Showing posts with label Rebecca Pan. Show all posts
Showing posts with label Rebecca Pan. Show all posts

May 19, 2013

Days of Being Wild (1990)



Days of Being Wild (1990)









Days of Being Wild (1990)
A Fei jingjyuhn
Crime | Drama | Romance Director: Wong Kar-wai
 Release date(s): 15 December 1990
Running time: 94 minutes
Country: Hong Kong
Language: Cantonese, Shanghainese, Mandarin, Filipino, English

 Starring:



Setelah saya tahu bahwa In The Mood for Love merupakan film trilogy, saya lalu mencari tahu film yang merupakan bagian pertama dalam trilogi tersebut. Days of Being Wild yang dibuat tahun 1990 merupakan bagian awal dari kisah trilogi karangan Wong Kar-wai.




Bersetting di tahun 60-an, film ini mengisahkan tentang Yuddy (Leslie Cheung), yang juga dipanggil dengan sebutan York, seorang playboy tampan yang dibesarkan oleh mantan prostitusi bernama Rebecca. Yuddy selalu menanyakan siapa ibu kandungnya tapi Rebecca menolak memberitahunya dengan alasan apapun. Hal tersebut memicu konflik batin emosional Yuddy.


Di sisi lain, dua orang wanita memperebutkan cintanya yaitu Su Li Zhen (Maggie Cheung)  dan Mimi (Carina Lau). Yuddy malah membiarkan mereka berdua saling bersaing mendapatkan cintanya namun dia sendiri tidak bisa membuat pilihan yang bijak tentang perasaannya. Selain itu ada Tide (Andy Lau), seorang polisi yang menjadi dekat dengan Su Li Zhen karena suatu hal dan Zeb (Jacky Cheung), teman Yuddy yang diam-diam mencintai Mimi.


Para pemain dalam film ini merupakan wajah-wajah yang tak asing lagi buat saya karena tahun 90-an hingga awal 2000-an, wajah mereka masih sering menghiasi layar televisi kita. Mereka adalah para aktor dan aktris top Hong Kong yang kemampuan aktingnya tak usah diragukan lagi. Bahkan kedua aktor favorit saya, Andy Lau si Pendekar Rajawali dan Tony Leung Chiu-Wai si Pendekar pembunuh naga bermain bersama di film ini kendati Tony Leung hanya tampil tak sampai lima menit. Bisa dikatakan, Days of Being Wild merupakan film yang berisi para aktor dan aktris berkualitas dan ternama Hong Kong.

 

Karakter Yuddy seperti merupakan bagian nyata dari diri seorang Leslie Cheung. Apalagi jika mengingat peristiwa tentang his suicide in real life. Karakter Yuddy yang begitu terlihat mempesona dari luar, justru malah sangat jauh berbeda di dalamnya. Beberapa scene menunjukkan "belang" seorang Yuddy. Yang paling memorable adalah scene dimana Yuddy menari di depan cermin. Leslie menunjukkan performa aktingnya yang sangat bagus dalam menampilkan sisi emosional seorang karakter Yuddy. Karakter Yuddy yang seperti itu merupakan bagian dari pencarian jati dirinya akan cinta kasih seorang ibu yang tak pernah didapatnya.

Adalah Maggie Cheung yang juga berperan sangat bagus sebagai seorang wanita naif bernama Su Li Zhen. Sosoknya membangkitkan rasa iba dan mungkin terlihat sedikit menjengkelkan ketika harus bersaing mendapatkan cinta Yuddy. Kenapa menjengkelkan? Bagi sebagian orang, mungkin apa yang dilakukan Su Li Zhen ketika berhadapan dengan hal yang disebut "cinta" adalah sesuatu yang terlihat sangat "tolol" hanya untuk mendapatkan simpati dari Yuddy. Tapi saya sebagai seorang wanita, bisa memaklumi perasaan Su Li Zhen. Bukankah memang cinta kadang tak beralasan sehingga orang kadang melakukan hal-hal yang di luar nalar?




Lalu saingan cinta Su Li Zhen, Mimi, yang sosoknya pun begitu mencuri perhatian saya dalam film ini. Akting Carina Lau begitu memukau. Bagaimana tidak, Mimi yang seorang penari kabaret dan awalnya hanya iseng "bermain api", malah masuk perangkap sendiri. Karakter Mimi sendiri awalnya terlihat begitu menyebalkan tapi akhirnya kita malah akan kasian melihatnya. 

Lalu, Jacky Cheung yang berperan sebagai Zeb, meski porsi perannya sedikit tapi satu scene ketika mengungkapkan perasaannya kepada Mimi sangat mencuri perhatian dan memorable bagi saya. Tak ketinggalan penampilan Rebecca Pan yang berperan sebagai ibu angkat Yuddy juga mampu mencuri perhatian saya.


Dan akhirnya, "The charming man" Andy Lau yang sejauh ini aktingnya melalui film-filmnya yang pernah saya tonton, belum pernah mengecewakan saya. Karakter Tide yang terlihat jauh lebih "wajar" dari karakter lainnya di film ini. Namun, tetap pergolakan batin hadir menghiasi karakternya yang "too plain" itu. Paling terlihat ketika scene dimana Tide berdiri terdiam di depan telepon umum.


Satu lagi karakter yang penuh misteri yang diperankan oleh Tony Leung Chiu-Wai yang bahkan penampilannya hanya berdurasi tak sampai lima menit. Karakter tersebut menyisakan tanda tanya, apakah karakter tersebut berhubungan dengan para tokoh dalam film ini, atau malah sama sekali tidak ada hubungannya. Mengingat Tony Leung Chiu-Wai merupakan pemeran utama dalam In the Mood for Mood yang merupakan bagian kedua dari trilogy film buatan Wong Kar-Wai ini.

 

Tak ada yang spesial dari plot cerita film ini tapi Days of Being Wild bukanlah film yang gampang dinikmati oleh kebanyakan penonton awam. Wong Kar-Wai mengulas sisi terdalam manusia, full emotional. Bagaimana kita akan melihat hampir sepanjang film yang berisi tentang penolakan pada berbagai hal dalam hidup dan menggambarkan bagaimana kehidupan itu adanya. Wong Kar-wai menampilkannya dengan stylish, artistic dan berkelas. Sentimentil namun tidak berkesan cengeng. Two thumbs up!




 IMDb










May 04, 2013

In the Mood for Love (2000)


In the Mood for Love (2000)








In the Mood for Love (2000)
Fa yeung nin wa
  Drama | Romance
Director: Wong Kar-wai
 Music: Michael Galasso
 Release date(s): 29 September 2000
 Running time: 98 minutes
Country: Hong Kong
Language: Cantonese, Shanghainese, French
 Starring:
Rebecca Pan






"I didn't know married life would be so complicated! When you're single, you are only responsible to yourself. Once you're married, doing well on your own is not enough!" 


Saya penasaran, film apa yang menjadi the best of Hong Kong movie all the time dan akhirnya saya menemukan bahwa film ini banyak didaulat sebagai Best Hong Kong Movie. Melihat genrenya yang drama romance mungkin akan sedikit berat buat saya.


Chow Mo-Wan (Tony Leung Chiu-Wai) adalah seorang editor surat kabar yang baru saja pindah ke sebuah apartemen baru bersama istrinya. Di saat yang sama, Su Li Zhen (Maggie Cheung), seorang sekretaris cantik beserta suaminya yang seorang eksekutif juga pindah ke tempat baru yang sama dengan Chow. Mereka bahkan bertetangga.


Baik Chow dan Su masing-masing sering ditinggal oleh pasangan mereka sehingga mereka menjadi dekat satu sama lain. Hingga suatu ketika mereka menyadari bahwa pasangan mereka melakukan affair. Dengan perasaan terluka dan marah, mereka memutuskan untuk tidak akan pernah melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh pasangan mereka.

 

Menilik judulnya mungkin orang akan beranggapan bahwa film yang bersetting tahun 1962 ini adalah film yang penuh dengan adegan hot di ranjang dan dibumbui kisah romantis nan bahagia. Nyatanya, In the Mood for Love justru menampilkan kisah penuh kesedihan, konflik batin dan sisi emosional manusia. Tentang perasaan yang terabaikan, terluka, disia-siakan, penolakan dan kesepian mendalam. Perselingkuhan pun akhirnya bisa terjadi, bukan karena kemauan sendiri tetapi justru merupakan sikap dari reaksi penolakan masing-masing pasangan.



Baik aktor dan aktris utama memainkan perannya dengan sangat gemilang. Maggie Cheung and Tony Leung Chiu-Wai are the perfect casts for these roles. Tanpa perlu banyak dialog, gesture dan penampilan mereka berdua telah mewakili pesan yang ingin disampaikan oleh film ini.

 

Karakter Chow memang terlihat sangat menarik simpati dan iba siapapun yang melihat, terutama melihat kondisinya yang diselingkuhi oleh sang istri. Tapi justru sebenarnya karakternya malah bertolak belakang. Semuanya tak lepas dari tampang innocent nan memelas Tony Leung Chiu-Wai sehingga orang akan menyangka karakter Chow bagaikan malaikat yang tersakiti. Karakter Chow terlihat pasrah akan kejadian yang menimpanya dengan menerima segala situasi kondisi yang terjadi. Namun di satu sisi, dia menginginkan kehidupan baru bersama wanita lain, Su, yang justru malah berulang kali menolaknya, meskipun faktanya Su justru semakin tertarik pada Chow.


Sedangkan karakter Su alias Mrs. Chan sendiri merupakan cerminan dari seorang wanita lemah yang terkungkung dalam adat dan tradisi. Bahkan karakter tersebut tak mampu membuat pilihan sederhana hanya karena ketakutan yang tak diketahui pasti dari mana sumbernya. Mengetahui suaminya berselingkuh, Su tak bisa berbuat apa pun, bahkan secara tidak langsung dia malah membantu perselingkuhan bosnya di tempat kerja. Dan akhirnya karakter Su pun sama seperti Chow yang mau tidak mau harus terus berjuang mempertahankan rumah tangga dengan berpura-pura menerima perselingkuhan suaminya. Kendati dia tak berdaya, namun dia tetap menemui Chow secara sembunyi-sembunyi lalu berpura-pura semuanya baik-baik saja ketika bersama pasangannya, yang nyatanya justru sangat menyakitkan. 

 

Karakter dari masing-masing pasangan Chow dan Su justru sama sekali tidak ditampilkan seutuhnya, dengan menyembunyikan bagian wajah dan kamera hanya fokus pada bagian lainnya seperti bagian belakang tubuh atau rambut saja. Kita pun akan dibuat penasaran, apakah istri Chow dan suami Lu yang melakukan affair? Mengingat banyak scene yang sengaja dibuat seolah-olah anggapan itu benar adanya tapi sesaat kemudian akan muncul scene yang justru malah membuat kita tidak yakin sama sekali. 



Begitu banyak scene menarik dalam film ini, salah satunya adalah ketika Chow dan Su bermain peran. Su bertanya pada suaminya apakah dia selingkuh, lalu menamparnya. Kala itu Chow yang berpura-pura menjadi suaminya. Dari permainan peran tersebut kita belajar bahwa seseorang yang melakukan kesalahan tidak akan semudah itu mengakui kesalahannya. Seperti kasus dimana Su menanyakan apakah suaminya berselingkuh atau tidak dan reaksi "suami bohongannya" menjawab "iya" dengan cepat. Tapi di satu sisi, Su juga tidak ingin mendengar tanggapan yang mengatakan "tidak". Di sinilah, baik Su maupun Chow belajar cara mengatasi perasaan mereka yang terluka.



Bagaimana pun, saya suka dengan banyak hal di film ini. Settingnya, sinematografinya, wardrobe (terutama yang dikenakan Maggie dengan Cheongsamnya), make up, tata rambut, musik dan pengambilan anglenya yang unik. Hanya temponya yang lambat yang mungkin akan membosankan bagi sebagian orang. Dengan minimnya dialog, simbol-simbol yang jauh lebih banyak berbicara. Seperti halnya ketika Chow ke Angkor Wat yang bermakna bahwa ketika seseorang ingin mencurahkan rahasia yang tak bisa dibicarakan pada orang lain, maka mereka harus pergi ke gunung, mencari sebuah pohon dan menggali sebuah lubang untuk mengubur rahasia mereka di sana. 

 
 















Translate

Waiting Lists

Sur mes lèvres.jpg Dark, brown-tinted and horror-themed image of a man in an asbestos-removal suit (to the right side of the poster), with an image of a chair (in the middle of the image) and an image of a large castle-like building at the top of the image. The text "Session 9" is emboldened in white text in the middle of the image, and near the bottom of the image is written, "Fear is a place." Lisbeth Salander with Mikael Blomkvist The Girl Who Played with Fire.jpg Page turner.jpg Le trou becker poster3.jpg Nightwatch-1994-poster.jpg Headhunter poster.jpg On the Job Philippine theatrical poster.jpg The Song of Sparrows, 2008 film.jpg The-vanishing-1988-poster.jpg Three Monkeys VideoCover.png