyah | Music: Krisna Purna | Duration: 88 minutes | Country: Indonesia | Language: Javanese | Cast: Sekar Sari, Bintang Timur, Haydar Saliz, Ibnu Widodo, Titi Dibyo | IMDb












May 12, 2016

Ada Apa Dengan Cinta 2 (2016)


Ada Apa Dengan Cinta 2 (2016)
Mampukah Memenuhi Ekspektasi Yang Diharapkan?
 


"Rangga, apa yang kamu lakukan ke saya itu, JAHAT!," 
- Cinta -




Maybe Contain Spoiler!

Seperti kita ketahui bahwa Ada Apa Dengan Cinta? (AADC) adalah salah satu film romansa tanah air yang fenomenal yang akhirnya melahirkan pasangan yang legendaris; Rangga dan Cinta. Dan setelah 14 tahun berlalu, sekuelnya pun akhirnya di buat. Tentu ini menjadi kabar gembira bagi para penggemar film fenomenal tersebut. Saya juga penggemar film ini tapi sejujurnya sedikit skeptis dengan lanjutan cerita Cinta dan Rangga ini. Saya rasa tidak perlu dibuat sekuelnya agar AADC menjadi kenangan abadi yang indah. Ya. saya sebenarnya takut jika sekuelnya tidak seperti yang diharapkan, mengecewakan dan di luar ekspektasi. Namun, melihat film ini ditangani oleh duo Riri Riza dan Mira Lesmana, kekhawatiran tersebut sedikit berkurang. Tetapi tetap saja, saya tidak berani berekspektasi terlalu tinggi. Hingga akhirnya begitu film ini ditayangkan di bioskop akhir April lalu, animo penonton luar biasa. Bahkan jumlah penonton semakin naik terus. Saya harus menjauhi yang namanya spoiler bertebaran di internet ataupun membaca reviewnya. Lalu, apa yang mau ditampilkan lagi setelah jeda panjang selama 14 tahun? Let's see!

Cinta (Dian Sastrowardoyo), Milly (Sissy Priscillia), Karmen (Adinia Wirasti), dan Maura (Titi Kamal) mengadakan reuni setelah lama tak bertemu dan kali ini mereka berencana untuk liburan ke Jogja. Ternyata di Jogja, Cinta malah bertemu dengan Rangga (Nicholas Saputra) setelah berpisah sekian lama. Akankah pertemuan tersebut menjadi kesempatan mereka untuk bersatu kembali setelah berpisah selama puluhan purnama?

Oke, pertemuan kembali "Geng Cinta" ini sempat membuat saya sedikit harus beradaptasi lagi, mengingat karakter-karakter tersebut sedikit banyak telah berubah dan berbeda dari yang kita kenal dulu ketika masih berseragam abu-abu di AADC (2002). Tapi tak butuh waktu lama hingga akhirnya kita diajak bernostalgia dengan para karakter tersebut. Sayang, karakter favorit saya "Alya" tidak dihadirkan kembali dalam sekuelnya ini (and it makes me so sad actually). Untungnya, Geng Cinta masih mampu mencuri perhatian dan menghidupkan suasana. Interaksi antar karakternya dibangun begitu solid, mampu menghidupkan jalan cerita dan tak jarang memancing tawa di beberapa bagian. Ya, bioskop ricuh oleh gelak tawa penonton, terutama untuk bagian Milly. Tapi saya sendiri paling banter cuma nyengir doang (kecuali adegan ketika Milly mengatakan soal 'arsip' dan 'prasasti' yang akhirnya berhasil membuat saya tertawa kecil). I just think Milly's jokes or whatsoever it is that makes people laugh, not funny at all. Err.. or maybe am I have no sense of humor at all? Lebih tepatnya mungkin I lost my sense of humor. Hmm.. Tapi tak bisa dipungkiri, memang karakter Milly-lah yang paling mencuri perhatian dan menghibur. Sedangkan karakter Karmen kali ini mendapat porsi yang lumayan banyak. Sayangnya, karakter Maura dibuat hanya sebagai pemanis belaka. Tak ketinggalan karakter Mamet juga dimunculkan kembali kali ini. Di samping itu, ada juga beberapa karakter tambahan seperti Trian (Ario Bayu), tunangan Cinta misalnya. Para pemain AADC 2 sekali lagi berhasil memerankan karakter mereka masing-masing dengan sangat baik. Seperti tidak bisa dipungkiri bahwa karakter yang mereka mainkan seolah menyatu dengan jiwa mereka. Rangga adalah Nicholas Saputra dan Cinta adalah Dian Sastrowardoyo. Begitu pun dengan Karmen (Adinia Wirasti), Milly (Sissy Priscillia) dan Maura (Titi Kamal). Tentu tidak mudah untuk memainkan kembali karakter yang sama setelah 14 tahun berlalu, apalagi jika menilik begitu banyak karakter lain yang mereka mainkan dalam berbagai film. Dan yang paling saya suka adalah Adinia Wirasti yang aktingnya semakin bagus. Dia bisa berperan jadi apa saja dan semua dilakoninya dengan sangat baik. Padahal saya baru menonton aktingnya di film Kapan Kawin? dengan karakter yang kontras dengan yang diperankannya dalam AADC 2 ini dan dia sukses memerankan keduanya. 

Rentang waktu 14 tahun telah berlalu sejak AADC dibuat dan itu bukanlah waktu yang singkat, namun AADC 2 seperti tahu betul bagaimana menjawab segala pertanyaan kita selama ini tentang kejadian apa saja yang terjadi selama rentang waktu tersebut dalam rangkuman 'kotak kardus' berisi tumpukan surat, foto dan kenangan masa lalu serta juga obrolan-obrolan antar karakternya. Dan seperti ingin mengingatkan kita bahwa ini adalah sekuel, maka beberapa adegan dibuat sengaja mirip dengan pendahulunya yang mengantarkan kita pada nostalgia di AADC seperti ketika Cinta kebingungan untuk memilih jenis lipstik yang akan dipakainya ketika bertemu Rangga atau ketika Geng Cinta sengaja menyanyikan lagu Kesepian Kita milik Pas Band feat Tere. Ya, AADC 2 ibarat sebuah nostalgia yang indah yang mampu menghantarkan berbagai perasaan yang berkecamuk menjadi satu.

Mengambil setting di Jogja yang notabene memiliki banyak tempat-tempat bagus dan berseni memang pilihan tepat (dan saya yakin tempat-tempat yang dijadikan lokasi syuting AADC 2 ini akan jadi terkenal atau semakin terkenal setelah ini). ~Ah, saya jadi ingin ke Jogja lagi~ . Riri Riza dan Mira Lesmana tahu betul dimana spot-spot yang bagus dan mendukung jalan cerita. Kita seperti ikut serta dalam perjalanan semalaman bersama Rangga dan Cinta mengitari kota Jogja. Obrolan demi obrolan antara Rangga dan Cinta mengalir begitu apa adanya, sesekali terlihat serius namun tak jarang hanya berisi ngalor-ngidul tak jelas. Pertanyaan basa-basi dan klise pun tak luput muncul dalam obrolan mereka. Jelas hal itu bukan hal yang aneh, mengingat mereka telah berpisah selama puluhan purnama. Obrolan tersebut tak jarang juga disisipi dengan pertengkaran kecil, namun seketika mereka bisa berdamai kembali walau akhirnya harus bertengkar lagi hanya karena hal sepele. Lucu sekaligus menghibur melihat hal tersebut. Pun menyenangkan melihat kesan canggung antar keduanya seperti Cinta yang malu-malu dan suka senyum-senyum sendiri atau Rangga yang sering bingung dan kehabisan kata-kata ketika berhadapan dengan Cinta. Dan semuanya dikemas dengan sederhana, alami tanpa harus didramatisir dan dipaksakan. Momen-momen sederhana tersebut begitu berkesan. Kita pun ikut larut kedalamnya. Dan siap-siap saja merasakan baper (terpaksa meminjam istilah masa kini yang sedang tren :) ) karena saya juga jadi ikutan sedikit baper :D.

Puisi masih tetap menjadi salah satu hal yang ditampilkan di sekuelnya ini, namun sayangnya puisi-puisi tersebut tak begitu berkesan seperti sebelumnya. Begitu juga dengan backsound yang kurang nampol di telinga. And.. Unfortunately, endingnya malah terkesan anti klimaks. Padahal saya berharap kisah ini akan berakhir di Jogja saja yang notabene telah menghadirkan penutup yang sangat bagus dan penuh emosi. Tetapi cerita setelah itu malah jadi flat. Sayang sekali tidak berani menyuguhkan ending yang kontroversial. Ya, bisa-bisa Mira Lesmana dan Riri Riza dihujat penonton dan fans AADC jika membuat ending yang saya maksud kontroversial tersebut (if you know what I mean). Padahal jika dibuat seperti itu, malah jadi realistis. Tapi penonton Indonesia tidak akan menyukai akhir kisah yang seperti itu. Tapi ya sudahlah, toh everyone wanna get a happy ending story, right? Orang-orang nonton ke bioskop untuk terhibur, bukan ngedumel atau marah-marah setelah film berakhir, benar bukan? 

Well, sebagai sekuel, AADC 2 sedikit banyak telah mampu memenuhi ekspektasi kebanyakan orang dan tahu cara membuat penontonnya yang tadinya dipenuhi kecemasan dan ketakutan, menjadi sumringah dan tersenyum bahagia. Sebuah ajang nostalgia yang sekaligus menjawab pertanyaan yang mungkin selama ini terpendam di benak kita. Oh ya, seseorang malah berkata pada saya bahwa AADC 2 sebenarnya nggak baik karena mengajarkan balikan ke mantan. Hmm.. Sepertinya seseorang tersebut perlu di ajak balikan, nih!~







Title: Ada Apa Dengan Cinta 2 | Genre: Romance, Drama, Comedy | Director: Riri Riza | Producer: Mira Lesmana | Writer: Riri Riza, Prima Rusdi | Release Date: 28 April | Running Time: 123 Minutes | Country: Indonesia | Language: Bahasa | Location: Jakarta, Yogyakarta, New York City | Cast: Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Adinia Wirasti, Sissy Priscillia, Titi Kamal, Dennis Adhiswara, Ario Bayu, Christian Sugiono, Dimi Cindyastira | IMDb














April 19, 2016

Kapan Kawin? (2015)


Kapan Kawin? (2015)
Mampukah menjadi solusi pasti untuk menjawab pertanyaan "kapan kawin"?




"Kalau kamu mau bikin seneng orang, kamu dulu yang seneng.” 
- Satrio - 



Kapan Kawin?
Pertanyaan seperti itu kerap sangat mengganggu bagi siapa saja yang belum menemukan jodohnya. Kalimat yang menggelitik itu pun dijadikan sebuah judul film. Kapan Kawin? adalah sebuah judul film yang langsung sukses membuat saya tertarik sekaligus nyengir. Pertanyaan tersebut seolah seperti ditujukan untuk saya :'(. Pertanyaan menyindir sekaligus menyakitkan buat kaum-kaum yang belum menemukan pasangannya seperti diri saya ini. Seperti yang kita tahu bahwa seseorang yang belum menikah (terutama wanita) di usia yang sudah tidak muda lagi, merupakan sesuatu yang menyedihkan dan dipandang sebelah mata (atau tidak dipandang sama sekali) di masyarakat. Sesuatu yang nista, najis dan memalukan. Hei, kenapa jadi curhat? Ah, sudahlah! Lupakan hal tersebut dan mari kita bahas film yang naskahnya ditulis oleh Robert Ronny dan Monty Tiwa ini. 

Pertanyaan kapan kawin itu seperti momok yang amat menakutkan, lebih menakutkan dari penampakan hantu, setan dan sebangsanya. Terutama jika pertanyaan itu ditujukan untuk seorang wanita seperti Dinda (Adinia Wirasti) yang usianya genap 33 tahun tahun ini dan telah memiliki karir yang sukses sebagai General Manager di sebuah hotel, namun untuk masalah asmara selalu gagal total. Dengan usia yang telah matang tersebut, kedua orang tuanya (Adi Kurdi dan Ivanka Suwandi) selalu saja menanyakan kapan dia akan membina rumah tangga. Bahkan dia selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya (Feby Febiola) yang telah menikah di usia muda dan menjalani kehidupan rumah tangga yang bahagia dengan suaminya (Erwin Sutodihardjo). Bosan dengan teror kedua orang tuanya, Dinda lalu menyewa seorang aktor idealis kenalan sahabatnya untuk berpura-pura menjadi pacarnya di hari ulang tahun perkawinan orang tuanya. Satrio (Reza Rahadian), pacar sewaan tersebut dibawa ke Jogja untuk menemui kedua orang tua Dinda.

Bagaimana, familiar dengan premis ceritanya? Ya, premis ceritanya seperti ini memang sudah berkali-kali digarap dalam sebuah film. Bahkan menurut saya, konsep cerita Kapan Kawin ini malah lebih condong seperti FTV - Eh, atau sebenarnya justru film ini menyindir FTV? - Terutama untuk setting filmnya yang begitu so FTV yang dilakukan di Jogja yang notabene selalu dijadikan tempat syuting Film Televisi tersebut. Belum lagi poster filmnya yang nggak banget dan terkesan seperti poster film komedi romantis klise yang digarap asal-asalan. Tapi untungnya film besutan Ody C. Harahap ini cukup menghibur dan digarap dengan lumayan bagus. Ceritanya ringan, unsur romansa komedinya pas, dialog-dialognya menghibur, settingnya keren dan sinematografinya juara. Saya juga suka dengan pemilihan kostum yang pas untuk para pemainnya, terutama yang dipakai Adinia Wirasti.

Bagian pertama film ini dieksekusi dengan sangat bagus. Tak jarang saya tertawa dengan beberapa adegan dan dialog yang ditampilkan. Masuk bagian kedua, cerita mulai serius walau masih menyisipkan sedikit komedi di dalamnya. Namun, pada bagian kedua ini jalinan cerita terasa seperti sedikit kehilangan arah dan mulai sangat sinetron-ish di beberapa bagian. Dan yang lebih mengecewakan adalah endingnya yang sangat lebay menurut saya. Seketika keseluruhan jalinan cerita yang tadinya sudah cukup bagus, mendadak jadi sedikit rusak karena penggarapan endingnya yang dibuat seperti itu. Memang, sih genrenya komedi, tapi apa harus dibuat seperti itu endingnya? Saya benar-benar tidak suka dengan ide picisan di endingnya tersebut. Terlalu konyol! (no offense!)

Luckily, Kapan Kawin? dibintangi oleh dua pemain utama yang aktingnya termasuk dalam kategori bagus. Reza Rahadian, siapa yang tak kenal aktor yang satu ini. Beragam karakter telah diperankannya dan jarang yang mengecewakan. Berbagai penghargaan pun telah disabetnya. Dan karakternya kali ini sebagai Satrio, semakin membuktikan bahwa dia memang bisa berperan sebagai apa saja. Dibanding dengan karakter-karakter sebelumnya yang pernah dia perankan, karakter Satrio ini yang paling lovable dan mengesankan buat saya. Reza juga membuat sedikit surprise dalam film ini dengan menyanyikan sepenggal lagu. Hmm.. Boleh juga suaranya.  Adinia Wirasti yang dikenal publik lewat perannya dalam film fenomenal Ada Apa Dengan Cinta (2002) ini, telah membuktikan bahwa dia terlahir sebagai seorang aktris berbakat. Aktingnya yang memukau telah mencuri perhatian saya sejak di film 3 Hari Untuk Selamanya (2007). Dan kali ini dia beradu akting dengan Reza. Kekuatan di kubu akting kedua pemain utamanya, cukup membuat saya tertarik ingin menonton film garapan  Ody C. Harahap ini. Dan memang, baik Reza maupun Adinia membuktikan sekali lagi bahwa mereka memang bisa berakting dengan baik. Bahkan chemistry yang mereka bangun di film ini begitu solid. Pemain pendukung lainnya serasa benar-benar hanya sebagai pemanis belaka walaupun akting mereka bagus.

Keselurahan film ini lumayan bagus, hanya saja karena endingnya yang terlalu lebay dan konyol itu menurut saya, jadi membuat saya kecewa dan sedikit merusak keseluruhan jalan cerita yang tadinya sudah digarap dengan baik. Tetapi secara keseluruhan, film ini cukup menghibur walaupun tetap saja tidak ada solusi pasti untuk menjawab pertanyaan "kapan kawin?". Well, hidup tak semudah dan tak seindah kisah di film.  





Title: Kapan Kawin | Genre: Comedy, Romance | Director: Ody C. Harahap | Running Time: 115 Minutes | Country: Indonesia | Language: Bahasa |  Cast: Adinia Wirasti, Reza Rahadian, Adi Kurdi, Feby Febiola, Ivanka Suwandi, Erwin Sutodihardjo | IMDb







December 21, 2014

Gita Cinta dari SMA (1979)


Gita Cinta dari SMA (1979)




"Aku yang telah bersusah payah mengejar cintamu ternyata menemui jurang." - Ratna


Apa anda pernah mendengar tentang nama Galih dan Ratna? Atau familiar dengan kisah mereka? Saya yakin pasti pernah, karena nama Galih dan Ratna ada dalam lagu yang dinyanyikan Chrisye dan kalau tidak salah pernah dirilis ulang oleh D' Cinnamons. Dan tahukah anda bahwa kisah Galih dan Ratna ternyata sangat fenomenal di jamannya.? Kisah cinta mereka tersebut tertuang dalam film Gita Cinta dari SMA dimana Rano Karno dan Yessi Gusman yang memerankan kedua tokoh tersebut menjadi icon pasangan remaja yang sangat terkenal dalam film di masa itu. Film ini juga menjadi film terlaris ketiga di Jakarta, tahun 1979 dengan jumlah penonton 162.050 orang. Wow, angka yang cukup fantastis untuk tahun segitu. Walaupun film tersebut dibuat mungkin ketika orang tua kita masih muda - mama saya masih berumur 17 tahun kala itu - tapi kisah yang disajikannya kekal sepanjang masa. Dalam artian, di jaman sekarang pun kita masih bisa menikmati kisah dalam film tersebut - walaupun mungkin beberapa adegannya ada yang tidak cocok lagi dengan jaman sekarang, but it's not a big deal!.

Sesuai judulnya, film ini menceritakan kisah cinta dua sejoli yang masih berstatus pelajar SMA, Galih Rakasiwi (Rano Karno) dan Ratna Suminar Sastrowardoyo (Yessi Gusman) yang juga merupakan pelajar teladan dan bintang kelas di sekolah mereka. Sayangnya, kisah cinta mereka mendapat rintangan yang sangat berat dari ayah Ratna. Ratna bahkan telah dijodohkan dengan seorang mahasiswa fakultas kedokteran. Lalu, bagaimana kisah dua sejoli tersebut? Apakah mereka bisa menghadapi aral merintang dan bersatu kembali?

Mungkin bagi sebagian orang, remaja masa kini khususnya, film ini mungkin terkesan biasa saja, kurang menarik dan ketinggalan jaman, terlebih karena problematika yang terjadi mungkin akan sangat jarang dijumpai di masa sekarang ini. Film ini sederhana, apa adanya, tulus dan jujur dalam menggambarkan segala sesuatunya. Namun, kesederhaan yang tergambar dalam film ini justru yang menjadikan film ini terasa istimewa dan bagus. Kisah cinta remaja yang malu-malu kucing dan polos tergambar jelas dalam setiap adegannya. Hakikat cinta yang tulus digambarkan dengan sederhana, tidak neko-neko, dan bukan hanya mengumbar kata 'I love you' saja di mulut. Ketulusan cinta benar-benar dibuktikan dengan saling mendukung satu sama lain tanpa harus adanya nafsu. Saya tidak yakin kisah cinta remaja sekarang ada yang seperti itu. Kesederhanaan film ini juga tampak dari adegan dan dialognya, tak ada kesan yang dibuat-buat.

Dan adegan-adegannya, terutama adegan di sekolah benar-benar memorable, membuat kita bernostalgia kembali ke jaman sekolah. Saya suka adegan di kelas yang memang digambarkan seperti yang sebenarnya seperti perkenalan murid dan guru baru, guru yang sedang menulis di papan tulis, siswa yang bisik-bisik ketika pelajaran berlangsung dan lainnya. Hal seperti itu nyaris tak ditemukan lagi dalam film atau shitnetron remaja sekarang. Ada juga adegan yang cukup memancing gelak tawa seperti ketika pelajaran olahraga di lapangan dan tak ketinggalan ditampilkan juga adegan pentas seni perpisahan siswa kelas tiga. Ya, film ini benar-benar menggambarkan bagaimana sekolah itu yang sebenarnya. And I miss something like that in the movie nowadays. Dan saya pribadi suka dengan kedua karakter utamanya yang merupakan siswa teladan.

Chemistry yang luar biasa antara Rano Karno dan Yessi Gusman sukses membuat penontonnya seolah merasakan sendiri kisah cinta mereka dalam film ini. Dan soal akting, tak usah diragukan lagi, hampir semua pemain dalam film ini bermain bagus. Dan hal ini jarang sekali ditemukan dalam perfilman tanah air sekarang ini. Kebanyakan film sekarang dibuat asal dengan akting yang juga asal-asalan. Bahkan tak ada script sama sekali, fresh from the oven begitu syuting dimulai. Oh no!! Yeah, memang ada sedikit pencerahan dengan adanya beberapa film yang lumayan berkualitas dalam kurun waktu beberapa tahun ini dan semoga ke depannya semakin banyak lagi sehingga film esek-esek tanpa cerita yang dibuat asal-asalan bisa segera musnah dari perfilman tanah air. Ya ya ya.. ini hanya sedikit uneg-uneg saya saja jadi mari kita kembali ke bahasan awal lagi. Film yang di adaptasi dari Novel karya Eddy D. Iskandar (dirilis ulang tahun 2011) ini juga mempunyai soundtrack yang bagus dan kekal sepanjang masa seperti lagu Gita Cinta dari SMA yang dinyanyikan oleh Rano Karno dan lagu Galih dan Ratna yang dinyanyikan Chrisye. Aransemen musiknya sendiri digawangi oleh Guruh Soekarno Putra yang juga menjadi koreografer untuk adegan di pentas seni perpisahan.

Akhirnya, saya cuma mau bilang kalau film ini bagus dan wajib ditonton oleh pencinta film. Saya pribadi agak susah sebenarnya menonton film bertema romansa begini tetapi saya sangat menikmati film ini. Film ini menjadi bukti nyata bahwa perfilman Indonesia pernah membuat karya yang bagus dan bermutu. Sekedar info saja bahwa film Ada Apa Dengan Cinta juga terinspirasi (katanya) dari film ini. So, you have to watch this movie. Don't miss it!


"Tiada duka selara Galih dan Ratna.
Tiada nostalgia seindah Gita Cinta Dari SMA…" 








Title: Gita Cinta dari SMA | Genre: Romance | Director: Arizal  | Music: Kemal Redha, Guruh Soekarnoputra | Release date: | Duration: | Country: Indonesia | Language: Indonesian | Cast: Rano Karno, Yessi Gusman, Ade Irawan, Adisoerya Abdi, Arie Kusmiran, Doddy Sukma, Lisa Dona, Pong Hardjatmo | Wikipedia | IMDb













Translate

Waiting Lists

Sur mes lèvres.jpg Dark, brown-tinted and horror-themed image of a man in an asbestos-removal suit (to the right side of the poster), with an image of a chair (in the middle of the image) and an image of a large castle-like building at the top of the image. The text "Session 9" is emboldened in white text in the middle of the image, and near the bottom of the image is written, "Fear is a place." Lisbeth Salander with Mikael Blomkvist The Girl Who Played with Fire.jpg Page turner.jpg Le trou becker poster3.jpg Nightwatch-1994-poster.jpg Headhunter poster.jpg On the Job Philippine theatrical poster.jpg The Song of Sparrows, 2008 film.jpg The-vanishing-1988-poster.jpg Three Monkeys VideoCover.png