May 12, 2015

It Follows (2014)


It Follows (2014)

 





Adegan awal film ini langsung menyuruh kita menebak-nebak, apa sebenarnya yang terjadi dimana ada adegan seorang gadis yang berlari ketakutan ke luar dari sebuah rumah. Namun, jika merujuk pada judul filmnya sendiri, tentulah kita yakin dia sedang diikuti oleh hantu atau makhluk halus sejenisnya. Oke, openingnya lumayan bagus, nih! Lalu kita pun diajak untuk beralih ke karakter utama film ini, Jay (Maika Monroe), seorang gadis berusia 19 tahun yang cantik dan menarik. Hal tersebut tentu saja membuatnya gampang mendapatkan teman kencan. Jay lalu berkencan dengan Hugh (Jake Weary) dan melakukan hubungan seksual. Namun, sesuatu terjadi padanya. Dia ikuti oleh kekuatan supranatural yang aneh yang menghantuinya setiap saat. Dia merasa selalu diikuti oleh seseorang dimana pun berada. Hal tersebut membuat Jay sangat ketakutan. Dengan bantuan saudara perempuannya, Kelly (Lili Sepe) dan teman-temannya; Paul (Keir Gilchrist), Yara (Olivia Luccardi) dan Greg (Daniel Zovatto),  Jay harus menemukan cara untuk mengatasi ketakutan dan kengerian tersebut. 

Well, ekspektasi saya menonton film ini bisa dikatakan cukup tinggi melihat banyaknya review positif dari berbagai forum dan dari para kritikus film. Sejujurnya, saya langsung jatuh cinta dengan pembukaan filmnya yang cukup bagus tersebut dan saya sangat mengharapkan berbagai kejutan manis nantinya di adegan-adegan berikutnya. Namun terkadang memang ekspektasi yang tinggi hanya akan menyakitkan jika kenyataannya berbeda. Dan saya pun kecewa. Pertama, durasinya yang menurut saya terlalu lama sehingga kerap menimbulkan kebosanan luar biasa untuk saya. Jika saja pace-nya tidak berjalan selambat ini, mungkin akan lain ceritanya. Cukup lama untuk menunggu kapan bakal keluar "kejutan" yang manis tersebut setelah rentang waktu dari openingnya. Well, setelah karakter Jay diikuti oleh makhluk-makluk gaib tersebut, memang ada beberapa kejutan yang manis. Atmosfir pun berubah menjadi eerie dan horor seketika. Penampakan para hantunya cukup mengagetkan terutama 'The tall man' yang sukses bikin saya beberapa detik menahan nafas. Sayangnya, itu cuma sebentar saja dan kemudian muncul kebosanan lagi melanda saya. Rasanya ingin sekali men-skip saja adegannya. Kedua, beberapa adegan malah terlihat doesn't make sense at all for me. Salah satunya ketika Jay dihantui oleh para makhluk halus tersebut, dia melarikan diri ke taman yang lokasi lumayan jauh dari rumahnya. Hey, why don't you just stay in the house with your friend, huh? I mean, dia ketakutan setengah mati tapi kenapa dia malah lari sendirian di tengah malam begitu ke taman yang sunyi dan sepi? Siapa yang akan menolongnya jika tiba-tiba para hantu itu menyerbunya? Bukankah lebih aman jika dia bersama dengan teman-temannya? Tapi, ya syukurlah dia tidak diikuti oleh para hantu tersebut disana. But yeah, I really have no idea with that scene at all.

Untungnya, banyak sisi bagus dari film ini seperti pengolahan ceritanya yang untungnya juga tidak menjadi sesuatu yang salah dan terkesan murahan. Let's see, premis ceritanya yang mengenai kutukan karena berhubungan intim tentu terkesan porno dan hal tersebut bisa menjadi sajian basi ala horror popcorn porn movie jika jatuh di tangan sutradara yang salah. Dan untungnya lagi, sex scene-nya juga tidak berlebihan dan masih dalam batas yang wajar untuk sajian horor remaja. Salah satu nilai plus lagi untuk film indie ini adalah para pemain mudanya yang bertampang keren sehingga tentu saja menambah nilai jual bagi filmnya sendiri. Tak bisa dipungkiri, masih banyak penonton yang menonton sebuah film karena tampang keren para pemainnya ketimbang ceritanya yang bagus. Dan bagusnya, para pemain muda tersebut berakting dengan cukup baik pula. Selain itu, sinematografinya begitu bagus dan saya sangat menyukainya. Begitu pun dengan setting lokasinya, terutama perumahannya yang asri dan bangunan tua seperti bangunan di kolam renang yang mampu menciptakan atmosfir horor yang kental. Dan hal terakhir yang menarik adalah tidak akan kita temui adegan flashback yang menceritakan asal muasal kutukan tersebut sebagaimana yang sering kita temui dalam film-film horor masa kini. Para kritikus film mengatakan bahwa film ini menghidupkan kembali formula horor klasik yang pernah ada. Ya, benar adanya! Namun bukan berarti kemudian citarasa horor yang tercipta tersebut bakal langsung sukses begitu saja. Jika ingin jujur, saya jauh merasa lebih takut dan sangat penasaran menonton Don't Look Now atau Suspiria ketimbang It Follows. Don't Look Now memang saya suka filmnya tapi tidak dengan Suspiria. Namun begitu, atmosfir horornya justru lebih terasa kuat dibanding It Follows sendiri. It Follows sendiri kerap dibanding-bandingkan dengan The Babadook yang sukses tahun lalu. Dan menurut saya pribadi, dari sisi cerita The Babadook jauh lebih menjual, begitu pun dari sisi horornya kendati porsi dramanya jauh lebih banyak. Sedangkan It Follows, walau di beberapa adegan memang sukses membuat degup jantung berdetak kencang, namun sisanya tidaklah begitu 'wah'.

Dan akhirnya saya berkesimpulan kenapa film indie satu ini bisa dihujani beragam komentar positif dan rating tinggi diberbagai forum, tentulah karena berani menghidupkan kembali atmosfir horor klasik yang telah lama mati suri dipadu dengan beberapa hal baru yang ada. But for me, I'm not really enjoying this show, bahkan kesan horornya pun terasa biasa saja. Bahkan ketika film ini usai, ya sudah, semua yang saya tonton tadi lenyap seketika tak berbekas sedikit pun di memori saya. Kesan yang sangat berbeda ketika saya menonton fim horor lainnya (seperti Don't Look Now contohnya) dimana adegan horornya pasti akan terus terekam di benak saya. So, I just have to say.. yeah, It Follows is just overrated!






Title: It Follows | Genre: Horror, Mystery | Director: David Robert Mitchell | Music: Disasterpeace | Cinematography: Mike Gioulakis | Release date: May 17, 2014 (Cannes), March 13, 2015 (United States) | Running time: 100 minutes | Country: United States | Language: English | Cast:  Maika Monroe, Keir Gilchrist, Daniel Zovatto, Jake Weary, Olivia Luccardi, Lili Sepe | IMDb | Rotten Tomatoes




2 comments:

Luthfi Prasetya Putra said...

Salah satu film horor yang paling gue tunggu-tunggu tahun ini. Trailernya itu loh menjual banget. Score dari Disasterpeace apalagi, terdengar klasik tapi modern. Tapi gue sekarang bingung, mending nonton "duluan" atau nunggu di bioskop? hehehe.

Radira said...

Kalau emang diputar di bioskop, sih mending nonton di bioskop aja biar sensasinya terasa gitu :D

Translate

Waiting Lists

Sur mes lèvres.jpg Dark, brown-tinted and horror-themed image of a man in an asbestos-removal suit (to the right side of the poster), with an image of a chair (in the middle of the image) and an image of a large castle-like building at the top of the image. The text "Session 9" is emboldened in white text in the middle of the image, and near the bottom of the image is written, "Fear is a place." Lisbeth Salander with Mikael Blomkvist The Girl Who Played with Fire.jpg Page turner.jpg Le trou becker poster3.jpg Nightwatch-1994-poster.jpg Headhunter poster.jpg On the Job Philippine theatrical poster.jpg The Song of Sparrows, 2008 film.jpg The-vanishing-1988-poster.jpg Three Monkeys VideoCover.png