Showing posts with label Japan. Show all posts
Showing posts with label Japan. Show all posts

September 02, 2016

Love's Whirlpool | Ai no Uzu (2014)


Love's Whirlpool (2014)

When anonymous men and women pay to enter an anonymous sex club.




Warning:  
18+
Contain Nudity and Sex!!!





Mulai tengah malam hingga pukul 5 pagi, beberapa orang berkumpul di sebuah apartement elite di kawasan Roppongi. Mereka tidak saling kenal dan baru bertemu pertama kalinya. Di tempat tersebut, mereka melakukan aktivitas seksual tanpa dasar cinta.

Tema tentang seks menjadi sesuatu yang booming belakangan ini dalam sebuah film, terutama film-film Asia. Entah karena kehabisan ide untuk membuat film bagus (tanpa seks) atau memang tema erotis menjadi suatu nilai jual yang laris saat ini? Tak terkecuali film arahan Daisuke Miura ini. Film yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama "Ai no Uzu" karangan Daisuke Miura ini memang sebuah film bertema erotis tentang pesta seks klub swinger yaitu sebuah klub yang beranggotakan beberapa orang yang berkumpul bersama untuk melakukan hubungan seks beramai-ramai. Tiap orang dapat memilih pasangan yang dikehendaki dan dapat bertukar pasangan kapan pun. Mungkin buat sebagian orang, merasa aneh dengan keberadaan klub seks seperti ini. Tapi di Jepang tak ada yang aneh. Bahkan mungkin jika klub seks semacam ini belum ada, saya yakin akan ada nantinya. Klub seks swinger tersebut memiliki aturan-aturan yang harus ditaati oleh anggotanya seperti: wajib mandi sebelum dan sesudah melakukan aktivitas seksual, wajib menggunakan kondom, pria harus menghormati keinginan wanita sehingga wanita berhak menolak jika tidak ingin melakukan seks dengan pria tertentu dan waktu untuk melakukan seks hanya dari pukul 12 tengah malam hingga pukul 5 pagi. Dan ketika meninggalkan apartemen di pagi harinya, pria dan wanita harus keluar secara terpisah untuk menghindari terjadinya stalking

Tak sekedar menjual tubuh para pemainnya, film ini masih mempunyai jalan cerita yang lumayan menarik. Bersetting hampir 99% hanya di sebuah apartemen, tidak membuat film ini serta merta menjadi membosankan. Justru dialog-dialognya cukup menghibur; lucu dengan banyak sisipan jokes-jokes vulgar. Pace yang lambat di awal dengan rentang waktu 123 menit memang terasa lama untuk film bergenre seperti ini, terutama jika memang tujuan menonton film ini bukan untuk melihat adegan softcorenya. Tapi tenang, semua terselamatkan berkat dialog-dialognya yang segar, lucu dan terkadang absurd. Dialog-dialog 'nakal' yang tercipta antar anggota klub seks ini menjadi bagian yang lebih menarik ketimbang sex scene-nya sendiri. Salah satu dialog yang lucu sekaligus menggelitik adalah tentang fantasi seks karakter Guru TK yang membayangkan melakukan seks dengan salah satu siswanya. Lewat percakapan yang terjadi antar karakter, kita bisa melihat bahwa di tempat inilah karakter asli mereka terungkap. Miura tanpa ragu menelanjangi semua karakter yang ada dalam film ini sebelum kita tahu apapun tentang mereka yang sebenarnya, hingga kemudian kita mungkin akan tercengang kaget begitu mengetahui mereka memakai 'topeng' dalam kehidupan normal mereka sehari-hari. Begitulah, kenyataan memang pahit, sehingga terkadang seseorang harus berpura-pura menjadi orang lain demi survive dalam kehidupan yang keras ini. Keberadaan klub swinger seperti ini seperti menjadi suatu tempat pelarian bagi mereka dari sesaknya kehidupan normal yang dijalani, terlebih karena mereka bisa menjadi diri mereka sendiri. Sayangnya, karakter yang ada kurang digali lebih dalam lagi oleh Miura. Padahal beberapa karakternya cukup menarik untuk dibahas lebih lanjut. 

Mugi Kadowaki - sebagai pendatang baru kala itu - mendapat respon positif untuk karakternya sebagai mahasiswi dalam film ini. Namun, saya menyayangkan kenapa dia harus bersinar karena membintangi film bergenre erotis seperti ini. Sosuke Ikematsu yang berperan sebagai NEET (Not in Education, Employment or Training) juga bersinar aktingnya kala itu dengan banyaknya film dan dorama yang dibintanginya. Salah satu aktingnya yang berkesan adalah sebagai Shingai Kazuhiko di dorama Mozu. Lewat film ini, Ikematsu membuktikan bahwa dia juga bisa memerankan karakter NEET dengan baik. Tapi bagi saya, justru kedua karakter sentral dalam film ini terlihat biasa saja. Yang justru mencuri perhatian saya adalah karakter-karakter pendukungnya yang dimainkan dengan bagus oleh para aktornya. Hirofumi Arai, tak usah diragukan lagi kemampuan aktingnya walaupun selalu menjadi supporting roles. Begitu pun dengan Kenichi Takito, Tetsushi Tanaka dan Yosuke Kubozuka. Khusus Yosuke Kubozuka, saya menyayangkan karirnya yang meredup dan hanya mendapat peran-peran kecil, padahal aktingnya bagus, seperti dalam dorama Ikebukuro West Gate Park dan Great Teacher Onizuka (1998) yang membuatnya dikenal publik. 

Well, bagaimana pun Love's Whirlpool cukup menarik untuk di tonton karena meskipun disajikan dengan embel-embel erotisisme, film ini juga memaparkan banyak hal lain yang tak sekedar seks belaka.





Title: Love's Whirlpool | Original Title: Ai no Uzu (愛の渦) | Based on novel Ai no Uzu by Daisuke Miura | Genre: Drama, Romance, Erotic | Director: Daisuke Miura | Cinematographer: Shin Hayasaka | Release date: March 1, 2014 | Running time: 123 minutes | Country: Japan | Language: Japanese | Cast: Sosuke Ikematsu, Mugi Kadowaki, Kenichi Takito, Eriko Nakamura, Hirofumi Arai, Yoko Mitsuya, Ryusuke Komakine, Muck Akazawa, Tokio Emoto, Yosuke Kubozuka, Tetsushi Tanaka | IMDb







August 10, 2016

Linda Linda Linda (2005)

Rewatch



Linda Linda Linda (2005)

Film Remaja Untuk Yang Tidak Suka Menonton Film Remaja







Hanya tiga hari sebelum festival sekolah berlangsung, Kei sang keyboardist (Yu Kashii), Kyoko sang drummer (Aki Maeda) dan Nozomi sang bassist (Shiori Sekine) terpaksa merekrut vokalis baru secara 'asal' untuk band mereka. Dan yang terpilih adalah Son (Bae Doo-na), siswa pertukaran pelajar dari Korea yang masih kesulitan berbahasa Jepang. Dengan waktu yang singkat, mereka harus berlatih maksimal agar bisa tampil di festival sekolah. Apakah mereka berhasil tampil dalam festival tersebut? 

Ini ketiga kalinya saya menonton film ini sejak pertama kali menontonnya tiga tahun lalu. Hasrat ingin menonton ulang pun terjadi waktu saya sedang beres-beres hardisk external dan menemukan film ini. Dulu, waktu pertama menontonnya, saya cukup enjoy walaupun kebingungan di beberapa bagian. Dan sekarang ketika saya menonton ulang, saya semakin enjoy menontonnya, bahkan feel yang dulunya tidak saya dapat, malah saya rasakan sekarang. Padahal kalau ditilik kembali, plot ceritanya sangat sederhana; cuma sekumpulan siswi sekolah yang berlatih keras demi untuk tampil di festival sekolah. Bayangkan, cuma level festival sekolah!! Bukan, bukan saya sepele atau merendahkan, tapi sebaliknya, saya salut dengan kerja keras mereka berlatih siang malam untuk tampil. Bahkan mereka rela latihan di studio yang lokasinya jauh dan rela menginap di sekolah demi latihan. Dan saya seperti merasakan sendiri perjuangan mereka berlatih itu karena tampil di atas panggung, tuh rasanya bahagia sekali, bahkan tak terkatakan dengan kata-kata; karena saya juga mantan anak band. Tampil di acara pernikahan aja rasanya sudah 'wah' banget, apalagi kalau tampil di festival :D. Dan melihat adegan dimana keempat gadis tersebut latihan band, terasa begitu menyenangkan sekaligus membuat saya sedikit bernostalgia.

Lalu, jika ceritanya hanya tentang band aja, apa tidak bosan menontonnya dengan durasi 114 menit? Jawabannya TIDAK!!! Percayalah, kalau anda sudah menonton film ini, durasi segitu malah tidak terasa sama sekali dan tiba-tiba saja filmnya sudah selesai. Tentu saja karena film ini mempunyai alur cerita yang ringan, sederhana, menyenangkan dan mengalir begitu aja. Tidak ada sajian yang muluk-muluk sehingga terasa begitu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Tema persahabatan dipaparkan dengan begitu kental, ditambah dengan sedikit bumbu pemanis kisah romansa remaja yang malu-malu kucing sudah cukup menjadi daya tarik untuk film ini.

Dan film ini semakin hidup dengan akting brilian dari Bae Doo-na (salah satu aktris Korea favorit saya!) yang sangat tepat memerankan karakter Son. Linda Linda Linda tidak akan semenarik ini tanpa akting keren dari Bae Doo-na. Sekedar info, usia Bae Doo-na sudah 26 tahun, lho ketika main di film ini, tapi wajahnya masih terlihat muda dan imut, bahkan lebih imut dari wajah Yu Kashii yang beda umurnya sekitar 8 tahun. Yu Kashii aktingnya biasa saja. Yang paling berkesan hanya wajah cantik dan suara cemprengnya saja. Dan dari semua filmnya yang pernah saya tonton, saya belum pernah sekali pun terkesan dengan akting dari istri Joe Odagiri ini. Untuk film ini, Yu Kashii harus belajar memainkan alat musik. Sedangkan Aki Maeda dan Shiori Sekine aslinya memang bisa bermain alat musik. Akting Aki Maeda bisa dilihat juga di film Battle Royale yang melambungkan namanya. Sedangkan Shiori Sekine aslinya memang seorang bassist sebuah band bernama Base Ball Bear. Dan sepertinya Linda Linda Linda adalah satu-satunya film yang dia bintangi hingga saat ini. Ada juga penampilan cameo dari Kenichi Matsuyama sebelum dia menjadi seorang aktor terkenal seperti sekarang. 

Buat penikmat musik mungkin bakal mikir, kok film ini judulnya seperti judul lagunya The Blue Hearts? Ya, memang benar, Linda Linda Linda adalah lagu dari band Jepang The Blue Hearts. Dan lagu tersebutlah yang akan dimainkan oleh Paran Maum (The Blue Hearts dalam bahasa Korea), band besutan Kei dkk dalam film ini. Kalau mau dengar Bae Doo-na nyanyi (dan ternyata suaranya cukup bagus), ayo segera tonton film Linda Linda Linda. Tambahan info, Paran Maum juga merilis CD single mereka beserta album OST Linda Linda Linda yang digarap oleh James Iha, gitaris The Smashing Pumpkins. Finally, saya sangat merekomendasikan film Linda Linda Linda untuk anda semua, terutama untuk yang tidak menyukai film remaja klise yang basi. 






Title: Linda Linda Linda | Genre: Drama, Music, Teen, Comedy | Director: Nobuhiro Yamashita | Music: James Iha, The Blue Hearts, Base Ball Bear, Shione Yukawa | Release dates: July 23, 2005 | Running time: 114 minutes | Language: Japanese | Cast: Bae Doona, Aki Maeda, Yu Kashii, Shiori Sekine, Kenichi Matsuyama, Keisuke Koide | IMDb | Rotten Tomatoes







May 17, 2015

Kiki's Delivery Service | Majo no Takkyubin (2014)


Kiki's Delivery Service (2014)





Kiki (Fuka Koshiba) seorang penyihir muda berusia 13 tahun, harus meninggalkan rumah selama setahun demi menjalani pelatihan untuk menjadi penyihir yang sesungguhnya. Kiki pun berkelana bersama kucingnya, Jiji untuk menemukan kehidupan baru. Perjalanannya berakhir di sebuah pesisir kota dimana dia diberi tempat tinggal oleh pasangan suami istri penjual roti yang baik hati, Osono (Machiko Ono) dan Fukuo (Hiroshi Yamamoto). Karena terbang adalah satu-satunya kekuatan sihir yang dia miliki, maka Kiki memutuskan untuk membuka layanan pengiriman melalui udara. 

Kiki's Delivery Service. Sebagian dari anda pasti pernah mendengar judul tersebut atau pernah membaca novelnya atau juga pernah menonton animenya. Saya sendiri baru menonton animenya yang merupakan karya apik Hayao Miyazaki dari Studio Ghibli yang terkenal tersebut beberapa waktu lalu sebelum menonton live action movienya ini. Surprisingly, I was really enjoying it. Honestly, saya kurang bisa menikmati sajian anime-anime dari Ghibli sebenarnya, seperti Spirited Away atau Howl's Moving Castle, namun untuk Kiki's Delivery Service, saya menyukainya. Itulah mengapa saya ingin juga menonton live action movienya ini. Cuma pengen tahu aja sebenarnya, gimana, sih jadinya kalo anime terkenal Kiki Delivery Service dibuat ke dalam bentuk live action movie? Dan hasilnya adalah... bad! so bad! Alur ceritanya sama sekali beda, dengan modifikasi di sana-sini. No problem, sih sebenarnya tapi saya pribadi sedikit kecewa karena beberapa karakter favorit saya di anime tidak ditampilkan di live actionnya; salah satunya karakter Ursula.

Script film yang berdasarkan novel karangan Eiko Kadono yang diterbitkan tahun 1985 silam dengan judul yang sama ini memang berbeda dengan versi animenya. Script versi animenya memang dibuat sendiri oleh Hayao Miyazaki. Namun begitu, versi live actionnya ini masih terasa kental dengan racikan ala Miyazaki di beberapa scene. Okay, script yang berbeda tersebut harusnya menjadikan kesegaran baru untuk film ini, namun entah kenapa hal tersebut malah jadi gagal. Apalagi tak bisa dipungkiri bahwa sepanjang film berlangsung, saya terus bertanya-tanya "adegan yang ini (di anime), adegan yang itu mana, ya? Kok nggak ada?" Bagaimana pun juga, versi live actionnya ini pasti akan selalu dibandingkan dengan versi animenya yang fenomenal tersebut. Perubahan bukan hanya pada plot ceritanya saja tapi juga adanya penambahan dan pengurangan karakter dan perubahan setting. Berbicara soal settingnya, ini yang saya suka. Settingnya memang sedikit beda dengan versi animenya; lebih terkesan seperti di Jepang dari pada di Eropa, tapi itu tak masalah karena mungkin terbatas pada budget juga. Tapi adegan paling fenomenal seperti pesawat zeppelin di animenya terpaksa tidak ditampilkan di sini. Namun begitu, saya suka dengan gambaran beberapa tempat yang terlihat mirip dengan animenya, seperti area rumah Osono contohnya. Tapi hal yang paling fatal dan membuat live actionnya ini terkesan buruk adalah visual efeectnya yang sangat sangat buruk untuk kategori jaman sekarang. Everything looks fake. Yang paling parah tentu saja CGI pada bayi kuda nil. Ough!

Film ini semakin jelek lagi karena akting pemainnya juga, terutama Fuka Koshiba yang berperan sebagai Kiki. Koshiba terlihat belum sepenuhnya mengeksplore kemampuannya. Karakter Kiki di sini terlihat sangat tidak loveable seperti karakter di animenya. Jutek, kurang percaya diri, gampang ngambek dan mudah menyerah. I have no sympathy at all for the character. Selain itu Koshiba juga terlihat terlalu tua untuk peran Kiki yang berusia 13 tahun. Ryohei Hirota sedikit lebih baik memerankan karakter Tombo. Machiko Ono is just so so. I have no idea why her acting is not good as usual; flat. Seems like she fails to play Osono's role. Dan yang sangat mengganggu adalah adanya karakter Nazuru (diperankan oleh Hirofumi Arai), si penjaga kebun binatang yang annoying dan teriak-teriak melulu. Justru yang mencuri perhatian adalah kemunculan Tadanobu Asano sebagai cameo yang hanya sebentar tersebut.

Well, jika membandingkan live actionnya ini dengan animenya memang terlihat kurang fair ya?! Namun mau bagaimana lagi, suatu adaptasi apapun pastilah selalu akan dibanding-bandingkan. Dan jika anda mengharapkan sesuatu yang fantastis dari live actionnya ini seperti versi animenya, anda akan sangat kecewa seperti saya. Namun jika anda hanya ingin menikmati suatu tontonan yang bisa ditonton oleh seluruh keluarga, film ini bisa anda coba.






Title: Kiki's Delivery Service / Majo no Takkyubin | Genre: Fantasy | Based on Kiki's Delivery Service by Eiko Kadono | Director: Takashi Shimizu | Music by Taro Iwashiro | Cinematography Sohei Tanikawa | Release date: March 1, 2014 (Japan) | Running time: 108 minutes | Country: Japan | Language: Japanese | Cast: Fūka Koshiba, Ryōhei Hirota, Machiko Ono, Hiroshi Yamamoto,  | IMDb
















January 08, 2015

Afro Tanaka | Afuro Tanaka (2012)


Afro Tanaka (2012) 





Tanaka Hiroshi (Matsuda Shota) memiliki gaya rambut afro yang menjadi tren di tahun 1970-an. Dia sama sekali tidak pernah mengubah gaya rambutnya menjadi model afro, melainkan memang terlahir dengan model rambut seperti itu. Memiliki gaya rambut yang berbeda dari kebanyakan orang, membuat Tanaka sering di-bully semasa kecil. Namun Tanaka yakin bahwa rambutnya tersebut membawa keberuntungan baginya. Suatu hari, Tanaka dan teman-temannya membuat kesepakatan bahwa mereka akan bertemu lagi beberapa tahun kemudian dengan membawa pasangan mereka masing-masing. Namun, di usia yang telah menginjak 24 tahun, Tanaka masih berjuang dengan pekerjaannya, belum mendapatkan pasangan dan masih perjaka. Tekanan yang dirasakannya semakin berat ketika salah satu teman sekolahnya mengundangnya datang ke pesta pernikahannya. Tidak ingin dipermalukan teman-temannya, Tanaka pun bertekad untuk mendapatkan kekasih. Dapatkah ke-afro-annya menyelamatkannya dari situasi yang sulit?

Afuro Tanaka adalah sebuah film yang diangkat dari manga karya Masaharu Noritsuke. Saya sebenarnya tidak begitu tertarik untuk menonton film ini jika bukan karena saran salah seorang teman ketika saya menanyakan film komedi. Dan hasilnya, saya kurang bisa menikmati film ini. Entah karena terlalu komikal atau apa, saya tidak begitu bisa menangkap humornya. Jarang sekali saya tertawa (padahal teman saya yang merekomndasikan film ini mengatakan bahwa dia sampai tertawa terbahak-bahak). Namun ada satu-dua adegan yang berhasil membuat saya tertawa keras, yaitu adegan ketika teman-teman Tanaka datang ke apartemennya dan adegan ketika pesta pernikahan teman Tanaka dimana dia memberikan kata sambutan. Selain itu ada beberapa bagian yang memorable dan mungkin sedikit menggelitik, seperti ketika Tanaka mendapat pesan singkat melalui ponselnya dari gadis yang disukainya, bagaimana sikapnya kala itu, kecanggungannya berhadapan dengan makhluk yang bernama perempuan, terasa lucu dan menarik. Mungkin kita sendiri pernah mengalami hal yang sama seperti Tanaka, sehingga setidaknya mampu membuat kita tersenyum kala menyaksikan adegan tersebut. Namun sisanya, hanya membuat saya nyengir. Yeah, entah kenapa film ini terasa flat ceritanya bagi saya. Tak ayal beberapa scene yang seharusnya bisa membuat minimal tersenyum, malah terasa fail; then I said "what's the hell is going on?"Ah, Mungkinkah saya yang tidak punya sense of humor? Ataukah sense of humor saya hilang?. Selain itu saya juga merasa bosan dan nyaris mengantuk dengan durasinya yang terlalu lama dan pacenya yang super lambat. Seandainya durasinya tidak selama ini, pasti lebih menarik. Banyak adegan yang menurut saya tidak begitu penting dan terkesan seperti mencomot adegan di manganya; sepertinya begitu (saya belum membaca manganya).

Matsuda Shota lagi-lagi memainkan karakter yang mirip-mirip karakter yang pernah dimainkannya sebelumnya; padahal dia sebenarnya cukup bertalenta. Kemampuan aktingnya terasa kurang tereksplor dengan baik lewat perannya disini. Walau begitu, tak bisa disangkal memang karakter Tanaka-lah yang memang mencuri paling banyak perhatian dibanding karakter lainnya yang terkesan hanya sebagai pemanis semata. Seperti karakter Kato Aya yang diperankan Sasaki Nozomi yang terkesan numpang lewat dan terlupakan begitu saja ketika film selesai. Kecantikan Nozomi mungkin memang menarik mata para kaum adam, namun tak begitu dengan aktingnya yang terkesan biasa saja. Padahal harusnya bisa 'wah' terutama di bagian endingnya. Selain itu, pemilihan para supporting casts-nya juga kurang tepat. Memang, sih ini film komedi tapi nggak ada salahnya juga, kan kalau memilih para aktor yang rada gantengan dikit untuk karakter teman-teman Tanaka. Ini keliatan banget cuma Tanaka doang yang ganteng. Yeah, at least dengan begitu akan menambah sedikit nilai plus untuk film ini, selain menarik minat penonton yang mungkin mau mencoba mencicipi film Jepang. Kenapa saya bilang begitu? Lihat saja film-film dari asia lainnya seperti Korea misalnya, kebanyakan pasti memakai aktor yang bertampang ganteng sehingga banyak yang menonton film Korea walaupun mungkin ceritanya jelek. Lagipula, kadang saya bosan dengar pendapat orang yang tiap kali saya suruh mencicipi film Jepang, mereka selalu mengatakan seperti ini: "Malas, ah.. pemainnya nggak ganteng!" *wtf.

Walau memiliki kekurangan disana-sini, tapi saya suka dengan tema persahabatan dalam film ini. Malah justru cerita tentang persahabatannya terasa lebih kental dibanding cerita tentang cintanya sendiri. Namun sayangnya, walau disajikan dengan humor supaya lebih mudah dicerna jalan ceritanya. Afro Tanaka adalah film yang akan langsung terlupakan begitu saja ketika selesai menontonnya.









Title: Afro Tanaka / Afuro Tanaka / アフロ田中 | Genre: Comedy | Director: Matsui Daigo | Release Date: February 18, 2012 | Running Time:  114 minutes | Country: Japan | Language: Japanese |  Cast: Matsuda Shota, Sasaki Nozomi, Tanaka Kei, Tsutsumishita Atsushi, Endo Kaname, Komakine Ryusuke, Hara Mikie, Franky Lily | IMDb



 




















December 15, 2014

Midnight Sun | Taiyou No Uta (2006)



Midnight Sun (2006)




(Maybe) Contain Spoiler!
Waktu awal-awal saya kecanduan internet sekitar 7-8 tahun lalu, saya pun mengenal sosok seorang penyanyi Jepang bernama Yui. Dari situ saya pun mengetahui bahwa dia pernah main film berjudul Taiyou no Uta. Waktu itu saya ingin sekali menonton film tersebut tetapi karena ketidaktahuan saya cara mendownload dan susah mencari DVD-nya, maka baru sekarang saya bisa menikmati film tersebut ketika saya kecanduan menonton film lagi setelah vakum lama. Jadi, inilah review singkat saya setelah saya berhasil menonton film berjudul Taiyou no Uta.

Taiyou no Uta yang diartikan Lagu Matahari ini berkisah tentang Kaoru Amane (Yui) yang menderita penyakit Xeroderma Pigmentosum (XP), suatu penyakit yang membuatnya tidak bisa terkena sinar matahari sehingga aktivitasnya nyaris semua dilakukan di malam hari. Kaoru bahkan tidak bersekolah dan teman satu-satunya hanyalah Misaki (Airi Toriyama). Pada malam hari biasanya Kaoru bermain gitar dan menciptakan lagu di sebuah taman. Sedangkan pada siang hari dia justru tidur. Hidupnya benar-benar berbeda seperti kebanyakan orang normal lainnya. Kegemaran lain Kaoru adalah menatap sekeliling melalui jendela kamarnya di lantai dua. Dari situlah dia melihat dunia luar yang tak bisa dirasakannya pada siang hari. Suatu hari ketika melihat ke luar lewat jendela kamarnya, pandangan Kaoru tertuju pada seorang pemuda di halte depan rumahnya. Kaoru seketika jatuh hati pada pemuda yang ternyata bernama Koji Fujishiro (Takashi Tsukamoto) tersebut. Akhirnya Kaoru nekat memperkenalkan dirinya sendiri pada Koji. Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah perasaan Kaoru akan terbalas?

Baiklah, complain pertama saya adalah durasinya terlalu lama, 119 menit. Paruh waktu pertama memang enjoy banget nontonnya tapi paruh waktu kedua, saya sempat ketiduran sebentar karena ceritanya mulai terasa cheesy. Dan seperti film dengan tema sama dimana karakter utamanya terkena penyakit mematikan, kita pun pasti sudah tahu seperti apa nantinya yang bakal terjadi pada karakter tersebut. Tapi, ini bukanlah film melodrama buatan Korea yang setiap adegannya pasti dibumbui adegan tear-jerking (yang membuat saya kadang jadi ngantuk menontonnya) dan karakter utamanya pasti terlihat sangat menyedihkan, Taiyou no Uta terlihat lebih realistis. Bahkan karakter Kaoru sekalipun tak terlihat menyedihkan atau harus dikasihani. Semangat pantang menyerahnya serasa menghidupkan suasana dalam film ini (dan ini juga yang membuat saya suka dengan film-film Jepang yang minim melodrama dan lebih menonjolkan semangat pantang menyerah).  Walaupun ada kalanya terlihat karakter Kaoru juga hopeless tapi saya rasa hal itu wajar. Toh, pada akhirnya dia bersemangat lagi untuk mewujudkan impiannya.

Yui yang berperan sebagai Kaoru masih terlihat belum sepenuhnya total berakting. Sesekali terlihat dia malu-malu atau kikuk di depan kamera. Akting kerennya baru terlihat ketika dia beradegan memetik gitar dan menyanyi. Dan sepertinya Yui menyadari bahwa dirinya memang tidak bisa berakting. Saya pernah membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa dia tidak akan pernah main film lagi dan Taiyou no Uta akan menjadi satu-satunya film yang dia bintangi. Keputusan yang bagus, Yui! Tetapi saya lupa tahun berapa saya membaca artikel tersebut karena setelah mengecek info tentang Yui, saya mendapati bahwa dia pernah menjadi bintang tamu dalam dorama Kaito Royale (2011). Melihat karakter Kaoru di sini sepertinya memang dibuat sesuai dengan diri Yui yang sebenarnya yang memang pemalu. Dan karakter Kaoru yang pemalu tersebut ternyata bisa nekat juga memperkenalkan  dirinya sendiri pada Koji. "Amane Kaoru desu! 16sai desu! Kareshi wa imasen!" ("I'm Amane Kaoru. I'm sixteen. I dont have a boyfriend."). Itulah kata-kata yang dilontarkan Kaoru pada Koji ketika memperkenalkan dirinya. Dan adegan tersebut sangat lucu dan menghibur. Sepertinya apa yang dilakukan Kaoru tersebut bisa jadi referensi juga buat berkenalan dengan para lelaki, nih! ^^

Kendati Yui sebagai pemain utama dalam film ini, namun saya menilai faktor pemain pendukungnyalah yang justru berhasil menghidupkan cerita dalam film ini. Takashi Tsukamoto yang berperan sebagai Koji salah satunya. Takashi Tsukamoto memang spesialis peran-peran yang lucu dan rada bego kayak Koji ini. Dan saya sedih dia selalu kebagian peran seperti itu terus padahal dia punya potensi yang cukup bagus dalam mengembangkan aktingnya  :(. Ah, sebenarnya alasan utama saya menonton film ini juga karena ingin melihat Takashi Tsukamoto. Karakter Koji memang sangat menyenangkan dan loveable sehingga beberapa kali tercipta momen-momen lucu yang bisa membuat saya tersenyum melihatnya. Selain Takashi, Goro Kishitani dan Kuniko Asagi yang berperan sebagai orang tua Kaoru juga bermain bagus. Terutama Goro Kishitani, saya suka karakter yang dimainkan disini. Tak ketinggalan Airi Toriyama yang juga bermain lumayan bagus.

Ya, walaupun beberapa karakternya saya suka dan tema pantang menyerahnya bagus, tapi sayangnya saya memang tidak menikmati film ini sama sekali. Yeah, mungkin karena genrenya juga, sih! Jika saya menontonnya pada tahun film ini tayang, pasti saya yakin saya akan mengatakan bahwa film ini bagus dan recommended. Tapi sayangnya, saya menontonnya delapan tahun kemudian, sehingga saya sudah bosan dengan formula chessy yang terdapat dalam film ini. Begitu pun film ini tetap saya rekomendasikan untuk pecinta film romance dan tentu saja bagi Yui-lover. Bonusnya, Yui menyanyikan tiga buah lagunya di film ini yaitu Skyline, It's Happy Line dan Good-bye Days.




Title: Taiyou no Uta / Midnight Sun / A Song to the Sun / タイヨウのうた | Genre: Romance, Drama | Director: Norihiro Koizumi | Music: Yui | Release dates: June 17, 2006 | Running time: 119 min. | Language: Japanese | Cast: Yui, Takashi Tsukamoto, Kuniko Asagi, Goro Kishitani, Sogen Tanaka, Airi Toyama | IMDb










November 03, 2014

Tamako in Moratorium | Moratoriamu Tamako (2013)

Tamako in Moratorium (2013)







Tamako (Maeda Atsuko) yang baru lulus kuliah di Tokyo kembali ke kampung halamannya di Kofu. Dia hanya tinggal berdua dengan ayahnya (Kan Suon) yang mengelola toko olahraga. Bukannya melamar pekerjaan atau membantu sang ayah menjaga toko, Tamako malah menghabiskan waktunya di rumah dengan makan, tidur, menonton televisi, membaca manga dan bermain video games setiap harinya hingga empat musim berlalu begitu saja. 

Bagaimana? Kedengarannya premisnya tidak menarik sama sekali?  Apalagi sesuai judulnya, film ini memang menggambarkan 'moratorium' seorang Tamako yang tampak tidak tertarik sama sekali dengan kehidupan normal seperti yang dijalani oleh gadis seumurannya. Dan memang, untuk sebagian bahkan kebanyakan orang, film ini memang tidak menarik bahkan cenderung membosankan. Pacenya pun lambat seperti kebanyakan film Jepang lainnya. Selain itu nyaris tak ada hal yang benar-benar spesial dari film ini karena kita hanya disuguhkan kehidupan Tamako dalam 'moratoriumnya'. Namun, saya pribadi entah kenapa justru menyukai film ini. Yang pertama kali terlintas di benak saya ketika menonton film ini adalah: "wah.. ini aku banget, nih ceritanya!" Ya, kisah Tamako ini memang sedang ku alami sendiri saat ini. Saya jadi tambah semangat nontonnya. Apalagi durasinya pun tidak lama, hanya 78 menit. Selain kisahnya yang 'aku banget' ini, saya suka sekali dengan alurnya, settingnya, dan pace filmnya sendiri. Padahal pace lambat seperti ini biasanya membosankan buat saya, tapi kali ini entah kenapa saya malah sangat enjoy menontonnya. Mungkin juga karena seperti sedang menyaksikan sendiri kisah saya dalam film tersebut.

Selain kisah Tamako sendiri yang dibahas, film ini juga menyajikan kisah hubungan ayah-anak. Interaksi keduanya terkesan agak kaku dan sedikit aneh, tapi saya justru menyukainya. Karakter ayahnya yang terlihat sesekali mengomel dan marah karena kelakuan Tamako, sebenarnya sangat baik dan perhatian. Saya sedikit paham kenapa sang ayah juga terlihat masa bodoh melihat kelakuan 'ajaib' Tamako. Keduanya bahkan sebenarnya saling melengkapi satu sama lain hanya tidak disadari oleh keduanya. Selain karakter Tamako dan ayahnya, ada juga karakter lainnya seperti Hitoshi (Ito Seiya), anak SMP yang merupakan satu-satunya teman Tamako. Lucu juga melihat pertemanan keduanya. Lalu ada juga seorang wanita yang akan dijodohkan dengan ayahnya. Nah, disinilah justru terjadi momen-momen awkward yang lucu. Namun, dari sinilah terungkap perasaan yang sebenarnya antara Tamako dan ayahnya.

Tadinya sedikit meragukan Maeda Atsuko, tetapi setelah menonton film ini saya merasa dia sebenarnya bisa berakting dengan baik, hanya perlu diasah lagi supaya menjadi semakin baik. Dengan tampangnya yang terlihat 'jutek dan judes' tersebut, malah menambah nilai plus dirinya sebagai Tamako. Maeda berhasil memerankan karakter Tamako yang tak bergairah hidup ini dengan sangat baik. Kan Suon yang berperan sebagai ayah Tamako juga sangat bagus aktingnya. Chemistry yang diciptakannya dengan Maeda juga sangat baik. Terlihat jelas bahwa karakter Tamako dan ayahnya mempunyai ikatan yang kuat walaupun interaksi antar keduanya sangat jarang dan canggung.

Ya, Tamako in Moratorium ini seperti menggambarkan kehidupan para NEET (Not in Education, Employment, Training) yang semakin menjamur di Jepang sana. Hal tersebut tentu menjadi masalah yang cukup krusial bagi negara maju seperti Jepang. Mungkin kalau di negara kita, banyak ditemukan kasus seperti Tamako ini. Selain itu, mungkin juga film ini sebagai gambaran seseorang yang sama sekali tidak ingin memasuki dunia 'dewasa' (adulthood) dan masih asik menikmati masa-masa tanpa tanggung jawab besar. Sayang, tak ada solusi yang diberikan oleh sang scriptwriternya. Penonton dibiarkan mengambil jalannya sendiri atas permasalahan yang mungkin dialami seperti Tamako ini. Secara konsep cerita - terutama sesuai judulnya - memang harusnya begitu, tetapi alangkah lebih baik lagi jika diberikan alternatif solusi segala permasalahan yang ada. Saya sendiri memang mendapat sedikit pencerahan setelah menonton film ini tapi saya sebenarnya mengharapkan sekali adanya jalan keluar dari kebuntuan ini.






Title: Moratoriamu Tamako / Tamako in Moratorium / もらとりあむタマ子 | Genre: Slice of Life, Drama  | Director: Nobuhiro Yamashita | Release dates: October 2013 (Busan International Film Festival), November 23, 2013 (Japan) | Running time: 78 minutes | Country: Japan | Language: Japanese | Cast: Atsuko Maeda, Kan Suon, Ito Seiya, Tomika Yasuko | IMDb


 



October 24, 2014

Judge! | Jajji! (2014)



Judge! (2014)


"I want to make ads that make everyone happy.”




Setelah disalahkan karena iklan buatannya gagal, Ota Kiichiro (Tsumabuki Satoshi) disuruh bosnya yang arogan Otaki Ichiro (Toyokawa Etsushi) untuk menggantikannya menjadi juri di kompetisi iklan terbesar di dunia di Santa Monica. Dia diancam akan dipecat jika tidak berhasil memjadikan iklan buatan seorang putra dari investor kaya menang dalam kompetisi tersebut. Ota yang sama sekali tidak fasih berbahasa Inggris, berguru pada seorang karyawan veteran di perusahaannya, Kagami (Franky Lily). Ditemani rekan kerjanya, Hikari (Kitagawa Keiko), Ota pun berangkat ke California.

Alasan utama menonton film ini karena Tsumabuki Satoshi. Alasan kedua karena genrenya komedi. Sisanya, I don't really care! Ya, saya memang lagi ingin menonton film komedi karena ternyata belakangan ini nyaris tak pernah menonton genre tersebut. Nah, untuk ukuran sebuah film komedi, menurut saya film ini cukup lucu juga! At least, saya berhasil ketawa ngakak di beberapa adegannya. Komedi yang ditampilkan disini merupakan percampuran dari lelucon konyol, sindiran, satir, culture clash, dan slapstick. Salah satunya bisa terlihat dari adegan yang menunjukkan stereotypes orang asing tentang orang Jepang itu sendiri seperti karate, geisha dan otaku. Kalau dari alur ceritanya sendiri, sih udah ketebak banget - apalagi endingnya. Tapi namanya juga komedi, ya maklum ajalah! Toh, poin utama sebuah film komedi, kan harus berhasil membuat penontonnya tertawa, dan saya rasa film ini berhasil (setidaknya pada diri saya).

Karakter Ota Kiichiro sendiri udah cukup bikin ketawa. Ditambah lagi karakter bossnya, Kagami yang eksentrik dan tentu saja beberapa juri festival iklannya terutama juri dari Thailand yang bahkan wajahnya saja sudah sukses mengundang ketawa; persis seperti wajah yang sering dijadiin bulan-bulanan di sosmed atau forum dalam negeri. Otomatis akting Tsumabuki Satoshi berhasil memerankan Ota karena jika karakternya sendiri nggak berhasil mengundang tawa (saya), maka saya anggap dia gagal. Namun, Ota bukanlah karakter favorit saya disini. Kagami-lah yang sangat sukses membuat saya terpingkal-pingkal dengan kelakuan dan saran anehnya untuk Ota. Karakter Kagami yang eksentrik tersebut memang menjadi karakter yang akan sulit dilupakan. Dan karakter tersebut dimainkan dengan sangat apik oleh om Franky Lily. Om yang satu ini entah kenapa kalau main film, biasanya pasti filmnya bagus dan aktingnya selalu berkesan. Tapi bukan hanya karakter Kagami saja yang saya suka. Saya juga suka dengan karakter boss Ota, Ichiro Otaki yang minimal sukses bikin senyum-senyum. Paling suka adegan waktu dia berpura-pura jadi voice mail. Dan seperti halnya Franky Lily, Toyokawa Etsushi pun bermain dengan sangat cemerlang di sini. Sayang, porsi kedua aktor hebat tersebut tidak begitu banyak.

Penampilan lainnya yang juga cukup bagus ditampilkan oleh Suzuki Kyota, Arakawa YosiYosi, aktor veteran Amerika James C. Burns, dan komedian Australia Chad Mullane. Tak ketinggalan beberapa cameo yang juga cukup mencuri perhatian seperti Denden, Ryo Kase dan Takenata Naoto. Sayangnya, Kitagawa Keiko yang harusnya impresif malah keliatan flat di mata saya. Aktingnya tak ada kemajuan dari dulu. Bahkan saya sama sekali tidak merasakan adanya chemisty antara Keiko dan Satoshi (entah siapa yang salah dalam hal chemistry ini!). Poin plusnya hanyalah pronounciation-nya yang terdengar fasih mengucapkan kalimat dalam bahasa Inggris. Tapi bagi saya bonus lainnya selain bisa melihat wajah kakkoi (tampan) seorang Tsumabuki Satoshi, saya juga dapat kejutan menyaksikan penampilan si kakkoi Tamayama Tetsuji; walau perannya sedikit. Lumayan bisa cuci mata!.

Oh, ya iklan yang ditampilkan dalam film ini sayangnya nggak ditampilkan secara utuh - kecuali iklan dari perwakilan jepang sendiri - padahal keliatannya iklan-iklan tersebut menarik (walaupun ada juga beberapa yang terlihat berlebihan dan maksa). Dan sepertinya iklan-iklan yang ditampilkan dalam film ini sengaja dibuat khusus hanya untuk film ini. Walau pun begitu, iklan toyotanya sendiri cukup unik dan menarik menurut saya (bukan promosi, loh!). Dan satu hal yang saya dapat dari film ini bahwa ternyata industri periklanan tak beda dengan lainnya, dimana orang-orang yang terlibat di dalamnya bisa saling menikam satu sama lain; lawan menjadi kawan begitu juga sebaliknya. Akhirnya, buat yang lagi banyak tugas, stress, galau, putus cinta dan butuh tontonan ringan dan segar, mungkin bisa mencoba untuk menonton film ini. Minimal bisa tersenyum dikitlah dan syukur-syukur bisa tertawa dan terhibur menonton film Judge! ini. Nyaa.. nyaa...






Title: Jajji! / ジャッジ!/Judge! | Genre: Comedy | Director: Akira Nagai | Running Time: 105 minutes  | Country: Japan | Language: Japanese | Cast: Tsumabuki Satoshi, Kitagawa Keiko, Franky Lily,  Suzuki Kyoka, Toyokawa Etsushi, Arakawa YosiYosi, Tamayama Tetsuji, Kase Ryo, Denden, Takenaka Naoto  | IMDb














Translate

Waiting Lists

Sur mes lèvres.jpg Dark, brown-tinted and horror-themed image of a man in an asbestos-removal suit (to the right side of the poster), with an image of a chair (in the middle of the image) and an image of a large castle-like building at the top of the image. The text "Session 9" is emboldened in white text in the middle of the image, and near the bottom of the image is written, "Fear is a place." Lisbeth Salander with Mikael Blomkvist The Girl Who Played with Fire.jpg Page turner.jpg Le trou becker poster3.jpg Nightwatch-1994-poster.jpg Headhunter poster.jpg On the Job Philippine theatrical poster.jpg The Song of Sparrows, 2008 film.jpg The-vanishing-1988-poster.jpg Three Monkeys VideoCover.png