Showing posts with label 2014. Show all posts
Showing posts with label 2014. Show all posts

May 17, 2015

Kiki's Delivery Service | Majo no Takkyubin (2014)


Kiki's Delivery Service (2014)





Kiki (Fuka Koshiba) seorang penyihir muda berusia 13 tahun, harus meninggalkan rumah selama setahun demi menjalani pelatihan untuk menjadi penyihir yang sesungguhnya. Kiki pun berkelana bersama kucingnya, Jiji untuk menemukan kehidupan baru. Perjalanannya berakhir di sebuah pesisir kota dimana dia diberi tempat tinggal oleh pasangan suami istri penjual roti yang baik hati, Osono (Machiko Ono) dan Fukuo (Hiroshi Yamamoto). Karena terbang adalah satu-satunya kekuatan sihir yang dia miliki, maka Kiki memutuskan untuk membuka layanan pengiriman melalui udara. 

Kiki's Delivery Service. Sebagian dari anda pasti pernah mendengar judul tersebut atau pernah membaca novelnya atau juga pernah menonton animenya. Saya sendiri baru menonton animenya yang merupakan karya apik Hayao Miyazaki dari Studio Ghibli yang terkenal tersebut beberapa waktu lalu sebelum menonton live action movienya ini. Surprisingly, I was really enjoying it. Honestly, saya kurang bisa menikmati sajian anime-anime dari Ghibli sebenarnya, seperti Spirited Away atau Howl's Moving Castle, namun untuk Kiki's Delivery Service, saya menyukainya. Itulah mengapa saya ingin juga menonton live action movienya ini. Cuma pengen tahu aja sebenarnya, gimana, sih jadinya kalo anime terkenal Kiki Delivery Service dibuat ke dalam bentuk live action movie? Dan hasilnya adalah... bad! so bad! Alur ceritanya sama sekali beda, dengan modifikasi di sana-sini. No problem, sih sebenarnya tapi saya pribadi sedikit kecewa karena beberapa karakter favorit saya di anime tidak ditampilkan di live actionnya; salah satunya karakter Ursula.

Script film yang berdasarkan novel karangan Eiko Kadono yang diterbitkan tahun 1985 silam dengan judul yang sama ini memang berbeda dengan versi animenya. Script versi animenya memang dibuat sendiri oleh Hayao Miyazaki. Namun begitu, versi live actionnya ini masih terasa kental dengan racikan ala Miyazaki di beberapa scene. Okay, script yang berbeda tersebut harusnya menjadikan kesegaran baru untuk film ini, namun entah kenapa hal tersebut malah jadi gagal. Apalagi tak bisa dipungkiri bahwa sepanjang film berlangsung, saya terus bertanya-tanya "adegan yang ini (di anime), adegan yang itu mana, ya? Kok nggak ada?" Bagaimana pun juga, versi live actionnya ini pasti akan selalu dibandingkan dengan versi animenya yang fenomenal tersebut. Perubahan bukan hanya pada plot ceritanya saja tapi juga adanya penambahan dan pengurangan karakter dan perubahan setting. Berbicara soal settingnya, ini yang saya suka. Settingnya memang sedikit beda dengan versi animenya; lebih terkesan seperti di Jepang dari pada di Eropa, tapi itu tak masalah karena mungkin terbatas pada budget juga. Tapi adegan paling fenomenal seperti pesawat zeppelin di animenya terpaksa tidak ditampilkan di sini. Namun begitu, saya suka dengan gambaran beberapa tempat yang terlihat mirip dengan animenya, seperti area rumah Osono contohnya. Tapi hal yang paling fatal dan membuat live actionnya ini terkesan buruk adalah visual efeectnya yang sangat sangat buruk untuk kategori jaman sekarang. Everything looks fake. Yang paling parah tentu saja CGI pada bayi kuda nil. Ough!

Film ini semakin jelek lagi karena akting pemainnya juga, terutama Fuka Koshiba yang berperan sebagai Kiki. Koshiba terlihat belum sepenuhnya mengeksplore kemampuannya. Karakter Kiki di sini terlihat sangat tidak loveable seperti karakter di animenya. Jutek, kurang percaya diri, gampang ngambek dan mudah menyerah. I have no sympathy at all for the character. Selain itu Koshiba juga terlihat terlalu tua untuk peran Kiki yang berusia 13 tahun. Ryohei Hirota sedikit lebih baik memerankan karakter Tombo. Machiko Ono is just so so. I have no idea why her acting is not good as usual; flat. Seems like she fails to play Osono's role. Dan yang sangat mengganggu adalah adanya karakter Nazuru (diperankan oleh Hirofumi Arai), si penjaga kebun binatang yang annoying dan teriak-teriak melulu. Justru yang mencuri perhatian adalah kemunculan Tadanobu Asano sebagai cameo yang hanya sebentar tersebut.

Well, jika membandingkan live actionnya ini dengan animenya memang terlihat kurang fair ya?! Namun mau bagaimana lagi, suatu adaptasi apapun pastilah selalu akan dibanding-bandingkan. Dan jika anda mengharapkan sesuatu yang fantastis dari live actionnya ini seperti versi animenya, anda akan sangat kecewa seperti saya. Namun jika anda hanya ingin menikmati suatu tontonan yang bisa ditonton oleh seluruh keluarga, film ini bisa anda coba.






Title: Kiki's Delivery Service / Majo no Takkyubin | Genre: Fantasy | Based on Kiki's Delivery Service by Eiko Kadono | Director: Takashi Shimizu | Music by Taro Iwashiro | Cinematography Sohei Tanikawa | Release date: March 1, 2014 (Japan) | Running time: 108 minutes | Country: Japan | Language: Japanese | Cast: Fūka Koshiba, Ryōhei Hirota, Machiko Ono, Hiroshi Yamamoto,  | IMDb
















May 06, 2015

A Girl Walks Home Alone At Night (2014)

A Girl Walks Home Alone At Night (2014)





Arash (Arash Marandi), seorang pemuda yang sangat bangga bisa membeli mobil dari hasil kerjanya selama 2.191 hari. Namun suatu hari mobilnya tersebut diambil paksa oleh Saeed (Dominic Rains) sebagai pengganti utang ayah Arash yang seorang pecandu narkoba, Hossein (Marshall Manesh). Saeed lalu memamerkan mobil tersebut pada Atti (Mozhan Marno), a lonely prostitute. Tanpa disadari oleh mereka berdua, seorang gadis (Sheila Vand) memperhatikan gerak-gerik mereka dari kejauhan di tengah malam di sebuah kota berhantu yang bernama Bad City tersebut. 

A Girl Walks Home Alone at Night merupakan besutan sutradara Ana Lily Amirpour, seorang perempuan berdarah Amerika-Iran yang dibuat berdasarkan graphic novel dengan judul yang sama karangan Amirpour sendiri. Mengusung genre bertema vampire yang notabene sudah sangat sering diangkat ke layar kaca, tentulah yang menjadi tanda tanya besar adalah apa yang bisa disajikan lebih oleh film ini sehingga tentunya formula membosankan khas vampire tidak akan terulang lagi? Sebaiknya anda menontonnya sendiri, namun saya bisa memastikan bahwa  A Girl Walks Home Alone at Night mampu keluar dari zona membosankan tersebut dan membuat sesuatu yang baru dan fresh. For your information, I don't really like watching vampire movie actually, but I have no idea why I really enjoy watching this movie. Mungkin salah satunya karena mixture yang ada, vampire Iran dengan budaya Iran dibalut dengan cita rasa western menjadikannya kombinasi unik. Namun jangan salah, ini bukan film produksi Iran (saya sendiri salah duga awalnya) karena semua proses syutingnya sendiri diambil di South California, tepatnya di kota kecil Taft di Kern County. Namun karena sang sutradara memiliki darah Iran, maka ia ingin menciptakan sebuah sajian horor vampire dengan ciri khas timur tengah, seperti taglinenya “The first Iranian vampire Western”.


Yang membuat film ini semakin menarik dan terasa so much creepy adalah tampilan sinematografinya yang hitam putih, yang juga sukses menggambarkan suasana mencekam dari Bad City, suatu kota fiksi yang nyaris tanpa tanda-tanda kehidupan tersebut. Visual yang ditampilkan begitu indah dan memanjakan mata sehingga saya sangat betah melihatnya walau dalam nuansa hitam putih. Namun dengan alurnya yang bisa dibilang sedikit lambat, bagi sebagian orang akan merasa bosan terutama di paruh waktu kedua. Tapi tenang, semua akan terselamatkan dengan sajian sountracknya yang begitu asik dari Kiosk, Radio Tehran, White Lies, Federale, Farah dimana terjadi perpaduan beragam genre musik seperti electro, pop, rock alternative bahkan folk ala timur tengah. Salah satu lagu yang memorable tentu saja lagu  Death milik White Lies di salah satu scene favorit saya dalam film ini.


Penampilan Sheila Vand tentulah yang menjadikan film ini terasa memukau. Lewat karakter misteriusnya yang bahkan nama karakternya pun tidak diketahui, Sheila mampu menghipnotis penonton dengan segala gesture dan mimik yang diciptakannya. Kesan misterius, menakutkan, mengintimidasi bahkan mengancam dengan pembawaan yang sangat tenang benar-benar merasuk perlahan dalam imajinasi kita, menimbulkan sensasi horor nan creepy. Bagaimana tidak, kita bahkan tidak tahu apa motif sebenarnya dari sang vampire wanita misterius ini. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan dilakukannya, siapa yang akan menjadi incaran berikutnya dan apa yang sebenarnya ingin dia capai. Dia bagaikan momok yang sangat menakutkan bagi siapa saja yang pernah melihatnya. Penampilan ciamik lainnya juga ditampilkan oleh para pemain lainnya seperti Arash Marandi, Dominic Rains, Marshall Manesh dan Mozhan Marno yang terkenal berkat film The Stoning of Soraya M. Tak ketinggalan sang sutradara yang juga ingin eksis, Ana Lily Amirpour tampil sebagai cameo dalam film ini, sebagai party girl dengan memakai sebuah topeng.

Dengan mengusung kombinasi horor, romance, thriller ala Iran dibalut dengan spaghetti westerns, A Girl Walks Home Alone at Night merupakan sajian fresh tentang vampire - vampire wanita Iran yang cantik dan menyeramkan dengan skateboardnya - dalam atmosfir magis yang menegangkan. Namun begitu, A Girl Walks Home Alone At Night bukanlah film yang bisa dinikmati oleh semua orang. This is the art movie. For anyone who wanna watch something different about vampire genre, you have to watch this movie. 






Title: A Girl Walks Home Alone At Night | Genre: Horror, Romance, Thriller | Director: Ana Lily Amirpour | Release dates: January 20, 2014 (Sundance), November 21, 2014 (United States) | Country: United States | Language: Persian | Cast: Sheila Vand, Arash Marandi, Marshall Manesh, Dominic Rains | IMDb | Rotten Tomatoes



















April 26, 2015

Who Am I – No System Is Safe | Who Am I - Kein System ist Sicher (2014)

Who Am I - No System Is Safe (2014)





No System Is Safe.
Aim for the Impossible.
Enjoy the meat world as much as the net world.



Benjamin (Tom Schilling) adalah seorang pemuda introvert di dunia nyata, namun di dunia maya, dia adalah seorang hacker yang sangat handal. Kemampuannya dalam urusan komputer tersebut membawanya berkenalan dengan Max (Elyas M'Barek), Stephan (Wotan Wilke Möhring) dan Paul (Antoine Monot Jr.). Mereka berempat menamakan diri mereka CLAY (Clowns Laughing @ You) yang mempunyai misi untuk melakukan peretasan di sana-sini demi kesenangan dan ketenaran semata. Aksi mereka tersebut justru menarik perhatian Europol (Europe Interpol) yang dikepalai oleh Hanne Lindberg (Trine Dyrholm).

Film ini dibuka dengan adegan Benjamin yang memasuki sebuah kamar hotel dan melihat tiga orang terbunuh dengan cara mengenaskan. Lalu adegan pun berganti dengan interogasi yang dilakukan oleh Hanne Lindberg pada Benjamin terkait insiden tersebut. Di mulailah cerita flashback Benjamin tentang dirinya dan orang-orang yang berhubungan dengannya. Scene tersebut jadi mengingatkan kita pada scene di film The Usual Suspect dan Loft. Pace film ini bisa dikatakan lumayan cepat sehingga saya nggak sempat mengalami mati kebosanan menontonnya. Setelah beberapa bulan ini saya seperti kehilangan gairah menonton film dan sering sekali jarang bisa menuntaskan suatu tontonan dalam sekali tonton, kali ini saya seperti mendapatkan kembali gairah bergejolak ketika menonton film ini. Seru! Yeah, this movie is so much fun. Apalagi tema cyber-crime memang menjadi salah satu tema favorit saya. Dan kali ini saya merasakan sensasi yang dahsyat ketika menonton film ini. Tentunya juga karena it's not hollywood movie yang belakangan ini semakin membuat gairah menonton saya semakin lesu. Film-film dari benua Eropa memang selalu mendapat tempat terindah di mata saya.

Plotnya sendiri bisa dibilang cukup kompleks. Walau pada awalnya terkesan biasa saja namun seiring berjalannya waktu, ceritanya semakin menarik hingga akhirnya endingnya yang penuh dengan twist berlapis yang mampu menunjukkan bahwa film ini memang berkelas. Cerdas! Mungkin kata itu lebih tepat diberikan untuk plot cerita Who Am I - No System Is Safe ini. Bagaimana tidak, film besutan Baran bo Odar (dimana karya sebelumnya The Silence (2010) juga mampu memikat hati saya) ini sukses membuat saya terlihat so stupid karena semua tebakan saya salah dalam menebak twistnya. Odar begitu lihat memanipulasi naskah ceritanya sedemikian rupa sehingga kita sebagai penonton dibuat terpaksa menebak-nebak terus apa yang sebenarnya terjadi. Namun, memang sangat memuaskan melihat hasil akhir dari film ini yang membuat saya ternganga sepersekian detik sebelum akhirnya kata 'bravo' keluar tanpa sengaja dari mulut saya. Jadi, jika anda berpikir anda berhasil menebak twistnya di bagian menjelang akhir ceritanya, jangan senang dulu, karena mungkin saja anda akan terkecoh seperti saya. Tapi jika anda berhasil menebak twistnya, saya acungin dua jempol untuk anda. Sudah lumayan lama juga saya tidak menonton film dengan twist yang memuaskan seperti ini.

Who Am I – No System Is Safe semakin menarik karena dimainkan oleh para aktor yang tepat. Tom Schilling does the good job here! Performanya sangat tepat menggambarkan karakter Benjamin yang pemalu, kuper, outsider, invisible for everyone. Elyas M'Barek sukses melakoni perannya sebagai Max yang cool dan penakluk wanita. Wotan Wilke Möhring dan Antoine Monot Jr., walau perannya tak begitu banyak tapi sudah sangat cukup menghidupkan suasana. Lalu Trine Dyrholm yang penampilannya bagus sekali dan saya suka dengan karakternya yang tegas dan menunjukkan sosok perempuan hebat dan kuat masa kini. Namun sayangnya saya merasa Hannah Herzsprung kurang cocok dengan karakter Marie terutama karena faktor wajahnya yang terlihat sedikit lebih tua dari Tom (dan ternyata memang dari segi umur Hannah juga lebih tua setahun dari Tom).

Lewat sajian penuh aksi seru dan menegangkan serta penasaran tingkat tinggi, Who Am I – No System Is Safe wajib anda coba. Apalagi film ini ditutup dengan twist manis yang mencengangkan. And you know what, sudah bisa diprediksi Hollywood bakal meremake film ini. Oh sighhh!!






Title: Who Am I – No System Is Safe / Who Am I - Kein System ist Sicher | Genre: Thriller | Director: Baran bo Odar | Release date: 6 September 2014 (TIFF), 25 September 2014 (Germany) | Running time: 105 minutes | Country: Germany | Language: German, English | Cast: Tom Schilling, Elyas M'Barek, Hannah Herzsprung, Wotan Wilke Möhring, Antoine Monot Jr., Trine Dyrholm | IMDb













April 10, 2015

10.000 KM (2014)


10.000 KM (2014)
Long Distance








Contain Spoiler!!

Sepasang kekasih, Sergi (David Verdageur) dan Alex (Natalie Tena) yang sedang merencanakan memiliki anak, terpaksa harus menunda keinginan tersebut kembali karena Alex tiba-tiba ditawarin pekerjaan di Los Angeles. Mereka pun harus berpisah jauh; Barcelona-Los Angeles selama lebih kurang setahun. Dapatkan cinta mereka bertahan dalam jarak 10.000 km?  

Yeah, memang saat ini mood saya ingin menonton film-film Long Distance Relationship (LDR) dikarenakan saya sedang mengalaminya :). Setelah Like Crazy yang sukses mengena sekali buat saya, kali ini saya mencoba mencicipi 10.000 KM besutan Carlos Marques-Marcet. Eh, baru adegan awal malah langsung disuguhi adegan di ranjang. Terlihat bahwa Sergi dan Alex adalah pasangan yang berbahagia dan sedang berusaha untuk mendapatkan anak setelah berkali-kali gagal. Opening shotnya berlangsung dalam kurun waktu sekitar 23 menit dan setiap momen yang tercipta digarap dengan baik dan terlihat real. Pergerakan kamera terlihat mengikuti kegiatan Sergi dan Alex ketika berada di aparteman tersebut, dari satu tempat ke tempat lain; menampilkan kegiatan sehari-hari mereka di pagi hari; menggosok gigi, mandi, membaca email, hingga sarapan. Dari scene tersebut terlihat hubungan keduanya yang sangat kuat. Namun, situasi berubah menjadi complicated ketika Alex memberitahukan bahwa dia mendapat kesempatan mengembangkan karir fotografinya di Los Angeles. Setelah melalui perdebatan pro dan kontra yang panjang, akhirnya mereka sepakat untuk menjalani hubungan jarak jauh. 

Tak seperti Like Crazy, 10.000 KM hanya menampilkan karakter Sergi dan Alex saja sepanjang film berlangsung, sedangkan karakter lainnya hanya ditampilkan secara blur. Luckily, penampilan keren Natalie Tena dan David Verdageur sukses menghidupkan kedua karakter sentral dalam film ini. Percakapan kedua karakternya is still raw but real. It's so much fun listening to their conversation. Film ini juga hanya berlokasi di dua tempat; apartemen Sergi di Barcelona dan apartemen Alex di LA. Pada awal film kita disuguhkan pemandangan di apartemen Sergi lalu ketika hubungan jarak jauh dimulai, suguhan apartemen Alex juga ditampilkan. Saya suka dengan adegan ketika Alex memamerkan setiap bagian dari apartemen barunya kepada Sergi via Skype. Terlihat bagaimana mereka memanfaatkan teknologi yang ada sebaik mungkin; Skype, WhatsApp, Facebook, Google Maps dalam berkomunikasi jarak jauh. Hal tersebut tentunya terasa dekat dengan kita (apalagi saya sendiri yang mengalaminya saat ini ^.^). Tiap adegan ketika Alex dan Sergi skype-an cukup menghibur, namun tak jarang juga awkward bahkan sedih. Adegan dimana Alex dan Sergi menari bersama lewat skype adalah salah satu adegan yang cukup emosional. Sedangkan momen dimana mereka menjalani dinner romantis via monitor masing-masing terlihat indah, namun juga memilukan. Salah satu awkward moment ketika mereka melakukan cyber-sex dalam scene yang lucu, erotic sekaligus mungkin menyedihkan dan sedikit frustasi. Melihat reaksi Alex yang terlihat jelas melalui ekspresinya ketika melakukan cyber-sex tersebut making me understand her feeling well. Yeah, momen-momen tersebut menjadi gambaran bahwa sehebat apapun kemajuan teknologi yang ada takkan bisa menggantikan sentuhan fisik yang nyata.

Lewat teknologi, mereka mencoba tetap saling mencintai namun seiring berjalannya waktu hal tersebut tidaklah mudah.  Pada satu waktu bahkan Sergi mengatakan 'Can we talk about something else that isn't our relationship?'. Ujian terus berdatangan menguji hubungan jarak jauh mereka. Konflik pun kerap bermunculan. Tentu saja faktor krusial yang membuat konflik terjadi tak lain karena jarak yang jauh sehingga kerap kali bagi pasangan LDR akan muncul perasaan yang tidak mengenakkan, ketidakpercayaan yang berdampak curiga satu sama lain dan sebagainya. Dan seperti sudah menjadi rahasia umum bahwa menjalin hubungan jarak jauh bukanlah hal yang mudah. Banyak aral merintang walaupun setiap saat bisa berkomunikasi melalui berbagai cara, tapi tetap saja akan berbeda rasanya dengan bertemu secara langsung.

Sayangnya, film ini tidak memberikan saran atau kesimpulan apapun kepada penontonnya sehingga kita sendirilah yang harus mencari solusi yang terbaik ketika menjalani sebuah hubungan jarak jauh. Dan endingnya.. Apakah setiap pasangan yang LDR akan berakhir seperti itu? Ah, saya jadi takut sendiri membayangkan hal tersebut terjadi pada saya dan pasangan saya :'(




Title: 10.000 KM / Long Distance | Genre: Comedy, Drama, Romance | Director: Carlos Marques-Marcet | Release: 16 May 2014 | Duration: 99 Minutes | Country: Spain | Language: Spanish, Catalan, English | Cast: Natalie Tena, David Verdageur | IMDb | Rotten Tomatoes













November 01, 2014

Two Days, One Night | Deux Jours, Une Nuit (2014)


Two Days, One Night (2014)






"I don't Exist" - Sarah


Sandra (Marion Cotillard), ibu dua anak yang baru saja keluar dari rumah sakit akibat depresi berat, terancam kehilangan pekerjaanya sebagai karyawan di sebuah pabrik panel surya di Seraing, kota industri Liège, Belgia. Dia harus mampu meyakinkan 16 rekan kerjanya supaya melakukan voting ulang untuk memilihnya tetap bekerja dan menolak bonus 1000 euro. Dibantu oleh suaminya, Manu (Fabrizio Rongione), Sarah pun mulai mendatangi satu per satu para rekannya tersebut dalam sisa waktu dua hari satu malam sebelum penentuan nasibnya pada hari senin pagi.

Tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, kita sebagai penonton dibiarkan bertanya-tanya cukup lama atas apa yang terjadi sebenarnya dengan karakter Sarah dalam film ini. Hingga akhirnya ketika jawabannya terkuak, disitulah dimulai fase yang menarik dalam film ini. Padahal plot ceritanya sendiri terlihat sederhana, namun semuanya tidaklah sesederhana itu. Apalagi kita tahu bahwa ini berurusan dengan masalah uang yang nominalnya tidak sedikit sehingga pasti akan ada yang tidak setuju jika bonus uang 1000 euro lenyap begitu saja.

Disinilah kita akan melihat bagaimana tanggapan para rekannya dari berbagai sudut pandang. Krisis ekonomi yang melanda Belgia tentu berdampak kuat terutama bagi masyarakat kelas menengah seperti Sarah dan rekan-rekannya. Moral mereka pun diuji dengan nominal uang yang tidak sedikit jumlahnya. Disinilah terjadi momen-momen yang kadang membuat kita tergugah, tertegun, sedih, senang bahkan momen yang tak terduga. Ada satu hal yang saya dapat dari kunjungan Sarah ke tempat para rekannya, bahwa orang baik itu masih ada di dunia ini. Namun bukan berarti saya mengatakan bahwa yang menolak adalah orang jahat! Tidak! Bagaimana pun kita harus melihatnya dari berbagai sudut pandang yang berbeda dan menempatkan diri kita di posisi tiap individunya. Mereka yang menolak jelas punya alasan kuat yang dapat ditolerir.

Beberapa adegan yang ditampilkan dalam film ini memang terlihat repetitif, namun emosi kita sebagai penonton sukses diacak-acak oleh Luc Dardenne dan Jean-Pierre Dardenne. Kerennya lagi, 'petualangan' mendatangi tiap rumah memberikan sensasi yang luar biasa padahal adegannya begitu sederhana dan sangat natural. Namun  apapun jawaban dari para rekannya seolah membuat saya tidak peduli - bahkan saya tidak peduli bagaimana nanti hasilnya atau endingnya - saya hanya ingin mengikuti bagaimana perkembangan cerita dalam film ini mengalir apa adanya.

Dan film ini semakin menarik dengan akting keren yang dibawakan oleh Marion Cotillard. Karakter Sarah yang begitu rapuh, memiliki kecemasan serta ketakutan yang besar dan terkena depresi berat begitu menyatu dengan diri Cotillard. Aktingnya benar-benar teruji ketika karakter Sarah terlihat ingin tegar setiap kali mendapat penolakan dari rekan-rekannya.  



Ya, Two Days One Night telah mengajarkan kita bahwa perjuangan keras pasti akan membuahkan hasil, apapun itu hasil akhirnya. Bahkan jika kalah sekalipun, namun sebenarnya kita justru telah menang. Jadi, jika anda penyuka film drama tanpa kisah sentimentil yang berlebihan, film ini sangat wajib ditonton. Bahkan tanpa scoring sekalipun, anda akan terhanyut ke dalam ceritanya yang begitu real dan mungkin saja terjadi pada diri kita sendiri atau orang-orang di sekitar kita.






Title: Two Days, One Night / Deux Jours, Une Nuit | Genre: Drama | Director: Luc Dardenne, Jean-Pierre Dardenne | Release date: 20 May 2014 (Cannes), 21 May 2014 (Belgium & France) | Running time: 95 minutes | Country: Belgium, Italy, France | Language: French | Cast: Marion Cotillard, Fabrizio Rongione, Olivier Gourmet | IMDb | Rotten Tomatoes




 






Translate

Waiting Lists

Sur mes lèvres.jpg Dark, brown-tinted and horror-themed image of a man in an asbestos-removal suit (to the right side of the poster), with an image of a chair (in the middle of the image) and an image of a large castle-like building at the top of the image. The text "Session 9" is emboldened in white text in the middle of the image, and near the bottom of the image is written, "Fear is a place." Lisbeth Salander with Mikael Blomkvist The Girl Who Played with Fire.jpg Page turner.jpg Le trou becker poster3.jpg Nightwatch-1994-poster.jpg Headhunter poster.jpg On the Job Philippine theatrical poster.jpg The Song of Sparrows, 2008 film.jpg The-vanishing-1988-poster.jpg Three Monkeys VideoCover.png