Showing posts with label France. Show all posts
Showing posts with label France. Show all posts

October 04, 2016

Swimming Pool (2003)

Rewatch

Swimming Pool (2003)



 When someone keeps an entire part of their life secret from you, it's fascinating and frightening.
- Sarah Morton -




Sarah Morton (Charlotte Rampling) adalah seorang penulis novel misteri terkenal dari Inggris. Dalam rentang waktu yang cukup lama dia tidak lagi menghasilkan karya yang bagus. Oleh karena itu bossnya John Bosload (Charles Dance) menawarinya liburan ke rumahnya di Paris sembari mencari ide untuk membuat karya berikutnya. Sarah menerima tawaran tersebut dan menikmati suasana tenang di rumah tersebut. Hingga suatu malam, Sarah kedatangan tamu tak diundang, putri John yaitu Julie (Ludivine Sagnier) yang serta merta mengacaukan ketenangannya.

Setelah See The Sea (Regarde La Mer) yang memikat saya, saya mulai mencari film-film Francois Ozon lainnya dan pilihan saya jatuh pada film Swimming Pool. Dengan alur yang lambat khas film-film Eropa, mungkin bagi sebagian orang akan merasa bosan menonton film ini. Namun, tetaplah bertahan hingga film usai karena semuanya akan terbayarkan nantinya. Salah satu ciri khas film-film Ozon adalah selalu menampilkan tema erotis dan LGBT. Tak terkecuali film ini juga. Tetapi ada twist yang dihadirkan dalam tema tersebut di film ini. Jika tidak jeli, bisa dipastikan anda akan terkecoh dengan twist tersebut. Saya sendiri merasa tertipu mentah-mentah dengan twist tersebut - terutama adegan kejadian di kolam renang - sehingga mau tidak mau saya harus mengakui bahwa lagi-lagi saya 'dikerjai' oleh Ozon. Good job Ozon! Twistnya sendiri sebenarnya bisa dikatakan ambigu dan setiap orang punya interpretasi sendiri pada twist tersebut. Ah, ya film ini juga memanjakan mata kaum adam karena lumayan banyak topless and naked scene dari Ludivine Sagnier. 

Seperti See The Sea, Swimming Pool juga penuh kejutan tak terduga di akhir ceritanya. Ozon memang suka 'memainkan' penontonnya dengan sajian thriller psikologis yang penuh dengan momen-momen penuh kejutan. Menonton film-film Ozon membuat kita terpesona, terkejut dan terhibur secara bersamaan; sama seperti halnya ketika menonton film-film Hitchcock. Aroma suspense misteri penuh thriller tercium jelas dalam film ini berkat akting bagus dari Charlotte Rampling sebagai karakter Sarah Morton yang dingin dan Ludivine Sagnier sebagai Julie yang misterius. Swimming Pool tak akan sebagus ini tanpa Rampling. Aura Rampling benar-benar membius dan seolah menyatu dengan karakter Sarah Morton yang diperankannya. Begitu pun dengan Sagnier yang tak sekedar hanya memamerkan bagian tubuhnya yang mulus, tetapi juga membuktikan bahwa dia bisa berakting dengan bagus. Finally, I wanna recommend this movie to you especially for those who like suspense mystery thriller genre. And I'll watch other Ozon's movies for sure. 









Title: Swimming Pool | Genre: Crime, Drama, Mystery | Director: François Ozon | Music: Philippe Rombi | Release dates: 18 May 2003 (Cannes), 2 July 2003 (US), 22 August 2003 (UK) | Running Time: 103 minutes | Country: France, United Kingdom | Language: English, French | Cast: Charlotte Rampling, Ludivine Sagnier, Charles Dance | IMDb | Rotten Tomatoes






June 14, 2015

Priceless | Hors de prix (2006)


Priceless (2006)





Jean (Gad Elmaleh), adalah seorang bartender di sebuah hotel mewah. Namun Irene (Audrey Tautou), seorang wanita materialistis, malah keliru menyangkanya adalah seorang pria kaya raya. Ketika Jacques (Vernon Dobtcheff), pacar Irene yang kaya dan tua sedang mabuk dan tertidur pulas di kamar hotel, Irene pergi ke bar hotel dimana Jean bekerja dan mereka bertemu. Setelah berhasil membuat Irene terkesima, Jean dan Irene lalu menghabiskan malam bersama. Karena ketahuan selingkuh, Irene pun diputuskan. Setahun kemudian mereka bertemu lagi dan saat itu Irene tahu bahwa Jean bukanlah pria kaya. Jean sendiri kemudian malah berhubungan dengan seorang janda kaya, Madeleine (Marie-Christine Adam). Keduanya akhirnya menjalin hubungan dengan pasangan mereka hanya demi uang semata. Namun perlahan mereka menyadari bahwa mereka saling menyayangi, tapi dapatkah mereka menjalani kehidupan yang lebih baik tanpa uang?

Ratingnya yang cukup tinggi di dua situs film bergengsi tentulah menjadi bahan pertimbangan saya untuk mencoba menonton film ini. Apalagi pemain utamanya adalah aktris favorit saya, Audrey Tautou. Dengan ekspektasi tinggi, saya mengharapkan kenikmatan begitu menontonnya. Tapi apa yang saya dapat? Kecewa! Ya, kecewa! Ceritanya benar-benar predictable, dengan adegan-adegan yang terasa sangat familiar ditemukan di film-film bertema romance. Kisah cintanya bahkan terbilang lebay menurut saya. Joke-nya juga tidak lucu sama sekali. Belum lagi durasinya yang terlalu lama untuk ukuran sebuah film romance. Ough! Kalau saja bukan karena Tautou, mungkin sudah saya stop film ini di menit ke tiga puluh.

Entahlah, sepertinya formula romance di film ini tidak sesuai untuk saya. Kebosanan akut melanda saya sepanjang film ini berlangsung. Harusnya film ini bisa menghibur, malah sebaliknya, membuat saya jadi dongkol menontonnya. Yang menyelamatkan saya hanyalah akting keren para pemainnya saja. Audrey Tautou yang terkenal lewat imagenya sebagai Amelie Poulain, berhasil keluar dari image tersebut dan sukses menjadi seorang  Irène Mercier di film ini. Gad Elmaleh juga menunjukkan performa yang bagus. Chemistry mereka berdua cukup bagus. Namun sayangnya, kekonyolan demi kekonyolan yang dilakukan tidak berhasil membuat saya tertawa. Ah, this movie is just overrated for me! Tapi film ini punya pesan yang cukup bagus, "money can't buy love", sesuai dengan judul filmnya sendiri. Jika anda penggila film romance sejati, sepertinya film ini akan sangat cocok untuk anda, tetapi jika bukan, sebaiknya hindari menonton film ini jika anda tidak ingin merasakan sensasi kebosanan tingkat dewa seperti saya.









Title: Priceless / Hors de prix  | Genre: Comedy, Romance | Director: Pierre Salvadori | Music: Camille Bazbaz | Release dates: November 18, 2006 | Running time: 104 min. | Country: France | Language: French | Cast: Gad Elmaleh, Audrey Tautou, Marie-Christine Adam, Vernon Dobtcheff | IMDb | Rotten Tomatoes




November 01, 2014

Two Days, One Night | Deux Jours, Une Nuit (2014)


Two Days, One Night (2014)






"I don't Exist" - Sarah


Sandra (Marion Cotillard), ibu dua anak yang baru saja keluar dari rumah sakit akibat depresi berat, terancam kehilangan pekerjaanya sebagai karyawan di sebuah pabrik panel surya di Seraing, kota industri Liège, Belgia. Dia harus mampu meyakinkan 16 rekan kerjanya supaya melakukan voting ulang untuk memilihnya tetap bekerja dan menolak bonus 1000 euro. Dibantu oleh suaminya, Manu (Fabrizio Rongione), Sarah pun mulai mendatangi satu per satu para rekannya tersebut dalam sisa waktu dua hari satu malam sebelum penentuan nasibnya pada hari senin pagi.

Tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, kita sebagai penonton dibiarkan bertanya-tanya cukup lama atas apa yang terjadi sebenarnya dengan karakter Sarah dalam film ini. Hingga akhirnya ketika jawabannya terkuak, disitulah dimulai fase yang menarik dalam film ini. Padahal plot ceritanya sendiri terlihat sederhana, namun semuanya tidaklah sesederhana itu. Apalagi kita tahu bahwa ini berurusan dengan masalah uang yang nominalnya tidak sedikit sehingga pasti akan ada yang tidak setuju jika bonus uang 1000 euro lenyap begitu saja.

Disinilah kita akan melihat bagaimana tanggapan para rekannya dari berbagai sudut pandang. Krisis ekonomi yang melanda Belgia tentu berdampak kuat terutama bagi masyarakat kelas menengah seperti Sarah dan rekan-rekannya. Moral mereka pun diuji dengan nominal uang yang tidak sedikit jumlahnya. Disinilah terjadi momen-momen yang kadang membuat kita tergugah, tertegun, sedih, senang bahkan momen yang tak terduga. Ada satu hal yang saya dapat dari kunjungan Sarah ke tempat para rekannya, bahwa orang baik itu masih ada di dunia ini. Namun bukan berarti saya mengatakan bahwa yang menolak adalah orang jahat! Tidak! Bagaimana pun kita harus melihatnya dari berbagai sudut pandang yang berbeda dan menempatkan diri kita di posisi tiap individunya. Mereka yang menolak jelas punya alasan kuat yang dapat ditolerir.

Beberapa adegan yang ditampilkan dalam film ini memang terlihat repetitif, namun emosi kita sebagai penonton sukses diacak-acak oleh Luc Dardenne dan Jean-Pierre Dardenne. Kerennya lagi, 'petualangan' mendatangi tiap rumah memberikan sensasi yang luar biasa padahal adegannya begitu sederhana dan sangat natural. Namun  apapun jawaban dari para rekannya seolah membuat saya tidak peduli - bahkan saya tidak peduli bagaimana nanti hasilnya atau endingnya - saya hanya ingin mengikuti bagaimana perkembangan cerita dalam film ini mengalir apa adanya.

Dan film ini semakin menarik dengan akting keren yang dibawakan oleh Marion Cotillard. Karakter Sarah yang begitu rapuh, memiliki kecemasan serta ketakutan yang besar dan terkena depresi berat begitu menyatu dengan diri Cotillard. Aktingnya benar-benar teruji ketika karakter Sarah terlihat ingin tegar setiap kali mendapat penolakan dari rekan-rekannya.  



Ya, Two Days One Night telah mengajarkan kita bahwa perjuangan keras pasti akan membuahkan hasil, apapun itu hasil akhirnya. Bahkan jika kalah sekalipun, namun sebenarnya kita justru telah menang. Jadi, jika anda penyuka film drama tanpa kisah sentimentil yang berlebihan, film ini sangat wajib ditonton. Bahkan tanpa scoring sekalipun, anda akan terhanyut ke dalam ceritanya yang begitu real dan mungkin saja terjadi pada diri kita sendiri atau orang-orang di sekitar kita.






Title: Two Days, One Night / Deux Jours, Une Nuit | Genre: Drama | Director: Luc Dardenne, Jean-Pierre Dardenne | Release date: 20 May 2014 (Cannes), 21 May 2014 (Belgium & France) | Running time: 95 minutes | Country: Belgium, Italy, France | Language: French | Cast: Marion Cotillard, Fabrizio Rongione, Olivier Gourmet | IMDb | Rotten Tomatoes




 






July 30, 2014

See The Sea | Regarde La Mer (1997)


See The Sea (1997)






Anda penyuka film bergenre drama dibalut thriller? 
Anda penyuka film non-hollywood? 
Anda suka nonton, tapi tak punya waktu banyak untuk menonton?
Jika jawabannya iya, maka Regarde la mer a.k.a See the Sea sangat saya rekomendasikan untuk anda. Film ini hanya berdurasi 52 menit - yang bahkan lebih singkat dibanding satu episode drama Korea - namun mampu menyajikan suguhan tontonan yang cukup menarik.

Film ini bercerita tentang seorang wanita yang telah menikah, Sasha (Sasha Hails), yang tinggal bersama bayinya yang berusia 10 bulan, Sioffra (Samantha) di sebuah tempat yang jauh dari kota, di dekat pantai. Suaminya bekerja di Prancis dan jarang pulang. Suatu hari seorang backpacker wanita bernama Tatiana (Marina de Van) mendatangi rumah kediaman Sasha dan meminta ijin memasang tenda di pekarangan rumahnya selama 3-4 hari karena penginapan penuh. Sasha mengijinkannya. Walau awalnya Sasha bersikap sedikit skeptis pada Tatiana, namun akhirnya dia menawari wanita tersebut makan bersama dan mandi di rumahnya. Dengan sikap Tatiana yang misterius, Sasha malah semakin penasaran dengan wanita tersebut.

Durasi film ini hanya 52 menit? Apa yang bisa didapat dengan durasi secepat itu? 
Eits.. jangan salah, walau pun durasinya bisa dibilang tidak normal untuk ukuran sebuah film, tapi film garapan Francois Ozon ini sangat bagus. Ya, Regarde La Mer memang hanya sebuah short movie, namun ceritanya sangat menarik dan bagus sekali menurut saya! Dengan pacenya yang tenang bahkan terlalu santai, pasti kita tidak akan menyangka bahwa ini adalah film bergenre thriller. Ceritanya nyaris seperti sajian kisah drama sehari-hari, dengan alur yang stabil. Kemunculan karakter Tatiana memang menjadi tanda tanya besar dan membuat kita akan berfikir ada sesuatu yang disembunyikan dari dirinya. Hingga tanda tanya tersebut sedikit demi sedikit terjawab melalui adegan demi adegan yang ditampilkan. SPOILER ALERT!! Ada satu adegan yang membuat saya semakin yakin, there's something wrong with her!, yaitu ketika ia menumpang mandi di kamar mandi rumah Sasha. Adegan sikat gigi yang ditempelin 'sesuatu' itu benar-benar disgusting. Dan akhirnya semua pertanyaan pun terjawab. Saya sempat berpikir akan berakhir seperti yang terjadi di endingnya, namun karena suatu adegan sebelum klimaksnya, saya jadi terkecoh! Yeah, atmosfir yang tadinya tenang pun seketika berubah menjadi suram dan gelap. Atmosfirnya sedikit mengingatkan saya pada film Vertigo.

Selain ceritanya yang cukup menarik, saya sangat menyukai setting film ini terutama setting di pantai. Kita disuguhkan pemandangan pantai yang indah, yang seketika akan membuat kita ingin merasakan sendiri pasir dan deburan ombak di pantai tersebut. Adegan ketika Sasha membawa bayinya ke pantai tersebut menjadi salah satu adegan favorit saya. Di tambah tingkah si mungil Sioffra (yang ternyata adalah bayi kandung Sasha Hails di dunia nyata) yang lucu sungguh menggemaskan sekali. Dan tentu saja film ini semakin bagus karena akting natural dari Sasha Hails dan Marina de Van. Lewat gesture, ekspresi wajah, dan gerakan mata; mereka berdua telah berhasil memainkan karakter Sasha dan Tatiana dengan sangat baik.

Yeah, intinya dalam rentang waktu yang singkat, Regarde La Mer mampu menyajikan suatu tontonan menarik yang dapat mengeksplor rasa ingin tahu, keinginan, dan identitas seseorang. And finally, I ask you all to try watching this movie! Hopefully, you like it too as I like it very much!








Title: Regarde La Mer / See The Sea | Genre: Thriller | Director: Francois Ozon | Release date(s): 1997 | Running time: 52 minutes | Country: France | Language: French | Cast: Sasha Hails, Marina de Van, Samantha, Paul Raoux | IMDb | Rotten Tomatoes











July 06, 2014

Them | Ils (2006)


Them (2006)






Film ini dibuka dengan adegan seorang wanita dengan putrinya sedang mengendarai mobil di jalanan yang sepi pada malam hari. Terlihat mereka sedikit cekcok hingga tanpa sadar sang ibu menabrakkan mobilnya ke pohon. Ketika sang ibu mengecek mesin mobilnya, putrinya khawatir karena ibunya tidak kelihatan sama sekali. Sang ibu pun menghilang. Dengan perasaan ketakutan, sang putri kembali ke mobil. Tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara berisik dan seketika jendela mobilnya dilempari lumpur. Dengan panik dia menelepon polisi namun lehernya malah dicekik dari belakang hingga dia tewas. Lalu cerita pun berputar kepada Clémentine (Olivia Bonamy), seorang guru di sebuah Sekolah Perancis di Bucharest, Romania. Clémentine tinggal bersama suaminya yang seorang penulis, Lucas (Michael Cohen), di sebuah tempat yang jauh dari kota, tak jauh dari tempat kejadian pembunuhan ibu dan anak malam sebelumnya. Mereka hidup tenang di rumah besar mereka tersebut. Namun suatu malam, mereka dikejutkan oleh suara aneh yang berisik. Ternyata mereka tidak sendirian di rumah tersebut. Mereka pun mendapat teror mengerikan sepanjang malam tersebut.

Film yang (katanya) berdasarkan kisah nyata yang terjadi di Rumania ini merupakan rekomendasi teman saya yang penikmat film thriller, horror, suspense dan crime ketika saya meminta film dengan pace cepat dan durasi yang tidak begitu lama. Jadilah dia menyarankan saya menonton Ils. Oh, ya kenapa saya bilang tadi film ini katanya berdasarkan kisah nyata? Karena dari yang saya baca, tidak ada info valid tentang hal yang berhubungan dengan kisah yang disajikan dalam film ini dan beberapa sumber juga meragukannya. Namun, terlepas dari nyata atau tidak, kisah yang disajikan dalam film ini cukup creepy dan menegangkan. Pacenya yang cepat nyaris tak memberi ruang sedikit pun untuk mencerna apa yang terjadi, terutama ketika teror dimulai sehingga sepanjang film kita jadi bertanya-tanya, “apa yang sebenarnya terjadi?”.  
Unfortunately, Ils is underrated. Apalagi ketika film ini selalu dibanding-bandingkan dengan film buatan Hollywood; The Strangers yang mempunyai premis serupa, yang muncul dua tahun kemudian dibanding Ils. Bisa jadi karena Ils bukan film produksi Hollywood, sehingga film ini tidak begitu terdengar gaungnya. Atau mungkin juga karena scriptnya yang terbilang cheesy untuk sebuah film horor. Ya, kekurangan terbesar film ini terdapat pada plot ceritanya yang kurang solid, bahkan mungkin nyaris tidak ada, karena memang penonton hanya disuguhkan aksi ketegangan, ketakutan dan kengerian belaka dalam rentang waktu 74 menit. Sehingga ketika film berakhir pun, tanda tanya besar "Kenapa?" masih terus menghantui kita. 

Namun, dibalik kekurangannya tersebut, Ils tetap menyajikan sajian thriller horor yang mencekam, penuh ketegangan dan menimbulkan rasa takut dan rasa tidak nyaman. Bagaimana tidak, film ini membuat kita merasa tidak nyaman bahkan ketika berada di rumah sendiri dan menyadari betapa seseorang dapat sangat berbahaya, siapa pun dia. Bahkan kejadian yang dialami kedua karakter dalam film ini, bisa menimpa siapa saja dalam kehidupan nyata. Dengan hanya bersetting dalam ruang lingkup sempit, namun tensi ketegangan film ini malah semakin lama semakin memuncak. Didukung oleh pergerakan kamera yang bagus serta perpaduan visual, cahaya, suara-suara seperti langkah kaki, suara gesekan dan bunyi-bunyian aneh lainnya, membuat film ini seakan menjadi teror psikologis tersendiri bagi para penonton. Belum lagi tampilan rumah Clémentine dan Lucas yang memang sudah terlihat begitu menyeramkan. Saya jadi bertanya-tanya, kenapa pasangan tersebut membeli rumah yang begitu besar di daerah terpencil begitu?. Rumah itu terlalu besar untuk mereka berdua sehingga terlihat menyeramkan, apalagi dengan banyaknya ruangan dan lorong-lorong. Tapi sepertinya hal tersebut memang disengaja (walau tanpa penjelasan yang pasti) untuk menciptakan atmosfir menyeramkan. Dan atmofir tersebut semakin terasa ketika ending. Endingnya.. ya.. saya cukup shock dengan endingnya, namun saya menyukai trik endingnya yang bagus. Satu lagi yang saya suka dari film ini adalah tidak adanya sex scene seperti film-film horor kebanyakan. Ini merupakan suatu hal yang jarang sekali terjadi, mengingat sex scene menjadi salah satu adegan yang sangat dinanti bahkan menaikkan popularitas suatu film horor khususnya. Saya pernah membaca sebuah komen (lupa dimana), yang mengatakan bahwa kecewa karena tidak adanya sex scene dalam film ini sehingga si pengomentar tersebut menjadi tidak menyukai film ini.

Film ini semakin menarik karena chemistry kuat antara kedua pemain utamanya, Olivia Bonamy dan Michaël Cohen. Mereka berdualah yang memegang kendali film ini. Tanpa akting ciamik mereka berdua, mungkin feel dari film ini tidak akan mengena. Akting mereka pun semakin solid karena didukung dengan akting pemain lainnya yang walaupun hanya tampil beberapa menit namun penampilan mereka cukup mencuri perhatian.

Akhirnya, Ils bisa menjadi salah satu alternatif tontonan thriller horor yang mencekam. Walau bukan film yang sempurna dan masih banyak kekurangan dimana-mana, namun jika hanya ingin merasakan sensasi horor tanpa terpengaruh jalan ceritanya yang cheesy, Ils adalah sajian horor recommended.








Title: Ils / Them | Genre: Horror, Thriller | Director: David Moreau, Xavier Palud | Music: René-Marc Bini | Release date(s): July 19, 2006 | Running time: 74 minutes | Country: France, Romania | Language: French, Romanian | Cast: Olivia Bonamy, Michaël Cohen, Adriana Mocca, Maria Roman, Camelia Maxim | IMDB | Rotten Tomatoes 













January 14, 2014

Point Blank | À bout Portant (2010)



Point Blank (2010)









Samuel Pierret (Gilles Lellouche) dan istrinya, Nadia (Elena Anaya) tengah menantikan kelahiran anak pertama mereka dalam kurun waktu tak lama lagi. Saat ini Samuel bekerja di rumah sakit sebagai calon perawat sembari menanti ujian untuk ikut tes sebagai perawat berlisensi. Di rumah sakit tempat dia bekerja, seorang korban kecelakaan bernama Hugo Sartet (Roschdy Zem) dirawat. Tiba-tiba Nadia diculik seseorang tepat di depan mata Samuel. Penculik tersebut menyuruh Samuel membawa kabur Hugo yang ternyata seorang kriminal berbahaya dari rumah sakit jika ingin nyawa sang istri selamat. Samuel akhirnya harus berhadapan dengan para gangster dan polisi dalam usaha menyelamatkan nyawa sang istri.

This film is so much fun to watch. Film ini memiliki pace yang cepat dan nyaris tanpa jeda. Tensinya naik turun begitu cepat dan semakin lama semakin cepat seperti sedang menaiki rollercoaster tanpa mengurangi ketegangan dan keasikan menontonnya dengan terus menerus memberi kejutan. Dalam selang waktu 84 menit, kita diajak ikut serta merasakan ketegangan seperti yang dialami Samuel dalam usaha menyelamatkan nyawa sang istri dan harus berhadapan dengan para penjahat serta polisi yang mengincarnya. Ceritanya sendiri mungkin sudah sering kita lihat di banyak film thriller sejenis, namun Cavayé berhasil menciptakan atmosfir menegangkan dengan memaksimalkan tiap adegannya dengan sangat baik. Adegan kejar-kejarannya benar-benar menegangkan dan berlangsung cepat. Adrenalin terpacu kencang menyaksikan tiap adegan dalam film ini. Adegan pembebasan Nadia di markas kepolisian merupakan sajian yang sangat menegangkan dan membuat saya berkali-kali menahan nafas menontonnya.

Akting memukau ditampilkan dengan baik oleh para pemainnya. Karakter Samuel diperankan dengan baik oleh Gilles Lellouche. Namun yang mencuri perhatian tentulah karakter Hugo yang diperankan oleh Roschdy Zem. Interaksi kedua karakter tersebut menciptakan sesuatu yang menarik di film ini, dimana mereka terpaksa harus bekerja sama demi kepentingan yang berbeda kendati mereka tidak saling percaya satu sama lain. Ada juga Elena Anaya yang berperan sebagai Nadia yang justru saya kenal duluan lewat aktingnya di film La piel que habito (The Skin I Live In).

Sayangnya film ini underrated, padahal film ini menyajikan thriller cerdas yang menegangkan dengan menawarkan sensasi rasa berbeda dari kebanyakan film action thriller Hollywood. Jadi, jika anda penyuka film thriller rasa Eropa dan bosan dengan Hollywood, À bout Portant (Point Blank) bisa jadi alternatif tontonan.






Title: À bout Portant (Point Blank) | Genre: Action/Crime/Thriller | Director: Fred Cavayé | Music: Klaus Badelt | Release dates: 1 December 2010 | Running time: 84 minutes | Country: France | Language: French | Starring: Gilles Lellouche, Roschdy Zem, Gérard Lanvin, Elena Anaya  | IMDb | Rotten Tomatoes















September 24, 2013

The Others (2001)


The Others (2001)




The Others (2001)
  Drama | Horror | Mystery

Directed by Alejandro Amenábar
 Music by Alejandro Amenábar
Release date(s): August 10, 2001 
 Running time: 104 minutes
Country: United States, Spain, France, Italy
Language: English

Starring:




Anne : "They're everywhere - they say this house is theirs."
Mrs. Mills : "Sooner or later, they will find you."



Grace Stewart (Nicole Kidman) tinggal di sebuah rumah tua besar yang jauh dari kota, dengan dua anaknya yang masih kecil, Anne (Alakina Mann) dan Nicholas (James Bentley). Kedua anaknya sangat sensitif terhadap cahaya (photosensitivity) sehingga rumah mereka selalu dalam kondisi gelap. Grace lalu kedatangan tiga orang yang ingin bekerja di rumahnya dan Grace pun menjadikan mereka pembantu. Namun, keanehan kerap terjadi di rumah tersebut. Benarkah rumah tersebut ada penghuninya?.



Film horor yang bermutu menjadi sesuatu yang sulit ditemui belakangan ini dikarenakan banyaknya film bertema horor yang justru malah menampilkan esek-esek belaka (film dalam negeri khususnya), tema membosankan dan tidak original, hanya menampilkan sosok hantu menyeramkan dengan ceceran darah disana-sini serta plot yang gampang ketebak. Terkadang menonton film horor malah membuat tertawa atau meringis miris. Unfortunately, The Others tidak termasuk kategori yang disebutkan diatas.


Dengan setting di masa perang dunia kedua di sebuah kota terpencil yang selalu dikelilingi kabut dan udara dingin sudah membuat atmosfir film ini sangat mencekam. Ditambah dengan setting rumah besar dan kuno, membuat aura seram semakin kental dalam film ini. Tak ketinggalan scoring yang sukses membuat jantung berdetak cepat dan membuat bulu kuduk merinding.

 

Kendati bertema horor, penampakan hantu-hantu seperti dalam perfilman bertema horor di dalam negeri tidak akan kita temui. Namun, ketegangan yang ditampilkan jauh lebih menyeramkan dan menakutkan. Kengeriannya memang tak langsung menyentak, namun perlahan ketegangan muncul dan menyusup dengan kadar yang meningkat terus menerus hingga menimbulkan teror mencekam bagi penontonnya. Belum lagi setting gambar-gambar yang ditata sedemikian rupa dengan pencahayaan minim, membuat atmosfir semakin gelap dan mencekam. Ketakutan seolah mengikuti sepanjang film berlangsung. Namun rasa ketakutan tersebut malah semakin membuat penasaran, ada apa sebenarnya dengan seisi rumah tersebut. Kita pun akan dibuat penasaran dengan penampakan bocah yang dilihat oleh Anne yang membuat Grace menuduhnya hanya berhalusinasi. Namun tak dapat dipungkiri ada jejak-jejak orang berkeliaran di rumah tersebut. Wow! Adegan berikut merupakan yang paling membuat shock.

Akting Nicole Kidman tak usah diragukan lagi. Kali ini pun si cantik ini bermain sangat brilliant. Mimik wajah Kidman yang pucat, statis dan cenderung kaku menambah suasana suram sepanjang film. Karakter Grace sendiri membuat penonton akan bersimpati namun juga meragukan kewarasannya. Tak kalah hebatnya pemeran Anne, Alakina Mann yang bermain sangat bagus dan natural. Lalu pemeran Fionnula Flanagan yang berperan sebagai Bertha Mills juga tak kalah bagusnya. Melihat wajah Flanagan saja, penonton sudah merasa ngeri.




Sama seperti film horor lainnya, berbagai misteri menyelimuti film ini, namun jika kita teliti mengumpulkan dan merangkai berbagai puzzle yang disebar oleh Amenabar, kita akan mendapatkan kunci dari semua misteri yang terjadi dalam film berdurasi 104 menit ini. 


Endingnya? Hmm.. let's say.. a shocking ending! Segala sesuatunya memang bisa diputarbalikkan dalam sebuah film, sama halnya dengan film ini. Silahkan tonton dan dapatkan kejutan "mengagetkan" di endingnya.













Translate

Waiting Lists

Sur mes lèvres.jpg Dark, brown-tinted and horror-themed image of a man in an asbestos-removal suit (to the right side of the poster), with an image of a chair (in the middle of the image) and an image of a large castle-like building at the top of the image. The text "Session 9" is emboldened in white text in the middle of the image, and near the bottom of the image is written, "Fear is a place." Lisbeth Salander with Mikael Blomkvist The Girl Who Played with Fire.jpg Page turner.jpg Le trou becker poster3.jpg Nightwatch-1994-poster.jpg Headhunter poster.jpg On the Job Philippine theatrical poster.jpg The Song of Sparrows, 2008 film.jpg The-vanishing-1988-poster.jpg Three Monkeys VideoCover.png