Showing posts with label Ren Osugi. Show all posts
Showing posts with label Ren Osugi. Show all posts

January 27, 2013

Akiresu to kame (2008)



Achilles and the Tortoise (2008) 





Akiresu to kame (2008)
Achilles and the Tortoise | Achilles to Kame
Drama | Comedy
Director: Takeshi Kitano
Release Date: September 20, 2008
Runtime: 119 min.
  Language: Japanese
Country: Japan 
Cast:



Watched : 24 January 2013





Machisu Kuromachi
yang putra seorang kolektor kaya, sejak kecil suka melukis. Apalagi sejak mendapat pujian dari teman ayahnya yang seorang artis terkenal, dia terobsesi menjadi seorang pelukis terkenal. Dengan bakatnya tersebut, Machisu mampu menghasilkan lukisan-lukisan yang unik dan tidak biasa. Ketika suatu tragedi terjadi, mendadak kehidupannya berubah total tapi kecintaan Machisu pada dunia lukis tak pernah luntur.


Akhirnya Machisu memutuskan mencurahkan seluruh hidupnya untuk melukis. Machisu pun mengikuti sekolah seni dengan uang hasil kerja kerasnya. Dia menjadi terobsesi pada lukisannya dan menutup mata dari hal lain di sekitarnya. Tetapi sayangnya, kendati dia percaya bahwa dirinya berbakat, sekali pun Machisu tak pernah mendapat award atau terkenal. Justru banyak kritikan pedas dialamatkan padanya atas hasil lukisannya, terutama dari seorang dealer seni. Dealer seni tersebut bahkan selalu memberikan saran-saran yang ekstrim untuk lukisannya. Dorongan justru datang dari seorang wanita bernama Sachiko yang kemudian menjadi istrinya dan selalu mensupportnya. Sayang, lagi-lagi kenyataan tak pernah seindah impian.

 
Film ini mengikuti kisah hidup Machisu dari anak-anak sampai tua. Tiap pemeran Machisu mampu menyuguhkan akting yang bagus. Machisu tua diperankan oleh sang sutradara sendiri, Takeshi Kitano. Pria gaek yang saya kenal lewat peran antagonis dalam Battle Royale ini, memang selalu total memerankan berbagai karakter yang dimainkannya. Kali ini perannya sebagai seorang pelukis yang terobsesi benar-benar terlihat depresif.


Kanako Higuchi sebagai pemeran Sachiko tua, mampu mengimbangi akting Kitano dengan briliant. Kedua pasangan suami istri tersebut telihat unik atau bisa dikatakan aneh karena obsesi gila Machisu. Herannya, Sachiko dengan setia dan segenap hati mendukung segala tindakan di luar "nalar" yang dilakukan Machisu. Beberapa tindakan "sedikit sinting" tersebut seperti melakukan pertarungan dengan petinju yang sebenarnya demi mendapatkan efek warna unik pada lukisan atau membenamkan kepala ke dalam bak mandi, membuat saya menyerngitkan kening cukup lama.
 

Tapi teknik melukis yang unik dan diluar nalar itu memang membuat saya terkagum-kagum. Bahkan saya langsung berujar, "Apa sebenarnya isi otak dari seorang pelukis? Kok bisa mereka mempunyai daya imajinasi yang luar biasa liar dan gila itu?". Saya sebagai orang awam yang hanya penikmat seni, dibuat terkagum-kagum dengan artwork yang indah dalam film ini.
 
Akhirnya, Akiresu to kame memang menceritakan tentang batasan antara hobi dan obsesi dan seberapa jauh pikiran manusia dapat menelaahnya. Juga tentang nilai suatu kehidupan yang disisipi dengan humor kelam yang berisi satir dan sindiran. What a depressive movie!
  
 
 
 
 IMDb










December 25, 2012

Fireworks from the Heart (2010)


Fireworks from the Heart (2010)







Fireworks from the Heart (2010)
Oniichan no Hanabi

Drama
Director: Masahiro Kunimoto 
Release Date: 25 September 2010
Running time: 119 min
Country: Japan
Language: Japanese


Cast:


watched 21 December 2012





Hana (Mitsuki Tanimura) baru saja pulang ke rumahnya setelah enam bulan berada di rumah sakit karena penyakit leukemia. Tapi Hana merasa sedih karena kakak laki-lakinya, Taro (Kengo Kora) malah mengurung diri di kamar terus dan memutuskan menjadi Hikikomori (social recluse) sejak enam bulan yang lalu. Bahkan kedua orang tua mereka tidak bisa berbuat apa-apa atas keputusan Taro tersebut.


Ketika Hana menghadiri festival Katakai Firework, dia berinisiatif membujuk Taro untuk bergabung dengan kelompok pemuda di kota tersebut yang ikut serta dalam festival Katakai Firework tiap tahunnya. Tujuan utama Hana sebenarnya hanya ingin membuat Taro dapat bersosialisasi kembali.

  

Dengan durasi yang cukup lama, 119 menit, ternyata tidak membuat film ini terasa bosan untuk diikuti. Justru sebaliknya, alur yang ditampilkan walau sedikit lambat tapi mampu membuat saya tidak beranjak dari tempat duduk dan enjoy mengikuti tiap bagian ceritanya.


Hubungan antara Hana dan Taro sebagai kakak adik, jelas merupakan segmen yang paling penting dalam film ini. Usaha keras Hana membuat Taro kembali melihat dunia lagi, menjadi suatu motivasi yang sangat bagus. Dengan sifatnya yang selalu berpikiran positif, perlahan tapi pasti mampu meracuni pikiran negatif dan merubah sudut pandang Taro menjadi positif.

Hikikomori mungkin bukan hal yang aneh lagi kita temui di jaman sekarang ini. Di sinilah kita akan melihat bagaimana transisi Taro dari Hikikomori menjadi seorang yang bisa bersosialisasi. Semuanya tak terlepas dari campur tangan Hana dengan segala rasa kasih sayangnya pada sang kakak. Akting Kengo Kora dan Mitsuki Tanimura benar-benar mampu menciptakan chemistry yang kuat sebagai kakak adik. Ah.. lagi-lagi Kengo Kora membuat saya semakin jatuh cinta, bukan saja karena tampangnya tapi tentunya aktingnya yang selalu bisa berperan jadi apa saja. Yoshiko Miyazaki dan  Ren Osugi yang berperan sebagai orang tua Hana dan Taro, juga menampilkan performa yang bagus.


Walau terfokus pada cerita Hana dan Taro, tapi hal lainnya juga ditampilkan dalam film ini dengan porsi yang cukup. Seperti hubungan Hana dan teman-temannya, hubungan Taro dengan sang ayah yang kurang baik, atau bagaimana susahnya Taro harus belajar bersosialisasi. Tanpa perlu menyajikan adegan-adegan sentimentil, film ini menjadi terlihat lebih realistis. Mungkin hanya endingnya saja yang sedikit berlebihan.


Translate

Waiting Lists

Sur mes lèvres.jpg Dark, brown-tinted and horror-themed image of a man in an asbestos-removal suit (to the right side of the poster), with an image of a chair (in the middle of the image) and an image of a large castle-like building at the top of the image. The text "Session 9" is emboldened in white text in the middle of the image, and near the bottom of the image is written, "Fear is a place." Lisbeth Salander with Mikael Blomkvist The Girl Who Played with Fire.jpg Page turner.jpg Le trou becker poster3.jpg Nightwatch-1994-poster.jpg Headhunter poster.jpg On the Job Philippine theatrical poster.jpg The Song of Sparrows, 2008 film.jpg The-vanishing-1988-poster.jpg Three Monkeys VideoCover.png