Showing posts with label Germany. Show all posts
Showing posts with label Germany. Show all posts

October 14, 2015

A Coffee in Berlin (2012)


A Coffee in Berlin (2012)








Seorang pemuda bernama Niko (Tom Schilling) drop out dari universitasnya dan berakhir dengan menyusuri jalanan di kota Berlin, bertemu dengan berbagai macam orang dalam berbagai kejadian. Namun, dia merasa dirinya terasing dan tidak mempunyai tempat dimana pun berada.  
Disajikan dalam visual hitam putih, film ini memang terlihat akan menyajikan sinematografi yang indah dengan pengambilan shot-shot yang tak kalah indah dan menarik. Tak salah memang tebakan saya, hanya saja shot-shot tersebut terasa kurang banyak, terutama pengambilan shot tentang kota Berlin itu sendiri. Saya berharap dengan adanya kata 'Berlin' dalam judul film ini, maka sangat diharapkan kota Berlin itu sendiri tereksplor lebih luas lagi. Namun sepertinya film ini memang lebih mengkhususnya pada cerita tentang keterasingan diri ketimbang mengeksplor keindahan kota Berlin. Jika saja kota Berlin tersebut di eksplor lebih, pasti akan lebih menarik lagi.

Ya, film yang aslinya berjudul Oh Boy ini memang menceritakan tentang seorang Niko yang mengalami hari-hari yang mungkin bisa dikatakan tanpa gairah hidup, tanpa tujuan pasti atau mungkin bisa dikatakan belum mengetahui tujuan hidupnya. Film ini menggambarkan tentang kehidupan seseorang yang tidak dapat menemukan tempatnya sendiri di sekeliling orang-orang yang ditemuinya dalam hidupnya. Bagaimana dia merasakan bahwa orang-orang tersebut menjadi sosok-sosok yang asing baginya, namun sejatinya justru dirinya sendirilah yang menjadi sosok asing bagi dirinya sendiri. Berbagai kejadian yang tak biasa kerap terjadi pada dirinya dengan interaksi yang kadang terasa absurd dan lucu dengan orang-orang yang ditemuinya. Sebuah potret diri yang terkesan ironis bahkan mungkin bisa dikatakan tragis dari seseorang yang sedang kebingungan dan kesulitan mencari tempat untuk dirinya. Keterasingan kerap melanda dimana pun dia berada. Film ini pun seolah menggambarkan bagaimana orang-orang saat ini merasa tidak nyaman dan takut sendirian. Kesendirian adalah merupakan momok yang paling menakutkan dan bagaimana kesendirian tersebut membuat takut banyak orang mengalaminya; karena tak seorang pun ingin sendiri di dunia ini - tentu saja. Hal tersebut terpampang jelas dalam salah satu scene tentang tetangga baru Niko. That scene is horrible and also hilarious at the same time. 

Pertemuan Niko dengan setiap orang yang ditemuinya selalu menimbulkan sensasi penasaran bagi saya seperti apa nantinya akhir ceritanya dengan orang-orang yang ditemuinya tersebut. Seperti ketika Niko bertemu teman semasa sekolahnya,  Julika Hoffmann (Friederike Kempter) yang dulu pernah diejeknya dengan panggilan Roly Poly Julia karena dulunya gendut, atau ketika dia bertandang ke rumah salah satu kenalan dari temannya Matze (Marc Hosemann) dan ngobrol dengan nenek dari kenalannya tersebut. Pertemuan-pertemuan tersebut berlangsung dengan ke-absurd-an yang diselingi komedi di dalamnya. Namun tak jarang tragedi juga terjadi dalam pertemuan tersebut; sama seperti kehidupan yang penuh warna ini.

Tom Schiling yang malah saya kenal duluan lewat perannya di Who Am I - Kein System ist Sicher (2014), bermain sangat bagus memerankan karakter Niko di film ini. Segala gerak-gerik dan gesture yang ditunjukkannya sangat sesuai dengan karakter Niko yang terlihat seperti tidak mempunyai gairah hidup, malas, frustasi dan tanpa tujuan hidup. Namun, di lain waktu karakter Niko tersebut bisa menjadi karakter yang loveable; salah satunya bisa dilihat dalam scene ketika dia bersama dengan nenek kenalannya tersebut. Dan lagi-lagi kesepian dan kesendirian tergambar jelas dalam scene tersebut. Scene yang juga sukses membuat sejenak mata saya berkaca-kaca.

Dan saya suka, suka sekali dengan film ini. Mungkin juga karena saya pun pernah dan sering mengalami hal yang sama dengan karakter utamanya sehingga saya bersimpati pada karakter Niko tersebut. Selain itu visual hitam putihnya terkesan klasik dan menjadikan film ini semakin menarik. Dipadu dengan sajian musiknya yang jazzy, semakin membuat saya sangat menikmati film ini. A Coffee in Berlin adalah sajian drama tragicomedy penuh komedi satir yang patut anda coba. Ditemani dengan 'kopi' yang ternyata butuh perjuangan untuk mendapatkannya - itulah mungkin kenapa endingnya seakan menimbulkan persepsi berbeda tiap penonton yang menontonnya. Mungkin saja anda akan menemukan tujuan hidup anda yang sebenarnya setelah menonton film ini.





Title: A Coffee in Berlin / Oh Boy | Genre: Drama | Director: Jan Ole Gerster | Release Date: 1 November 2012 | Running Time: 86 minutes | Country: Germany |  Language: German, English | Cast: Tom Schilling, Marc Hosemann, Friederike Kempter,  Justus von Dohnányi, Katharina Schüttler | IMDb | Rotten Tomatoes







April 26, 2015

Who Am I – No System Is Safe | Who Am I - Kein System ist Sicher (2014)

Who Am I - No System Is Safe (2014)





No System Is Safe.
Aim for the Impossible.
Enjoy the meat world as much as the net world.



Benjamin (Tom Schilling) adalah seorang pemuda introvert di dunia nyata, namun di dunia maya, dia adalah seorang hacker yang sangat handal. Kemampuannya dalam urusan komputer tersebut membawanya berkenalan dengan Max (Elyas M'Barek), Stephan (Wotan Wilke Möhring) dan Paul (Antoine Monot Jr.). Mereka berempat menamakan diri mereka CLAY (Clowns Laughing @ You) yang mempunyai misi untuk melakukan peretasan di sana-sini demi kesenangan dan ketenaran semata. Aksi mereka tersebut justru menarik perhatian Europol (Europe Interpol) yang dikepalai oleh Hanne Lindberg (Trine Dyrholm).

Film ini dibuka dengan adegan Benjamin yang memasuki sebuah kamar hotel dan melihat tiga orang terbunuh dengan cara mengenaskan. Lalu adegan pun berganti dengan interogasi yang dilakukan oleh Hanne Lindberg pada Benjamin terkait insiden tersebut. Di mulailah cerita flashback Benjamin tentang dirinya dan orang-orang yang berhubungan dengannya. Scene tersebut jadi mengingatkan kita pada scene di film The Usual Suspect dan Loft. Pace film ini bisa dikatakan lumayan cepat sehingga saya nggak sempat mengalami mati kebosanan menontonnya. Setelah beberapa bulan ini saya seperti kehilangan gairah menonton film dan sering sekali jarang bisa menuntaskan suatu tontonan dalam sekali tonton, kali ini saya seperti mendapatkan kembali gairah bergejolak ketika menonton film ini. Seru! Yeah, this movie is so much fun. Apalagi tema cyber-crime memang menjadi salah satu tema favorit saya. Dan kali ini saya merasakan sensasi yang dahsyat ketika menonton film ini. Tentunya juga karena it's not hollywood movie yang belakangan ini semakin membuat gairah menonton saya semakin lesu. Film-film dari benua Eropa memang selalu mendapat tempat terindah di mata saya.

Plotnya sendiri bisa dibilang cukup kompleks. Walau pada awalnya terkesan biasa saja namun seiring berjalannya waktu, ceritanya semakin menarik hingga akhirnya endingnya yang penuh dengan twist berlapis yang mampu menunjukkan bahwa film ini memang berkelas. Cerdas! Mungkin kata itu lebih tepat diberikan untuk plot cerita Who Am I - No System Is Safe ini. Bagaimana tidak, film besutan Baran bo Odar (dimana karya sebelumnya The Silence (2010) juga mampu memikat hati saya) ini sukses membuat saya terlihat so stupid karena semua tebakan saya salah dalam menebak twistnya. Odar begitu lihat memanipulasi naskah ceritanya sedemikian rupa sehingga kita sebagai penonton dibuat terpaksa menebak-nebak terus apa yang sebenarnya terjadi. Namun, memang sangat memuaskan melihat hasil akhir dari film ini yang membuat saya ternganga sepersekian detik sebelum akhirnya kata 'bravo' keluar tanpa sengaja dari mulut saya. Jadi, jika anda berpikir anda berhasil menebak twistnya di bagian menjelang akhir ceritanya, jangan senang dulu, karena mungkin saja anda akan terkecoh seperti saya. Tapi jika anda berhasil menebak twistnya, saya acungin dua jempol untuk anda. Sudah lumayan lama juga saya tidak menonton film dengan twist yang memuaskan seperti ini.

Who Am I – No System Is Safe semakin menarik karena dimainkan oleh para aktor yang tepat. Tom Schilling does the good job here! Performanya sangat tepat menggambarkan karakter Benjamin yang pemalu, kuper, outsider, invisible for everyone. Elyas M'Barek sukses melakoni perannya sebagai Max yang cool dan penakluk wanita. Wotan Wilke Möhring dan Antoine Monot Jr., walau perannya tak begitu banyak tapi sudah sangat cukup menghidupkan suasana. Lalu Trine Dyrholm yang penampilannya bagus sekali dan saya suka dengan karakternya yang tegas dan menunjukkan sosok perempuan hebat dan kuat masa kini. Namun sayangnya saya merasa Hannah Herzsprung kurang cocok dengan karakter Marie terutama karena faktor wajahnya yang terlihat sedikit lebih tua dari Tom (dan ternyata memang dari segi umur Hannah juga lebih tua setahun dari Tom).

Lewat sajian penuh aksi seru dan menegangkan serta penasaran tingkat tinggi, Who Am I – No System Is Safe wajib anda coba. Apalagi film ini ditutup dengan twist manis yang mencengangkan. And you know what, sudah bisa diprediksi Hollywood bakal meremake film ini. Oh sighhh!!






Title: Who Am I – No System Is Safe / Who Am I - Kein System ist Sicher | Genre: Thriller | Director: Baran bo Odar | Release date: 6 September 2014 (TIFF), 25 September 2014 (Germany) | Running time: 105 minutes | Country: Germany | Language: German, English | Cast: Tom Schilling, Elyas M'Barek, Hannah Herzsprung, Wotan Wilke Möhring, Antoine Monot Jr., Trine Dyrholm | IMDb













August 26, 2013

Amour (2012)


Amour (2012) 





Amour (2012)
Drama | Romance
Director: Michael Haneke
 Release date(s): 20 May 2012 (Cannes), 24 October 2012 (France)
Running time:127 minutes
Country: Austria, France, Germany
Language: French

Starring:




Georges (Jean-Louis Trintignant) dan Anne (Emmanuelle Riva) adalah pasangan suami istri yang telah berusia lanjut. Mereka adalah pensiunan guru musik. Putri mereka juga seorang musisi dan tinggal bersama keluarganya di luar negeri. Suatu hari, Anne terkena stroke dan kehidupan mereka pun berubah seketika.


Jika melihat judulnya, Amour, pastilah kita akan berpikiran tentang film yang menyajikan kisah cinta sepasang kekasih. Tapi begitu menonton bagian awal filmnya, pikiran tersebut akan sirna. Amour sendiri justru menyajikan kisah menyakitkan dan kelam dari cinta. Kesinisan tentang cinta dan kasih sayang tergambar jelas hampir dalam keseluruhan film ini. Ditambah dengan bumbu-bumbu kesedihan, membuat Amour menjadi sajian komplit kisah cinta yang miris dan tragis. Haneke menggambar setiap adegan terasa begitu real. Beginilah memang (mungkin) kehidupan yang sebenarnya, bukan seperti kisah dalam film drama romantis yang selalu indah dan berakhir happy ending.

 
 
Namun, di samping itu, kita juga akan menyaksikan betapa cinta mempunyai kekuatan yang luar biasa, seperti yang terjadi pada Georges. Dengan segenap hati yang tulus, lelaki tua tersebut merawat istrinya yang nyaris tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena stroke. Walaupun akhirnya Georges harus bertarung melawan rasa cinta tersebut karena lelah dan terbebani hingga akhirnya melakukan keputusan yang krusial bagi mereka berdua. Sejenak, film ini membuat kita akan merasakan sedikit ketakutan sambil merenung, seandainya ketika tua kelak harus mengalami hal yang sama seperti dalam film ini.


Haneke menyelipkan pesan-pesan lewat simbol-simbol yang ada dalam film ini, seperti lukisan dan burung merpati. Jika kita tidak tahu budaya Eropa, tepatnya Perancis, mungkin akan sulit menerjemahkan simbol-simbol tersebut, seperti saya sendiri yang masih menerka-nerka apa maksud terselubung yang ingin disampaikan oleh Haneke. Ya, skenario film ini mungkin menyebalkan tetapi sinematografinya begitu indah dan jalan ceritanya juga dieksekusi dengan begitu indah pula.


Sayangnya, dengan durasi panjang dan tempo super lambat nan monoton, membuat penonton akan mati kebosanan menyaksikan ruang lingkup yang juga disajikan terbatas dalam film ini. Jika tak terbiasa menonton film seperti ini, pastilah anda akan segera menyerah di paruh waktu pertama. Saya sendiri nyaris ingin segera mengakhiri film ini jika bukan karena penampilan ciamik yang diperlihatkan oleh kedua pemain utamanya, Jean-Louis Trintignant dan Emmanuelle Riva. Kedua pemain tersebut mampu menampilkan penampilan yang sangat emosional dan memukau. Tantangan terbesar mungkin ada pada Riva yang harus benar-benar terlihat seperti orang yang terkena stroke. Namun, Trintignant mempunyai tantangan yang sama besarnya menghadirkan karakter Georges yang dipenuhi rasa cemas, takut, emosional namun berusaha untuk bertahan dalam tekanan yang luar biasa sakit. 


Overall, Amour merupakan film bagus yang mampu mengaduk-aduk emosi penonton dengan memadukan rasa cinta, kasih, sedih, benci, bahkan frustasi melebur menjadi satu. Namun, Amour jelas bukan film yang akan mudah disukai oleh semua orang.

 










Translate

Waiting Lists

Sur mes lèvres.jpg Dark, brown-tinted and horror-themed image of a man in an asbestos-removal suit (to the right side of the poster), with an image of a chair (in the middle of the image) and an image of a large castle-like building at the top of the image. The text "Session 9" is emboldened in white text in the middle of the image, and near the bottom of the image is written, "Fear is a place." Lisbeth Salander with Mikael Blomkvist The Girl Who Played with Fire.jpg Page turner.jpg Le trou becker poster3.jpg Nightwatch-1994-poster.jpg Headhunter poster.jpg On the Job Philippine theatrical poster.jpg The Song of Sparrows, 2008 film.jpg The-vanishing-1988-poster.jpg Three Monkeys VideoCover.png