November 05, 2022

Murder Party (2007)

 Murder Party (2007)


 

I don't even remember why I have this movie file in my laptop. Dan demi mengurangi memori yang sudah hampir full di laptop, maka film ini ditonton tanpa berekspektasi apa pun. Sensasi creepy langsung terasa di opening scenenya, ditambah dengan background musiknya yang justru mengingatkan pada film-film horor jadul tahun 90-an. Dan, kebetulan sekali aku menontonnya di waktu Halloween pula dimana film ini ternyata bertema Halloween juga. 


Dari judulnya tentu kita akan langsung berkesimpulan bahwa film ini akan menyajikan sajian horor atau gore sejenis SAW ketika protagonis datang ke tempat dimana undangan murder party berlangsung. Tapi nyatanya, sedikit melenceng. Justru ketakutan langsung hilang begitu salah satu tokoh antagonis mati dengan cara yang what the... ?? 

Tapi seketika malah membuatku tidak ingin beranjak dan ingin menonton terus filmnya. Dan sesuai dugaan, film ini sangat menghibur. Sukses membuatku mind blowing sembari mengerutkan dahi atau sekedar mesem-mesem atau bahkan tertawa terbahak-bahak. Sungguh hiburan sekali tanpa harus berpikir apapun. Just enjoy the show. Seperti tema murder party sendiri yang dilakukan oleh para pemuda di film ini.

 

Hingga film berakhir, hanya bisa bergumam: "Tadi nonton film apa, sih aku?" Hahaha... 

Jelek? Oh, tentu tidak. Tapi juga tidak bisa dibilang bagus. Yang sedikit mengusik jiwa OCD-ku adalah ketika tokoh protagonis tidak membuka kostum Halloweennya hingga akhir film. Rasanya gemes liat kostumnya yang penuh darah itu dipakai terus. 


So, untuk yang butuh hiburan horor dibalut sedikit gore plus komedi, cocok menonton film ini. Ingat, ya jangan berekspektasi apapun dan tidak perlu berpikir selama menontonnya. Nikmati saja filmnya.

 




Title: Murder Party | Director: Jeremy Saulnier | Release Date: January 2007 | Running Time: 79 minutes | Country: United States | Language: English | Cast: Chris Sharp, Sandy Barnett,  Macon Blair, Paul Goldblatt, William Lacey, Stacy Rock | IMDb | Rotten Tomatoes | 3/5

 

 

February 06, 2017

Belenggu (2013)


Belenggu (2013)









Di suatu kota kecil sedang dicekam ketakutan setelah terjadinya kasus pembunuhan berantai di mana pembunuhnya masih berkeliaran bebas. Penyelidikan pun dilakukan. Semua orang dicekam ketakutan dan saling mencurigai satu sama lain. Elang (Abimana), seorang pemuda pendiam dan tertutup, seringkali dihantui bayangan-bayangan mengerikan tentang pembunuhan aneh yang melibatkan sesosok orang misterius yang mengenakan kostum Kelinci. Elang merasa bahwa sosok bertopeng Kelinci itulah kunci dari segalanya. 

 

Upi Avianto. Siapa yang tak kenal dengan sutradara satu ini. Karya-karya yang dihasilkannya selalu fresh, asik dan menarik. Kali ini Upi menawarkan sebuah sajian yang berbeda dan jarang dibuat di Indonesia; thriller psikologis. Genre yang sangat saya sukai. Namun saya tidak ingin berekspektasi terlalu tinggi pada film ini, mengingat saya sering kecewa ketika menonton film-film lokal. Keluar dari zona aman bukanlah hal yang mudah bagi Upi dan bisa dibilang dia cukup berani melakukan hal tersebut dengan membuat film Belenggu ini. Naskahnya bahkan dia tulis sendiri selama rentang waktu bertahun-tahun. Wow! Thriller psikologis yang penuh misteri bukanlah sajian yang gampang disukai oleh kebanyakan penonton Indonesia, bahkan terkadang dipandang sebelah mata karena genre ini begitu berat dan tak jarang 'memaksa' pikiran kita sedemikian rupa. Belenggu tak luput dari hal tersebut. Sayang, alur ceritanya tidak orisinal dan banyak ditemukan dalam film-film thriller psikologis, Upi dinilai 'mencontek' Twin Peaks dalam menggarap Belenggu. Since I don't watch Twin Peaks yet, so no comment for it. Karakter kelinci bertopeng di film ini tentu langsung mengingatkan kita pada salah satu film parallel universe legendaris Donnie Darko. Sejujurnya, saya sangat menyayangkan hal tersebut. I mean, kenapa Upi tidak membuat karakter sosok bertopeng jenis lainnya saja; harimau sumatera misalnya?.

 

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Upi menggarap naskah film Belenggu ini membutuhkan waktu selama bertahun-tahun - 8 tahun tepatnya - tetapi jika ditilik lagi ternyata terlalu banyak (yang mau tidak mau harus diakui) kemiripan dengan beberapa film thriller psikologis yang pernah ada. Sayang sekali! Oke, mungkin Upi memang terinspirasi, tetapi hal tersebut sebenarnya sedikit mengganggu buat saya pribadi. Itulah mengapa di paruh bagian pertama film ini, beberapa misteri yang ada akan bisa tertebak. Untunglah, Upi masih lihai meramu hal-hal tersebut sedemikian rupa sehingga mau tidak mau sekali lagi memaksa kita sebagai penonton untuk memakluminya. Pun begitu, rentetan misteri dalam film ini memang memaksa penontonnya untuk bermain-main dengan pikiran dan psikologis. Penikmat thriller psikologis tentu akan sangat menikmati hal seperti ini. Sayang, berbagai misteri yang tadinya telah sangat rapi disusun, harus dibongkar satu persatu di akhir ceritanya. Buruk? Tidak, sih tapi bagi penikmat film thriller psikologis seperti ini pasti lebih memilih agar misteri tetap menjadi misteri yang tak terpecahkan yang membuat penontonnya akan bertanya-tanya terus bahkan hingga film telah usai. Tetapi apa boleh buat, Upi sadar betul bahwa kebanyakan penonton di negeri ini malas untuk 'berpikir' dan menonton hanya sebagai hiburan semata. Oleh karena itu, dia akhirnya membuat ending yang seperti itu. Dan itu sepertinya adalah keputusan yang tepat.


Jawara film ini adalah atmosfir creepy yang begitu membelenggu nyaris sepanjang film. Dan saya sangat menyukai setting kota antah berantah dalam film ini; apartemen usang, gedung-gedung tua, rumah sakit dengan sudut lorong-lorong yang menyeramkan, penjara, kantor polisi serta rumah sakit jiwa. Sinematografinya sangat memukau dengan shot suram nan gelap yang indah. Atmosfirnya terasa sangat creepy (padahal saya menontonnya di siang hari, loh!. Andai saya menontonnya di malam hari, pasti sensasi creepy-nya terasa sangat luar biasa.). Bahkan, ketika film berakhir pun, atmosfir creepy yang kelam dan menakutkan masih terasa. Jajaran pemainnya diisi oleh Abimana Aryasatya, Imelda Therinne, Laudya Cynthia Bella, Jajang C. Noer, Bella Esperance, Verdi Solaiman dan beberapa pemain lain yang wajahnya cukup familiar di layar kaca. Kala itu, seorang Abimana bukanlah siapa-siapa, sehingga ada keraguan akan kemampuan aktingnya dalam film ini. Namun, sepertinya dia memang seorang aktor yang berbakat secara alamiah and he proved it. He can act well. Abimana sangat sangat bisa mencuri perhatian sebagai sosok Elang terutama di paruh pertama film. Penampilan memukau juga di tampilkan oleh seorang Jajang C. Noer dalam penampilan singkatnya. Namun, yang benar-benar mencuri perhatian adalah Imelda Therinne. Tetapi anehnya, justru Laudya Cynthia Bella mendapatkan penghargaan Aktris Utama Wanita Terfavorit di Indonesian Movie Awards 2013. Eh, kok bisa?! Padahal melihat akting Bella di film ini amat sangat flat sekali. Yah, itulah pilihan pemirsa, yang terkadang memang selalu tidak memuaskan dan terkesan tidak fair!

 

Saya akui Upi cukup sukses menyajikan thriller psikologis yang bagus. Terlepas dari segala kekurangan yang ada, Belenggu lebih bisa menjadi salah satu tontonan yang harus dicoba dan harus diapresiasi lebih. Dan saya berharap ke depannya akan muncul sajian film yang bermutu dengan mengusung genre-genre seperti ini lagi. 









Title: Belenggu | Genre: Thriller | Director: Upi Avianto | Release Date: 28 February 2013 | Running Time: 100 minutes | Country: Indonesia | Language: Bahasa | Cast: Abimana Aryasatya, Imelda Therinne, Laudya Cynthia Bella, Verdi Solaiman, Bella Esperance | IMDb




January 27, 2017

La La Land (2016)


La La Land (2016)




"This is the dream! It's conflict and it's compromise, and it's very, very exciting!" 
- Sebastian -




La La Land is one of the movie I really wanna watch but I don't wanna take a high expectation as I always disappointing. As the movie started, it's surprisingly giving us something beautiful and fun with beautiful music, colorful costumes, and fun things. Then, the two main characters meet; Mia Dolan (Emma Stone) and Sebastian Wilder (Ryan Gosling). Mia is an aspiring actress and also a studio-barista. Sebastian is a jazz pianist. Both of them are struggling to make their hopes and dreams come true. Is the story as simple as we thought? Nope. Though it's just a simple premise, it's more than that. Damien Chazelle, as a director, knows how to create a great concept of this movie by using all elements and fit them all into one.


Though you don't like musicals, I bet you will like this movie. It's definitely hard finding something like this nowadays; kind of something rare. It feels like we are watching classic movie from the past. Music by Justin Hurwitz is completely a perfect part of this movie. It's so not easy to forget the song lists here such as Another Day of Sun, Someone In The Crowd, Audition (The Fools Who Dream) or City of Stars that has a big impression during the show. Even, the song's still remain in our mind maybe; as I hummed it after the movie ends. The music itself is just not a complement of the movie only, but also as a medium of storytelling and as a whole packaging of the movie. Not just the music, the choreography from Mandy Moore is also the best part of the movie itself. See how Gosling and Stone dance together in some of the scenes. It's wonderful. And it become perfect with the great cinematography from Linus Sandgren who make every shot is like a magical thing that make us fly away. Ryan Gosling and Emma Stone is perfect cast for this movie. How the two of them have a great chemistry here is truly amazing thing. What surprise me is that Gosling and Stone sing the songs in the movie by themselves. Even, Gosling learnt to play piano to take a part of his character.


As the tagline itself, "Here's to fools who dream", La La Land is a movie about dream. But it's okay. Everyone can having a dream. It's free!. Though reality is cruel. As the main characters who have big dream and hope and they always support each other, though they also have to struggling facing the cruel reality. It's not a big deal. Exploring the joy and pain of pursuing your dreams are more important. Make your dreams come true even though  there's always something you have to sacrifice. Well, La La Land is above my expectation.  I always smile during the show and make me feel so happy and sad in the same time. And I love the ending. I still can't move on from this great movie. Big thanks to Chazelle who doesn't ruin the last part of this movie as typically Hollywood movie nowadays. For trivia, Indonesia is also becomes a part of the conversation between the characters in the movie. If you don't watch it yet, just watch it now. You won't regret it.


 







Title: La La Land | Genre: Drama, Musical | Director: Damien Chazelle | Music: Justin Hurwitz | Cinematography: Linus Sandgren | Release date: August 31, 2016 (Venice Film Festival), December 9, 2016 (United States) | Running time: 128 minutes | Country: United States | Language: English | Cast: Ryan Gosling, Emma Stone, John Legend, Rosemarie DeWitt | IMDb | Rotten Tomatoes 














December 27, 2016

A Man Called Ove | En Man Som Heter Ove (2015)


A Man Called Ove (2015) 
En Man Som Heter Ove 




Parvaneh: "I have thought of one thing".
Ove: "Stop Boasting".





Swedia merupakan salah satu negara yang menghasilkan film-film bagus nan bermutu. Sebut saja Persona, The Girl With The Dragon Tattoo, Let the Right One In, dan masih banyak lagi yang lain. Dan kali ini Swedia mempersembahkan sebuah film yang menjadi perwakilan untuk Best Foreign Language Film at the 89th Academy Awards berjudul asli En Man Som Heter Ove atau A Man Called Ove. Film A Man Called Ove berdasarkan buku karya Fredrik Backman dengan judul yang sama.

A Man Called Ove menceritakan tentang lelaki tua bernama Ove (Rolf Lassgard) yang keras kepala, cepat marah, strict, dan menganggap semua orang di sekitarnya idiot. Ove hanya peduli dengan penegakan aturan di blok tempat tinggalnya. Setiap hari Ove mengunjungi makam istrinya, Sonja (Ida Engvoll) dan memutuskan untuk segera menyusul Sonja dengan mengakhiri hidupnya secepat mungkin. Namun, ada saja hal-hal yang membuat Ove terpaksa membatalkan keinginannya untuk bunuh diri. Suatu hari, Ove kedatangan tetangga baru yang pindah; seorang wanita asal Timur Tengah yang sedang hamil, Parvaneh (Bahar Pars) beserta suami dan kedua anak perempuannya. Tanpa disadari, Ove menjalin pertemanan dengan tetangga barunya tersebut yang ternyata sedikit banyak memberikan pandangan berbeda tentang hidup.

Membaca sinopsis filmnya, mungkin bagi sebagian orang terlihat sangat tidak menarik. Hanya bercerita tentang seorang pria tua pemarah dan keras kepala. Apa menariknya coba? Hei, jangan salah, justru disitulah letak menariknya film ini. Walau tak ada yang benar-benar baru dalam film ini, namun film ini dikemas sedemikian rupa sehingga alur ceritanya begitu asik untuk diikuti. Kita diajak untuk mengenal sosok Ove lebih dekat. Anda pun pasti akan sering menemukan sosok seperti Ove dalam kehidupan sehari-hari. Sosok tua yang pemurung, kesepian, tidak ramah, selalu menolak segala hal yang berbau modernisme dan sosok yang bagi sebagian orang akan terlihat sangat menyebalkan. Namun sebenarnya, Ove adalah sosok yang baik hati, perhatian dan selalu menjunjung kebenaran. Kita pun akan diajak melihat kehidupan sehari-hari Ove, interaksinya dengan para tetangga dan orang-orang sekitarnya. Hal-hal lucu kerap kali terjadi antara Ove dan orang-orang di sekitarnya, terutama karena perbedaan prinsip, dimana Ove selalu mempertahankan prinsip kolotnya dan menentang inovasi-inovasi baru yang tidak sesuai dengan prinsipnya. Adanya adegan flashback menambah warna dalam film ini. Sajian black comedy yang turut hadir dalam film ini tak jarang membuat saya tersenyum dan tertawa. Hannes Holm sebagai sang sutradara meramu cerita dalam film ini sedemikian rupa sehingga terkadang tanpa sadar kita telah larut dalam kisah yang dipaparkan dalam film ini. Senang dan sedih tak jarang dirasakan bersamaan. Saya bahkan tanpa sadar meneteskan air mata dalam sebuah scene, padahal saya baru saja tertawa dalam scene sebelumnya. 

A Man Called Ove semakin bagus dengan akting dari Rolf Lassgard sebagai Ove tua. Beliau mampu membuat kita kesal, benci sekaligus sayang pada sosoknya. Lalu ada Bahar Pars yang cukup mencuri perhatian sebagai sosok Parvaneh. Filip Berg sebagai Ove muda dan Ida Engvoll sebagai Sonja turut melengkapi jajaran cast dalam film bagus ini.

A Man Called Ove memang hanya sebuah drama sederhana tentang potret kehidupan, namun film ini sarat makna. Sebuah film yang mengajarkan kasih sayang satu sama lain meskipun berbeda jenis kelamin, latar belakang etnis, bahkan preferensi seksual. Sebuah film yang jujur yang mungkin akan membuat anda turut serta dalam kehidupan para karakter di dalamnya. Jika anda tertarik, tak ada salahnya mencoba menonton film ini. Ya, sesekali cobalah keluar dari jalur mainstream tontonan anda walaupun anda hollywood freak, korean freak, penggemar cerita super hero atau film-film penuh super effectIt's worth watching. Saya mendadak ingin membaca novelnya setelah selesai menonton film ini.









Title: A Man Called Ove | Original Title: En Man Som Heter Ove | Genre: Drama, Comedy | Based on Book A Man Called Ove by Fredrik Backman | Director: Hannes Holm | Running time: 116 minutes | Country: Sweden | Language: Swedish  | Cast: Rolf LassgĂĄrd, Bahar Pars, Filip Berg, Ida Engvoll | IMDb | Rotten Tomatoes







November 11, 2016

A Short Film About Killing | KrĂłtki film o zabijaniu (1988)


A Short Film About Killing (1988) 
KrĂłtki film o zabijaniu 

What A Beautiful Dark Film About Killing!




Jacek Lazar: I didn't listen in court, not until you called to me. They were all... all against me.
Piotr Balicki: Against what you did.
Jacek Lazar: Same thing..





A Short Film About Killing bercerita tentang tiga karakter sentral yang nantinya akan saling berhubungan melalui suatu kasus. Waldemar Rekowski (Jan Tesarz) adalah seorang supir taksi gendut yang sangat menikmati kebebasan dan pekerjaannya. Dia menyukai seorang gadis muda, dan dia membenci kucing dan anjing. Jacek Lazar (Miroslaw Baka) adalah seorang pemuda dari desa yang baru tiba di Warsama dan berkeliaran di kota tanpa tujuan yang jelas. Piotr Balicki (Krzysztof Globisz) adalah seorang pengacara muda idealis yang baru lulus ujian. 

Aura kelam, disturbing dan violent langsung terlihat dari opening film ini dimana terlihat ada adegan tikus mati dan seekor kucing yang digantung. Selain itu pemilihan tone warna yang digunakan juga cenderung gelap. Hal tersebut tentu sejalan dengan judul film ini sendiri. Sebagai informasi, film ini merupakan expanded dari sebuah serial televisi terkenal di Polandia berjudul Dekalog dalam episode Dekalog: Five arahan sutradara Krzysztof KieĹ›lowski. Sang master Kieslowski, saya kenal awalnya lewat trilogi Three Colors yang begitu indah dan berseni. Di susul kemudian, Blind Chance dan The Double Life of Veronique yang memukau saya. Dan lewat film ini, saya semakin yakin bahwa beliau memang salah satu sutradara handal yang selalu menghasilkan film-film bagus dan bermutu yang indah, berseni dan berkelas. Keindahan A Short Film About Killing terlihat dari visual dan ceritanya (walaupun bertema pembunuhan). Sinematografinya begitu indah. Saya suka dengan tampilan gelap di sudut frame kamera - saya tidak paham istilahnya - yang memakai filter hijau. Tampilan yang gelap dan suram tersebut seolah memaparkan suasana hati  dan kehidupan yang suram. Shot-shot yang diambil juga bagus, unik, dan indah. Tak henti-hentinya saya mengagumi keindahan sinematografi yang dihasilkan oleh SĹ‚awomir Idziak ini. Keindahan film ini juga didukung oleh backsound musik yang tak kalah memukau olah karya Zbigniew Preisner

A Short Film About Killing menampilkan tensi ketegangan yang semakin lama semakin meningkat, terutama ketika adegan pembunuhan terjadi. Pembunuhan tersebut di shot dengan brutal, sadis, dan kejam secara mendetail dalam rentang waktu sekitar 8 menit. Kita akan tahu bahwa memang ada sesuatu yang salah dari sang pembunuh tersebut. Lihatlah bagaimana dia begitu senang dan menikmati melakukan hal-hal yang mengganggu kenyamanan orang lain seperti melempar batu dari atas jembatan ke arah jalan raya yang dilalui oleh kendaraan di bawahnya sehingga menyebabkan kecelakaan atau membuat kesal seorang wanita tua yang memberi makan merpati-merpati di taman dengan menghalau merpati-merpati tersebut. Namun, sayang motif pembunuhan yang dilakukan sang pembunuh tidak diungkapkan dalam film ini. Sepertinya sengaja dibuat begitu agar menonton serial televisinya. Atau memang sengaja tidak diungkap motif pembunuhannya agar penonton nantinya tidak merasa kasihan atau bersimpati pada sang pembunuh. Tapi sebenarnya kita bisa menebak-nebak sendiri tentang motif pembunuhannya dari adegan-adegan yang dipaparkan dalam film ini; salah satunya adalah (mungkin) faktor cemburu dimana sang pembunuh dekat dengan seorang wanita muda yang sering dirayu oleh sang korban. Atau mungkin memang sang pembunuh adalah seorang psikopat keji nan sadis yang membunuh tanpa motif apapun. Atau mungkin juga karena kondisi psikologisnya sedang tidak stabil karena frustasi, kesepian atau kecewa. Untuk alasan yang terakhir, bisa dilihat dari sesi curhat sang pelaku dengan pengacaranya ketika akan dieksekusi. Apalagi jika mengingat bahwa sang pelaku sempat menangis ketika membunuh korbannya.

Ada dua pembunuhan yang dijabarkan dalam film ini yang masing-masing dibagi dalam dua bagian. Bagian pertama adalah pembunuhan yang sadis, keji dan brutal, sedangkan pembunuhan kedua adalah pembunuhan yang disengaja dieksekusi karena tindak kriminal. Jika membandingkan keduanya, sebenarnya tidak ada yang berbeda. Keduanya sama-sama menimbulkan perasaan campur aduk yang tidak mengenakkan. Itulah mengapa film ini menuai pro dan kontra. Ya, A Short Film About Killing bukanlah film yang dapat dinikmati oleh semua orang. Film ini terlalu berat dan kelam, baik dari temanya sendiri maupun karakter-karakternya. Dan KieĹ›lowski memang ingin menunjukkan bahwa seperti itulah realitas kehidupan. Namun, jika anda penikmat sebuah film bagus, berkelas dan berseni, anda wajib menonton film ini. Tak salah jika film ini memenangkan Jury Prize di Cannes Film Festival 1988 dan masuk sebagai Best Film dalam European Film Award 1988A Short Film About Killing is truly a masterpiece. Worth watching!.






Title: A Short Film About Killing / KrĂłtki film o zabijaniu | Genre: Crime, Drama | Director: Krzysztof KieĹ›lowski | Music: Zbigniew Preisner | Cinematography: SĹ‚awomir Idziak | Release dates: 11 March 1988 | Running time: 84 minutes | Country: Poland | Language: Polish | Cast: MirosĹ‚aw Baka, Krzysztof Globisz, Jan Tesarz, Zbigniew Zapasiewicz , Krystyna Janda | IMDb | Rotten Tomatoes






November 03, 2016

Doctor Strange (2016)


Doctor Strange (2016)

Not too bad. Better Watched in 3D.




"I don't know what my future holds. But I can't go back".
- Dr. Stephen Strange -








Doctor Stephen Strange (Benedict Cumberbatch) adalah seorang ahli bedah saraf yang jenius, berbakat dan sedikit arogan. Banyak kasus rumit para pasien yang dapat ditanganinya. Namun, sebuah kecelakaan membuat kedua tangannya menjadi tidak dapat berfungsi normal lagi. Di tengah keputusasaan, Strange mencoba mencari keajaiban dengan mendatangi Kamar-Taj di Nepal yang konon dapat menyembuhkan segala macam penyakit. Kamar-Taj yang dipimpin oleh Ancient One (Tilda Swinton) tersebut mengajarkannya banyak hal terutama menghilangkan ego dan arogansinya, disamping harus mempelajari rahasia dunia sihir yang tersembunyi untuk menjadi bekal menghadapi mantan murid Ancient One yang berkhianat, Kaecilius (Mads Mikkelsen) dan menggunakan segala kemampuannya untuk menjadi perantara antara dimensi manusia dan dimensi lainnya

Jujur, saya sebenarnya kurang tertarik untuk menonton film-film superhero. Tapi berhubung bulan ini sepertinya tidak ada film yang benar-benar memikat hati saya, akhirnya saya memutuskan mencoba menonton film yang lagi hype dimana-mana ini; Doctor Strange. Dan seperti biasa, saya malas berekspektasi apapun. Bahkan saya selalu skeptis dengan film-film bertema superhero. Dan karena saya terlalu malas mencari info film ini (karena nggak tertarik juga untuk menontonnya, sih), saya sempat kaget dengan jajaran cast di film ini yang ternyata adalah dua aktor hebat: Mads Mikkelsen dan Tilda Swinton. What I already knew that Benedict Cumberbatch as Doctor Strange, nothing else. For your information, I never read the comic too.

Penggarapan naskah film ini menjadi salah satu poin lemah di film ini. Ceritanya terkesan biasa saja. Apalagi bagi saya yang notabene bukan penggemar cerita superhero. Bagi penonton awam yang tidak membaca komiknya (seperti saya), ada beberapa hal yang mungkin akan menimbulkan tanda tanya, mengapa begini mengapa begitu?, apalagi ceritanya terkesan terburu-buru terutama di klimaksnya. Saya sampai berujar dalam hati; villainnya kok gampang banget dikalahkan?What the..!! Padahal durasinya cukup panjang (bagi saya yang memang susah menonton film-film berdurasi panjang), namun tetap saja terlalu banyak hal yang sepertinya tidak dapat dicakup semaksimal mungkin. Apalagi bagi penggemar komiknya, saya yakin akan merasa sangat tidak puas. Perpindahan tiap adegannya terasa begitu cepat, overlap dan sering terasa dipaksakan agar dapat tuntas dalam durasi 115 menit. Pun begitu, entah kenapa saya masih juga merasakan sedikit kebosanan dan nyaris mengantuk. Syukurlah, special effectnya yang sangat bagus memang sangat memanjakan mata sehingga rasa kantuk pun seketika lenyap. Mungkin kalau saya tidak menonton di bioskop, saya yakin sekali saya akan ketiduran bahkan mungkin dari pertengahan film diputar. Special effectnya mengingatkan pada film Inception di beberapa bagian. Sedikit menyesal saya tidak menonton yang versi 3D. Buat anda yang belum menontonnya, sangat disarankan untuk menonton versi 3D. Tak lupa, ada sisipan jokes-jokes yang cukup sukses membuat seisi bioskop tertawa. Namun saya sendiri sepertinya tidak terlalu menikmati jokes tersebut. Yang saya ingat, saya hanya tertawa dua atau tiga kali saja; jokes tentang Beyonce dan ketika Wong akhirnya bisa tertawa. That's it!.

Doctor Strange tidak akan menjadi hidup tanpa penampilan dari seorang Benedict Cumberbatch. Walau pun untuk beberapa bagian, dia masih terlihat seperti seorang Sherlock, namun tetap kehadirannya merupakan salah satu kunci kesuksesan film ini. Sayangnya, penampilan Mads Mikkelsen dan Tilda Swinton kurang tereksplor lebih banyak lagi, terutama Mikkelsen yang terasa menyia-nyiakan kemampuan aktingnya yang sangat bagus tersebut. Karakter Kaecillius terlihat kurang dikembangkan lebih banyak lagi, bahkan terkesan begitu mudah dikalahkan oleh Strange. 

Well, sebagai sebuah sajian film superhero yang ringan, menghibur, dan penuh special effect canggih, Doctor Strange telah berhasil melakukannya dengan sangat baik. Jangan buru-buru beranjak dari bioskop karena masih ada post-credit scene di akhir film.







Title: Doctor Strange | Genre: Action, Adventure, Fantasy | Director: Scott Derrickson | Music: Michael Giacchino | Cinematography: Ben Davis | Production company: Marvel Studios | Release dates: October 13, 2016 (Hong Kong), November 4, 2016 (United States) | Running time: 115 minutes | Country: United States | Language: English | Based on Doctor Strange by Steve Ditko | Cast: Benedict Cumberbatch, Chiwetel Ejiofor, Rachel McAdams, Benedict Wong, Michael Stuhlbarg, Benjamin Bratt, Scott Adkins, Mads Mikkelsen, Tilda Swinton | IMDb | Rotten Tomatoes








October 04, 2016

Swimming Pool (2003)

Rewatch

Swimming Pool (2003)



 When someone keeps an entire part of their life secret from you, it's fascinating and frightening.
Sarah Morton -




Sarah Morton (Charlotte Rampling) adalah seorang penulis novel misteri terkenal dari Inggris. Dalam rentang waktu yang cukup lama dia tidak lagi menghasilkan karya yang bagus. Oleh karena itu bossnya John Bosload (Charles Dance) menawarinya liburan ke rumahnya di Paris sembari mencari ide untuk membuat karya berikutnya. Sarah menerima tawaran tersebut dan menikmati suasana tenang di rumah tersebut. Hingga suatu malam, Sarah kedatangan tamu tak diundang, putri John yaitu Julie (Ludivine Sagnier) yang serta merta mengacaukan ketenangannya.

Setelah See The Sea (Regarde La Mer) yang memikat saya, saya mulai mencari film-film Francois Ozon lainnya dan pilihan saya jatuh pada film Swimming Pool. Dengan alur yang lambat khas film-film Eropa, mungkin bagi sebagian orang akan merasa bosan menonton film ini. Namun, tetaplah bertahan hingga film usai karena semuanya akan terbayarkan nantinya. Salah satu ciri khas film-film Ozon adalah selalu menampilkan tema erotis dan LGBT. Tak terkecuali film ini juga. Tetapi ada twist yang dihadirkan dalam tema tersebut di film ini. Jika tidak jeli, bisa dipastikan anda akan terkecoh dengan twist tersebut. Saya sendiri merasa tertipu mentah-mentah dengan twist tersebut - terutama adegan kejadian di kolam renang - sehingga mau tidak mau saya harus mengakui bahwa lagi-lagi saya 'dikerjai' oleh Ozon. Good job Ozon! Twistnya sendiri sebenarnya bisa dikatakan ambigu dan setiap orang punya interpretasi sendiri pada twist tersebut. Ah, ya film ini juga memanjakan mata kaum adam karena lumayan banyak topless and naked scene dari Ludivine Sagnier. 

Seperti See The Sea, Swimming Pool juga penuh kejutan tak terduga di akhir ceritanya. Ozon memang suka 'memainkan' penontonnya dengan sajian thriller psikologis yang penuh dengan momen-momen penuh kejutan. Menonton film-film Ozon membuat kita terpesona, terkejut dan terhibur secara bersamaan; sama seperti halnya ketika menonton film-film Hitchcock. Aroma suspense misteri penuh thriller tercium jelas dalam film ini berkat akting bagus dari Charlotte Rampling sebagai karakter Sarah Morton yang dingin dan Ludivine Sagnier sebagai Julie yang misterius. Swimming Pool tak akan sebagus ini tanpa Rampling. Aura Rampling benar-benar membius dan seolah menyatu dengan karakter Sarah Morton yang diperankannya. Begitu pun dengan Sagnier yang tak sekedar hanya memamerkan bagian tubuhnya yang mulus, tetapi juga membuktikan bahwa dia bisa berakting dengan bagus. Finally, I wanna recommend this movie to you especially for those who like suspense mystery thriller genre. And I'll watch other Ozon's movies for sure. 









Title: Swimming Pool | Genre: Crime, Drama, Mystery | Director: François Ozon | Music: Philippe Rombi | Release dates: 18 May 2003 (Cannes), 2 July 2003 (US), 22 August 2003 (UK) | Running Time: 103 minutes | Country: France, United Kingdom | Language: English, French | Cast: Charlotte Rampling, Ludivine Sagnier, Charles Dance | IMDb | Rotten Tomatoes






September 22, 2016

Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 (2016)


Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 (2016)

Berusaha Terlalu Keras Melucu






“Ini bukan taplak meja sembarangan, lho. Pernah dipakai sama Katy Perry. 
Jadi kalau makan di meja ini, serasa makan sama Katy Perry. Gitu!”
- Dono -









Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian), dan Indro (Tora Sudiro) adalah anggota dari sebuah lembaga bernama CHIPS (Cara Hebat Ikut Penanggulangan Sosial). Mereka bertiga lebih banyak melakukan kekacauan dan kekonyolan ketimbang hal yang bermanfaat. Oleh karena itu mereka mendapat tugas dari atasan mereka Juned (Ence Bagus) untuk menangkap kawanan begal yang meresahkan masyarakat. Mereka bertiga dibantu oleh anggota baru yang cantik asal Prancis  bernama Sophie (Hannah Al Rashid). Tetapi karena ketidakbecusan dan kekacauan yang kerap mereka lakukan, ketiganya malah harus membayar ganti rugi sebesar 8 miliar dalam tempo yang singkat. Jika mereka gagal, maka mereka harus mendekam dalam penjara selama 10 tahun. Akhirnya ketiganya yang juga dibantu oleh Sophie mencari cara agar bisa mengumpulkan uang 8 miliar tersebut. 

Hype film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 begitu luar biasa. Sampai digadang-gadang mampu mengalahkan kesuksesan film yang sebelumnya berada di puncak box office tanah air. Hal tersebut tentu saja mengundang reaksi banyak orang untuk menontonnya. Benarkah film ini selucu yang dikatakan orang-orang? Well, lucu, sih iya tapi jika ingin jujur, sih film ini tidaklah selucu itu. Bahkan di awal-awal film, saya sama sekali tidak tertawa walau hampir seisi bioskop ketawa. Padahal opening creditnya dibuat dengan gaya film-film Indonesia era 80-90-an - yang membuat saya bernostalgia dengan film-film warkop -  yang berisi adegan-adegan (yang terlalu dipaksakan untuk) lucu. Rombongan ibu-ibu naik sepeda motor, polisi tidur, tulisan-tulisan di truk sama sekali tidak membuat saya sedikit pun tersenyum atau tertawa. "Garing!", begitu yang keluar dari mulut saya. Menit-menit berikutnya saya cuma bisa mesem-mesem saja. Bahkan saya berkata begini pada teman saya; "Kayaknya aku memang lagi stress, ya sampe nggak bisa ketawa?". Padahal niat awal menonton film ini karena ingin menghilangkan stress tapi, kok malah jadi stress? Saya pun mulai merasakan kebosanan, bahkan hingga hampir di pertengahan film. Hingga akhirnya saya berpikir, sepertinya saya terlalu serius menonton film ini sehingga saya tidak menikmatinya sama sekali. Akhirnya saya pun memaksa diri saya untuk enjoy menontonnya, tanpa perlu berpikir mengapa begini mengapa begitu. Hasilnya? Saya mulai bisa tertawa sedikit. Bahkan di pertengahan hingga hampir menjelang akhir, saya beberapa kali tertawa terbahak-bahak. Entahlah, apakah memang karena ceritanya yang memang mulai lucu atau karena saya menontonnya tanpa berpikir apapun. Tapi sayangnya, lelucon-leluconnya ada beberapa yang terkesan sangat kasar dan sedikit rasis. Di beberapa bagian, slapstick-nya terlihat sangat vulgar. Apakah membuat sajian komedi harus dengan lelucon kasar, rasis dan vulgar seperti itu? Saya menyayangkan hal tersebut, terlebih karena di bioskop ada anak-anak yang menonton film ini. Film ini untuk 13 tahun ke atas, tapi menurut saya, anak umur segitu belum pantas menonton film ini karena ada beberapa adegan yang tidak pantas ditujukan untuk anak seusia segitu. Harusnya film ini untuk 17 tahun ke atas. 

Membagi film menjadi dua bagian seperti ini sebenarnya sudah kuno. Hal seperti ini hanya membuat cerita menjadi dragging dan terpaksa dipanjang-panjangin. Ya, memang tak bisa dipungkiri mengapa film ini dibagi dalam dua bagian seperti ini. Apalagi namanya kalau bukan untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Tapi, tahukah anda wahai pencari keuntungan tersebut, hal yang seperti ini sebenarnya benar-benar amat menyiksa kami sebagai penonton?. Bayangkan, anda sudah merasa nyaman, enak dan sangat menikmati sebuah film, eh tiba-tiba film harus berakhir aja gitu dan anda disuruh untuk menunggu entah sampai berapa lama untuk menonton kelanjutannya. Bukankah alangkah baiknya jika dalam satu film, cerita langsung dibuat selesai dengan satu tema saja? Nah, bagian kedua nanti dibuat dalam tema yang berbeda. Seperti dalam serial-serial kriminal yang setiap episodenya mempunyai kasus yang berbeda dan diselesaikan langsung setiap episodenya. Dan membuat film ini menjadi dua bagian adalah salah satu kesalahan besar yang seharusnya dihindari. Anggy Umbara selaku sang sutradara harusnya paham akan hal itu. 

Me-reboot sebuah film - apalagi film yang terkenal - memang bukan perkara mudah. Anggy Umbara pun sengaja menyisipkan adegan-adegan khas film-film warkop yang akan membuat penonton bernostalgia. Tapi saya sendiri malah lupa. Ya, mungkin karena waktu itu saya masih kecil dan itu sudah lama sekali ketika saya terakhir kali menonton film-film Warkop. Walaupun sering di putar ulang di televisi, tetapi saya tidak pernah lagi menontonnya. Apa yang dilakukan oleh Anggy Umbara ini sebenarnya hal yang bagus karena dengan begitu maka penonton yang tidak tahu dan tidak tumbuh dengan film-film Warkop tersebut, sedikit banyak akan menjadi tahu. Ah, saya jadi ingin menonton kembali film-film warkop terdahulu, nih! 

Anyway, ketika saya tahu Anggy Umbara akan me-reboot film warkop. saya amat sangat skeptis, terlebih pada jajaran castnya. Tidak terpikirkan sedikit pun trio warkop yang fenomenal itu akan bisa diperankan oleh orang lain selain Dono, Kasino dan Indro sendiri. Dan ketika terkuak siapa-siapa saja calon pemainnya, saya semakin pesimis. Terlebih, saya bosan dengan para pemain yang itu-itu saja. Lalu hasilnya? Hmm..  Tora Sudiro bisa dikatakan menjadi yang paling mengecewakan di sini. Tepat dugaan saya bahwa dia memang tidak akan bisa memerankan karakter Indro. Atau mungkin bisa dikatakan Tora sedikit tertekan memerankan karakter Indro karena kehadiran Indro asli dalam film ini. Vino G, Bastian, boleh sedikit diapresiasi dengan usahanya memerankan karakter Kasino walau memang di beberapa bagian terkesan begitu dipaksakan dan terlihat kewalahan. Apalagi adegan ngomongnya yang teriak-teriak itu, sedikit membuat sakit telinga. Nah, yang harus mendapat apresiasi lebih dan acungan jempol adalah Robertino. Eh, siapa itu Robertino? Robertino adalah nama asli Abimana Aryasatya sebelum dia mengganti namanya menjadi Abimana Aryasatya. Awal saya mengenal sosok Abimana adalah dengan nama Robertino karena saya dulu suka membeli majalah remaja dimana dia masih menjadi model di awal karirnya. Eh, ketauan, deh udah tuanya! :D Abimana begitu sukses memerankan karakter Dono dengan sangat baik. Tak sia-sia penampilannya dipermak sedemian rupa supaya mirip Dono - dengan gigi palsu dan body suit. And that's the very best part from this movie. Selain itu film ini juga diisi oleh jajaran cast dari Stand Up Comedy dan aktor-aktor yang tidak asing lagi di layar kaca seperti Tarzan yang mendapat adegan yang cukup mengocok perut, Agus Kuncoro yang tidak biasanya berperan sekocak ini dalam film, Hannah Al Rashid si jelmaan Meriam Bellina yang menjadi primadona film ini, Nikita Mirzani yang selalu kebagian peran wanita penggoda dan Indro Warkop yang asli. Tapi saya tidak suka dengan peran yang dimainkan oleh Indro. Saya sampai saat ini masih bertanya-tanya, perlukah karakter yang dimainkan Indro tersebut ada? Saya sejujurnya kecewa, mengapa Indro malah harus kebagian peran seperti itu? Apalagi karakter Katy Perry KW yang amat sangat annoying, a little bit disgusting and it's not funny at all

Well, film ini memang masih menyisakan banyak kekurangan dimana-mana. Pun begitu, kita tetap harus mengapresiasinya. Setidaknya, bioskop tanah air tidak lagi diisi oleh film-film hantu pengumbar aurat semata. Dan semoga Part 2 nanti bisa lebih baik lagi di segala aspek. Bagi anda yang ingin menonton film ini, saya sarankan cukup ditonton saja, tidak perlu dipikirkan atau dibanding-bandingkan dengan film-film Warkop terdahulu. Dan juga tidak usah berekspektasi apapun. Jangan terlalu serius juga. Ini film komedi, bung! Just watch and enjoy it. Jika anda sama sekali tidak tertawa sedikit pun, mungkin ada yang salah dengan diri anda. Karena setidaknya, siapa pun yang menonton film ini, pasti minimal akan tertawa, walau hanya sedikit. Dan ada sedikit bonus bloopers di akhir film yang menurut saya malah lebih lucu dibanding filmnya sendiri - terutama ketika adegan dimana gigi palsu Abimana copot. 








Title: Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 | Genre: Comedy | Director: Anggy Umbara | Release Date: 8 September 2016 | Country: Indonesia | Language: Bahasa | Cast: Abimana Aryasatya, Vino G. Bastian, Tora Sudiro, Indro Warkop, Hannah Al Rashid, Tarzan, Agus Kuncoro, Nikita Mirzani, Ence Bagus | IMDb






Translate

Waiting Lists

Sur mes lèvres.jpg Dark, brown-tinted and horror-themed image of a man in an asbestos-removal suit (to the right side of the poster), with an image of a chair (in the middle of the image) and an image of a large castle-like building at the top of the image. The text "Session 9" is emboldened in white text in the middle of the image, and near the bottom of the image is written, "Fear is a place." Lisbeth Salander with Mikael Blomkvist The Girl Who Played with Fire.jpg Page turner.jpg Le trou becker poster3.jpg Nightwatch-1994-poster.jpg Headhunter poster.jpg On the Job Philippine theatrical poster.jpg The Song of Sparrows, 2008 film.jpg The-vanishing-1988-poster.jpg Three Monkeys VideoCover.png