Showing posts with label 2012. Show all posts
Showing posts with label 2012. Show all posts

January 08, 2015

Afro Tanaka | Afuro Tanaka (2012)


Afro Tanaka (2012) 





Tanaka Hiroshi (Matsuda Shota) memiliki gaya rambut afro yang menjadi tren di tahun 1970-an. Dia sama sekali tidak pernah mengubah gaya rambutnya menjadi model afro, melainkan memang terlahir dengan model rambut seperti itu. Memiliki gaya rambut yang berbeda dari kebanyakan orang, membuat Tanaka sering di-bully semasa kecil. Namun Tanaka yakin bahwa rambutnya tersebut membawa keberuntungan baginya. Suatu hari, Tanaka dan teman-temannya membuat kesepakatan bahwa mereka akan bertemu lagi beberapa tahun kemudian dengan membawa pasangan mereka masing-masing. Namun, di usia yang telah menginjak 24 tahun, Tanaka masih berjuang dengan pekerjaannya, belum mendapatkan pasangan dan masih perjaka. Tekanan yang dirasakannya semakin berat ketika salah satu teman sekolahnya mengundangnya datang ke pesta pernikahannya. Tidak ingin dipermalukan teman-temannya, Tanaka pun bertekad untuk mendapatkan kekasih. Dapatkah ke-afro-annya menyelamatkannya dari situasi yang sulit?

Afuro Tanaka adalah sebuah film yang diangkat dari manga karya Masaharu Noritsuke. Saya sebenarnya tidak begitu tertarik untuk menonton film ini jika bukan karena saran salah seorang teman ketika saya menanyakan film komedi. Dan hasilnya, saya kurang bisa menikmati film ini. Entah karena terlalu komikal atau apa, saya tidak begitu bisa menangkap humornya. Jarang sekali saya tertawa (padahal teman saya yang merekomndasikan film ini mengatakan bahwa dia sampai tertawa terbahak-bahak). Namun ada satu-dua adegan yang berhasil membuat saya tertawa keras, yaitu adegan ketika teman-teman Tanaka datang ke apartemennya dan adegan ketika pesta pernikahan teman Tanaka dimana dia memberikan kata sambutan. Selain itu ada beberapa bagian yang memorable dan mungkin sedikit menggelitik, seperti ketika Tanaka mendapat pesan singkat melalui ponselnya dari gadis yang disukainya, bagaimana sikapnya kala itu, kecanggungannya berhadapan dengan makhluk yang bernama perempuan, terasa lucu dan menarik. Mungkin kita sendiri pernah mengalami hal yang sama seperti Tanaka, sehingga setidaknya mampu membuat kita tersenyum kala menyaksikan adegan tersebut. Namun sisanya, hanya membuat saya nyengir. Yeah, entah kenapa film ini terasa flat ceritanya bagi saya. Tak ayal beberapa scene yang seharusnya bisa membuat minimal tersenyum, malah terasa fail; then I said "what's the hell is going on?"Ah, Mungkinkah saya yang tidak punya sense of humor? Ataukah sense of humor saya hilang?. Selain itu saya juga merasa bosan dan nyaris mengantuk dengan durasinya yang terlalu lama dan pacenya yang super lambat. Seandainya durasinya tidak selama ini, pasti lebih menarik. Banyak adegan yang menurut saya tidak begitu penting dan terkesan seperti mencomot adegan di manganya; sepertinya begitu (saya belum membaca manganya).

Matsuda Shota lagi-lagi memainkan karakter yang mirip-mirip karakter yang pernah dimainkannya sebelumnya; padahal dia sebenarnya cukup bertalenta. Kemampuan aktingnya terasa kurang tereksplor dengan baik lewat perannya disini. Walau begitu, tak bisa disangkal memang karakter Tanaka-lah yang memang mencuri paling banyak perhatian dibanding karakter lainnya yang terkesan hanya sebagai pemanis semata. Seperti karakter Kato Aya yang diperankan Sasaki Nozomi yang terkesan numpang lewat dan terlupakan begitu saja ketika film selesai. Kecantikan Nozomi mungkin memang menarik mata para kaum adam, namun tak begitu dengan aktingnya yang terkesan biasa saja. Padahal harusnya bisa 'wah' terutama di bagian endingnya. Selain itu, pemilihan para supporting casts-nya juga kurang tepat. Memang, sih ini film komedi tapi nggak ada salahnya juga, kan kalau memilih para aktor yang rada gantengan dikit untuk karakter teman-teman Tanaka. Ini keliatan banget cuma Tanaka doang yang ganteng. Yeah, at least dengan begitu akan menambah sedikit nilai plus untuk film ini, selain menarik minat penonton yang mungkin mau mencoba mencicipi film Jepang. Kenapa saya bilang begitu? Lihat saja film-film dari asia lainnya seperti Korea misalnya, kebanyakan pasti memakai aktor yang bertampang ganteng sehingga banyak yang menonton film Korea walaupun mungkin ceritanya jelek. Lagipula, kadang saya bosan dengar pendapat orang yang tiap kali saya suruh mencicipi film Jepang, mereka selalu mengatakan seperti ini: "Malas, ah.. pemainnya nggak ganteng!" *wtf.

Walau memiliki kekurangan disana-sini, tapi saya suka dengan tema persahabatan dalam film ini. Malah justru cerita tentang persahabatannya terasa lebih kental dibanding cerita tentang cintanya sendiri. Namun sayangnya, walau disajikan dengan humor supaya lebih mudah dicerna jalan ceritanya. Afro Tanaka adalah film yang akan langsung terlupakan begitu saja ketika selesai menontonnya.









Title: Afro Tanaka / Afuro Tanaka / アフロ田中 | Genre: Comedy | Director: Matsui Daigo | Release Date: February 18, 2012 | Running Time:  114 minutes | Country: Japan | Language: Japanese |  Cast: Matsuda Shota, Sasaki Nozomi, Tanaka Kei, Tsutsumishita Atsushi, Endo Kaname, Komakine Ryusuke, Hara Mikie, Franky Lily | IMDb



 




















February 22, 2014

Gangs of Wasseypur (2012)


Gangs of Wasseypur (2012)








Gangs of Wasseypur bisa di bilang film India yang paling saya ingin tonton karena gaungnya yang terdengar dimana-mana. Banyak yang bilang film ini seperti The Godfather rasa India. Kebetulan saya sangat menyukai film The Godfather sehingga tentu saja saya penasaran seperti apa, sih citarasa The Godfather ala India ini. Sayangnya, film ini harus dibagi dalam dua part (mengingat durasinya yang kelewat panjang, lebih panjang dari The Godfather), sehingga kelar menonton bagian pertama, saya harus bersabar agak lama menunggu kelanjutannya - karena memang agak susah mendapatkan film ini – untuk mengetahui cerita lengkap film ini.

Cerita dimulai di era 1940-an hingga awal 1990-an untuk bagian pertama. Menceritakan sebuah kota kecil Wasseypur, di bagian Dhanbad, Bihar. Selama tahun 1940-an, Shahid Khan (Jaideep Ahlawat) merampok kereta api milik Inggris dengan berpura-pura sebagai Sultan Daku yang terkenal. Ketika dia tertangkap, dia diusir dari desanya. Kemudian dia bekerja di pertambangan milik Ramadhar Singh (Tigmanshu Dhulia) dan menjadi tangan kanan Ramadhar. Shahid berencana mengambil alih kekuasaan Ramadhar tetapi malah lebih dulu dibunuh oleh Ramadhar. Sardar Khan, anak Shahid dendam dan ingin membalas kematian sang ayah. Ketika dewasa, Sardar Khan (Manoj Bajpai) pun akhirnya menjadi orang yang cukup berkuasa dan ditakuti di Wasseypur dan Dhanbad. Kehadiran Sardar menjadi ancaman bagi Ramadhar dan penerus Sultana karena itulah mereka ingin menghancurkan Sardar. Klimaks bagian pertama film ini pun berakhir dengan menyisakan tanda tanya apakah Sardar hidup atau mati. 

Dalam bagian pertama film ini, beberapa ceritanya sempat kehilangan pace-nya sesaat dan berubah haluan dari cerita tentang balas dendam menjadi kisah pribadi seorang Sardar Khan. Pada rentang waktu tersebut, cerita menjadi sedikit tidak konsisten dan sempat menimbulkan kebosanan, untungnya performance dari pemainnya dan dialog-dialog yang disajikan menjadi penyelamat momen membosankan tersebut sebelum kembali ke fokus cerita utamanya. Sedangkan bagian kedua dimulai dari awal 1990-an hingga pertengahan 2000-an. Pada bagian kedua ini menceritakan tentang anak-anak Sardar, terutama anak keduanya, Faizal Khan (Nawazuddin Siddiqui) yang menjelma menjadi penerus Sardar Khan sebagai orang nomor satu yang berkuasa di Wasseypur. Namun impiannya hanya satu, yaitu menghancurkan Ramadhir Singh.

Di film ini kita akan bisa melihat berbagai aspek berbeda dari para gangster, balas dendam, politik, ambisi, persaingan antar kaum tertentu, dan tentunya kisah cinta. Film ini berat, penuh kata-kata makian, penuh darah dan kekerasan tentunya. Sedikit mengingatkan pada film City of God juga. Gangs of Wasseypur memang berdasarkan kisah nyata, namun dengan perubahan di sana-sini dari kisah sebenarnya. Tetapi, hal tersebut sama sekali tidak mengurangi inti cerita dan kenikmatan menontonnya. Justru film yang disutradarai dengan sangat gemilang oleh Anurag Kashyap ini, menampilkan jalan cerita yang sangat menarik, dialog impresif dan performa menawan para pemainnya, sehingga menjadikan film ini sangat layak untuk ditonton.

Para pemainnya memainkan perannya dengan sempurna. Manoj Bajpai jelas menampilkan performa hebat sebagai seorang Sardar Khan. Begitu pula dengan Nawazuddin Siddiqui yang luar biasa berperan sebagai Faizal Khan. Sebelum ini saya sempat melihat aktingnya yang juga menawan terlebih dahulu di Kahaani. Tigmanshu Dhulia yang berperan sebagai Ramadhir Singh juga menampilkan akting yang memukau. Begitu pun dengan Jaideep Ahlawat yang sepertinya bakal menjadi aktor yang bersinar di masa mendatang. Dan terakhir Zeishan Quadri yang aktingnya berhasil menarik perhatian saya sebagai sosok Definite yang bajingan, pemuja Salman Khan, opportunis dengan sosoknya tak bisa diprediksi serta menakutkan.

Dari deretan aktrisnya, ada Richa Chadda dan Reemma Sen yang memainkan karakter istri-istri Sardar Khan, Nagma dan Durga. Penampilan Richa Chadda-lah yang jauh lebih mencuri perhatian ketimbang Reemma Sen. Cara dia berdialog dan mengekspresikan diri sebagai seorang istri yang dimadu namun kuat dan tegar, benar-benar keren. Namun, Reema pun tak kalah bagusnya dan membuat penonton terkesan dengan karakternya yang jauh lebih sulit dan complicated. Selain itu ada juga Huma Qureshi sebagai sosok Mohsina yang cantik dan mampu menaklukkan hati Faizal Khan. 

Akhirnya, Gang of Wasseypur adalah Sebuah film yang wajib ditonton untuk penikmat film baku hantam penuh action dengan akting keren para pemainnya. A Must watch!  







Title:  Gangs of Wasseypur | Genre: Action/ Crime/Drama | Director: Anurag Kashyap | Music: Sneha Khanwalkar (soundtrack)., G. V. Prakash Kumar (score) | Release date(s): May 2012 (Cannes), 22 June 2012 (India) | Running time: 160 minutes| Country: India | Language: Hindi | Cast: Nawazuddin Siddiqui, Manoj Bajpai, Huma Qureshi, Tigmanshu Dhulia, Richa Chadda, Piyush Mishra, Reemma Sen, Jaideep Ahlawat |  IMDb | Rotten Tomatoes













January 19, 2014

Test Pack: You Are My Baby (2012)


Test Pack: You Are My Baby (2012)







"Apa adanya kamu, sudah melengkapi hidupku."


Rahmat (Reza Rahadian) dan Tata (Acha Septriasa) adalah pasangan suami-istri yang telah tujuh tahun menikah, namun belum dikarunia anak. Kendati demikian, rumah tangga mereka bahagia. Hanya saja, desakan dari ibunya Rahmat agar mereka segera memiliki momongan, membuat Tata menjadi terusik. Akhirnya, Rahmat dan Tata pun sibuk bereksperimen dengan berbagai hal yang bisa membuat mereka mendapatkan anak. Sayangnya, usaha tersebut belum membuahkan hasil. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk melakukan in vitro. Proses tersebut memberikan tekanan pada kedua pasangan tersebut. Di masa-masa berat seperti itu, Rahmat malah berhubungan kembali dengan mantan kekasihnya, Shinta (Renata Kusmanto), seorang super model yang baru saja bercerai dengan suaminya, Heru (Dwi Sasono) karena mandul.

Test Pack. Membaca judul film ini, mungkin yang ada di benak penonton, ini adalah film esek-esek yang beberapa tahun belakangan ini sangat subur menjamur digarap para sutradara lokal kita. Begitu juga dengan saya yang awalnya skeptis melihat judul dan para pemainnya (walaupun ada nama Reza Rahadian). Namun, keberhasilan Acha Septriasa membawa pulang Piala Citra di ajang FFI sebagai pemeran wanita terbaik, membuat saya penasaran dengan aktingnya dan tentu saja filmnya juga yang banyak dibilang bagus tersebut. Test Pack: You Are My Baby diangkat dari novel berjudul sama karya Ninit Yunita. Bukanlah perkara gampang menyatukan semua elemen penting di dalam sebuah novel menjadi sebuah film. Inilah tantangan terbesar bagi sang penulis naskah dan sutradara untuk mendeskripsikannya ke dalam sebuah sajian film yang menarik dan tidak membosankan. Saya memang tidak bisa berbicara banyak mengenai film ini jika dilihat dari sisi adaptasi novelnya karena saya sendiri belum membaca novelnya, namun saya menilai film ini cukup berhasil mencuri perhatian penonton dengan gaya bercerita yang menarik. Test Pack mampu menghadirkan jalinan kisah drama yang tidak berlebihan dan dihadirkan secara natural. Kisahnya mengalir dengan ringan tanpa embel-embel berlebihan. Film ini tampil apa adanya dan berusaha sebisa mungkin untuk sesuai dengan realitas kehidupan rumah tangga masyarakat di Indonesia. Film ini juga menyorot fenomena sosial masyarakat kita dalam memandang hal-hal seputar rencana kehamilan. Bahkan mengajak kita untuk berkontemplasi memikirkan makna dan tujuan dari pernikahan. Pesan moral yang disajikan dalam dialog-dialog juga cukup bagus. Unsur komedinya juga cukup menghibur dengan dialog segar yang kadang menggelitik dan minimal memaksa kita menyengir mendengarnya. Ditambah dengan adanya karakter-karakter seperti dr. Peni S (awas salah baca!) yang diperankan oleh Oon Project Pop, pasangan suami istri Sutoyo yang diperankan dengan sangat baik oleh Meriam Bellina dan Jaja Miharja yang memberi penyegaran di tengah-tengah konflik pelik para pemain utama.


Sayangnya, formula yang tadinya sudah digarap dengan sangat bagus, tiba-tiba berbalik ke arah yang salah alias membosankan, dengan menampilkan formula romance yang predictable, cerita yang bertele-tele dan terkesan dipanjang-panjangin, dan penyelesaian masalah yang terlalu singkat. Hal tersebut terjadi ketika masuk ke segmen antara Rahmat dan Shinta yang terkesan seperti mengulur-ulur waktu dengan kisah klise seperti kebanyakan film drama romantis lainnya. Selain itu ketidakberanian sang sutradara mengambil resiko untuk menciptakan ending yang berbeda dan penuh kejutan dan hanya mencari aman, menjadikan kisah yang tadinya sudah dibangun dengan sangat bagus di awal, menjadi terasa biasa saja di akhir. Yah, saya sangat menyesalkan endingnya yang khas film Indonesia banget. Coba Monty Tiwa lebih berani menciptakan ending yang unpredictable, pastilah Test Pack akan menjadi sajian film yang sangat sangat menarik.

Bagusnya, film ini dibintangi oleh para pemain yang bermain bagus. Reza Rahadian, yang memang bisa dibilang salah satu aktor berbakat yang kita punya saat ini, tak usah lagi diragukan aktingnya. Kali ini pun dia berhasil memerankan karakter Rahmat dengan sangat baik. Begitu juga dengan lawan mainnya, Acha Septriasa yang tak disangka bermain bagus memerankan karakter Tata. Hanya ketika scene marah saja, yang tampaknya aktingnya belum sepenuhnya mengeluarkan emosi, tapi sisanya cukup bagus. Chemistry antara Reza dan Acha pun terjalin dengan sangat baik. Selain itu ada juga, Renata Kusmanto yang aktingnya lumayan. Ditambah dengan para pemain lainnya yang menambah segar film ini, seperti Meriam Bellina, Jaja Miharja, Uli Herdinansyah, Gading Marten, Dwi Sasono. Hanya saja penampilan para bintang tamu dan cameo yang cukup banyak, menurut saya nggak terlalu perlu, sih!.

Walau masih banyak kekurangan di sana-sini, Test Pack: You Are My Baby mampu menghadirkan sebuah cerita romansa dewasa yang berhasil tampil bagus dan memukau. Film ini memberi pesan moral yang bagus, terutama untuk yang akan menikah atau telah menikah namun belum dikarunia anak. Dan film ini juga membawa angin segar ditengah minimnya film romance berkualitas dari dalam negeri. Ke depannya, kita merindukan film-film yang seperti ini yang tercipta dari para tangan sutradara negeri ini.





Title: Test Pack: You Are My Baby | Director: Monty Tiwa  | Release Date: 6 September 2012 | Running Time: 105 menit | Country: Indonesia | Starring: Reza Rahadian, Acha Septriasa, Renata Kusmanto, Meriam Bellina, Jaja Mihardja, Uli Herdinansyah, Dwi Sasono, Oon Project Pop  | IMDb
   












December 14, 2013

Mama Cake (2012)


Mama Cake (2012)









Mama Cake (2012)
Director: Anggy Umbara
Release Date: September 13, 2012
Country: Indonesia
Language: Indonesian

Starring:



Rakha (Ananda Omesh) disuruh papanya membeli Brownies Mama Cake yang fresh langsung dari tokonya di Bandung karena permintaan sang nenek yang sedang sakit keras. Bersama kedua temannya, Willy (Boy William) dan Rio (Ari Dagienkz), Rakha pun melakukan perjalanan ke Bandung yang ternyata justru menjadi sebuah petualangan hebat yang mengubah hidup mereka bertiga.


Satu lagi sajian dalam negeri yang cukup menghibur dan layak untuk ditonton, Mama Cake. Ketika di putar di bioskop, saya tidak sempat menyaksikannya karena keburu hilang dari peredaran - yang bahkan kalah lama dari film horor esek-esek. Film besutan Anggy Umbara ini tak hanya sekedar menceritakan tentang tiga sekawan Rakha, Willy dan Rio untuk membeli sebuah brownies Mama Cake tapi justru film ini mempunyai banyak pesan penting di dalamnya. Film ini mengangkat konflik dan isu-isu seputar agama dan sosial yang merebak di masyarakat. Banyak mitos yang dipatahkan dengan serta merta. Banyak hal yang membuat kita harus merenung dan diwajibkan mengkajinya lebih dalam lagi. Namun, untuk beberapa hal sepertinya terlalu berlebihan dan terkesan sangat menggurui.


Lewat perjalanan yang dilakukan ketiga pemuda dalam film ini, kita dibawa memahami makna kehidupan ini dengan penyampaian yang ringan dan penuh humor segar. Dialog-dialognya pun segar, menghibur, tajam dan tak jarang membuat kita terpaksa meringis mendengarnya. Menariknya lagi, beberapa scene ditampilkan dengan gaya bercerita ala komik, lengkap dengan tampilan full color. Tak hanya itu, Mama Cake pun menampilkan sajian komplit antara drama, komedi, romance, thriller, action hingga horor yang masing-masing mempunyai porsi yang cukup.


Untuk urusan akting, Ananda Omesh yang lebih dulu dikenal sebagai pelawak dan presenter, tidak mengecewakan walau masih harus mengasah aktingnya lebih baik lagi. Karakter Rakha merupakan satu-satunya karakter yang normal diantara karakter kedua temannya. Boy William cukup sukses memerankan karakter Willy yang gaya bicaranya so annoying terdengar di telinga. Ari Dagienkz juga masih bisa mengimbangi akting Omesh dan Boy, sebagai karakter Rio yang terlihat sangat berlebihan ketika ingin menyatu dengan alam. Justru yang terlihat bagus dan menarik perhatian adalah Candil dengan karakternya sebagai karyawan toko Mama Cake. Banyaknya cameo yang muncul juga menambah daya tarik film ini.


Ya, Mama Cake memang masih menyisakan banyak kekurangan di sana-sini, namun kita seharusnya mengapresiasi karya anak bangsa yang berusaha menampilkan film yang bagus, tidak hanya menjual pesona horor esek-esek semata dengan script cerita sampah. Eh, jangan buru-buru beranjak ketika film telah usai karena masih ada sedikit kejutan di credit title.

 















October 26, 2013

A Royal Affair | En kongelig affære (2012)


A Royal Affair (2012)




A Royal Affair (2012)
En kongelig affære 
Drama | History | Romance
Based on Prinsesse af blodet by Bodil Steensen-Leth
Director: Nikolaj Arcel
Music: Cyrille Aufort, Gabriel Yared
Release date(s): March 29, 2012 
Running time: 137 minutes
Country: Denmark, Sweden, Czech Republic
Language: Danish 

Starring:

Pada tahun 1767, Raja Christian VII (Mikkel Følsgaard) yang kala itu masih berusia 17 tahun menikah dengan Putri Caroline Matilda (Alicia Vikander) yang berasal dari kerajaan Inggris. Sayangnya, Matilda tidak tahu bahwa Christian kekanak-kanakan, egois dan menderita sakit mental. Dia bahkan sama sekali tidak bisa bercinta dengan Matilda dan lebih senang menghabiskan waktunya dengan para pelacur. Tanpa kasih sayang sang suami dan tekanan dimana-mana, Matilda merasakan depresi dan tekanan mental yang berat. Sosok Johann Friedrich Struensee (Mads Mikkelsen), yang merupakan dokter pribadi sang raja, membuat Matilda yang kesepian, jatuh hati karena sifat dewasa dan idealisnya. Perasaan Matilda disambut oleh Struensee dan mereka berdua akhirnya menjalin hubungan terlarang tersebut secara diam-diam. Sebagai satu-satunya orang yang dapat mempengaruhi sang raja, Struensee memulai revolusi melalui pengaruh Christian yang merubah Denmark selamanya. 
  
Melihat judulnya saja, penonton mungkin sudah bisa menebak tentang jalan ceritanya. Tapi, percayalah, hal tersebut tidak akan mengurangi kenikmatan menonton film ini. Bahkan saya akhirnya tidak penasaran lagi kenapa review filmnya positif dan mendapat rating yang cukup tinggi dimana-mana. Menyajikan sebuah film berlatar belakang sejarah memang tidak mudah. Tanpa perhitungan yang matang dalam segala hal, bukannya film bagus yang tercipta, malah film yang terkesan asal jadi nantinya. Nikolaj tahu betul bagaimana membuat sebuah film bagus. Eksekusi yang baik dan tertata rapi, script yang cerdas ditambah sinematografinya yang indah, membuat En kongelig affære (A Royal Affair) menjadi tontonan cerdas dan bermutu. Belum lagi, setting dan kostum yang begitu indah, membuat kita seolah-olah menyaksikan sendiri masa-masa tahun 1760-an.

 
Khas drama tentang kerajaan, tentulah akan banyak konfilik-konflik sepanjang film berlangsung. Apalagi film ini berdasarkan kisah nyata yang terjadi pada kerajaan Denmark beberapa abad yang lalu. Drama, romance, skandal, permainan politik dan kisah sejarah ditampilkan dengan dengan porsi yang pas oleh Nikolaj. Walaupun durasinya lama, namun tidak terasa membosankan menonton film ini.


Akting keren ditampilkan oleh ketiga pemain  utamanya. Mikkel Følsgaard dengan sangat baik memerankan Christian yang sedikit 'sinting' dan sama sekali tidak mencerminkan perilaku seorang raja. Lihatlah bagaimana Christian yang justru lebih peduli pada hewan peliharaannya ketimbang istrinya sendiri.  Matilda yang nyaris terlihat gloomy sepanjang film diperankan dengan baik oleh Alicia Vikander. Dan tentunya Mads Mikkelsen yang aktingnya tak perlu dipertanyakan lagi. 

 

Finally, En kongelig affære is a smart, well-paced movie with sense of drama and history. Film ini bahkan bisa menjadi media alternatif lain untuk mempelajari sejarah, khususnya sejarah kerajaan Denmark di abad ke-18.



A young queen, who is married to an insane king, falls secretly in love with her physician - and together they start a revolution that changes a nation forever.











A young queen, who is married to an insane king, falls secretly in love with her physician - and together they start a revolution that changes a nation forever.

October 20, 2013

A Hijacking | Kapringen (2012)


A Hijacking (2012)






Kapringen (2012)
A Hijacking
Drama | Thriller | Suspense
Director: Tobias Lindholm
Release date(s): 3 September 2012 (Venice)
20 September 2012 (Denmark)
Running time: 99 minutes
Country: Denmark
Language: Danish

Starring:
Johan Philip Asbæk
Dar Salim
Abdihakin Asgar





Kapal kargo MV Rozen Denmark dibajak oleh perompak Somalia di samudra Hindia. Para perompak meminta uang tebusan jutaan dolar. Peter C. Ludvigsen (Søren Malling) sebagai boss perusahaan kapal kargo tersebut, memutuskan untuk menyembunyikan kasus tersebut dari pihak luar. Dengan bantuan tangan kanannya, Lars Ve (Dar Salim), mereka meminta bantuan ahli untuk bernegoisasi. Negoisasi itu dilakukan via telepon dengan negoisator pembajak bernama Omar (Abdihakin Asgar) yang menyuruh juru masak kapal, Mikkel Hartmann (Johan Philip Asbæk) untuk berunding dengan Peter. Negoisasi tidaklah serta merta berlangsung mulus dan para sandera harus berjuang bertahan hidup dalam pertarungan hidup dan mati di kapal yang terbajak tersebut.


Sederhana, fokus, mencekam, dan mengasyikkan. Kata-kata tersebut sangat pantas diberikan untuk Kapringen (A Hijacking). Film ini mampu memberikan sentuhan thriller yang mencekam, menegangkan dan membuat frustasi yang menontonnya. Film ini pun tetap konsisten dengan alur ceritanya meski terkesan sedikit lambat. Dengan setting yang tidak banyak dan lebih fokus pada dua tempat berbeda, kapal yang dibajak dan perusahaan kapal tersebut, tidak serta merta membuat film ini menjadi membosankan. Justru penonton semakin merasakan ikatan kuat dengan para karakter di dalamnya sembari membayangkan langsung jika hal tersebut terjadi pada diri kita sendiri. Lindholm sengaja memainkan emosi penontonnya secara terfokus. Kecemasan dan ketegangan silih berganti dalam tiap adegan dalam film ini. Namun Lindholm juga pandai memberikan sedikit ruang kelegaan dan kebahagiaan dalam adegannya, seperti ketika para perompak itu sedikit berbincang, bercanda bahkan menyanyi bersama dengan para sandera.

 

Namun, apa yang digambarkan dalam film ini bukan hanya soal pembajakan kapal, tapi juga tentang para kru kapal, situasi yang mereka dapatkan dan hubungan mereka dengan perusahaan kapal, dan tanggung jawab uang tebusan untuk keselamatan para sandera. Kita akan melihat bagaimana suasana negoisasi yang terasa lama dan berbelit-belit. Di satu sisi kita merasa pihak perusahaan seperti kurang bertanggung jawab dengan menutupi kasus tersebut dari pihak luar, tapi di sisi lain kita pun akan melihat betapa sulitnya posisi mereka (pihak perusahaan) mengatasi permasalahan tersebut. Lindholm seperti sengaja membiarkan penonton mempunyai interpretasi tersendiri terhadap jalan ceritanya.


Salah satu hal yang unik dalam film ini adalah pembicaraan para perompak yang tidak diterjemahkan sama sekali sehingga kita tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Dalam hitungan menit mereka bisa berubah dari yang tenang, bercanda, tertawa tiba-tiba marah dan murka tanpa alasan yang jelas sambil menodongkan senjata ke arah sandera. Hal inilah yang sebenarnya dialami oleh para awak kapal yang disandera. Secara tidak langsung, penonton sengaja di tempatkan di posisi para sandera tersebut untuk dapat merasakan apa yang mereka alami di posisi seperti itu. Film yang sukses menaikkan tensi anda dan membuat anda seperti merasakan langsung yang dialami para karakter dalam film ini. Dengan kata lain, film ini berusaha untuk menggambarkan rasa teror yang dialami para awak kapal yang kapalnya dibajak oleh para perompak.

 

Kapringen memang tidak menawarkan scene aksi besar nan hebat yang dibalut oleh scoring musik yang dramatis. Film ini juga bukanlah sebuah melodrama, hanya menampilkan beberapa scene tentang anggota keluarga para kru kapal yang dibajak tersebut. Itu pun bukanlah adegan cengeng, melainkan adegan yang memang seharusnya memang ada jika anggota keluarga kita mengalami nasib yang sama. Selain itu, penonton diajak untuk menyaksikan interaksi antara perompak dan kru kapal, bagaimana hubungan yang terbangun namun akhirnya tiba-tiba harus hancur lagi, benar-benar sangat emosional.


Tak bisa dipungkiri, satu kunci kesuksesan sebuah film karena permainan bagus para aktor dan aktrisnya. Søren Malling-lah yang menjadi juru kunci kesuksesan Kapringen ini. Karakternya sebagai Peter dengan wajah tenangnya yang dingin dan tampak bisa mengendalikan segalanya dengan baik memang menjadi karakter yang brilliant. Johan Philip Asbæk yang berperan sebagai Mikkel juga menampilkan performa gemilang. Baik Malling maupun Asbæk sama-sama mampu menampilkan karakter yang ekspresif dalam diam namun tersiksa dalam rasa frustasi menunggu ketidakpastian. Simaklah pertanyaan frustasi Mikkel berikut ini kepada Peter, “Why don’t you want to help us?”. Tentu, kita pun akan berpikiran sama seperti Mikkel, kenapa?. "Why isn’t the company paying the ransom? Don’t they care about their crew? Don’t the lives of these people matter?". Kembali lagi seperti yang sudah saya tulis di atas, bahwa kita akan diajak melihat tidak hanya dari satu sisi saja, melainkan dari dua sisi berbeda, sehingga penonton dibebaskan untuk berinterpretasi masing-masing. Satu hal lagi yang menarik dalam film ini adalah Gary Skjoldmose Porter, pemeran Connor Julian, negosiator yang sengaja disewa untuk berunding dengan para perompak, ternyata bukanlah seorang aktor, melainkan memang seorang konsultan keamanan perusahaan di dunia nyata.   
 


Kapringen memang bukanlah sebuah film action dimana ada karakter baik dan jahat yang berlaga. Kapringen hanyalah gambaran tentang ketegangan dan teror suatu tindakan. Film ini juga tidak sedramatis film-film versi Hollywood yang mempunyai tema sama. Dan twist di ending mempunyai ironi gelap yang tidak akan ditemui di sebuah film mainstream. Jelas, Kapringen adalah sebuah drama thriller psikologis yang berkualitas dan menguras emosi. It's a tense watch.
















Translate

Waiting Lists

Sur mes lèvres.jpg Dark, brown-tinted and horror-themed image of a man in an asbestos-removal suit (to the right side of the poster), with an image of a chair (in the middle of the image) and an image of a large castle-like building at the top of the image. The text "Session 9" is emboldened in white text in the middle of the image, and near the bottom of the image is written, "Fear is a place." Lisbeth Salander with Mikael Blomkvist The Girl Who Played with Fire.jpg Page turner.jpg Le trou becker poster3.jpg Nightwatch-1994-poster.jpg Headhunter poster.jpg On the Job Philippine theatrical poster.jpg The Song of Sparrows, 2008 film.jpg The-vanishing-1988-poster.jpg Three Monkeys VideoCover.png