Showing posts with label Abimana Aryasatya. Show all posts
Showing posts with label Abimana Aryasatya. Show all posts

February 06, 2017

Belenggu (2013)


Belenggu (2013)









Di suatu kota kecil sedang dicekam ketakutan setelah terjadinya kasus pembunuhan berantai di mana pembunuhnya masih berkeliaran bebas. Penyelidikan pun dilakukan. Semua orang dicekam ketakutan dan saling mencurigai satu sama lain. Elang (Abimana), seorang pemuda pendiam dan tertutup, seringkali dihantui bayangan-bayangan mengerikan tentang pembunuhan aneh yang melibatkan sesosok orang misterius yang mengenakan kostum Kelinci. Elang merasa bahwa sosok bertopeng Kelinci itulah kunci dari segalanya. 

 

Upi Avianto. Siapa yang tak kenal dengan sutradara satu ini. Karya-karya yang dihasilkannya selalu fresh, asik dan menarik. Kali ini Upi menawarkan sebuah sajian yang berbeda dan jarang dibuat di Indonesia; thriller psikologis. Genre yang sangat saya sukai. Namun saya tidak ingin berekspektasi terlalu tinggi pada film ini, mengingat saya sering kecewa ketika menonton film-film lokal. Keluar dari zona aman bukanlah hal yang mudah bagi Upi dan bisa dibilang dia cukup berani melakukan hal tersebut dengan membuat film Belenggu ini. Naskahnya bahkan dia tulis sendiri selama rentang waktu bertahun-tahun. Wow! Thriller psikologis yang penuh misteri bukanlah sajian yang gampang disukai oleh kebanyakan penonton Indonesia, bahkan terkadang dipandang sebelah mata karena genre ini begitu berat dan tak jarang 'memaksa' pikiran kita sedemikian rupa. Belenggu tak luput dari hal tersebut. Sayang, alur ceritanya tidak orisinal dan banyak ditemukan dalam film-film thriller psikologis, Upi dinilai 'mencontek' Twin Peaks dalam menggarap Belenggu. Since I don't watch Twin Peaks yet, so no comment for it. Karakter kelinci bertopeng di film ini tentu langsung mengingatkan kita pada salah satu film parallel universe legendaris Donnie Darko. Sejujurnya, saya sangat menyayangkan hal tersebut. I mean, kenapa Upi tidak membuat karakter sosok bertopeng jenis lainnya saja; harimau sumatera misalnya?.

 

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Upi menggarap naskah film Belenggu ini membutuhkan waktu selama bertahun-tahun - 8 tahun tepatnya - tetapi jika ditilik lagi ternyata terlalu banyak (yang mau tidak mau harus diakui) kemiripan dengan beberapa film thriller psikologis yang pernah ada. Sayang sekali! Oke, mungkin Upi memang terinspirasi, tetapi hal tersebut sebenarnya sedikit mengganggu buat saya pribadi. Itulah mengapa di paruh bagian pertama film ini, beberapa misteri yang ada akan bisa tertebak. Untunglah, Upi masih lihai meramu hal-hal tersebut sedemikian rupa sehingga mau tidak mau sekali lagi memaksa kita sebagai penonton untuk memakluminya. Pun begitu, rentetan misteri dalam film ini memang memaksa penontonnya untuk bermain-main dengan pikiran dan psikologis. Penikmat thriller psikologis tentu akan sangat menikmati hal seperti ini. Sayang, berbagai misteri yang tadinya telah sangat rapi disusun, harus dibongkar satu persatu di akhir ceritanya. Buruk? Tidak, sih tapi bagi penikmat film thriller psikologis seperti ini pasti lebih memilih agar misteri tetap menjadi misteri yang tak terpecahkan yang membuat penontonnya akan bertanya-tanya terus bahkan hingga film telah usai. Tetapi apa boleh buat, Upi sadar betul bahwa kebanyakan penonton di negeri ini malas untuk 'berpikir' dan menonton hanya sebagai hiburan semata. Oleh karena itu, dia akhirnya membuat ending yang seperti itu. Dan itu sepertinya adalah keputusan yang tepat.


Jawara film ini adalah atmosfir creepy yang begitu membelenggu nyaris sepanjang film. Dan saya sangat menyukai setting kota antah berantah dalam film ini; apartemen usang, gedung-gedung tua, rumah sakit dengan sudut lorong-lorong yang menyeramkan, penjara, kantor polisi serta rumah sakit jiwa. Sinematografinya sangat memukau dengan shot suram nan gelap yang indah. Atmosfirnya terasa sangat creepy (padahal saya menontonnya di siang hari, loh!. Andai saya menontonnya di malam hari, pasti sensasi creepy-nya terasa sangat luar biasa.). Bahkan, ketika film berakhir pun, atmosfir creepy yang kelam dan menakutkan masih terasa. Jajaran pemainnya diisi oleh Abimana Aryasatya, Imelda Therinne, Laudya Cynthia Bella, Jajang C. Noer, Bella Esperance, Verdi Solaiman dan beberapa pemain lain yang wajahnya cukup familiar di layar kaca. Kala itu, seorang Abimana bukanlah siapa-siapa, sehingga ada keraguan akan kemampuan aktingnya dalam film ini. Namun, sepertinya dia memang seorang aktor yang berbakat secara alamiah and he proved it. He can act well. Abimana sangat sangat bisa mencuri perhatian sebagai sosok Elang terutama di paruh pertama film. Penampilan memukau juga di tampilkan oleh seorang Jajang C. Noer dalam penampilan singkatnya. Namun, yang benar-benar mencuri perhatian adalah Imelda Therinne. Tetapi anehnya, justru Laudya Cynthia Bella mendapatkan penghargaan Aktris Utama Wanita Terfavorit di Indonesian Movie Awards 2013. Eh, kok bisa?! Padahal melihat akting Bella di film ini amat sangat flat sekali. Yah, itulah pilihan pemirsa, yang terkadang memang selalu tidak memuaskan dan terkesan tidak fair!

 

Saya akui Upi cukup sukses menyajikan thriller psikologis yang bagus. Terlepas dari segala kekurangan yang ada, Belenggu lebih bisa menjadi salah satu tontonan yang harus dicoba dan harus diapresiasi lebih. Dan saya berharap ke depannya akan muncul sajian film yang bermutu dengan mengusung genre-genre seperti ini lagi. 









Title: Belenggu | Genre: Thriller | Director: Upi Avianto | Release Date: 28 February 2013 | Running Time: 100 minutes | Country: Indonesia | Language: Bahasa | Cast: Abimana Aryasatya, Imelda Therinne, Laudya Cynthia Bella, Verdi Solaiman, Bella Esperance | IMDb




September 22, 2016

Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 (2016)


Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 (2016)

Berusaha Terlalu Keras Melucu






“Ini bukan taplak meja sembarangan, lho. Pernah dipakai sama Katy Perry. 
Jadi kalau makan di meja ini, serasa makan sama Katy Perry. Gitu!”
- Dono -









Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian), dan Indro (Tora Sudiro) adalah anggota dari sebuah lembaga bernama CHIPS (Cara Hebat Ikut Penanggulangan Sosial). Mereka bertiga lebih banyak melakukan kekacauan dan kekonyolan ketimbang hal yang bermanfaat. Oleh karena itu mereka mendapat tugas dari atasan mereka Juned (Ence Bagus) untuk menangkap kawanan begal yang meresahkan masyarakat. Mereka bertiga dibantu oleh anggota baru yang cantik asal Prancis  bernama Sophie (Hannah Al Rashid). Tetapi karena ketidakbecusan dan kekacauan yang kerap mereka lakukan, ketiganya malah harus membayar ganti rugi sebesar 8 miliar dalam tempo yang singkat. Jika mereka gagal, maka mereka harus mendekam dalam penjara selama 10 tahun. Akhirnya ketiganya yang juga dibantu oleh Sophie mencari cara agar bisa mengumpulkan uang 8 miliar tersebut. 

Hype film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 begitu luar biasa. Sampai digadang-gadang mampu mengalahkan kesuksesan film yang sebelumnya berada di puncak box office tanah air. Hal tersebut tentu saja mengundang reaksi banyak orang untuk menontonnya. Benarkah film ini selucu yang dikatakan orang-orang? Well, lucu, sih iya tapi jika ingin jujur, sih film ini tidaklah selucu itu. Bahkan di awal-awal film, saya sama sekali tidak tertawa walau hampir seisi bioskop ketawa. Padahal opening creditnya dibuat dengan gaya film-film Indonesia era 80-90-an - yang membuat saya bernostalgia dengan film-film warkop -  yang berisi adegan-adegan (yang terlalu dipaksakan untuk) lucu. Rombongan ibu-ibu naik sepeda motor, polisi tidur, tulisan-tulisan di truk sama sekali tidak membuat saya sedikit pun tersenyum atau tertawa. "Garing!", begitu yang keluar dari mulut saya. Menit-menit berikutnya saya cuma bisa mesem-mesem saja. Bahkan saya berkata begini pada teman saya; "Kayaknya aku memang lagi stress, ya sampe nggak bisa ketawa?". Padahal niat awal menonton film ini karena ingin menghilangkan stress tapi, kok malah jadi stress? Saya pun mulai merasakan kebosanan, bahkan hingga hampir di pertengahan film. Hingga akhirnya saya berpikir, sepertinya saya terlalu serius menonton film ini sehingga saya tidak menikmatinya sama sekali. Akhirnya saya pun memaksa diri saya untuk enjoy menontonnya, tanpa perlu berpikir mengapa begini mengapa begitu. Hasilnya? Saya mulai bisa tertawa sedikit. Bahkan di pertengahan hingga hampir menjelang akhir, saya beberapa kali tertawa terbahak-bahak. Entahlah, apakah memang karena ceritanya yang memang mulai lucu atau karena saya menontonnya tanpa berpikir apapun. Tapi sayangnya, lelucon-leluconnya ada beberapa yang terkesan sangat kasar dan sedikit rasis. Di beberapa bagian, slapstick-nya terlihat sangat vulgar. Apakah membuat sajian komedi harus dengan lelucon kasar, rasis dan vulgar seperti itu? Saya menyayangkan hal tersebut, terlebih karena di bioskop ada anak-anak yang menonton film ini. Film ini untuk 13 tahun ke atas, tapi menurut saya, anak umur segitu belum pantas menonton film ini karena ada beberapa adegan yang tidak pantas ditujukan untuk anak seusia segitu. Harusnya film ini untuk 17 tahun ke atas. 

Membagi film menjadi dua bagian seperti ini sebenarnya sudah kuno. Hal seperti ini hanya membuat cerita menjadi dragging dan terpaksa dipanjang-panjangin. Ya, memang tak bisa dipungkiri mengapa film ini dibagi dalam dua bagian seperti ini. Apalagi namanya kalau bukan untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Tapi, tahukah anda wahai pencari keuntungan tersebut, hal yang seperti ini sebenarnya benar-benar amat menyiksa kami sebagai penonton?. Bayangkan, anda sudah merasa nyaman, enak dan sangat menikmati sebuah film, eh tiba-tiba film harus berakhir aja gitu dan anda disuruh untuk menunggu entah sampai berapa lama untuk menonton kelanjutannya. Bukankah alangkah baiknya jika dalam satu film, cerita langsung dibuat selesai dengan satu tema saja? Nah, bagian kedua nanti dibuat dalam tema yang berbeda. Seperti dalam serial-serial kriminal yang setiap episodenya mempunyai kasus yang berbeda dan diselesaikan langsung setiap episodenya. Dan membuat film ini menjadi dua bagian adalah salah satu kesalahan besar yang seharusnya dihindari. Anggy Umbara selaku sang sutradara harusnya paham akan hal itu. 

Me-reboot sebuah film - apalagi film yang terkenal - memang bukan perkara mudah. Anggy Umbara pun sengaja menyisipkan adegan-adegan khas film-film warkop yang akan membuat penonton bernostalgia. Tapi saya sendiri malah lupa. Ya, mungkin karena waktu itu saya masih kecil dan itu sudah lama sekali ketika saya terakhir kali menonton film-film Warkop. Walaupun sering di putar ulang di televisi, tetapi saya tidak pernah lagi menontonnya. Apa yang dilakukan oleh Anggy Umbara ini sebenarnya hal yang bagus karena dengan begitu maka penonton yang tidak tahu dan tidak tumbuh dengan film-film Warkop tersebut, sedikit banyak akan menjadi tahu. Ah, saya jadi ingin menonton kembali film-film warkop terdahulu, nih! 

Anyway, ketika saya tahu Anggy Umbara akan me-reboot film warkop. saya amat sangat skeptis, terlebih pada jajaran castnya. Tidak terpikirkan sedikit pun trio warkop yang fenomenal itu akan bisa diperankan oleh orang lain selain Dono, Kasino dan Indro sendiri. Dan ketika terkuak siapa-siapa saja calon pemainnya, saya semakin pesimis. Terlebih, saya bosan dengan para pemain yang itu-itu saja. Lalu hasilnya? Hmm..  Tora Sudiro bisa dikatakan menjadi yang paling mengecewakan di sini. Tepat dugaan saya bahwa dia memang tidak akan bisa memerankan karakter Indro. Atau mungkin bisa dikatakan Tora sedikit tertekan memerankan karakter Indro karena kehadiran Indro asli dalam film ini. Vino G, Bastian, boleh sedikit diapresiasi dengan usahanya memerankan karakter Kasino walau memang di beberapa bagian terkesan begitu dipaksakan dan terlihat kewalahan. Apalagi adegan ngomongnya yang teriak-teriak itu, sedikit membuat sakit telinga. Nah, yang harus mendapat apresiasi lebih dan acungan jempol adalah Robertino. Eh, siapa itu Robertino? Robertino adalah nama asli Abimana Aryasatya sebelum dia mengganti namanya menjadi Abimana Aryasatya. Awal saya mengenal sosok Abimana adalah dengan nama Robertino karena saya dulu suka membeli majalah remaja dimana dia masih menjadi model di awal karirnya. Eh, ketauan, deh udah tuanya! :D Abimana begitu sukses memerankan karakter Dono dengan sangat baik. Tak sia-sia penampilannya dipermak sedemian rupa supaya mirip Dono - dengan gigi palsu dan body suit. And that's the very best part from this movie. Selain itu film ini juga diisi oleh jajaran cast dari Stand Up Comedy dan aktor-aktor yang tidak asing lagi di layar kaca seperti Tarzan yang mendapat adegan yang cukup mengocok perut, Agus Kuncoro yang tidak biasanya berperan sekocak ini dalam film, Hannah Al Rashid si jelmaan Meriam Bellina yang menjadi primadona film ini, Nikita Mirzani yang selalu kebagian peran wanita penggoda dan Indro Warkop yang asli. Tapi saya tidak suka dengan peran yang dimainkan oleh Indro. Saya sampai saat ini masih bertanya-tanya, perlukah karakter yang dimainkan Indro tersebut ada? Saya sejujurnya kecewa, mengapa Indro malah harus kebagian peran seperti itu? Apalagi karakter Katy Perry KW yang amat sangat annoying, a little bit disgusting and it's not funny at all

Well, film ini memang masih menyisakan banyak kekurangan dimana-mana. Pun begitu, kita tetap harus mengapresiasinya. Setidaknya, bioskop tanah air tidak lagi diisi oleh film-film hantu pengumbar aurat semata. Dan semoga Part 2 nanti bisa lebih baik lagi di segala aspek. Bagi anda yang ingin menonton film ini, saya sarankan cukup ditonton saja, tidak perlu dipikirkan atau dibanding-bandingkan dengan film-film Warkop terdahulu. Dan juga tidak usah berekspektasi apapun. Jangan terlalu serius juga. Ini film komedi, bung! Just watch and enjoy it. Jika anda sama sekali tidak tertawa sedikit pun, mungkin ada yang salah dengan diri anda. Karena setidaknya, siapa pun yang menonton film ini, pasti minimal akan tertawa, walau hanya sedikit. Dan ada sedikit bonus bloopers di akhir film yang menurut saya malah lebih lucu dibanding filmnya sendiri - terutama ketika adegan dimana gigi palsu Abimana copot. 








Title: Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 | Genre: Comedy | Director: Anggy Umbara | Release Date: 8 September 2016 | Country: Indonesia | Language: Bahasa | Cast: Abimana Aryasatya, Vino G. Bastian, Tora Sudiro, Indro Warkop, Hannah Al Rashid, Tarzan, Agus Kuncoro, Nikita Mirzani, Ence Bagus | IMDb






Translate

Waiting Lists

Sur mes lèvres.jpg Dark, brown-tinted and horror-themed image of a man in an asbestos-removal suit (to the right side of the poster), with an image of a chair (in the middle of the image) and an image of a large castle-like building at the top of the image. The text "Session 9" is emboldened in white text in the middle of the image, and near the bottom of the image is written, "Fear is a place." Lisbeth Salander with Mikael Blomkvist The Girl Who Played with Fire.jpg Page turner.jpg Le trou becker poster3.jpg Nightwatch-1994-poster.jpg Headhunter poster.jpg On the Job Philippine theatrical poster.jpg The Song of Sparrows, 2008 film.jpg The-vanishing-1988-poster.jpg Three Monkeys VideoCover.png