Showing posts with label Gary Oldman. Show all posts
Showing posts with label Gary Oldman. Show all posts

February 07, 2016

True Romance (1993)


True Romance (1993)
Ramuan romansa cinta yang berbeda







Amid the chaos of that day, when all I could hear was the thunder of gunshots, and all I could smell was the violence in the air, I look back and am amazed that my thoughts were so clear and true, that three words went through my mind endlessly, repeating themselves like a broken record: you’re so cool, you’re so cool, you’re so cool. 
- Alabama -



Di hari ulang tahunnya, Clarence Worley (Christian Slater) pergi ke bioskop sendirian untuk menonton film kesukaannya. Dengan sengaja seorang gadis bernama Alabama Whitman (Patricia Arquette) menjatuhkan popcorn ke tubuh Clarence. Perkenalan pun terjadi. Mereka berdua menghabiskan malam bersama dan berakhir dengan one night stand. Esoknya, Alabama mengakui bahwa dia sebenarnya adalah wanita panggilan dan telah jatuh cinta dengan Clarence. Clarence yang ternyata juga menaruh hati pada gadis tersebut, akhirnya menikahinya. Namun Clarence harus berurusan dengan Drexl Spivey (Gary Oldman), sang germo. Karena suatu insiden, Clarence malah tanpa sengaja mencuri kokain dari Drexl. Dia lalu berencana menjualnya ke Hollywood dengan bantuan temannya yang seorang calon aktor, Dick Ritchie (Michael Rapaport). Namun, sang pemilik asli kokain tersebut mencoba merebut kembali barang miliknya tersebut. 

Film dengan rating tinggi dan mendapat review positif dari para kritikus film, tentu akan sangat sayang untuk dilewatkan. Apalagi jika menilik jajaran para pemainnya yang terkenal dan telah malang melintang di dunia perfilman (walaupun kala film ini dibuat, para aktor tersebut mungkin belum menjadi terkenal seperti sekarang), semakin membuat rasa penasaran saya menjadi kuat untuk menyaksikan film berjudul True Romance ini. Dan tentunya karena naskah film ini ditulis oleh Quentin Tarantino yang notabene sukses melahirkan film-film bagus bermutu seperti Pulp Fiction, Kill Bill, Reservoir Dogs, Inglourious Basterds, Django Unchained dan yang paling terbaru: The Hateful Eight. Benarkah film True Romance ini sesuai harapan saya? Let's see!.  Melihat judulnya, tentu penonton beranggapan bahwa ini adalah film romance yang berisi kisah cinta antara sepasang kekasih dengan segudang kata-kata cinta di dalamnya. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah, namun Tarantino memolesnya dengan ciri khasnya sendiri yang membuat kisah cinta dalam film ini penuh dengan kekerasan, brutal, liar, sadis, kotor dengan sisipan dark humor ala Tarantino. True Romance yang menggabungkan crime, drama, romance, dan dark-comedy dalam satu paket komplit ini, aslinya ingin dibuat Tarantino dengan alur cerita non-linear (yang menjadi ciri khas Tarantino), namun sang sutradara Tony Scott malah membuatnya menjadi linear. Ah, sayang sekali!. Padahal saya yakin, jika dibuat dengan style andalan Tarantino, film ini akan keren sekali. 

Mengusung tema dark comedy, True Romance tak jarang menyisipkan jokes yang 'pahit' namun mengundang decak tawa. Namun kebanyakan lelucon yang ada kurang mengena buat saya. Entahlah, mungkin saya gagal paham dengan lelucun-leluconnya. Selain itu, durasi yang panjang, nyaris dua jam, sempat membuat saya bosan di paruh awal film berlangsung. Keseruan mulai terasa di paruh kedua. Hingga akhirnya adegan paling sensasional di film ini membuat saya manggut-manggut sekaligus terhibur. Gaya khas seorang Tarantino terlihat jelas di adegan klimaks berisi baku tembak yang keren tersebut. Cepat dan nyaris tanpa jeda tanpa memberi kita waktu sejenak untuk berpikir apa yang sebenarnya sedang terjadi. Great job, Mr. Tarantino! Musiknya sendiri ditangani oleh Hans Zimmer yang memang terkenal menghasilkan soundtrack untuk banyak film.  

Dipilihnya Christian Slater untuk memerankan karakter Clarence Worley memang pilihan yang tepat. Aktor yang saya kenal pertama kali lewat perannya di film Broken Arrow yang kerap kali diputar ulang di televisi-televisi swasta kita ini memang pas dengan karakter Clarence yang diperankannya. Patricia Arquette yang kala itu masih menjadi newcomer ternyata juga pilihan yang tepat untuk perannya sebagai Alabama Whitman yang centil, penggoda namun sebenarnya kesepian. Sosoknya benar-benar mencuri perhatian. Apalagi melihat akting kerennya di salah satu scene ketika berhadapan dengan seorang gangster yang mengancam jiwanya. And I like that scene. Selain Slater dan Arquette, film ini juga didukung oleh para pemain hebat lainnya seperti Dennis Hopper, Gary Oldman, Christopher Walken, Michael Rapaport, Bronson Pinchot, Saul Rubinek, Val Kilmer, Samuel L. Jackson dan Brad Pitt. Sebagian para aktor tersebut belum menjadi bintang besar seperti sekarang ini.

Walau dihiasi dengan berbagai adegan kekerasan yang penuh dengan kata-kata kotor, True Romance sejatinya adalah film tentang cinta dan konsekuensi dari cinta tersebut. Dan Tarantino meramunya dengan sedikit berbeda dari kebanyakan film bertema romansa lainnya. Tapi sayang seribu sayang, saya benci endingnya. Tadinya saya berharap lebih dari endingnya yang mungkin akan berbeda dari kebanyakan film Hollywood tapi ternyata tidak. Dan saya sepertinya harus menyalahkan Tony Scott yang seenaknya mengubah endingnya (versi Tarantino aslinya tidak demikian endingnya dan sepertinya mungkin sesuai ekspektasi saya). Dan apakah film ini sesuai ekspektasi saya? Hmm.. sejujurnya tidak. Film ini cukup bagus tetapi saya tidak terhibur - kecuali dua scene keren di film ini yang saya sebutkan sebelumnya. Well, True Romance is not my cup of tea. Film yang mungkin akan langsung lenyap dari ingatan saya begitu saya selesai menontonnya. Overrated.  






Title: True Romance | Genre: Crime, Drama, Romance, Dark-Comedy | Director: Tony Scott | Screenplay: Quentin Tarantino | Music: Hans Zimmer | Cinematography: Jeffrey L. Kimball | Release dates: September 10, 1993 | Running time: 118 minutes | Country: United States | Language: English | Cast: Christian Slater, Patricia Arquette, Dennis Hopper, Val Kilmer, Gary Oldman, Brad Pitt, Christopher Walken, Michael Rapaport,  Bronson Pinchot | IMDb | Rotten Tomatoes








August 14, 2013

Léon: The Professional (1994)


Léon: The Professional (1994)




Léon: The Professional (1994)
Léon/
The Professional
Crime | Drama | Thriller
Director: Luc Besson
Music: Éric Serra
Release date(s): 14 September 1994 (France)
Running time: 110 minutes
Country: France
Language: English



Mathilda: "Is life always this hard, or is it just when you're a kid?" 
Leon: "Always like this".



Leon (Jean Reno), seorang pembunuh bayaran professional (hitman) yang suka memakai kaca mata hitam ini tidak pernah gagal menjalankan tugasnya. Dalam menjalankan tugasnya, Leon mempunyai aturan sendiri, yaitu tidak membunuh wanita dan anak-anak. Suatu hari dia menyelamatkan hidup seorang gadis cilik bernama Mathilda (Natalie Portman) yang keluarganya dibantai oleh seorang polisi korup pimpinan Stansfield (Gary Oldman). Perlahan, Mathilda memasuki hidup Leon dan merubah segalanya. Malah, Mathilda juga ingin menjadi pembunuh bayaran professional seperti Leon. 

  

Interesting! Kata itu mungkin tepat menggambarkan film besutan Luc Besson ini. Plot ceritanya terbilang unik, menyangkut sisi emosional seorang hitman. Besson secara gamblangnya menunjukkan sisi lain dari seorang hitman yang profesional dan tidak pernah mengecewakan para kliennya. Leon yang terlihat kejam dan tak segan-segan menghabisi nyawa orang, ternyata memiliki pribadi yang kaku dan tertutup. Saking kakunya, selama hidupnya dia belum pernah tidur berbaring tapi selalu dalam kondisi duduk di kursi dengan sebuah pistol disampingnya. Namun Leon juga bersahaja. Hobinya adalah minum susu dan satu-satunya "sahabatnya" adalah tanaman dalam pot miliknya. Selain itu, Besson juga menunjukkan karakter hasil dari kurangnya rasa kasih sayang seorang anak dari keluarganya pada karakter Mathilda. Dan tak ketinggalan jiwa monster yang malah ada pada seseorang yang harusnya menjadi penegak hukum, Stansfield.


Tapi yang jauh lebih menarik adalah hubungan yang terjadi antara Leon dan Mathilda. Sekilas memang seperti kisah pedophilia. Tapi Besson dengan pintarnya berhasil memanipulasi hal tersebut dan membuat adegan-adegan yang kurang pantas dilakukan anak kecil terlihat tetap keren. Kekuatan terbesar film ini memang terletak pada karakter Mathilda. Bahkan Leon yang seorang hitman ini, harus kerepotan menghadapi si kecil Mathilda. Penampilan Jean Reno sebagai Leon memang keren. Reno mampu menjadi sosok pembunuh bayaran dingin sekaligus seorang yang hangat dan bersahaja. Gary Oldman pun tak kalah kerennya berperan sebagai Stansfield. Sosoknya benar-benar bagaikan monster bermuka dua. Kadang terbersit pertanyaan, siapa sebenarnya penjahat yang sebenarnya?

 

Dan tentunya penampilan Natalie Portman patut diacungin dua jempol. Di usianya yang masih sangat belia kala itu, dia bisa berakting dengan sangat baik sebagai Mathilda. Karakternyalah yang paling mencuri perhatian.
 

Kombinasi antara action dan dramanya seimbang sehingga membuat penonton enjoyable menontonnya. Banyak memorable scene dalam film ini. Dan mungkin sebagian penonton akan menyukai beberapa karakter dalam film ini. Jelas, Leon: The Professional merupakan tontonan yang menarik serta menghibur sekaligus berseni dan berkelas.

  
 
 










Translate

Waiting Lists

Sur mes lèvres.jpg Dark, brown-tinted and horror-themed image of a man in an asbestos-removal suit (to the right side of the poster), with an image of a chair (in the middle of the image) and an image of a large castle-like building at the top of the image. The text "Session 9" is emboldened in white text in the middle of the image, and near the bottom of the image is written, "Fear is a place." Lisbeth Salander with Mikael Blomkvist The Girl Who Played with Fire.jpg Page turner.jpg Le trou becker poster3.jpg Nightwatch-1994-poster.jpg Headhunter poster.jpg On the Job Philippine theatrical poster.jpg The Song of Sparrows, 2008 film.jpg The-vanishing-1988-poster.jpg Three Monkeys VideoCover.png