Showing posts with label 2008. Show all posts
Showing posts with label 2008. Show all posts

July 28, 2013

A Wednesday (2008)


A Wednesday (2008)




A Wednesday (2008)
Action | Drama | Family
Director: Neeraj Pandey
Music: Sanjoy Chowdhary
Release Date(s): 5 September 2008
Running Time: 103 minutes
Country: India
Language: Hindi

Starring:



Seorang penelepon anonim mengklaim telah menempatkan bom di seluruh Mumbai yang akan meledak dalam waktu sekitar empat jam kecuali polisi Mumbai membebaskan empat teroris yang dipenjara. Komisaris Polisi Prakash Rathod (Anupam Kher) menugaskan dua polisi muda, Jai (Aamir Bashir) dan Arif (Jimmy Shergill) untuk mengantarkan keempat teroris tersebut menuju tempat yang ditentukan oleh si penelepon. Siapa sebenarnya si penelepon anonim tersebut dan apa motif sebenarnya?

 
 

A Wednesday berdasarkan suatu peristiwa tertentu yang terjadi pada hari rabu antara jam 2-6 sore. Peristiwa tersebut tidak pernah tercatat dalam catatan kriminal apapun semasa jabatan Rathod, namun jusru merupakan peristiwa yang paling menakutkan dan mengerikan bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya. Intinya seperti arena kucing-kucingan antara polisi dan si penelepon anonim.

 

Duet Naseeruddin Shah dan Anupam Kher menjadi daya tarik kuat dalam film ini. Kedua aktor gaek tersebut menunjukkan performa gemilang. Jimmy Shergill juga mencuri perhatian untuk pertama kalinya dalam film yang mencuatkan namanya ini. Tetapi saya justru mengenalnya pertama kali ketika bermain dalam di Special 26.



Beberapa adegan mungkin terlihat berlebihan, terutama adegan Arif mengejar penjahat di pasar yang kelihatan sekali orang-orang di sana sedang melihat syuting sebuah film. Lalu, tidak dijelaskan alasan pastinya kenapa si penelepon anonim memilih Naina (Deepal Shaw). Adegan-adegan yang ditampilkan pun terasa sangat familiar dengan film-film bergenre sejenis. Yeah, meski banyak terdapat plot hole disana-sini, tidak begitu mengurangi kenikmatan menonton film ini. Sayang, kenapa endingnya hanya "begitu saja"?. 

 











February 24, 2013

The Children (2008)


The Children (2008)





The Children (2008)
Horror | Mystery | Thriller
Directed by Tom Shankland
Release date(s): 5 December 2008 (UK)
Running time: 85 min.
Country: United Kingdom
Language: English
Starring:



Liburan tahun baru Elaine (Eva Birthistle) dan suaminya, Jonah (Stephen Campbell Moore) ke rumah saudarinya, Chloe (Rachel Shelley) dan suaminya Robbie (Jeremy Sheffield), yang harusnya menyenangkan mendadak berubah total tatkala anak-anak mereka menunjukkan beberapa perilaku aneh. Serangkaian insiden pun terjadi, dari hilangnya hewan peliharaan keluarga sampai pembunuhan sadis yang terjadi. 



 
  

Adegan awal film ini sudah disuguhkan dengan sesuatu yang horor dan misterius. Belum lagi setting lokasinya yang memang cukup seram dan jauh berada di hutan yang ditutupi salju. Lalu perlahan adegan berubah menjadi cerita drama dengan menceritakan sedikit hubungan antar dua keluarga kakak beradik Elaine dan Chloe. Tak panjang-panjang, horor kembali mencekam dan semakin memanas hingga akhir.



Beberapa adegan terlihat cukup mengerikan dan disturbing. Atmosfir seramnya pun terbangun cukup baik. Jajaran cast memang tampil jauh dari kata sempurna but good enough, especially the children. Hannah Tointon yang berperan sebagai Casey, cukup terlihat bitchy sebagai seorang remaja yang menggoda omnya sendiri.




Sebenarnya, cerita film ini cukup menjanjikan. Sayangnya kurang digarap dengan baik sehingga terkesan ceritanya sangat kedodoran di pertengahan hingga ending. Dan endingnya, ough.. suck!!  Saya cuma melongo sampai sepersekian menit dan ketika sadar cuma menggumam, "gini doank??" 





IMDb 











 

January 27, 2013

Akiresu to kame (2008)



Achilles and the Tortoise (2008) 





Akiresu to kame (2008)
Achilles and the Tortoise | Achilles to Kame
Drama | Comedy
Director: Takeshi Kitano
Release Date: September 20, 2008
Runtime: 119 min.
  Language: Japanese
Country: Japan 
Cast:



Watched : 24 January 2013





Machisu Kuromachi
yang putra seorang kolektor kaya, sejak kecil suka melukis. Apalagi sejak mendapat pujian dari teman ayahnya yang seorang artis terkenal, dia terobsesi menjadi seorang pelukis terkenal. Dengan bakatnya tersebut, Machisu mampu menghasilkan lukisan-lukisan yang unik dan tidak biasa. Ketika suatu tragedi terjadi, mendadak kehidupannya berubah total tapi kecintaan Machisu pada dunia lukis tak pernah luntur.


Akhirnya Machisu memutuskan mencurahkan seluruh hidupnya untuk melukis. Machisu pun mengikuti sekolah seni dengan uang hasil kerja kerasnya. Dia menjadi terobsesi pada lukisannya dan menutup mata dari hal lain di sekitarnya. Tetapi sayangnya, kendati dia percaya bahwa dirinya berbakat, sekali pun Machisu tak pernah mendapat award atau terkenal. Justru banyak kritikan pedas dialamatkan padanya atas hasil lukisannya, terutama dari seorang dealer seni. Dealer seni tersebut bahkan selalu memberikan saran-saran yang ekstrim untuk lukisannya. Dorongan justru datang dari seorang wanita bernama Sachiko yang kemudian menjadi istrinya dan selalu mensupportnya. Sayang, lagi-lagi kenyataan tak pernah seindah impian.

 
Film ini mengikuti kisah hidup Machisu dari anak-anak sampai tua. Tiap pemeran Machisu mampu menyuguhkan akting yang bagus. Machisu tua diperankan oleh sang sutradara sendiri, Takeshi Kitano. Pria gaek yang saya kenal lewat peran antagonis dalam Battle Royale ini, memang selalu total memerankan berbagai karakter yang dimainkannya. Kali ini perannya sebagai seorang pelukis yang terobsesi benar-benar terlihat depresif.


Kanako Higuchi sebagai pemeran Sachiko tua, mampu mengimbangi akting Kitano dengan briliant. Kedua pasangan suami istri tersebut telihat unik atau bisa dikatakan aneh karena obsesi gila Machisu. Herannya, Sachiko dengan setia dan segenap hati mendukung segala tindakan di luar "nalar" yang dilakukan Machisu. Beberapa tindakan "sedikit sinting" tersebut seperti melakukan pertarungan dengan petinju yang sebenarnya demi mendapatkan efek warna unik pada lukisan atau membenamkan kepala ke dalam bak mandi, membuat saya menyerngitkan kening cukup lama.
 

Tapi teknik melukis yang unik dan diluar nalar itu memang membuat saya terkagum-kagum. Bahkan saya langsung berujar, "Apa sebenarnya isi otak dari seorang pelukis? Kok bisa mereka mempunyai daya imajinasi yang luar biasa liar dan gila itu?". Saya sebagai orang awam yang hanya penikmat seni, dibuat terkagum-kagum dengan artwork yang indah dalam film ini.
 
Akhirnya, Akiresu to kame memang menceritakan tentang batasan antara hobi dan obsesi dan seberapa jauh pikiran manusia dapat menelaahnya. Juga tentang nilai suatu kehidupan yang disisipi dengan humor kelam yang berisi satir dan sindiran. What a depressive movie!
  
 
 
 
 IMDb










October 08, 2012

Eiga: Kurosagi (2008)

Eiga: Kurosagi (2008)

[The Black Swindler]




Kurosagi (2008)
Crime | Drama | Thriller

Director : Yasuharu Ishii
Release Date:
Running time: 127 minutes
Country: Japan
Language: Japanese 

Casts :
Naoto Takenaka 
Tsutomu Yamazaki
Show Aikawa


Setelah menamatkan doramanya (J-drama) cuma dalam waktu beberapa hari aja, saya lanjut menonton filmnya. Nggak ada yang berubah dari doramanya, pemerannya masih sama dengan beberapa tambahan pemeran baru seperti Naoto Takenaka yang jadi Shirosagi (white swindler). Yamapi-chan masih tetap kawaii (@_@). Bahkan lagu Daite Senorita jadi insert song di film ini. Akting Tsutomu Yamazaki sebagai Katsuragi masih tetap ciamik. Yang berubah kayaknya cuma rambut Maki yang jadi tambah pendek. #abaikan. 
Kali ini Kurosaki (Tomohisa Yamashita) harus menghadapi Toru Ishigaki (Naoto Takenaka) yang menjadi kunci untuk bisa bertemu dengan Mikimoto (Shiro Kishibe). Tapi sebelumnya Kurosaki harus membongkar semua penipuan yang dilakukan oleh Ishigaki. Belum lagi pergolakan batinnya menghadapi Katsuragi. Kurosaki pun menghadapi dilema.




 

Dengan cerita yang datar dan nyaris tanpa konflik serta klimaks, membuat film ini jadi terasa begitu membosankan, apalagi dengan durasi dua jam lebih. Oh, NOOO!! Kalau bukan karena Yamapi, udah malas saya nontonnya. Apalagi kehadiran Maki Horikita dalam film ini seolah-olah hanya sebagai "pemanis" aja. Nggak ada adegan "romantis terselubung" antara Kurosaki dan Tsurara seperti dalam doramanya. Saya juga merindukan momen Kurosaki dan Tsurara yang selalu bertemu ketika jalan pulang. Tapi di film ini kita malah melihat Kurosaki yang naik mobil (naik derajat, nih ceritanya?) dan jadi terasa aneh. Ah, kecewa!!






 


Ya, film ini lebih terfokus pada hubungan antara Kurosaki dan Katsuragi semata ditambah embel-embel khas penipuan. Dalam dua jam (yang begitu lama menurut saya), saya ingin sekali men-skip-skip tiap adegan yang menurut saya nggak perlu and just waste time! Seperti tata cara penggunaan money card yang diperagakan Kurosaki, di mata saya terlihat begitu silly. Oh, No!!. Hal seperti itu lebih cocok ditampilkan di dorama aja.




 


Lagi-lagi saya bertahan hanya karena ada Yamapi (He's kawaii, you know?!). Tapi ketika Yamapi berbicara dalam bahasa Inggris, ampun, deh, saya pengen ketawa ngakak aja dengarnya. Lafal dan intonasi pengucapannya aneh banget, walaupun kaget juga dengar dia bisa ngomong Inggris cepat gitu. Yah, setidaknya akting Takenaka Naoto cukup menghibur. Sejak melihat Naoto di Nodame Cantabile dan beberapa filmnya yang sudah saya tonton, aktingnya belum ada yang mengecewakan buat saya.






 


Endingnya benar-benar, deh! Benar-benar bikin nggak puas. Sepertinya sang sutradara emang sengaja bikin endingnya kayak gitu, mungkin mau bikin sekuelnya kali. Tapi bagi penggemar doramanya seperti saya, pasti sangat kecewa dengan film ini. Entah kenapa, ketika sebuah dorama diadaptasi ke layar lebar, kebanyakan gagal. Seperti GTO, Gokusen, Liar Game dan Kurosagi ini. Seharusnya konsep yang ada di dorama, harus dirubah total dan disesuaikan untuk sebuah film layar lebar. Akhirnya, saya cuma mengharap semoga ada sekuelnya dengan format dan jalan cerita yang lebih bagus. Ma-i-do-ari, Bang!!



Translate

Waiting Lists

Sur mes lèvres.jpg Dark, brown-tinted and horror-themed image of a man in an asbestos-removal suit (to the right side of the poster), with an image of a chair (in the middle of the image) and an image of a large castle-like building at the top of the image. The text "Session 9" is emboldened in white text in the middle of the image, and near the bottom of the image is written, "Fear is a place." Lisbeth Salander with Mikael Blomkvist The Girl Who Played with Fire.jpg Page turner.jpg Le trou becker poster3.jpg Nightwatch-1994-poster.jpg Headhunter poster.jpg On the Job Philippine theatrical poster.jpg The Song of Sparrows, 2008 film.jpg The-vanishing-1988-poster.jpg Three Monkeys VideoCover.png