Showing posts with label Philippines. Show all posts
Showing posts with label Philippines. Show all posts

January 02, 2016

Manila Kingpin: The Asiong Salonga Story (2011)


Manila Kingpin: The Asiong Salonga Story (2011)
Sang Robin Hood dari Tondo






Di daerah Tondo, Manila ada seorang gangster yang sulit ditaklukkan di dunia gangster Tondo. Dia adalah sosok yang ditakuti, dihormati dan dicintai. Sosok yang mendapat julukan Robin Hood. Anak buahnya menyebutnya Hitler. Dia adalah sang legendaris: Asiong Salonga (Jeorge "E.R." Estregan). 

Ya, film ini berdasarkan kisah nyata seorang gangster yang berasal dari daerah Tondo, Manila bernama Nicasio "Asiong" Salonga. Kisahnya bahkan ternyata sudah difilmkan beberapa kali sejak tahun 1961. Namun, Asiong Salonga bukanlah sosok gangster terkenal di dunia - bahkan mungkin hanya sebagian orang Filipina saja yang mengenalnya. Namun dia sangat terkenal dan menjadi legenda bagi orang-orang Tondo. Dia adalah seorang gangster sekaligus pahlawan bagi kaum lemah di daerahnya, Tondo, Manila. Dia merampok orang-orang kaya dan membagi hasil rampokannya kepada kaum miskin - itulah mengapa dia mendapat julukan Robin Hood. Dan film besutan sutradara Tikoy Aguiluz ini mengulik kisah hidup sang legendaris tersebut dalam rentang waktu 120 menit.

Cerita tentang gangster dan dunia hitam, tentu saja tak lepas dari aksi-aksi kekerasan. Begitu juga dengan film ini. Aksi-aksi menegangkan kental dalam film ini. Action yang ditampilkan tentu saja menjadi daya tarik utama dalam film ini. Adegan paling epic tentu saja ketika adegan tembak-tembakan di saat hujan dan adegan kejar-kejaran menggunakan delman/kereta kuda. Adegan kejar-kejaran sembari saling tembak menggunakan delman tersebut merupakan sesuatu yang cukup menarik menurut saya. Dengan mengambil setting di tahun 1950-an membuat adegan tersebut seolah nyata. Tahun segitu tentu saja kendaraan yang digunakan lebih banyak kereta kuda seperti itu ketimbang mobil atau motor. This is not hollywood, okay! Selain adegan actionnya yang menarik dan cukup menghibur, film ini dikemas dalam nuansa hitam putih yang tentu saja memberikan kesan jadul, sesuai dengan settingnya sendiri. Film ini merupakan film hitam putih pertama buatan Filipina di abad 21. Film ini juga menandai kembalinya genre action di perfilman negara tersebut. Setelah itu muncul film action lainnya seperti On The Job misalnya.

Sinematografinya juara!. Ya, sinematografinya sangat memanjakan mata. Sayangnya, editingnya terkesan kurang rapi. Selain itu juga kemasan ceritanya yang sudah bagus di awal, entah kenapa terasa kurang bagus eksekusinya di pertengahan dan terkesan terburu-buru untuk diakhiri. Pace-nya yang tadinya cepat di awal cerita juga jadi melambat temponya di rentang paruh kedua sehingga saya sempat merasa kebosanan dan ingin segera mengakhiri film ini.


Performa beberapa pemainnya cukup bagus, terutama untuk pemeran antagonisnya, tetapi sisanya sedikit mengecewakan. John Regala seperti benar-benar membaur dengan karakter yang dimainkannya. Phillip Salvador juga berakting dengan cukup bagus. Tapi yang cukup mencuri perhatian adalah Baron Geisler yang berperan sebagai Erning Toothpick. Jeorge "E.R." Estregan yang memerankan karakter Asiong malah cenderung kurang memuaskan aktingnya bagi saya. Namun, aktingnya ketika adegan tembak-menembak di hujan cukup bagus. Tetapi saya merasa dia terlalu tua untuk memerankan karakter Asiong yang masih berumur 28 tahun. Carla Abellana yang dipercaya memainkan peran sebagai istri Asiong, malah aktingnya cenderung kaku dan kurang ekspresif.

Walaupun masih banyak kekurangan di sana-sini, Manila Kingpin: The Asiong Salonga Story tentu saja menjadi penyegar perfilman Filipina yang dipenuhi dengan film-film horor, komedi, drama dan percintaan yang kualitasnya bisa dikatakan sebelas duabelas dengan perfilman kita (baca: jelek). Jelaslah film ini merupakan suatu kemajuan untuk perfilman Filipina. Oh, ya soundtrack lagu dalam film ini juga cukup enak didengar; salah satunya lagu penutupnya dibawakan oleh Gloc-9 feat. Denise Barbacena  berjudul Hari ng Tondo.





Title: Manila Kingpin: The Asiong Salonga Story | Genre: Action, Crime, Drama | Director: Tikoy Aguiluz | Music: Nonong Buencamino | Release date: December 25, 2011 | Running time: 120 minutes | Country: Philippines | Language: Tagalog | Cast: Jeorge "E.R." Estregan, Carla Abellana, Phillip Salvador, John Regala, Ronnie Lazaro, Baron Geisler | IMDb 









July 13, 2015

Metro Manila (2013)


Metro Manila (2013)






Oscar Ramirez (Jake Macapagal) adalah petani miskin yang membawa keluarganya ke kota Manila demi kehidupan yang lebih baik. Namun, harapan tak selamanya sesuai keinginan. Baru saja tiba di kota, mereka malah tertipu sehingga mereka terpaksa tinggal di sebuah lingkungan kumuh. Akhirnya demi bertahan hidup, Oscar pun melamar pekerjaan di perusahaan truk lapis baja sedangkan istrinya Mai (Althea Vega) menjadi hostess disebuah klub. Akankah harapan untuk kehidupan yang lebih baik akan didapatkan oleh Oscar dan keluarganya? 
Metro Manila sebenarnya bukanlah hasil karya sutradara Filipina melainkan disutradarai oleh sutradara asal Brighton, Sean Ellis yang terkenal lewat film Cashback (2004). Namun begitu, cita rasa ala Filipino memang kental terasa di film ini mulai dari para pemainnya, bahasanya hingga kultur budayanya. Bahkan jika tidak mencari info tentang film ini, malah kita mungkin menyangka film ini adalah film buatan Filipino asli. Sepertinya fenomena sutradara asing (baca: west) untuk membuat dan menyutradarai film di negara lain seperti Asia sedang marak. Seperti Gareth Evans dalam The Raid. Begitu juga Sean Ellis yang membidik Filipina dengan Metro Manila-nya. 

Metro Manila menampilkan bagaimana Filipina sebenarnya dimana kemelaratan masih melanda negara ini, bahkan menjadi masalah yang serius terutama di ibukota Manila. Tak jauh beda dengan negara kita sendiri tentunya. Film ini dengan asiknya mengajak kita ‘menikmati’ carut marut Manila dan menjerumuskan kita ke dalam dunia yang kacau balau’. Lihatlah bagaimana hal tersebut memaksa sebuah keluarga miskin dari desa seperti Oscar untuk bermigrasi ke kota demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Mereka merasa bahwa kota besar seperti Manila akan memberikan apa yang mereka inginkan. Namun kenyataan itu pahit, dude! Baru saja tiba di kota, mereka sudah kena tipu. Dan untuk bertahan hidup, tentu saja segala cara dilakukan. Seperti Mai yang akhirnya harus menjadi hostess di sebuah bar. Sebenarnya bisa saja dia melamar pekerjaan lain seperti menjadi waitress misalnya, namun dengan tingkat pendidikan dan pemahaman yang rendah, menjadi hostess memang lebih menggiurkan pendapatannya dan mudah pekerjaannya. Ya, lagi-lagi kemiskinan menjadi hal yang membuat siapa saja rela berbuat apa saja demi sesuap nasi. Seperti ungkapan Ong (John Arcilla), rekan Oscar: “This is the Wild West!”. Yeah, life is hard, cruel and suck!. However, we still have to survive, right?. Itulah yang ingin digambarkan oleh film ini; a story of struggle. And it's horror! Ya, horor dalam tanda kutip, terutama ketika kita disajikan gambaran tentang kehidupan orang-orang yang miskin dan kekurangan dengan perpaduan indah korupsi dan kekerasan yang kerap hadir. Ya, Metro Manila menyajikan semuanya untuk anda; kombinasi lengkap dari drama keluarga, sosial, dan crime thriller dengan menyisipkan sedikit action yang sayang untuk dilewatkan.







Title: Metro Manila | Genre: Crime, Drama | Director: Sean Ellis | Music: Robin Foster | Release date(s): January 20, 2013 (Sundance), September 20, 2013 (United Kingdom), October 9, 2013 (Philippines) | Running time: 114 minutes | Country: United Kingdom,  Philippines | Language: Filipino | Cast: Jake Macapagal, Althea Vega, John Arcilla | IMDb | Rotten Tomatoes













February 18, 2012

Blackout (2007)


Blackout (2007)







Sejak ditinggal istrinya, Gil (Robin Padilla) yang tinggal dengan putra semata wayangnya - Niño - semakin sering kehilangan kesadaran ketika mabuk. Hidup mereka menjadi berantakan. Suatu hari ditengah ketidaksadaran Gil, dia menemukan darah di bumper mobilnya dan lampu mobilnya yang selalu menyala. Gil bingung dan berhalusinasi. Tetangganya Belen (Iza Calzado) justru kehilangan putrinya Isabel (Ella Guevara) dan membuat Gil semakin tidak bisa membedakan yang nyata dan tidak nyata.






Film yang serba tanggung untuk dibilang sebagai crime, thriller, horror ataupun mystery. Padahal plot ceritanya cukup bagus jika dikembangkan dengan lebih baik lagi. Walaupun ada sedikit twist menjelang ending, tetapi sayangnya twist seperti itu mudah tertebak untuk penggemar film-film bergenre thriller. Satu lagi yang menjadi ciri khas film Filipino adalah selalu ada adegan 'jorok' dalam konteks yang sebenarnya.




IMDb















Translate

Waiting Lists

Sur mes lèvres.jpg Dark, brown-tinted and horror-themed image of a man in an asbestos-removal suit (to the right side of the poster), with an image of a chair (in the middle of the image) and an image of a large castle-like building at the top of the image. The text "Session 9" is emboldened in white text in the middle of the image, and near the bottom of the image is written, "Fear is a place." Lisbeth Salander with Mikael Blomkvist The Girl Who Played with Fire.jpg Page turner.jpg Le trou becker poster3.jpg Nightwatch-1994-poster.jpg Headhunter poster.jpg On the Job Philippine theatrical poster.jpg The Song of Sparrows, 2008 film.jpg The-vanishing-1988-poster.jpg Three Monkeys VideoCover.png