Showing posts with label 2004. Show all posts
Showing posts with label 2004. Show all posts

May 25, 2013

2046 (2004)


2046 (2004)



2046 (2004)
Drama | Fantasy | Romance
Director: Wong Kar-wai
Release date(s): 20 May 2004 (Cannes), 29 September 2004
Running time: 129 minutes
Country: Hong Kong
Language: Cantonese, Japanese, Mandarin
 
Starring:






"Everyone who goes to 2046 has the same intention, they want to recapture lost memories. Because in 2046 nothing ever changes. But, nobody knows if that is true or not because no-one has ever come back"


Akhirnya, 2046 merupakan sajian penutup dari trilogy karya Wong Kar-Wai setelah Days of Being Wild (1990) dan In the Mood for Love (2000). Aktor utamanya masih diperankan oleh Tony Leung Chiu-Wai yang hanya muncul beberapa menit di akhir cerita Days of Being Wild dan merupakan pemain utama di In the Mood for Love.



Chow Mo-wan (Tony Leung Chiu-Wai) adalah seorang penulis yang menulis tentang masa depan. Namun sebenarnya apa yang dia tulis adalah masa lalu. Chow menulis cerita fiksi berjudul 2046 yang diambil dari pengalaman pribadinya bersama para wanita yang pernah dia temui; Lulu (Carina Lau), Bai Ling (Zhang Ziyi), Wang Jing Wen (Faye Wong), dan Su Li-Zhen (Gong Li).

 

Dalam cerita tersebut, Chow menjadikan dirinya dalam karakter seorang lelaki Jepang bernama Tak (Takuya Kimura) yang jatuh cinta pada robot android wanita yang menemaninya selama dalam perjalanan panjang menuju tempat misterius, 2046. Siapa pun yang ingin kesana, memiliki tujuan yang sama yaitu menemukan kembali memori yang hilang.


Seperti film-film karya Wong Kar-Wai, kali ini pun Wong menggambarkan individu-individu yang kesepian yang mencoba terhubung dengan orang lain melalui cara mereka sendiri. Karakter-karakter yang tercipta dalam film ini memiliki karakter dengan hambatan pribadi mereka sendiri. Seperti halnya Chow yang tidak ingin merasakan kegagalan kedua kalinya seperti dalam  In the Mood for Love (2000) ketika menjalin hubungan dengan lawan jenis. Itulah mengapa dia tak pernah terpaku pada satu orang wanita dan lebih sering melakukan one night stands. Hasilnya, yang terluka adalah dari pihak wanita, seperti Bai Ling yang tidak pernah mampu masuk dalam kehidupan Chow.

 

Gambaran kegagalan di masa lalu, membekas kuat di ingatan Chow sehingga secara emosional tidak mampu membentuk ikatan hubungan dengan siapa pun. Chow menggambarkannya melalui tokoh android wanita yang tidak mampu merespon perasaan yang ada. Nampaknya hal tersebut dipahami betul oleh Su Li-Zhen kedua, sehingga dia menolak berhubungan lebih jauh dengan Chow.


Kali ini "The Real Chow behind his Mask" ditunjukkan secara gamblang. Karakternya seolah berubah 180 derajat dengan yang kita liat di In the Mood for Love (2000). He's like a bastard! A nicely bastard! Tony Leung Chiu-Wai pun membuktikan bahwa he's the real actor, selalu mampu berperan dengan karakter yang berbeda.


Untuk para pemain wanitanya, Zhang Ziyi terlihat yang paling menonjol. Karakternya sebagai Bai Ling menghiasi hampir separuh film dengan masuk ke kehidupan Chow, lalu pergi dan datang kembali. Zhang Ziyi menampilkan performance yang sangat bagus.

  

Karakter dengan nama Su Li Zhen lainnya yang diperankan oleh Gong Li juga karakter yang singkat. Tapi justru karakter tersebut yang paling membekas. Kissing scene-nya dengan Chow merupakan memorable scene yang melibatkan emosi mental dan fisik. Gong Li, seperti biasa: superb! Sedangkan karakter Su Li Zhen yang diperankan oleh Maggie Cheung hanya tampil sekilas dalam beberapa flashback.

 

Lalu karakter Wang Jing Wen (Faye Wong) juga menyita perhatian, kendati karakter tersebut tidak berpengaruh banyak pada karakter Chow. Begitu pun dengan karakter Lulu/Mimi (Carina Lau) yang hanya muncul dalam ingatan dan imajinasi Chow. Baik Faye maupun Carina bermain tak kalah cantiknya dengan para pemeran wanita lainnya.
  

Tak ketinggalan ada aktor Jepang ternama Takuya Kimura yang berperan sebagai kekasih Wang Jing Wen/Tak. Kimutaku pun kali ini membuktikan totalitasnya dalam berakting.


Jika anda pernah/sudah menonton karya Wong, anda pasti akan paham betul bahwa sutradara satu ini selalu menampilkan sinematografi yang indah di tiap filmnya. Permainan warna yang menarik, pengambilan angle yang tidak biasa atau pun para karakternya yang selalu berbicara dalam bahasa masing-masing untuk berkomunikasi. Semuanya menjadi sajian komplit yang indah untuk menikmati karya seorang Wong Kar-Wai.

 

Whenever anyone asks me why I left 2046 I give them some vague answer. Before .... when people had a secret they did not want to share, the would climb a mountain. They would find a tree and carve a hole into it. And whisper the secret into the hole, then cover it over with mud. That way, nobody else would ever discover it.




IMDb








April 20, 2013

Mind Game (2004)


Mind Game (2004)





Mind Game (2004) 
Maindo Gēmu
Animation | Adventure | Comedy
Based on Mind Game by Robin Nishi 
Director: Masaaki Yuasa
Music: Seiichi Yamamoto
  Release date(s): August 7, 2004
Running time: 103 minutes
Country: Japan
Language: Japanese

Starring:
 Kōji Imada
Sayaka Maeda
Takashi Fujii



Suatu hari secara tak sengaja, Nishi, seorang loser yang punya impian ingin menjadi mangaka bertemu teman kecilnya, Myon yang ditaksirnya sejak lama. Lalu mereka pergi ke tempat makan milik keluarga Myon. Singkat cerita, mereka malah berurusan dengan Yakuza. Nishi kemudian merasakan perjalanan ke surga dan kembali lagi ke dunia. Setelah itu, bersama Myon dan Yan, Nishi melalui perjalanan panjang dan terjebak ke suatu tempat asing. Mereka bertemu dengan seorang lelaki tua. Mampukah mereka keluar dari tempat yang dihuni oleh seekor ikan paus tersebut?  

 
 

Belum apa-apa, film ini sudah memberikan sajian yang setidaknya membuat kening berkerut dengan gaya ceritanya yang nyeleneh bin unik. Bukan, bukan cuma ceritanya, tapi juga keseluruhan dalam anime buatan Masaaki Yuasa ini aneh dan nyeleneh. Absurd! Ya, itu adalah kata yang tepat menggambarkan anime ini. 

  
 

Mind Game memang menampilkan cerita absurd dengan gambar yang tak kalah absurdnya, dipenuhi atraksi unik menarik dan penuh simbol-simbol. Unik dan sangat tidak biasa. Saking tidak biasanya, saya sendiri sulit untuk mencernanya. Pikiran kita dibuat melayang, berputar tak tentu arah. Benar-benar butuh imajinasi tinggi yang liar.

  
 

Dengan keabsurdannya, Mind Game tetap menampilkan plot cerita yang tidak gampang ditebak. Kita pun akan dibuat berpikir keras mau seperti apa sebenarnya jalan cerita film ini. Banyak scene malah menampilkan hal-hal yang dibuat seperti main-main dan tidak serius bahkan terkesan konyol. Namun justru hal tersebut yang membuat film ini semakin asik untuk dinikmati.    

 
 

Saya sangat menyukai animasinya yang indah dan unik, dimana beberapa scene menampilkan animasi yang dibalut dengan wajah karakter manusia yang nyata (saya tidak punya kata-kata yang tepat untuk mengungkapkannya, lebih baik anda tonton sendiri). Contoh perubahan visualnya seperti gambar berikut ini.

  
 
 

Bukan cuma ceritanya yang mempermainkan cara berpikir kita, pesan-pesan yang ingin disampaikan pun bahkan menantang logika kita dalam balutan scene-scene unik bin absurd. Pesan moral yang paling membekas adalah bahwa anda harus menjalani hidup anda sepenuhnya dan menikmati segala yang anda miliki. 

 
 

Jadi, jika anda seorang yang lebih menyukai film dengan cerita penuh logika, lebih baik anda jauhi film ini. Karena cara terbaik menikmati film ini adalah menontonnya tanpa perlu logika dan nikmati fantasi liar yang ada. The story has never ended.    

 
 












January 12, 2013

Swing Girls (2004)

Rewatched


Swing Girls (2004)






Swing Girls (2004) 
Suwingu gâruzu
Drama | Comedy | Music
Director: Shinobu Yaguchi
Release Date: September 11, 2004
Runtime: 105 min.
Language: Japanese
Country: Japan

Cast:
Juri Ueno
Rewatched 8 January 2013


Pertama kali menonton film ini tahun 2011 lalu, saya jadi langsung suka. Bahkan saya yang tadinya tidak begitu suka melihat Ueno Juri gara-gara perannya di Rainbow Song dan Summer Time Machine Blues, langsung berubah suka. Setelah saya pikir-pikir lagi, ternyata memang saya lebih suka jika Juri mendapat karakter yang lucu seperti Tomoko di Swing Girls ini atau Nodame di Nodame Cantabile.

 

Swing Girls bercerita tentang tiga belas siswi SMU Yamakawa yang harus mengikuti kelas matematika tambahan saat liburan musim panas untuk memperbaiki nilai mereka yang buruk. Suatu hari ketika di kelas, Tomoko (Ueno Juri) melihat dengan pandangan iri rombongan musik brass sekolah mereka yang berangkat dengan bis mewah untuk memberi semangat tim baseball yang sedang bertanding. Karena keterlambatan pengantar makan siang untuk para rombongan tersebut, Tomoko malah berinisiatif mengajak teman-teman sekelasnya untuk mengantar makanan tersebut. Sebenarnya alasan utamanya karena mereka ingin bolos dari pelajaran matematika yang membosankan. Bahkan sang guru pun, Ozawa (Naoto Takenaka), sebenarnya ogah-ogahan juga mengajar ditengah panas yang menyengat di musim panas ini.

 

Karena kecerobohan para siswi yang mengantar makanan tersebut, semua anggota musik brass keracunan dan masuk rumah sakit. Satu-satunya yang selamat hanya Nakamura (Hiraoka Yuta). Karena tidak ada pemain brass untuk pertandingan berikutnya, Nakamura pun memaksa 13 siswi kelas matematika tersebut untuk bergabung dalam musik brass. Selain mereka, ada dua orang siswi mantan anggota band dan seorang siswi lainnya bernama Sekiguchi (Yuika Motokariya) yang ikut bergabung. Jadilah mereka membentuk format baru, grup Big Band Jazz.


Jelas, bukan hal yang mudah bagi Nakamura untuk mengajarkan para anggota baru tersebut memainkan alat musik yang sama sekali belum pernah mereka mainkan, bahkan mungkin belum pernah mereka lihat atau sentuh sebelumnya. Di sinilah kita akan melihat perjuangan keras mereka berlatih dari nol hingga bisa. Hal-hal seperti inilah yang saya suka dari film-film negeri sakura ini, semangat dan usaha pantang menyerahnya itu.


Shinobu Yaguchi yang dikenal lewat film Waterboys, kali pun tetap mengusung tema komedi untuk filmnya. Ketika di Waterboys bercerita tentang para siswa yang berlatih renang indah, di Swing Girls bercerita tentang para siswi yang berlatih alat musik untuk membentuk grup musik Big Band beraliran Jazz.

 

Hebatnya, para pemain dalam film ini benar-benar asli memainkan alat musik mereka tanpa bantuan efek apapun atau tanpa pemain musik pengganti. Dan mereka benar-benar belajar dari nol, sama seperti karakter dalam film mereka. Untuk itu, mereka diganjar dengan latihan keras selama berbulan-bulan. Hasilnya, bisa kita nikmati sendiri dalam film Swing Girls ini. 

 

Lewat film inilah, asal mulanya Juri dikenal luas berkat aktingnya yang gemilang. Lalu Yuta yang tampangnya masih sangat culun di film ini. Awal pertama menonton film ini, saya melihatnya biasa saja tapi setelah saya menonton doramanya Daisuki!!, saya langsung suka dengan tampang manisnya. Selain di Swing Girls, Yuta mendapat karakter lugu lainnya di dorama Water Boys Summer, setahun setelah film ini dibuat.



Sepertinya lewat film inilah, awal mula Juri bermain dengan Naoto Takenaka sebelum main bersama lagi di Nodame Cantabile. Memang, aktor gaek satu ini paling bisa berperan sebagai apapun. Kali ini dia berperan sebagai seorang guru yang karakternya sebenarnya kocak dan sangat menyukai musik jazz.


Setelah menonton ulang, ternyata saya baru sadar kalau pemeran Yoshie adalah Kanjiya Shihori yang saya benci karakternya di dorama Love Shuffle. Tapi begitu melihat aktingnya di dorama Buzzer Beat saya langsung suka dan mengingatkan saya bahwa di Buzzer Beat dan Swing Girls, karakternya sama-sama memainkan alat musik tiup. Begitu juga dengan pemeran Sekiguchi yang tak lain adalah si Ueda Tomoyo di dorama Sekai no Chuushin de, Ai wo Sakebu yang diperankan oleh Yuika Motokariya.

 

Tapi, karakter favorit saya adalah Naomi yang diperankan oleh Yukari Toyoshima. Karakternya yang lucu dan suka makan tapi tetap takut gemuk serta cuek ini, membuat saya selalu tertawa terbahak-bahak melihatnya. Yang paling kocak tentu saja ketika dia dikejar babi hutan dan malah babi hutan tersebut yang mati tertindih badannya.

  
 

Adegan kejar-kejaran dengan babi hutan dengan adegan slow motion dan back sound lagu "What a wonderful world" itu memang adegan favorit saya yang sukses membuat saya tertawa terpingkal-pingkal. Selain itu, adegan lucu lainnya adalah ketika Yoshie dan teman-temannya yang lain mencium manekin pria di lift.

 

Lagu-lagu yang dimainkan dalam film ini diantaranya "In the Mood" by Gleen Miller Orchestra (dimainkan ketika berjalan melewati apartemen), "Moonlight Serenade" by Glenn Milller (lagu pertama yang dimainkan di konser final), "Mexican Flyers" by Ken Woodman (lagu kedua yang dimainkan di konser final), "Sing Sing Sing with a Swing" by Benny Goodman (lagu final).

 

Jadi, buat yang mencari hiburan segar nan kocak, Swing Girls bisa jadi salah satu alternatif bagus untuk ditonton. Dan mungkin saja anda akan tertarik atau jadi suka dengan musik jazz gara-gara menonton film ini. Atau, malah tertarik ingin mencoba bermain alat musik.


Translate

Waiting Lists

Sur mes lèvres.jpg Dark, brown-tinted and horror-themed image of a man in an asbestos-removal suit (to the right side of the poster), with an image of a chair (in the middle of the image) and an image of a large castle-like building at the top of the image. The text "Session 9" is emboldened in white text in the middle of the image, and near the bottom of the image is written, "Fear is a place." Lisbeth Salander with Mikael Blomkvist The Girl Who Played with Fire.jpg Page turner.jpg Le trou becker poster3.jpg Nightwatch-1994-poster.jpg Headhunter poster.jpg On the Job Philippine theatrical poster.jpg The Song of Sparrows, 2008 film.jpg The-vanishing-1988-poster.jpg Three Monkeys VideoCover.png