June 01, 2016

Siti (2014)

 Siti (2014)
Sebuah Potret Kegetiran Hidup


"Asu kowe mas!"
- Siti -




Siti adalah salah satu film yang paling ingin saya tonton dan akhirnya saya memiliki kesempatan menontonnya. Terima kasih untuk seseorang yang memberikan saya kesempatan tersebut. Bukan karena Siti menjadi film terbaik Festival Film Indonesia 2015 yang membuat saya ingin menontonnya, tetapi saya memang sudah penasaran sejak pertama kali melihat trailer film ini (yang saya lupa dimana melihat trailernya) jauh sebelum Siti menang beberapa perhargaan di dalam dan luar negeri. Film garapan Eddie Cahyono ini seperti memiliki daya magis tersendiri untuk menggoda penggila film seperti saya. Baiklah, mari kita bahas film Siti yang berdurasi 88  menit ini.

Setelah kecelakaan yang menimpa suaminya, Bagus (Ibnu Widodo), Siti (Sekar Sari) menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga. Selain harus merawat sang suami yang kini lumpuh, dia juga harus merawat anak semata wayangnya, Bagas (Bintang Timur Widodo) dan mertuanya, Darmi (Titi Dibyo). Untuk melunasi hutang sang suami, Siti berjualan peyek jingking di siang hari di pantai Parangtritis dan terpaksa bekerja sebagai pemandu karaoke ilegal di malam hari. Ironisnya, suaminya malah tidak mau berbicara lagi padanya sejak lama karena pekerjaan Siti di dunia malam tersebut. Keadaan semakin rumit tatkala seorang anggota polisi bernama Gatot (Haydar Saliz) menyukai Siti dan berniat mempersuntingnya.

Membaca premisnya malah seperti cerita shitnetron siang hari kesukaan mama saya (baca: shitnetron yang mengusung tema keluarga yang endingnya selalu berakhir bahagia) dimana tokoh protagonisnya  mengalami beban hidup yang sangat berat (karena kemiskinan). Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula, begitulah mungkin yang tepat untuk mengggambarkan kehidupan Siti sebagai bagian dari golongan masyarakat menengah ke bawah. Namun tak seperti kisah dalam shitnetron yang selalu penuh dengan adegan tangis meratapi nasib, Siti bahkan seperti tak punya waktu untuk sekedar menitikkan air mata meratapi kegetiran hidup. Terkungkung dalam adat dan budaya sebagai perempuan Jawa, ruang gerak Siti pun terbatas. Untuk sekedar mengeluarkan unek-unek kekesalannya saja pada sang suami, Siti bahkan tidak mampu. Hingga akhirnya Siti harus meminta bantuan temannya, Sri untuk sekedar mengeluarkan amarahnya yang terpendam selama ini. Itulah mengapa, adegan dimana Siti "berpura-pura marah" melampiaskan segala kekesalannya pada suaminya sembari berteriak "asu" berulang-ulang kali, menjadi momen yang paling membekas dan tak terlupakan. Adegan tersebut juga menjadi adegan favorit saya di film ini. Dan film ini seluruhnya menggunakan bahasa Jawa (sebagian besar saya paham dan mengerti artinya, tetapi sisanya terpaksa harus membaca subtitle). Dialognya begitu 'renyah' serenyah peyek jingking, khas percakapan sehari-hari dan dipadu dengan guyonan-guyonan yang terkadang tanpa sadar membuat kita tersenyum-senyum sendiri mendengarnya. Obrolan Siti dengan Sri di pinggir pantai Parangtritis cukup menggelitik sekaligus menghibur. 

Dengan tampilan hitam putih, film ini seperti ingin memberitahu kita bahwa betapa monoton dan tidak berwarnanya hidup Siti. Beberapa kali terlihat adegan statis dengan shot panjang tanpa jeda. Film ini juga minim pencahayaan dan minim scoring. Namun, segala kesederhanaan yang ada di film ini begitu memikat hati saya. Dan disitulah letak kekuatan film ini, di samping naskahnya yang bagus dan para pemain yang semuanya bermain dengan sangat baik. Padahal tak satu pun dari pemain tersebut yang merupakan artis papan atas, namun kemampuan akting mereka patut diacungi jempol. Semua bermain secara natural. Sekar Sari tentu saja pantas diberikan dua jempol untuk aktingnya sebagai Siti di sini, namun yang justu mencuri perhatian saya adalah si kecil Bintang Timur Widodo. Berbicara soal karakter Siti, kita akan melihat sosok tersebut begitu kontras ketika berada di rumah dan di tempat karaoke, seolah di malam hari 'keliaran' dan 'ketertekanan batin' Siti meluap keluar, menjadikannya sosok yang berbeda. Pun begitu, kita tidak bisa serta merta menyalahkannya karena memang tekanan batin yang dideritanya begitu berat.

Ya, Siti memang menyajikan kisah yang begitu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, begitu sederhana, begitu nyata, begitu dekat, begitu jujur. Dramatisasinya tidak dipaksakan, pun tidak berlebihan. Ditata sedemikian apik sehingga cerita dengan alur yang sangat sederhana seperti ini pun bisa menjadi sajian yang bermutu dan berkelas. Love it!  Dan rasanya sudah lama sekali saya tidak menonton film Indonesia berkualitas dengan tema seperti ini; terakhir kali Pasir BerbisikSaya merindukan film-film seperti ini akan muncul lagi di kemudian hari. Tidak harus dengan tema yang sama, namun cukup menggambarkan realita yang ada tanpa harus tampil muluk-muluk. Setidaknya menggambarkan potret realita masyarakat kita kebanyakan. Dan endingnya, saya suka.. suka sekali dengan akhir cerita dengan konklusi ambigu seperti ini. This is so beautifully art. Walau tanpa kata-kata dan hanya sebuah adegan dengan shot statis yang panjang, sudah cukup menggambarkan rangkuman keseluruhan dari film ini; sebuah jawaban dari akhir yang melelahkan. Film yang akhirnya membuat saya harus mengumpat, "asu tenan!". 





Title: Siti | Genre: Drama | Director: Eddie Cahyono | Producer: Ifa Isfansyah | Music: Krisna Purna | Duration: 88 minutes | Country: Indonesia | Language: Javanese | Cast: Sekar Sari, Bintang Timur, Haydar Saliz, Ibnu Widodo, Titi Dibyo | IMDb












2 comments:

Paskalis Damar said...

For me, the use of Javanese is the best way to make it natural. I can mostly connect to this at all very core.

Saya juga mungkin salah satu orang yg nolak beli peyek kalau ada yg nawarin, then, that's what made Siti felt more bitter than ever.

Nice write-up!

Radira said...

Tapi kasian buat yang nggak ngerti bahasa Jawa, jadi sedikit susah untuk dapat feelnya. Untung, saya masih ngerti bahasa Jawa standard jadi iso ngguyu dengerin guyonan-guyonannya hehe..

Thanks for coming :)

Translate

Waiting Lists

Sur mes lèvres.jpg Dark, brown-tinted and horror-themed image of a man in an asbestos-removal suit (to the right side of the poster), with an image of a chair (in the middle of the image) and an image of a large castle-like building at the top of the image. The text "Session 9" is emboldened in white text in the middle of the image, and near the bottom of the image is written, "Fear is a place." Lisbeth Salander with Mikael Blomkvist The Girl Who Played with Fire.jpg Page turner.jpg Le trou becker poster3.jpg Nightwatch-1994-poster.jpg Headhunter poster.jpg On the Job Philippine theatrical poster.jpg The Song of Sparrows, 2008 film.jpg The-vanishing-1988-poster.jpg Three Monkeys VideoCover.png