Showing posts with label United Kingdom. Show all posts
Showing posts with label United Kingdom. Show all posts

October 04, 2016

Swimming Pool (2003)

Rewatch

Swimming Pool (2003)



 When someone keeps an entire part of their life secret from you, it's fascinating and frightening.
Sarah Morton -




Sarah Morton (Charlotte Rampling) adalah seorang penulis novel misteri terkenal dari Inggris. Dalam rentang waktu yang cukup lama dia tidak lagi menghasilkan karya yang bagus. Oleh karena itu bossnya John Bosload (Charles Dance) menawarinya liburan ke rumahnya di Paris sembari mencari ide untuk membuat karya berikutnya. Sarah menerima tawaran tersebut dan menikmati suasana tenang di rumah tersebut. Hingga suatu malam, Sarah kedatangan tamu tak diundang, putri John yaitu Julie (Ludivine Sagnier) yang serta merta mengacaukan ketenangannya.

Setelah See The Sea (Regarde La Mer) yang memikat saya, saya mulai mencari film-film Francois Ozon lainnya dan pilihan saya jatuh pada film Swimming Pool. Dengan alur yang lambat khas film-film Eropa, mungkin bagi sebagian orang akan merasa bosan menonton film ini. Namun, tetaplah bertahan hingga film usai karena semuanya akan terbayarkan nantinya. Salah satu ciri khas film-film Ozon adalah selalu menampilkan tema erotis dan LGBT. Tak terkecuali film ini juga. Tetapi ada twist yang dihadirkan dalam tema tersebut di film ini. Jika tidak jeli, bisa dipastikan anda akan terkecoh dengan twist tersebut. Saya sendiri merasa tertipu mentah-mentah dengan twist tersebut - terutama adegan kejadian di kolam renang - sehingga mau tidak mau saya harus mengakui bahwa lagi-lagi saya 'dikerjai' oleh Ozon. Good job Ozon! Twistnya sendiri sebenarnya bisa dikatakan ambigu dan setiap orang punya interpretasi sendiri pada twist tersebut. Ah, ya film ini juga memanjakan mata kaum adam karena lumayan banyak topless and naked scene dari Ludivine Sagnier. 

Seperti See The Sea, Swimming Pool juga penuh kejutan tak terduga di akhir ceritanya. Ozon memang suka 'memainkan' penontonnya dengan sajian thriller psikologis yang penuh dengan momen-momen penuh kejutan. Menonton film-film Ozon membuat kita terpesona, terkejut dan terhibur secara bersamaan; sama seperti halnya ketika menonton film-film Hitchcock. Aroma suspense misteri penuh thriller tercium jelas dalam film ini berkat akting bagus dari Charlotte Rampling sebagai karakter Sarah Morton yang dingin dan Ludivine Sagnier sebagai Julie yang misterius. Swimming Pool tak akan sebagus ini tanpa Rampling. Aura Rampling benar-benar membius dan seolah menyatu dengan karakter Sarah Morton yang diperankannya. Begitu pun dengan Sagnier yang tak sekedar hanya memamerkan bagian tubuhnya yang mulus, tetapi juga membuktikan bahwa dia bisa berakting dengan bagus. Finally, I wanna recommend this movie to you especially for those who like suspense mystery thriller genre. And I'll watch other Ozon's movies for sure. 









Title: Swimming Pool | Genre: Crime, Drama, Mystery | Director: François Ozon | Music: Philippe Rombi | Release dates: 18 May 2003 (Cannes), 2 July 2003 (US), 22 August 2003 (UK) | Running Time: 103 minutes | Country: France, United Kingdom | Language: English, French | Cast: Charlotte Rampling, Ludivine Sagnier, Charles Dance | IMDb | Rotten Tomatoes






July 13, 2015

Metro Manila (2013)


Metro Manila (2013)






Oscar Ramirez (Jake Macapagal) adalah petani miskin yang membawa keluarganya ke kota Manila demi kehidupan yang lebih baik. Namun, harapan tak selamanya sesuai keinginan. Baru saja tiba di kota, mereka malah tertipu sehingga mereka terpaksa tinggal di sebuah lingkungan kumuh. Akhirnya demi bertahan hidup, Oscar pun melamar pekerjaan di perusahaan truk lapis baja sedangkan istrinya Mai (Althea Vega) menjadi hostess disebuah klub. Akankah harapan untuk kehidupan yang lebih baik akan didapatkan oleh Oscar dan keluarganya? 
Metro Manila sebenarnya bukanlah hasil karya sutradara Filipina melainkan disutradarai oleh sutradara asal Brighton, Sean Ellis yang terkenal lewat film Cashback (2004). Namun begitu, cita rasa ala Filipino memang kental terasa di film ini mulai dari para pemainnya, bahasanya hingga kultur budayanya. Bahkan jika tidak mencari info tentang film ini, malah kita mungkin menyangka film ini adalah film buatan Filipino asli. Sepertinya fenomena sutradara asing (baca: west) untuk membuat dan menyutradarai film di negara lain seperti Asia sedang marak. Seperti Gareth Evans dalam The Raid. Begitu juga Sean Ellis yang membidik Filipina dengan Metro Manila-nya. 

Metro Manila menampilkan bagaimana Filipina sebenarnya dimana kemelaratan masih melanda negara ini, bahkan menjadi masalah yang serius terutama di ibukota Manila. Tak jauh beda dengan negara kita sendiri tentunya. Film ini dengan asiknya mengajak kita ‘menikmati’ carut marut Manila dan menjerumuskan kita ke dalam dunia yang kacau balau’. Lihatlah bagaimana hal tersebut memaksa sebuah keluarga miskin dari desa seperti Oscar untuk bermigrasi ke kota demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Mereka merasa bahwa kota besar seperti Manila akan memberikan apa yang mereka inginkan. Namun kenyataan itu pahit, dude! Baru saja tiba di kota, mereka sudah kena tipu. Dan untuk bertahan hidup, tentu saja segala cara dilakukan. Seperti Mai yang akhirnya harus menjadi hostess di sebuah bar. Sebenarnya bisa saja dia melamar pekerjaan lain seperti menjadi waitress misalnya, namun dengan tingkat pendidikan dan pemahaman yang rendah, menjadi hostess memang lebih menggiurkan pendapatannya dan mudah pekerjaannya. Ya, lagi-lagi kemiskinan menjadi hal yang membuat siapa saja rela berbuat apa saja demi sesuap nasi. Seperti ungkapan Ong (John Arcilla), rekan Oscar: “This is the Wild West!”. Yeah, life is hard, cruel and suck!. However, we still have to survive, right?. Itulah yang ingin digambarkan oleh film ini; a story of struggle. And it's horror! Ya, horor dalam tanda kutip, terutama ketika kita disajikan gambaran tentang kehidupan orang-orang yang miskin dan kekurangan dengan perpaduan indah korupsi dan kekerasan yang kerap hadir. Ya, Metro Manila menyajikan semuanya untuk anda; kombinasi lengkap dari drama keluarga, sosial, dan crime thriller dengan menyisipkan sedikit action yang sayang untuk dilewatkan.







Title: Metro Manila | Genre: Crime, Drama | Director: Sean Ellis | Music: Robin Foster | Release date(s): January 20, 2013 (Sundance), September 20, 2013 (United Kingdom), October 9, 2013 (Philippines) | Running time: 114 minutes | Country: United Kingdom,  Philippines | Language: Filipino | Cast: Jake Macapagal, Althea Vega, John Arcilla | IMDb | Rotten Tomatoes













June 30, 2015

The Ladykillers (1955)


The Ladykillers (1955)






Professor Marcus (Alec Guinness) yang mengaku sebagai profesor musik, menyewa kamar di sebuah rumah di London. Rumah tersebut adalah milik Mrs. Louisa Alexandra Wilberforce (Katie Johnson), seorang janda tua eksentrik yang tinggal bersama burung beonya. Marcus mengatakan bahwa teman-teman sesama rekan musisinya akan datang mengunjunginya setiap saat untuk berlatih. Namun sebenarnya, Marcus dan rekan musisinya sama sekali tidak bisa memainkan musik karena mereka sebenarnya adalah komplotan perampok. Mereka menjadikan kamar Marcus sebagai markas untuk merencanakan perampokan dengan memanfaatkan Mrs. Wilberforce.

It's hilarious funny! Kata yang paling tepat untuk film ini. Film ini benar-benar menghibur dan sangat lucu. Sudah lama sekali rasanya saya menonton film yang berhasil membuat saya tertawa terpingkal-pingkal seperti ini. Beberapa adegannya memang slapstick tapi anehnya sangat lucu menurut saya. Melihat tingkah polah Mrs. Wilberforce yang sebenarnya cukup annoying tersebut ketika kerap kali mengganggu kegiatan para perampok tersebut, benar-benar lucu dan menghibur. The Ladykillers dapat dikatakan sebagai penggambaran dari kondisi Inggris pasca perang yang tentu saja dipenuhi kedamaian dan ketentraman. Namun begitu tetap saja tidak semua orang siap menghadapi hal tersebut. Korupsi pun menjadi sesuatu yang tak terelakkan juga. Golongan masyarakat juga terbagi dalam beberapa golongan. Hal tersebut dapat tercermin dari karakter-karakter yang ada dalam film ini yang mewakili berbagai golongan masyarakat tersebut. Karakter seperti Mrs. Wilberforce merupakan golongan tua yang semakin jarang untuk ditemui dan pastinya tak akan ada yang percaya dengan seorang nenek tua seperti beliau yang akan melakukan tindak kejahatan dan korupsi, kan? Ya, penggambaran seperti itulah yang kira-kira tertuang dalam film ini. Dibalut dengan black comedy yang kental, film ini tentu saja akan gampang dinikmati.

Katie Johnson tentu saja yang paling sukses mencuri perhatian dalam film ini. Karakter si nenek tua menyebalkan yang keras kepala dari sudut pandang para perampok, polisi dan penjual buah begitu pas diperankannya. Adegan di pasar yang membuat repot banyak orang tersebut menjadi bukti betapa si nenek ini sangat sangat annoying dan membuat sakit kepala. Namun begitu, akan ada perasaan kesal, iba, sekaligus sayang melihat sosok seperti beliau tersebut. Karakter Mrs. Wilberforce sendiri mengingatkan saya pada almarhum nenek saya yang sama-sama annoying dan keras kepala. Memang begitulah orang tua, sifatnya persis seperti anak-anak lagi. Alec Guinness dan para pemain lainnya juga bermain dengan sangat bagus di film ini. Tak ada yang perlu diragukan lagi dari akting keren para pemain The Ladykillers ini baik dari pemain utama maupun pemain pendukung semua bermain dengan sangat bagus.

Film ini telah diremake oleh hollywood (yeah, again!) pada tahun 2004 lalu dengan Tom Hanks sebagai salah satu pemainnya. Namun percayalah, tidak akan ada yang bisa menandingi versi originalnya yang sangat bagus ini; dengan humornya yang tetap menghibur dan sangat lucu (walau beberapa mungkin ketinggalan jaman). The Ladykillers bukanlah tipe film yang bisa dibuat lagi. Itulah kenapa remakenya gagal total. Finally, The Ladykillers is one of the best funny British films of all time. Recommended!.







Title: The Ladykillers | Genre: Comedy, Crime | Director: Alexander Mackendrick | Music: Tristram Cary | Release dates: 8 December 1955 | Running time: 97 minutes | Country: United Kingdom | Language: English | Cast: Alec Guinness, Katie Johnson, Herbert Lom, Peter Sellers, Danny Green, Cecil Parker , Jack Warner, Frankie Howerd | IMDb | Rotten Tomatoes







July 15, 2014

Eden Lake (2008)


Eden Lake (2008)







Jenny (Keily Reilly) diajak kekasihnya, Steve (Michael Fassbender) berlibur ke sebuah tempat yang sangat romantis yaitu sebuah danau kecil di tengah-tengah hutan yang bernama Eden Lake. Mereka berdua sangat menikmati kegiatan mereka di tempat tersebut. Namun tiba-tiba muncul pengganggu yaitu sekelompok remaja berandalan annoying yang mengaku sebagai penguasa tempat tersebut. 

Film ini merupakan rekomendasi teman saya ketika saya meminta film yang pace-nya cepat dengan durasi tidak terlalu lama. Waktu saya meminta rekomen filmnya, saya baru saja selesai menonton Ils (Them) dan saya pun meminta rekomen film yang sejenis dengan Ils. Akhirnya Eden Lake pun saya banding-bandingkan dengan Ils. Tema yang sama dan setting lokasi yang sama, hutan. Bedanya, Ils tidak sepenuhnya bersetting di hutan, tapi juga di rumah karakter utama, sedangkan Eden Lake, hampir 80 persen settingnya di hutan yang tentu saja menimbulkan sensasi mencekam. Tak ada yang terlalu istimewa dari film ini dibanding film-film sejenis lainnya, dimana kedua karakter utama mendapat gangguan dan harus bisa survive dari kejaran para psikopat yang kali ini justru adalah sekelompok remaja berandalan yang marah. Walaupun Eden Lake tidak memiliki plot orisinal dan masih memakai formula yang sama dengan film sejenis, tapi ceritanya fresh dan non-predictable. Cara kedua karakter utama di film ini survive menghadapi lawan mereka menjadi sajian yang cukup menarik dan menghibur terutama untuk penggemar film thriller dan horor. Horor yang dimaksud di sini bukan horor seperti melihat penampakan hantu atau setan, melainkan horor psikologis yang tentunya jauh lebih horor dari kehororan hantu atau setan sekalipun. Film ini membawa kita kedalam ketakutan yang luar biasa, ketakutan yang bahkan mungkin kita pikir tidak akan pernah terjadi. Dibalut dengan level suspense tingkat tinggi dan sedikit gore yang mungkin akan membuat meringis, serta adegan kejar-kejaran ala cat-and-mouse, menjadikan film ini semakin menegangkan dan menarik untuk ditonton. Tak ayal lagi, Eden Lake sukses membuat saya ingin teriak sekuatnya karena atmosfir tegang yang diciptakannya dan sukses juga membuat saya kesal setengah mati dengan geng villain remaja annoying tersebut. Rasanya ingin sekali saya teriak pada karakter Steve dan Jenny agar segera menghabisi para villain tersebut. Ya, jika saja awalnya Steve tidak terhasut omongan sesat dari Brett (Jack O'Connell), gang leader para remaja tersebut dan mengabaikan mereka, tentu teror dan musibah mengerikan yang melanda pasangan Steve dan Jenny tak akan pernah terjadi.

Walau mungkin film ini tak terlalu istimewa, namun Eden Lake memiliki premis yang cukup menarik, yaitu tentang kenakalan remaja, khususnya yang terjadi di UK. Kenakalan yang mungkin saja terjadi akibat dari keluarga yang tidak harmonis, broken home, kurangnya perhatian orang tua, atau sikap apatis dan ketidakpedulian orang tua pada anaknya. Hal tersebutlah yang mendorong terciptanya geng-geng remaja nakal yang super annoying seperti dalam film ini. Dan penggunaan narkoba menjadi salah satu faktor pemicunya juga. Saya rasa kenakalan remaja seperti itu tidak hanya mewabah di UK sana, tapi di sini pun sudah merebak, contohnya geng motor yang sangat meresahkan belakangan ini.

Balik ke soal film, Eden Lake tentu tak akan menarik jika tidak dibarengi dengan akting memukau pemainnya. Akting Kelly Reilly benar-benar superb. Terlihat dia bermain dengan sangat totalitas memainkan karakter Jenny. Kita akan merasa kasian dengan Jenny dan berharap dia bisa tetap survive hingga akhir film sembari menghabisi musuhnya. Kelly membuat kita merasakan seperti sedang berada di dalam film tersebut, berjuang untuk survive dari kejaran geng remaja tersebut. Namun, bukan cuma Kelly yang bermain bagus, Jack O'Connell bahkan sukses mencuri perhatian saya. Sepanjang film, karakter Brett yang dimainkannya membuat saya benci setengah mati melihatnya. Padahal biasanya saya tidak masalah dengan karakter-karakter villain lainnya di dalam film tapi entah kenapa saya sangat tidak menyukai karakter Brett ini.

Yeah, akhirnya saya cuma bisa bilang kalo Eden Lake sukses bikin kesal dan shock sepanjang film berlangsung. This is a depressing, disturbing, dark, bloody movie and making angry all the time! Dan endingnya.. oh.. endingnya bakal menjadi salah satu ending yang mungkin takkan terlupakan. Film yang masih menyisakan perasaan marah, kesal sekaligus sedih bahkan setelah film berakhir. 







Title: Eden Lake | Genre: Horror, Thriller | Director: James Watkins | Music: David Julyan | Release dates: 15 May 2008 (Cannes), 12 September 2008 | Running time: 91 minutes | Country: United Kingdom, Cayman Islands | Language: English | Starring: Kelly ReillyMichael FassbenderJack O'ConnellFinn Atkins | IMDb | Rotten Tomatoes











February 24, 2013

The Children (2008)


The Children (2008)





The Children (2008)
Horror | Mystery | Thriller
Directed by Tom Shankland
Release date(s): 5 December 2008 (UK)
Running time: 85 min.
Country: United Kingdom
Language: English
Starring:



Liburan tahun baru Elaine (Eva Birthistle) dan suaminya, Jonah (Stephen Campbell Moore) ke rumah saudarinya, Chloe (Rachel Shelley) dan suaminya Robbie (Jeremy Sheffield), yang harusnya menyenangkan mendadak berubah total tatkala anak-anak mereka menunjukkan beberapa perilaku aneh. Serangkaian insiden pun terjadi, dari hilangnya hewan peliharaan keluarga sampai pembunuhan sadis yang terjadi. 



 
  

Adegan awal film ini sudah disuguhkan dengan sesuatu yang horor dan misterius. Belum lagi setting lokasinya yang memang cukup seram dan jauh berada di hutan yang ditutupi salju. Lalu perlahan adegan berubah menjadi cerita drama dengan menceritakan sedikit hubungan antar dua keluarga kakak beradik Elaine dan Chloe. Tak panjang-panjang, horor kembali mencekam dan semakin memanas hingga akhir.



Beberapa adegan terlihat cukup mengerikan dan disturbing. Atmosfir seramnya pun terbangun cukup baik. Jajaran cast memang tampil jauh dari kata sempurna but good enough, especially the children. Hannah Tointon yang berperan sebagai Casey, cukup terlihat bitchy sebagai seorang remaja yang menggoda omnya sendiri.




Sebenarnya, cerita film ini cukup menjanjikan. Sayangnya kurang digarap dengan baik sehingga terkesan ceritanya sangat kedodoran di pertengahan hingga ending. Dan endingnya, ough.. suck!!  Saya cuma melongo sampai sepersekian menit dan ketika sadar cuma menggumam, "gini doank??" 





IMDb 











 

The Third Man (1949)



The Third Man (1949)





The Third Man (1949)
Film-Noir | Mystery | Thriller
 Director: Carol Reed 
Release date(s): 2 September 1949
Running time: 104 minutes
Country: United Kingdom
Language: English
 
Starring:



Seorang novelis fiksi yang kurang terkenal, Holly Martins ( Joseph Cotten) datang ke Wina atas undangan teman lamanya, Harry Lime (Orson Welles), yang menawarinya pekerjaan. Saat tiba di Wina, Martins mendapati bahwa Lime baru saja meninggal. Dengan mencari tahu melalui teman-teman Lime, pacarnya, polisi dan orang-orang yang berada di sekelilingnya, Martins menemukan banyak kejanggalan dalam kematian Lime dan segera mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

  
The Third Man yang kental nuansa noirnya ini, memang menyajikan berbagai aspek menarik dan bagus dalam filmnya. Great storyline, great actors/actresses, great cinematography, perfectly shot and many more.  Even the twist is brilliant. Dialog-dialognya pun bagus, terutama di bagian ucapan Harry Lime, "In Italy for 30 years under the Borgies they had warfare, terror, murder, and bloodshed, but they produced Michelangelo, Leonardo da Vinci, and the Renaissance. In Switzerland they had brotherly love - they had 500 years of democracy and peace, and what did that produce? The cuckoo clock."





Akhirnya, saya cuma bisa bilang, this is recommended movie!. Dan endingnya... hmm.. saya suka dengan adegannya.. 

 

 IMDb





 




 

Translate

Waiting Lists

Sur mes lèvres.jpg Dark, brown-tinted and horror-themed image of a man in an asbestos-removal suit (to the right side of the poster), with an image of a chair (in the middle of the image) and an image of a large castle-like building at the top of the image. The text "Session 9" is emboldened in white text in the middle of the image, and near the bottom of the image is written, "Fear is a place." Lisbeth Salander with Mikael Blomkvist The Girl Who Played with Fire.jpg Page turner.jpg Le trou becker poster3.jpg Nightwatch-1994-poster.jpg Headhunter poster.jpg On the Job Philippine theatrical poster.jpg The Song of Sparrows, 2008 film.jpg The-vanishing-1988-poster.jpg Three Monkeys VideoCover.png