December 23, 2013

Catatan Akhir Sekolah (2005)



Catatan Akhir Sekolah (2005)







Catatan Akhir Sekolah (2005)
Director: Hanung Bramantyo
Release Date: 31 March 2005
Country: Indonesia
Language: Indonesian

Starring:




Agni (Ramon Y. Tungka), Arian (Vino Bastian) dan Alde (Marcel Chandrawinata) yang dikenal dengan sebutan A3, menjadi sahabat selama tiga tahun di SMA Fajar Harapan gara-gara urutan nama mereka berdekatan di daftar absen sewaktu masa orientasi sekolah. Selama tiga tahun juga, mereka sering dicap sebagai geng cupu dan dianggap loser di sekolah mereka. Karena hal itulah, mereka berencana untuk membuat sebuah film dokumenter tentang sekolah mereka sebagai bentuk pembuktian eksistensi mereka di sekolah.


 
 

Film ini dibuka dengan adegan awal sekitar 8 menit yang berlangsung tanpa jeda dan tanpa cut. Dalam adegan itu diperkenalkan kehidupan anak-anak SMU Fajar Harapan, keseharian mereka di lorong-lorong sekolah, di dalam kelas, di luar kelas, di lapangan, di kantin, di toilet, dan sebagainya. Dalam adegan itu pula, penonton diberi gambaran mengenai ketiga karakter utama dalam film ini. Agni, si kacamata yang keras kepala, gila film dan penuh teori; Arian yang cuma pemegang kunci mading, setia kawan, menggampangkan segala hal dan emosional; serta Alde yang paling tampan tapi pemalu, anak band, digilai banyak lawan jenis namun tak mampu mengungkapkan perasaannya pada orang yang disukainya. Baik Ramon, Vino maupun Marcel bermain dengan sangat bagus memerankan karakter A3 sehingga menciptakan chemistry yang erat diantara mereka bertiga. Interaksi ketiganya menciptakan momen-momen yang memorable dan tak jarang membuat tersenyum melihatnya. Selain itu ada juga beberapa karakter sentral lainnya, seperti mantan pacar Agni, Alina (Joanna Alexandra) yang telah mempunyai pacar baru, Ray (Christian Sugiono) yang temperamen; teman Alina, Ratih yang disukai Alde secara diam-diam; mama Alde yang diperankan oleh Henidar Amroe dan tentu saja karakter Pak Boris (Joshua Pandelaki) sang kepala sekolah yang diskriminatif, suka korupsi dan agak genit.


 

Menonton film ini seperti bernostalgia mengenang masa-masa sekolah dulu. Semua yang disajikan dalam film ini pastilah pernah dialami oleh kita semua semasa di bangku sekolah. Banyak kejadian yang membuat kita minimal akan tersenyum atau menyengir melihatnya karena seolah-olah kita seperti sedang menyaksikan tingkah polah yang mungkin pernah kita lakukan. Semua kejadian di sekolah seperti pacaran, bolos, nyontek, bullying, ngerokok, mengintip di toilet sampai narkoba di tampilkan seperti realitas yang ada dan ditemui di sekolah. Ya, Catatan Akhir Sekolah memang dibuat serealistis mungkin, dimana digambarkan tentang anak-anak sekolah masa kini. Hebatnya, para figuran yang sepertinya memang asli anak-anak sekolah tersebut, benar-benar berakting dengan natural, lengkap dengan ditampilkannya adegan-adegan yang tampak begitu nyata tanpa perlu terlalu didramatisir. Film ini tidak hanya menceritakan problematika di dalam sekolah saja, tetapi juga di luar sekolah seperti tawuran dan pemalakan preman yang memang sangat dekat dengan kehidupan para anak sekolah. Selain itu, di sisipi juga sedikit bumbu kisah cinta ala anak sekolah dan sebuah kasus korupsi yang terjadi di sekolah.


Walaupun berisi banyak hiburan di dalamnya, film ini tetap memberikan pesan-pesan penting, khususnya untuk anak sekolah agar tidak terjebak dalam hal-hal negatif seperti yang ditunjukkan dalam film ini. Sayang, endingnya terkesan gampangan dan khas film Indonesia yang selalu mencari celah aman untuk mengakhiri sebuah film. Kalau saja Hanung lebih berani membuat ending yang berbeda, seluruh rangkaian cerita yang dibuat dengan sudah bagus di awal, akan menjadi sajian utuh yang sangat bagus. Satu ucapan yang diucapkan Arian ketika mengusulkan judul untuk film dokumenter mereka, "Kita sekolah ini cuma nyatet.. nyatet.. dan nyatet", kok kayaknya mengena banget, ya?! Memang waktu di jaman saya sekolah dulu memang begitu kenyataannya.

















8 comments:

Naokirito said...

paling sedih waktu alde dipukulin preman gara2 dia cuma ngelanjutin project itu sendirian.

ikung ailopyu said...

catatan anak sekolah is the best movie for student now
so click http://ikungteugo.blogspot.com/2014/01/catatan-akhir-sekolah-movie-online.html

amxito amirul said...

pelem yg sangat joss, sayang gak ada wktu pas mereka kul dbuat filmnya :v

Anonymous said...

Emang ni film lengkap pacaran ada, sedih ada, kesel ada, keren ada, nakal ada, kocak ada, "kita sekolah ini cuma nyatet, nyatet, dan nyatet..." Pokoknya keren banget ni film

Ladila said...

Thanks udah mampir dan komen :)

ubay dilah said...

baguss artikelnya
Kunbal yaa
ubeddiafakhri.blogspot.com

jodieisme said...

Waktu itu nonton film ini bareng anak-anak satu band di kamarnya si bassist yg udah nonton duluan karena dia pelanggan setia video ezy..
Satu-satunya hal yg bikin dia mutusin buat nyewa DVD itu karena kata yg jaga rentalnya, ada lagunya edson disitu..
Dan ternyata emang iya.. Hahaha..

Radira said...

@papajod

Si bassit mirip Alde nggak?

Translate

Waiting Lists

Sur mes lèvres.jpg Dark, brown-tinted and horror-themed image of a man in an asbestos-removal suit (to the right side of the poster), with an image of a chair (in the middle of the image) and an image of a large castle-like building at the top of the image. The text "Session 9" is emboldened in white text in the middle of the image, and near the bottom of the image is written, "Fear is a place." Lisbeth Salander with Mikael Blomkvist The Girl Who Played with Fire.jpg Page turner.jpg Le trou becker poster3.jpg Nightwatch-1994-poster.jpg Headhunter poster.jpg On the Job Philippine theatrical poster.jpg The Song of Sparrows, 2008 film.jpg The-vanishing-1988-poster.jpg Three Monkeys VideoCover.png